Menu
/


Judul : Paris Lumière de l’Amour
Catatan Cinta dari Negeri Eiffel
Penulis : Rosita Sihombing
Penerbit : Lingkar Pena Publishing House
Cetakan : Mei, 2009
Halaman: 186 Halaman

Peresensi: Nurul Fauziah

“Kadang-kadang kita harus belajar dari pengalaman orang lain, Kita tidak sempat hidup lama hanya untuk melakukan semua pengalaman itu”. –Anonim-

Apa yang terlintas pertama kali jika mendengar atau membaca kata PARIS?, tentunya kita memiliki segudang jawaban yang diungkapkan sambil merem-merem mata membayangkan seolah-olah sudah berada di Paris. Banyak yang bilang Paris itu kota yang paling indah dan romantis di dunia, kota yang bermandikan cahaya, terkenal sebagai kota mode, tempat yang banyak melahirkan seniman-seniman kelas dunia, juga terkenal sebagai kota yang masih mempertahankan gedung-gedung tua nan bersejarah juga megah. Akh..butuh berlembar-lembar kertas untuk menuliskan pesona yang tercipta di Kota Paris.

Adalah seorang penulis bernama lengkap Rosita Sihombing seorang WNI yang menikah dengan pria perancis ini mencoba menyajikan Paris dari pengalamannya menetap selama 5 tahun berada di Negeri Napoleon Bonaparte tersebut.

Dahulu seperti yang ia ungkapkan dalam pendahuluan buku ini, bahwa tak pernah terlintas dibenak dan pikirannya kalau kelak ia akan berjodoh dengan lelaki keturunan perancis dan menetap pula di tanah airnya. Mimpi saja ia tak berani.

Namun sekarang ceritanya sudah berbeda ia telah ditakdirkan berjodoh dengan pria dari negeri seberang nan jauh di mato. Menetap di Paris selama 5 tahun sudah cukup banyak memberi kesan pengalaman pahit, getir, manis, yang dirasa sehingga menimbulkan berbagai pengalaman dan pandangan hidup yang menari-nari di kepala wanita berdarah batak ini untuk segera dituangkan dalam bentuk buku, agar terpuaskan dahaga mereka yang ingin tahu banyak tentang kehidupan di kota Paris, seperti keadaan sosialnya, budaya, ekonomi, politik, agama, serta aspek lainnya.

Dalam menuturkan curahan hati dan pengamatan pribadinya dalam buku yang ber-cover-kan ikon kota Paris yakni menara Eiffel ini mengalir, enak dibaca, serasa penulisnya sendiri yang menceritakan pengalaman demi pengalaman selama tinggal di sana.

Terangkum dalam lima bab yang setiap bab berisi judul yang berbeda serta kisah-kisah yang berbeda pula.
Voila, Paris! Merupakan judul bab pertama, berisi tentang pengalaman penulis saat harus ke KBRI jika diserang malarindu yang luarbiasa akan kampong halaman, dikisahkan pula pengalaman pertama bersalin di salah satu rumah sakit yang ada di sana, dan penulis juga mengungkapkan bahwa ternyata eh ternyata di kota se-modern Paris juga ada yang namanya gelandangan atau istilah kerennya tunawisma.

Masalah hak perut sering jadi dilemma jika harus bepergian ke Negara yang minoritas muslim. Nah, pada bab Bon Appetit yang artinya dalam bahasa Indonesia yaitu Selamat Makan juga dibahas bagaimana pengalaman penulis harus rela mengasah bakat memasak demi menghindari makanan yang tidak halal sehingga terciptalah resep Gado-gado Paris, bagaimana resepnya temukan jawabannya dalam buku ini?

Pada novel pertamanya yang berjudul Luka di Champs Elysees, judul novelnya terinspirasi dari nama jalanan yang paling indah di Paris “Champs Elysees” dan memang setiap 14 Juli semua warga Paris tumpah ruah di jalanan ini untuk menyaksikan perayaan hari kemerdekaan Perancis (hlm.61) begitu yang diungkapkan Ibunda Ilhan ini pada bab 3 Aktivitas-aktivitas seru. Bab ini bisa dijadikan panduan objek-objek wisata apa saja yang wajib dikunjungi jika ada kesempatan menyinggahi kota ini. Tidak jauh berbeda pada bab 4 Istri Patrick ini menceritakan pula kesehariannya selama menetap di Paris mulai dari mencoba menulis novel yang berlatar suasana Paris khususnya jalanan Champs Elysees sampai problematika yang terjadi selama tinggal di apartemen, seperti harus merasakan mahalnya harga kunci apartemen yang harganya bisa mencapai rekor MURI –seharga tiket pesawat Paris-Jakarta.Ck..ck.

Saat Muslim Bukan Mayoritas pada Bab 5, berisi suka duka dan berbagai cerita tentang pengalaman penulis sebagai muslim yang harus berinteraksi dengan komunitas non-muslim. Penuh tantangan. Negeri Perancis terkenal dengan sebutan negeri Laík yang artinya kurang lebih adalah negara yang pemerintahannya tidak berdasarkan system keagamaan. Jadi, sebagai kaum minoritas mau tak mau terkadang dihadapkan pada ketidaknyamanan dan memang harus kuat-kuat iman jika tidak ingin kebablasan. Seperti kata Seorang Dwi Setyowati salah satu penulis endorsement dibalik sampul buku ini mengatakan bahwa membaca buku ini seperti menyusun puzzle tentang mampukah kita sebagai muslim bertahan di Kota Cahaya sekaligus Negeri Seribu Katedral ini tanpa menjadi ikan yang iut asin walau berenang di lautan.
Selamat Membaca.

Terimakasih sudah membaca postingan di nufazee.com semoga bermanfaat.

Powered by Blogger.