Menu
/
Oleh: Nurul Fauziah
17 Maret 2007
Di angkot bernomor trayek 46 jurusan B.Setia-Setia Budi menuju kantorku

Tidak seperti biasanya Emak cuma mengantarkanku sampai di Jalan Serdang dekat Pajak Sentral. Setelah mendapat jatah ongkos dari Emak sebesar Rp.20.000 (maklumlah saat itu daku masih dalam masa-masa krisis ekonomi ^_^), aku pun menyetop angkot bernomor trayek 46.

Agak penuh memang, tapi syukur Alhmdulillah, aku masih dapat tempat duduk pas di depan pintu angkot. Duduklah aku yang hari ini memakai jilbab hitam dan blus warna ungu tua serta stelan rok hitam sebagai bawahan. Tidak berapa lama aku duduk—sekitar sepuluh menitan gitu suasana dalam angkot berubah jadi crowded , ramai bin bising. Soalnya di bangku paling pojok sejajar dengan pintu keluar, ada seorang bapak yang memangku bayinya yang mungkin masih berumur kurang lebih sepuluh bulan. Bayinya menangis terus-menerus tidak mau diam. Di bangku paling pojok itu, cahaya matahari menyinari wilayah itu, sehingga hawa panas membuat si bayi gerah dan berakibat reaksi yang menyebabkan si bayi rewel sebagai sinyal menyuruh bapaknya supaya pindah posisi. Lalu karena tidak tega melihat si bayi menderita, ibu si bayi pun berinisiatif untuk meminta pak sopir berhenti sebentar dan menyuruh si bapak bayi untuk pindah posisi duduk di depan tepatnya duduk di samping pak sopir yang areanya cukup adem tidak disinari cahaya matahari.

Dan angkot pun berhenti, si bapak keluar untuk merealisasikan ide sang istri. Namun sedari tadi telah ada yang duduk rapi plus manis jali di samping pak sopir, dia adalah…eng, ing eng…tunggu setelah pesan-pesan berikut ini (loh?). Di tempat duduk itu ada seorang cewek, mungkin umurnya sekitar duapuluh lima tahunan gitu deh, tapi tau gak sodare-sodare tuh cewek bawaannya jutek banget, mukanya gak ada manis-manisnya, asem dah. Jadi ceritanya cewek ini terserang sindrom cuek stadium sejuta, gak peduli berat lah sama sekitarnya, mau si bayi menangis sampai jenggotan juga mungkin dia tetap gak peduli dan gak mau pindah posisi. Akhirnya mau tak mau dia turun dan pindah duduk ke belakang, ternyata dia mikir juga “daripada aku di demo orang satu angkot, terpaksa dengan berat hati ku relakan posisi uenak ku untuk si bayi rewel ini, begh”. Masih dengan kejutekannya, dia masuk ke angkot dengan menghentakkan kaki kirinya tanda tidak senang, wajahnya dipasang sejutek mungkin, kayak habis face-off gitu deh mengalahkan wajah monster hulk saat berubah jadi ijo. Pokoknya sepanjang jalan kenangan eh sepanjang perjalanan angkot, mukanya asem banget, manyun semanyun manyunnya, hingga akhirnya password itu pun keluar dari bibirnya yang manyun “Pinggir, Bang”. Dia memilih turun di Petisah dan tak lupa masih dengan tampang yang gak ada enaknya dipandang dah. Dengan sombongnya dia turun dari angkot, terus bayar ongkos ke Pak Supir. Tak lama setelah si Miss Jutek itu turun, para ibu yang berada di angkot dan yang memang dilahirkan untuk mengomentari apa yang dilihat, dirasa, dan didengar segera menimbulkan suasana bising seperti lebah yang keluar setelah sarangnya mendapat gangguan dari pihak luar, buzz….buzzzz, berikut rekaman komentar mereka dengan gubahan seperlunya (emang apaan?):

Ibu 1: “Gak ada cantik-cantiknya pun, sombongnya minta ampun.”
Ibu 2 :”Gak ada rasa toleransinya.”
Ibu 3: “Kalo dia punya otak, seharusnya dia ngerti lah, anak bayi pula yang gak tahan panas, gerah lagi”.
Ibu 4: “ Dia kayak gitu karena dia belum punya anak. Gak dikasih Tuhan, anak, baru tahu rasa dia”.
Ibu 5: “Hahaha, saya kira tadi dia istrinya pak supir, soalnya disuruh turun gak mau turun”.

Pak Supir pun dengan secepat kilat menangkis jawaban dari pertanyaan yang sangat menohok jantungnya seketika, dengan jawaban yang singkat, padat, actual, bombastis, fantastis, prikitiw, cikicick (lebay woi!). Ini dia jawaban indah dari Si Supir “Bukan Ah, jelek aja pun, gak ada cantiknya” (emangnya kalo dia cantik Pak Supir ada rencana memperistri dia? :P).
Apa itu Indifference ?

Serpihan kejadian di angkot yang saya rekam di atas, berawal dari kegelisahan dan keserahan di hati saya tentang sikap orang modern zaman sekarang yang semakin lama semakin cuek dengan keadaan sekitarnya.
“Love me, or just hate me, but spare me with your indifference”

Pernah baca sepotong kalimat di atas?, Ya, kalimat di atas saya kutip dari novel Sang Pemimpi, kalimat di atas menggambarkan betapa semangatnya Arai mengejar cinta Zakiah Nurmala. Arai yang tidak pernah putus asa, walaupun cinta itu tidak tahu apakah akan berbalas atau tidak sama sekali, karena melihat kondisi Zakiah yang cuek luarbiasa terhadap Arai mau bagaimanapun usaha Arai untuk meruntuhkan pertahanan Zakiah, Zakiah tetap tidak bergeming sedikitpun. Arai hanya tahu bahwa ia begitu mencintai gadis pujaannya itu. Cintai aku, atau benci aku sekalian, tapi sungguh jangan sekali-kali kau acuhkan aku, begitulah kurang lebih makna dari kalimat itu. Dalem bangetkan?

Indifference adalah istilah dalam bahasa inggris, berdasarkan kamus Webster, indifference is not showing or feeling interest, without interest or concern; not caring; apathetic: his indifferent attitude toward the suffering of others sedangkan dalam bahasa Indonesia Indifference lebih diartikan kepada sikap cuek, tidak peduli dengan keadaan sekitar dan cenderung membuat orang lain menderita hanya karena sikap ketidakpeduliannya. Contohnya seperti yang saya kisahkan di awal esai ini.

Emang Enak Jadi Orang Cuek?

Kemarin saya ke mall, tempat hiruk pikuk manusia dari berbagai kalangan tumplek blek jadi satu. Biasanya saya ke mall kalau ingin nonton atau diajak sama orang tua saya. Yang bikin saya tertarik saat di mall, di sana ada berbagai macam orang. Kalau duduk di foodcourtnya, saya paling suka mengamati orang-orang yang lalu lalang atau duduk-duduk disana. Nggak ada yang sama kan dari mereka. Setiap orang punya cirinya masing-masing . Ada yang rambutnya warna-warni, ada yang pake rok mini, ada yang teriak-teriak di tengah hall, ada juga dua orang cowok dan cewek yang duduk dalam diam. Nggak tahu apakah grogi atau malah lagi berantem.
Dari semua orang itu, yang baru-baru ini menarik hati saya adalah orang-orang yang lagi jalan, melenggang sendirian, pake earphone di telinga. Kadang-kadang mereka nabrakin orang, jalan tanpa lihat kanan kiri. Nggak seperti kebanyakan orang yang jalan pelan-pelan sambil lihat etalase toko. Yang melintas di pikiran saya adalah, “Apa yang ada di pikiran mereka ketika berjalan ya?”

Tulisan curhat di atas saya kutip dari sebuah blog (shasays.wordpress.com) dengan gubahan seperlunya, saya dan Anda pasti pernah mengalami hal serupa ketika sedang duduk-duduk di suatu tempat lalu tanpa sengaja memfokuskan perhatian kepada orang-orang yang lalu lalang. Lalu kita pun siap menikmati segala keunikan mereka yang lalu lalang. Ada banyak cerita di sana dan ada banyak ekspresi yang tercipta.
Aristoteles pernah bilang manusia adalah makhluk social dan orang yang hidup di luar masyarakat itu adalah seorang malaikat atau seorang yang bukan orang (lah kok?). Sekilas orang seperti itu seperti anak autis. Asyik di dunianya sendiri. Padahal, kita hidup bermasyarakat.

Taburlah kebiasaan, tuailah karakter, taburlah karakter, tuailah nasib, kata Om Stephen R. Covey dalam bukunya yang fenomenal The 7th Habits of Highly Effective People. Mungkin kebiasaan cuek itu memang sudah tidak aneh lagi di zaman sekarang, tapi jika kita menganggap sesuatu itu tidak aneh, maka sesuatu itu akan menjadi suatu hal yang biasa meskipun sebenarnya tidak bagus juga untuk dijadikan kebiasaan. Mungkin juga karena zaman sudah berubah, semua dituntut serba cepat dan bersaing dengan ketat untuk mendapatkan apa yang diinginkan, sehingga kita terpaksa untuk tidak mempedulikan satu dengan yang lainnya karena sibuk dengan diri sendiri. Masih banyak lagi kemungkinan-kemungkinan lain yang membenarkan bahwa sikap cuek itu perlu dikembangkan, benarkah?

Cuek dan Cara Mengatasinya.

Tanpa bermaksud menghina diri, saya termasuk orang yang terkadang cuek dengan keadaan sekitar karena saya pikir hal itu diluar kendali saya, namun hati kecil ini sering memberontak bahwa sikap cuek itu tidak bagus untuk dipelihara dan terkadang suara hati itu kerap saya abaikan.

Jelasnya, Indifferent ini sikap yang tidak boleh dipelihara. Saat saya masih menyimpan sikap jelek bin haram ini, banyak orang yang kesal dan kecewa sama saya . Terutama orang-orang yang tidak kenal sama sekali sama saya. Katanya saya seperti orang yang suka cari musuh. Setelah itu, baru saya sadar bahwa sikap saya itu merugikan diri sendiri. Acuh pada keadaan sekitar selain membuat kita jadi kuper, juga bisa membuat orang lain tidak simpatik dengan kita. Bahkan bisa jadi karena sikap kita yang superduper cuek, malah membuat orang lain menderita. Biar pun tidak semua hal harus difokuskan, tapi paling tidak, berikanlah perhatian kepada mereka yang ada di dekat-dekat kita dulu. Orangtua kita mungkin yang selama enam hari dalam seminggu sering dicuekin, nah, gunakan momen hari libur untuk bercengkerama dengan mereka, sahabat kita mungkin, yang sudah nemenin kita selama ini dengan sabarnya atau tugas-tugas kuliah kita, yang semakin lama kok semakin menggunung. Hal-hal kecil seperti itu bisa dipakai sebagai permulaan untuk belajar meminimalis sikap cuek .

Ayo. . . tingkatkan kesadaran akan dunia dan cobalah untuk lebih memahami orang lain dengan begitu kita pun akan dipahami juga oleh orang lain. !

Terimakasih sudah membaca postingan di nufazee.com semoga bermanfaat.

Powered by Blogger.