Menu
/

TRAGEDI LINTANG NIHUTA: UNFORGETTABLE 5 SEPTEMBER
Minggu, 4 September 2011 adalah hari kepulangan kami. Ntah kenapa hari Minggu itu memang bawaanku dah nggak enak sepanjang hari. Daku dilanda kepala pening, berasa mau demam juga, akhirnya daku lawan dengan minum bodrex dan bedrest sejenak. Alhamdulillah, setelah istirahat, aku sudah mulai agak mendingan apalagi setelah minum air kelapa hasil panen Kk Fad dan Cipta heheheheh =D *yang iyanya ngidam minum air kelapa makanya sakit hihihihi.
Siangnya kami dijadwalkan untuk main2 ke pantai lagi, tepatnya pantai Kodai Tigo, *baca selengkapnya di note-note sebelumnya yah. =D.
Menjelang malam, uh…cepatnya waktu berlalu, perasaan baru dua hari lalu nyampe Barus eh ini mah udah hari Minggu aja, it is time to go home.
Tim ekspedisi Barus dijadwalkan pulang dari Barus itu pukul 8 malam sesuai rencana dari awal, Cuma namanya juga rencana bisa meleset bisa juga tepat sasaran. Nah, rencana kepulangan kami ternyata meleset. Pihak travel mengabarkan bahwa mobil dalam keadaan tidak sehat untuk dibawa jalan. Mendengar kabar itu saat pihak travel menelepon Kak Lia sebenarnya daku sudah makin merasa tidak enak dan bakal ada yang nggak beres, tapi aku mencoba menguatkan hati bahwa bakal tidak ada apa-apa. All iz well. Dengan segala nego akhirnya Kak Lia berhasil membujuk pihak travel agar bisa memberangkatkan kami malam itu juga ditambah lagi si Cipta ada jadwal kuliah di Senin pagi, soalnya si Cipta ingin mengejar mahasiswa yang Chinese *tanyakan kebenarannya pada yang  bersangkutan yah –eleeehh dah kaya seleb aja, selebor iya hahahaha.
Malam itu, travel tiba pukul 10, dan dengan segala keriangan kami ‘Say Good Bye’ dengan Kak Lia, Kak Gadi serta Ande-nya Kak Lia.
Mobil pun melaju, sebelumnya mobil singgah di lokasi lain untuk menjemput dua penumpang lagi. Ntah kenapa, kondisiku makin drop, mau demam, makanya sebelum pergi aku sempat minum bodrex, sebenarnya di lubuk hati paling dalam aku benci makan obat, lidah bakal pait, gak enak banget dah, makanya belum sampe mobil melaju jauh, daku memaksakan diri untuk tidur saja.
Dan posisi duduk di bangku bagian tengah dengan diriku juga di tengah-tengah sedangkan di sebelah kananku ada Ririn—ia duduk dekat pintu mobil.
Obatku mulai beraksi, keringatku mulai mengucur, namun bukan obatku saja yang beraksi, mobilnya juga bereaksi. Mesinnya hidup mati hidup mati setiap 30 menit sekali, pada kali pertama mesin mati di in the middle of nowhere, perasaan gak enakku mendadak muncul, segala macam zikir dan doa yang aku tahu dan hafal, komat-kamit kurapalkan dalam hati. Mudah-mudahan aman sampai tujuan. Aku gak tau udah berapa kali mobil mogok,jalan, mogok, jalan, yang jelas aku mencoba tenang, gak panik, dan memohon perlindungaNya. Lagi pula daku gak sanggup melihat kondisi jalan, lumayan ekstrem euy, ah entahlah, susah utk dikatakan, moga pemda segera mengatasi kondisi jalan menuju ke Barus yah. Semoga =).
Dalam ketenangan yang mencoba aku susupi dan dalam tidur2 ayamku, tiba-tiba ntah aku sudah dalam mimpi ntah bagaimana mobil kami berbelok tajam, lalu berputar, berguling, berguling dan DIAM!!!.
Segera setelah mobil kembali ke posisi semula, aku berusaha menenangkan diri, kami semua berusaha menenangkan diri. Lalu bersiap-siap untuk keluar dari mobil. Mobil berhenti tepat di depan pohon, diseberang jalan serta disamping rumah warga. Benturan mobil yang terguling dengan keras membuat salahsatu penghuni rumah bangun. Aku? Aku gak tau mau apa? Lakuin apa? Yang jelas Alhamdulillah kami semua selamat, hanya memar, cedera di beberapa bagian dan kemungkinan ada yang patah tulang, terutama penumpang di depan yang duduk disamping supir. Supir kami? Alhamdulillah selamat.
Allah…
Aku kira adegan mobil terguling guling hanya aku lihat di film-film, tapi aku baru saja mengalaminya.
Sekitar pukul 03.00 pagi Lintong Nihuta di pagi buta , dingiiinnnnnnnn banget, gemeletak gigi-gigiku tak bisa dihindarkan sejak pertama kali keluar dari mobil Kijang biru dongker itu. Setelah menurunkan semua barang-barang, memastikan tidak ada yang hilang atau rusak, baru kami mencoba istirahat sejenak dan menunggu konfirmasi dari supir tentang nasib kami selanjutnya. 

Empat jam berlalu begitu saja, merasakan perih yang tersisa dan memar-memar yang ada, mencoba tidur seadanya di depan teras rumah warga, mau nelpon orang rumah takut buat mereka panic, dan kesimpulannya adalah Sang Supir lamban menginformasikan ke pihak travel yang ada di Medan dan di Barus. Kami terlantar.
Pukul 7 pagi, ketika dirasa tanah sudah terang, kerusakan mobil nampak nyata. Gak usah diceritain deh @_@. Liat aja gambarnya T_T


Setelah di tunggu sejak jam tiga pagi, mobil pengganti pun datang menjemput, namun tidak langsung ke Medan melainkan transit dulu di Balige, menunggu supirnya yang PNS utk neken absen dan baru bisa berangkat pukul 09.00 WIB, nyampe jam berapalah ke Medan? Twewewng twewewng. Akhirnya nego nego dengan pihak travel tentang nasib kami, tentang harga tiket yang belum kami bayar—adakah pengurangan disana setelah terjadi hal seperti ini, adakah santunan pihak travel tentang kondisi penumpang yang dirugikan? Jawabannya saudara-saudara adalah TIDAK ADA. Dan kami kembali berpetualang di negeri Balige *petualangan tim Ekspedisi Barus belum selesai hahahaha. Kami pun nyari angkutan lain dan dapatlah angkutan L300 dan dijadwalkan berangkat pukul 08.00 WIB. Sembari menunggu L300 tiba di lokasi, kami pun cari sarapan di sekitar Balige. Tragedi Lintong Nihuta membuatku dan kawan-kawan lapar berat.
Cukup sulit cari sarapan di daerah Balige yang mayoritas dihuni oleh non Muslim, makanya kejelian mata diperlukan disini. Akhirnya ketemu juga RM yang diinginkan tapi eits tunggu dulu kok ada tulisan Abi Kecap di plang RM-nya, ternyata huruf B nya udah hilang dan hanya kebaca Abi Kecap, kontan saja kami buru-buru ngacir HAHAHAHAHA.
Alhamdulillah ketemu juga RM yang halal. Menu sarapan kami seperti menu makan siang hahahaha, ikan mas goreng, tauco, dan bumbu rendang, dan nasinya sepiring penuh hahahah serta minumnya teh manis hangat. Alhamdulillah lumayan nampak dunia ini =D.
Perjalanan pulang ke Medan pun dilanjutkan dengan L300, dan sampailah ke Medan pukul 16.00 WIB, jam 16.30 daku sampe rumah. Dan diserbu dengan pertanyaan, itu jidatmu kenapa bendol? Mana oleh2nya? Bla blab la =D. Yup, dahi sebelah kanan atasku memar, ada perih, nyeri dan sedikit luka disana, mudah2an jangan sampe geger otak deh :’(. Dan telapak tanganku juga memar, serta seluruh tubuh terkejut akibat peristiwa itu, saatnya melacak tukang pijat, dan segera check up. Alhamdulillah, All iz well. Keadaan para kru tim Ekspedisi lain seperti Molen memar di kedua bahunya, Ririn Alhamdulillah ndak parah, Cipta memar di bagian dada, Alhamdulilah udah di scan dan Cuma disarankan banyak mengkonsumsi kalsium, seperti odol gigi dan susu =D hahahaha, sedangkan anak muda, alias Kak Fadli, memar serius di dahi sebelah kiri, udah di scan dan alhmdulillah tidak begitu serius, namun menjadi serius adalah telapak tangan kiri yang ternyata ada tulang yang bergeser, Kita doakan semoga cepat sembuh ya Kak, kami semua saaayaaangg kk =).
Guys, gak terasa udah berada di akhir catatan Libur Lebaran Menggebrak Barus : Negeri 44 Aulia. Memang endingnya kurang enak, namun ada buanyaaakkk hikmah dari kejadian ini.
Yang jelas ekspedisi Barus belum selesai, soalnya Miss Bee belum nikah kabarnya Miss Bee someday bakal merayakan pernikahannya di Barus. Dan pernikahan Miss Bee gak lengkap tanpa kehadiran Kru dari Tim Ekspedisi Barus yang mempesona ini uhuuuuyyyy. Aamiin semoga disegerakan ya Miss Bee ^_^.
Trims sudah jadi guide kami. Daku sarankan Miss Bee buka semacam information centre di Barus agar pengunjung tahu tempat-tempat apa saja yang wajib dikunjungi atau buat semacam sekolah guide gitu. Hehehehe mantapkan! =D
Semoga bermanfaat dan sampai jumpa di catatan ekspedisi berikutnya yah. Liburan kali ini benar2 utuh, ini baru namanya liburan tapi moga kedepan gak pake tragedi yah. =D. Aamin Insyaallah. #Takbir!!!
Salam Avonturir! ^_*
Tips:
1.     Jika dirasa perjalanan malam tidak memungkinkan janganlah berkeras hati untuk pulang apalagi setelah dapat info dari pihak travel bahwa kondisi mobil tidak memungkinkan, tunda jadwal pulang adalah solusi bijak =).

2.    Harus memasang mata yang tajam untuk menilik RM jika sedang berada di daerah mayoritas non Muslim, jangan sampe kejebak dengan tulisan abi kecap =D
3. Jangan pernah kapok untuk menjelajahi bumi Allah. Ibn Battuta pernah bilang  Travelling--it leaves you speechless, then turn you into a storyteller =D *gue bangetzzz
1 komentar:

Terimakasih sudah membaca postingan di nufazee.com semoga bermanfaat.

Powered by Blogger.