Menu
/
‘Wahai ahli qira’ah, berlomba-lombalah dalam kebaikan dan carilah karunia dan rezeki Allah, dan janganlah kalian menjadi beban hidup orang lain’ –Umar bin Khattab, RA.
Jika anak TK hari ini ditanyakan tentang apa cita-cita mereka ketika sudah besar nanti, maka jawaban klise akan bermunculan, ada yang kekeuh ingin menjadi dokter, guru, presiden dan lain sebagainya, namun adakah anak TK hari ini yang dididik orangtuanya agar cita-citanya suatu saat nanti ingin menjadi pengusaha?.

Pengusaha, kata ini masih menimbulkan asumsi berbeda bagi banyak orang. Maklum, status pengusaha, masih menjadi strata yang cukup bergengsi di negeri ini, sehingga membuat orang tidak berani menjadi pengusaha. Menjadi pengusaha berarti harus memikirkan bagaimana perhitungan kelayakan usaha yang akan dibuat, pesaing yang akan dihadapi nantinya, ketakutan jika tidak bisa menguasai teknis, jika modal tidak cukup, kesulitan cari lokasi usaha dan peralatan pendukung usaha, susahnya merekrut karyawan,  jika usaha sudah dimulai, bagaimana memasarkannya, bagaimana nanti jika gagal, dan segala kata bagaimana nanti, seandainya jika? Itu semua hal yang selama ini mungkin telah mematikan karakter sebagian anak bangsa ketika hendak berwirausaha atau bercita-cita ingin menjadi pengusaha.

Definisi pengusaha itu sendiri menurut ensiklopedia bebas Wikipedia.com, pengusaha atau pebisnis adalah sebutan bagi orang-orang yang terlibat dalam usaha-usaha yang bertujuan menghasilkan laba, umumnya dalam pengelolaan sebuah perusahaan. Sedangkan yang disebut dengan perusahaan adalah tempat terjadinya kegiatan produksi dan berkumpulnya faktor-faktor produksi. Sekilas pembaca saya ajak kembali ke zaman sekolah pada mata pelajaran ekonomi, faktor produksi adalah sumber daya yang digunakan dalam sebuah proses produksi barang dan jasa, misalnya tenaga kerja, modal, sumber daya fisik dan kewirausahawan dan juga sumber daya informasi. Sebenarnya berdasarkan definisi pengusaha di atas, penjual gorengan saja sudah bisa disebut pengusaha. Gampang ya? Namun kenapa masih banyak yang memilih menjadi pegawai atau malah pengangguran?.

Hari ini, mereka yang mengikrarkan diri menjadi seorang pengusaha di Indonesia masihlah sedikit, hal ini diperkuat oleh Ir.  Ciputra, seorang tokoh pengusaha properti yang cukup sukses di Indonesia, ia menyatakan bahwa dari 240 juta penduduk Indonesia, baru sekitar 400 ribu yang memilih profesi sebagai pengusaha atau sekitar 0.18 %. Jauh sekali perbandingannya dengan Singapura yang sudah mencapai 7,2 % dan Amerika Serikat sekitar 11.5% (www.ugm.ac.id).

Berikut saya akan mengisahkan betapa beruntungnya mereka yang memilih menjadi pengusaha sebagai profesi yang menjanjikan dunia akhirat. Alkisah, suatu saat nanti di depan pintu syurga, berdirilah seorang dosen, seorang dokter dan seorang ulama. Mereka mengantri di depan pintu agar bisa masuk surga. Selama mengantri mereka sibuk mengungkit jasa selama di dunia, adalah dosen yang telah mendidik banyak mahasiswa, dokter yang merasa berjasa  telah menyembuhkan banyak orang sakit. Si ulama telah membimbing banyak orang yang berdosa. Mereka rebutan.
Tiba-tiba datang pengusaha. Lalu si dosen berkata, ‘Nah, ini dia pengusaha kita!, ialah yang membangun kampus tempat saya mengajar. ‘Ia juga yang membangun klinik tempat saya praktek’, kata si dokter. ‘Oh, ya ia juga yang membangun rumah ibadah, tempat saya berceramah’. Akhirnya mereka bertiga mempersilahkan si pengusaha memasuki surga lebih dulu. Nah, ini sekadar anekdot yang dikarang Ippho Santosa, seorang pakar otak kanan sekaligus pengusaha dalam bukunya 7 Keajaiban Rezeki.

Sekali lagi apa yang menghalangi kita untuk menjadi pengusaha?, toh, Nabi Muhammad saja juga menjadikan dirinya pengusaha.

Pengusaha: Solusi Pengangguran
Kemiskinan dan pengangguran sudah seperti dua sisi mata uang yang terus menerus menjadi momok mengerikan bagi Negara Indonesia tercinta. Sekarang saja berdasarkan tulisan Yudhistira Anm Massardi dalam opininya berjudul Berhentilah Sekolah Sebelum Terlambat (Kompas, 8 April 2011) menuliskan bahwa ada sekitar 750.000 lulusan program diploma dan sarjana yang menganggur. Jumlah pengangguran itu akan makin membengkak jika ditambah jutaan siswa putus sekolah dari SD hingga SLTA. Tercatat, sejak 2002, jumlah mereka yang putus sekolah itu rata-rata lebih dari 1.5 juta siswa setiap tahun. Faktanya lagi bahwa dari sekitar 105 juta tenaga kerja yang sekarang bekerja, lebih dari 55 juta pegawai adalah lulusan SD! Pemilik diploma 3 juta orang dan sarjana sekitar 5 juta orang. Jadi, untuk apa sebenarnya generasi penerus bangsa bersekolah tinggi?. Menurut Ippho, teori menjadi pengusaha hampir tidak pernah diajarkan di sekolah. Di sekolah, hal yang sangat dihargai dan dipuja adalah kehebatan dari Nilai Indeks Prestasi Kumulatif. Padahal kenyataannya, yang sangat dihargai adalah Indeks Pendapatan Kumulatif. Inilah yang menyebabkan generasi tamat sekolah tinggi setelah tamat hanya satu yang dipikirkan yakni bagaimana agar mendapat pekerjaan tetap, bukan tetap bekerja (wirausaha). Berkaca dari sistem pendidikan Yahudi, sejumlah kampus di Israel mengharuskan mahasiswa mereka khususnya mahasiwa dari fakultas ekonomi untuk menggarap suatu proyek bisnis di akhir tahun perkuliahan. Bekerja secara berkelompok, mereka hanya bisa lulus kalau proyek tersebut mampu mencetak laba satu juta dolar atau jika dirupiahkan sekitar Rp. 9 milyar. Indeks Pendapatan Kumulatif, bukan?, wajar jika hari Yahudi, adalah bangsa yang paling berkuasa atas kendali perekonomian dunia.

Bila saja diketahui bahwa menurut Ir. Ciputra lagi, sebenarnya masalah kemiskinan dan pengangguran bisa teratasi setidaknya diperlukan 4 juta pengusaha baru di negara kita. Hitung-hitungannya jika dari 4 juta pengusaha masing-masing membutuhkan 10 tenaga kerja saja, berarti akan ada 40 juta orang yang dipekerjakan. Wow!

So, saat ini dari 400 ribu pengusaha yang ada di Indonesia, maka masih tersisa lowongan kerja menjadi pengusaha sekitar 3,6 juta. Andakah itu?. Semoga, dengan begini persepsi otak kiri yang berlebihan tentang semakin tinggi jenjang pendidikan semakin mudah mendapatkan pekerjaan, segera sirna!, yang ada adalah persepsi otak kanan bahwa semakin tinggi jenjang pendidikan semakin mudah menuju generasi pencipta lapangan kerja.

Pengusaha Berjiwa Filantropi
Seorang bijak pernah berkata sebenarnya menghirup dan menghembuskan udaralah yang membuat kita sehat. Menghirup tanpa menghembuskan akan membuat kita sakit. Mengambil itu seperti menghirup. Memberi itu seperti menghembuskan. Maksudnya adalah menjadi pengusaha tidak cukup dengan urusan memutar mutar uang lalu bimsalabim uang itu akan bertambah bertambah dan bertambah hingga tujuh turunan dipastikan tidak akan habis, namun dibalik usaha kita, dibalik apa yang kita peroleh dari hasil yang kita usahakan, ternyata ada hak orang lain juga disana. Ruh the power of giving harus ada pada diri setiap pengusaha, jika tidak begitu dapat dipastikan usahanya akan mandeg, ibarat kita menghirup namun kesulitan untuk mengeluarkannya kembali dan yang ada malah menjadi penyakit.
Filantropi, mungkin kata ini masih asing di telinga kita, namun bagaimana dengan istilah zakat, infak, shadaqah? Kegiatan ini sudah berlangsung sejak masa Nabi Muhammad SAW yang digunakan untuk pengelolaan uang umat saat itu.

Istilah Filantropi sendiri berasal dari bahasa Yunani, philein, ‘cinta’ dan anthropos, ‘manusia’, Jadi, filantropi adalah kegiatan cinta kemanusiaan. Menurut, Ahmad Juwaini—Direktur Eksekutif Dompet Dhuafa dalam Seminar Nasional Entrepreneur bertajuk Filantropi dan Bisnis Sosial: Potensi dan Karir yang Tersembunyi di IAIN SU (26/05), Filantropi adalah kesadaran untuk memberi dalam rangka mengatasi kesulitan dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.

Usaha yang kita miliki bukan semata usaha untuk memperkaya diri tapi juga berorientasi untuk berbagi terhadap sesama. Belum ada sejarahnya pengusaha kaya raya rajin berfilantropi lalu jatuh miskin. Faktanya, Abdurrahman bin Auf—sahabat  Nabi Muhammad SAW yang punya 700 kendaraan niaga, namun masih bisa mewasiatkan 400 dinar dan 1000 kuda kepada pejuang islam ketika ia meninggal. Bill Gates dan Warren Buffet—dua orang terkaya di muka bumi, ternyata mereka adalah dermawan terbesar abad ini, begitu juga dengan Donald Trump, dalam kebankrutannya pada 1990-an dia malah membagi-bagikan hartanya, karena ia percaya, memberi itu berbanding lurus dengan diberi.

Adalah hal yang mungkin menjadi generasi pengusaha berjiwa filantropi di negeri kita yang gemah ripah loh jinawi ini, jika kita bisa lebih menguatkan mata hati dan ide brilian untuk menciptakan mata pencaharian bagi sesama.

*Tulisan ini menjadi Runner Up dlm Lomba Menulis Kreatif II yang diadakan oleh Djalaluddin Pane Foundation* (14 Juni 2011)

Terimakasih sudah membaca postingan di nufazee.com semoga bermanfaat.

Powered by Blogger.