Menu
/
Judul : Bahagia Ketika Ikhlas
Penulis : Rena Puspa
Penerbit : PT. Elex Media Komputindo
Cetakan : I, 2014
Halaman :184 Halaman

“Bukan zamannya lagi membandingkan siapa yang paling baik, working mom, full time mom, dan working at home mom, semua pilihan punya konsekuensi, dan punya peluang bahagia di dalamnya, asal kita berani jujur pada nurani dan juga konsisten dengan pilihan kita itu.”
(Bahagia Ketika Ikhlas-Rena Puspa, hal. 6)

renapuspa.blogspot.com
Belakangan di sosial media muncul lagi perdebatan tentang which one better? Menjadi Full Time Mom (FTM), Working Mom (WM) dan Working at Home Mom (WHM), dan responnya juga bermacam-macam, salahsatunya dari akun Facebook, Fahd Pahdepie, ia menuliskan bahwa menjadi FTM atau WM adalah sama-sama gak baik, bila masing-masing tidak ada EMPATI. Jleb!

Sekarang memang bukan saatnya lagi membandingkan siapa yang paling baik, karena hidup ini pilihan, right? Dulu, semasa masih belum menikah, mungkin efek buku yang saya baca juga dan pengalaman berteman dengan yang sudah berumah tangga, rasanya pilihan menjadi Ibu Rumah Tangga adalah pilihan ideal buat saya, walaupun sempat berpikir bisa gak ya? Soalnya sebelum nikah aja saya banyak beraktivitas diluar dan ujug-ujug menikah, stuck di rumah, makanya saya sampaikan kepada suami, ada dua hal yang membuat saya betah di rumah, buku dan wi-fi :-D

Dan setelah menjalani kehidupan berumah tangga meski baru seumur jagung, ternyata saya lebih bahagia menjadi seorang working at home mom dan makin bahagia lagi setelah membaca buku Bahagia Ketika Ikhlas yang ditulis Mbak Rena Puspa, ternyata bahagia aja gak cukup, tanpa ikhlas di hati

Sudahkah Kita Menjadi Ibu yang Ikhlas?

Kesannya ribet banget yah jadi Ibu di zaman sekarang, sampai ada Sindrom Baby Blues yang sudah dialami Ibu Anik Koriah asal Bandung, tahun 2006 membunuh ketiga anaknya karena ia khawatir akan masa depan anaknya. Kalau ditelaah, seolah gak habis pikir yah, Ibu yang terpelajar ini kemudian dari segi pakaian amat sangat rapi dan sopan, tapi bisa punya pemikiran seperti itu.

Kayaknya zaman dulu gak ada para Ibu yang terlalu gimana-gimana, bahkan pada zaman sebelum Rasul datang, yang cemas adalah dari pihak orang jahiliyah, bahwa setiap lahir bayi perempuan mesti dikubur, bersebab aib dan alasan lain yang menghinakan perempuan, tapi kini…

Kini para Ibu dihadapkan pada banyak tantangan, dunia yang deras arus informasi, bila tak pandai memilah dan mencerna, maka akan muncul kekhawatiran-kekhawatiran yang belum tentu terjadi, kemudian tantangan akan pemenuhan tuntutan hidup, Ada quote yang menyatakan bahwa, cobaan lelaki itu adalah ketika di masa jayanya, sedangkan cobaan wanita adalah ketika di masa susahnya sang lelaki. Kalau sudah begini, masihkah bisa bahagia, masihkan bisa ikhlas?

Nah berawal dari banyaknya artikel yang membahas tentang menjadi ibu bahagia, Rena Puspa yang memang full time mother tergerak untuk menuliskan bagaimana menjalani profesi seorang Ibu dengan bahagia dan ikhlas?

Berdasarkan pengalaman penulis juga, alasan ia menulis buku ini, seorang FTM rentan sekali dilanda stress, nampaknya saja seorang FTM bahagia dengan profesinya, tapi atmosfer stress tebal sekali mengelilingi FTM. Dan melalui buku ini Rena mencoba membagi pemikiran dan pengalamannya.

Buku dengan design cover yang unyuu banget, pink lembuuutt, terdiri dari 6 Bab, Bab pertama berupa pendahuluan, mengapa kata bahagia mesti disandingkan dengan kata ikhlas? Ternyata menjadi ibu bahagia saja gak cukup, tapi juga mengupayakan agar mencapai ikhlas, karena bila sudah ikhlas, maka bahagia mudah diraih. Di Bab ini juga disampaikan bahwa puncak kebutuhan dasar manusia berdasarkan Teori Maslow adalah aktualisasi diri.

As we know, beberapa tahun belakangan, pamor profesi FTM atau Ibu Rumah Tangga, dianggap profesi sebelah mata, dibandingkan dengan WM atau WHM. Saking gerahnya, Mbak Qonita Musa menuliskan hal tersebut di note facebook-nya 

Di Bab Pendahuluan, semua dijelaskan Mbak Rena dengan bijak, pembaca diajak kontemplasi, diajak untuk jujur, apa Ibu beneran nyaman dengan keputusan menjadi FTM sementara keinginan untuk menjadi WM itu besaaar sekali, nah loh? Jangan lewatkan Bab awal ini yah, dijamin kegalauan akan tuntas, ^0^

Berada di Bab 2 dan 3, pembaca akan disajikan apa saja penyebab ibu rumah tangga rentan diserang stress, jawabannya ada 2 faktor, hormonal dan eksternal. Dari sisi hormonal, seorang ibu harus melewati dengan cara yang cantik tahap-tahap mengandung, melahirkan , menyusui dan merawat tubuh pasca hamil, tentu tidak mudah ya, tapi buku ini solutif banget. Begitu juga dengan faktor eksternal, wuidih, ini pemicunya banyak banget, bersebab yang dihadapi selain benda hidup, juga benda yang gak hidup, hmm…tentu ilmu untuk menyelesaikan itu semua gak sedikit yah, namun buku ini cukup membantu. Sekali lagi berumah tangga gak sesederhana yang kita kira, kalau sederhana ya rumah makan padang :-D #Joke

Memasuki Bab 4, kita mulai cooling down lagi, setelah agak hectic di Bab 2 dan 3, Ayolah, jadi Ibu yang apa adanya saja, berhenti menjadi Supermom, bab ini para ibu diajak untuk menciptakan bahagia.

Menurut Profesor Daniel Gilbert, kebahagiaan, ada dua, pertama, alami dan kedua sintesis. Sesuatu yang spontanitas kita rasakan ketika apa yang kita inginkan tercapai, disebut kebahagiaan alami, berhasil memasak Soto Medan, tentu senang dong, nah sedangkan kebahagiaan sintetis kebalikannya, gak spontan, justru kita yang ciptakan, apalagi disaat mengalami kegagalan.

Dan gak terasa tibalah kita di dua bab terakhir,Bab 5 Meraih Bahagia dan Bab 6 Meraih Sukses dengan Hati Bahagia. Pada bab 5, tentang bagaimana menciptakan bahagia dibahas tuntas disini, tentu gak mudah ya membuang sampah masalah di hati, kalau saya tipsnya menulis, kami memiliki buku harian, jadi bila saya kesal (dan saya yang paling banyak dan sering kesal biasanya hahaha) saya ceritakan semuanya di buku harian kami, hehehe, sedangkan di buku ini tipsnya lebih variatif lagi, bahkan kita bisa menyalakan tombol ikhlas kita.

Di Bab 6, Mbak Rena menuliskan penutup yang cantik, redefenisi sukses, seperti apa? Cek langsung ya di Bab ini.

Hanya dengan membaca buku berhalaman 184, saya kok lega ya, lega karena buku ini ditulis dengan penjelasan yang sederhana namun sarat makna dan menyentuh ke hati.
Pun dengan kelebihan yang ada dalam buku ini, gak lepas dari kekurangan, pada halaman 89 kata rubah seharusnya ditulis ubah, 133, ending, seharusnya ditulis miring.

Terlepas dari segala kekurangan dan kelebihan, Buku Bahagia Ketika Ikhlas, saya rekomendasikan banget untuk dibaca oleh para gadis, ibu-ibu apalagi dan gak menutup kemungkinan para bapak, biar makin paham dengan istrinya, yah ^0^

Sekali lagi, satu quote yang paling saya suka, 
pintu ikhlas itu dapat kita dobrak awalannya yaitu saat kita dapat melakukan apa yang paling kita sanggup lakukan dengan penuh ketulusan.

Selamat Membaca!

8 comments

Bukunya bagus untuk bekal calon ibu, juga pengingat untuk ibu yang sudah memiliki anak. Sukses lombanya mbak ^^

Reply

Iya Mak, bagus banget, aku sebagai IRT pemula *haaalah* banyak belajar dari buku itu ;-)

Makasi doanya ya Mak Ika 😍

Reply

Buku yang menarik ya, bisa tuh jadi kado untuk ibu muda yang milih jadi FTM. Sukses lombanya yaaaa :)

Reply

Bener banget Mak Hidayah, jadi kado juga oke banget nih buku, gak hanya untuk FTM aja Mak, tapi buat Buibu yang masih galau untuk memutuskan pilihan harus menjadi apa :-)

Makasi ya Mak, doanya ;-)

Reply

Alhamdulillah, Aamiin, makasi ya Mak Nathalia ;-)

Reply

isi buku ini memang pas untuk para ibu...sy juga ikutan lho kontes reviewnya hehe

Reply

Iya Bu, banget banget pas nya hehehe, oh ya? Ntar deh aku BW ke blog Ibu yak :-)

Reply

Terimakasih sudah membaca postingan di nufazee.com semoga bermanfaat.

Powered by Blogger.