Menu
/
Pertama kali diminta Kak Fadhli untuk membantunya dalam membidani sejumlah anak-anak di Rumah Tahfidz menulis buku, hmm, agak mikir lama juga tapi setelah itu diiyakan hehehe, dan terbukti sampai sekarang terus diterapkan metode yang cocok agar anak-anak usia SD merasa asyik menulis tanpa harus terbebani.

Hari ini, aku lupa pertemuan keberapa -_-“ yang jelas sudah 3 bulan kami membimbing adik-adik yang lucu, ceria dan cerdas di Rumah Tahfidz.

Adapun sekolah non-formal ini didirikan oleh sepasang suami istri, yang lebih vocal adalah Bu Mulia, sang istri. Awalnya sekolah didirikan untuk ketiga anak mereka, karena mereka sepakat untuk mendidik dan mengajar anak mereka secara homeschooling namun mempelajari dan menghafal Al Qur’annya dapat, nah mereka pun mulai mencari metode yang tepat, dan akhirnya berujung pada menerapkan juklak dari Rumah Tahfidz Ustadz Yusuf Mansur. Namun lama kelamaan, makin banyak anak sekitar yang bergabung dan sampai sekarang Rumah Tahfidz mereka berkembang.

Aku dan Kak Fadhli merasa luarbiasa sekali diberi kesempatan untuk terlibat dalam mengabadikan keseharian mereka dalam sebuah buku. Maka, jadilah kami sejak tiga bulan lalu menjadi guru bimbingan menulis untuk adik-adik kami ini.

Kami membimbing 11 orang adik-adik, 8 laki-laki dan 3 perempuan. Oh ya sistem Rumah Tahfidz yang terletak di daerah Andan Sari, sekitar 20 menit dari Marelan Pasar 1, anak lelaki menginap dari hari Senin-Jum’at, Sabtu-Minggu mereka melepas rindu alias pulang hehehe, sedangkan anak perempuan tidak menginap, masuk sekolah seperti anak lelaki, jam 8. Dibuat menginap, agar target hafalan tercapai.

Pertemuan pertama kami mulai dengan orientasi menulis dan suntikan semangat, kemudian disepakati agar melatih adik-adik menulis dibuatlah buku harian, setiap hari adik-adik mengisi buku hariannya, dengan konsekuensi bila tak mengisi sehari saja, maka bisa didiskualifikasi, alias tidak diikutkan dalam proyek buku, jadilah adik-adik ini semangat selalu.



Pertemuan berikutnya karena mengejar target, sejak 3 minggu lalu, kami sudah mulai menerapkan metode menulis yang fun. Metode diambil dari Modul dan Menggambar Cerita dengan Teknik Keajaiban Setetes Air milik Rumah Kreatif Salsabila FLP Kalimantan Timur.

Minggu pertama, adik-adik distimulus untuk menggambar dasar, seperti menggambar garis, gelombang dan lingkaran, serta bentuk tetes air. Selanjutnya kami menggambar kucing, huwaa ternyata semua pada suka gambar, dan bagus-bagus hasil gambarnya :D setelah menggambar, adik-adik diminta untuk menuliskan kisah kucing yang telah mereka gambar, dengan saling membantu, dan ternyata imajinasi mereka keren-keren.



Dua minggu kemudian, tepatnya Hari Jum’at, kami bertemu lagi, dan saya single fighter hehehe, alias minus Kak Fadhli, pertemuan ini sudah mulai fokus untuk mengeksplor adik-adik dengan cara mewawancarai mereka satu per satu, setelah sebelumnya saya beri tugas untuk menggambar kisah kucing yang telah mereka tulis dua minggu lalu, saya pun mewawancarai adik-adik, hihihi mereka unik banget :-p malu-malu gitu diwawancarai. Hari itu terjaring 5 orang yang berhasil saya wawancarai.

Dan tarraaaa, hari Rabu lalu kami bertemu lagi dalam pertemuan yang kesekian :D. Kali ini saya datang sendiri, Kak Fadhli nyusul. Adik-adik dengan keceriaannya pun menyambut saya.

Pembukaan kelas menulis, saya awali dengan senam,’angkat tangan ke atas, ke belakang, ke kanan, ke kiri, lalu pegaaang hidungnya *sementara saya pegang dagu* :-p , dan semua tak ada yang terkecoh, konsentrasi bagus, saya pun mengulangi gerakan yang sama, namun, kali ini saya komandokan untuk pegang ‘hidung temannya’ hahaha.

Selesai senam, hidung adik-adik pada merah hihihi, semangat banget temannya memegang hidung mereka -_-“ , sesi berlanjut dengan menggambar si jerapah lucu, ini idenya Amir. Menggambar pun dimulai, step pertama, membentuk badan jerapah, step kedua menggambar wajah jerapah, step ketiga kaki dan tangan jerapah, dan terakhir finishing, menggambar telinga, mata, mulut, kemudian corak hitam pada badan jerapah, serta rambut.

Nah, sesi menggambar rambut, saya ngakak bwuahahaha dibuat Fauzan yang duduk disebelah saya, soalnya dia membuat rambut jerapahnya dalam berbagai model, model Naruto -_-“, rambut jigrak jigrak begitu, rambut Dora :D, rambut si mancung -_-“ tokoh anak perempuan dalam sinetron ‘Mak Ijah Pengen ke Mekah’, dan rambut terakhir yang fix adalah rambut Naruto :-p



Seperti biasa setelah menggambar, adik-adik diminta untuk menuliskan cerita dari tokoh Jerapah Lucu yang sudah mereka gambar, nah saya, mengambil dua orang untuk diinterview.
 
Gak berasa 2 jam berlalu, adik-adik kondusif nya hanya 15 menit pertama, setelah itu, menyusul saya yang sedang dalam proses memwawancarai teman-temannya. Wawancara pun dilakukan seadanya, dan saya kembali duduk melingkar dengan adik-adik, melihat hasil kerja mereka, membaca cerita mereka, hihihi keren dan lucu.

Jam 4 tepat, Kak Fadhli pun datang, bahagianya lagi dengan tidak tangan kosong :-p alias Kak Fadhli bawa roti buat adik-adik. Inilah dialog bagaimana adik-adik itu menerima roti dari Kak Fadhli, adik-adik memanggil Kak Fadhli dengan sebutan Om ^_^ :

Om Fadhli : Ya, adik-adik, siapa yang mau rotiii?

Adik-adik : sayaaaaa!!! (yaiyalah semua pada mau, pake nanya lagi Kak Fadhli :-p )

Om Fadhli  : Kalau begitu, roti ini akan Om bagi kepada adik-adik yang bisa merayu Om, supaya Om kasih.

Hihihi Kak Fadhli ada aja, mau bagi roti aja minta dirayu, tapi seru juga hihihi

Salman : Om, aduh om, saya sakit perut om (sambil pegang perut), mintalah rotinya om *pinter juga acting si Salman*

Hahahah, saya ngakak dengar rayuan Salman
Lain rayuan Salman lain pula rayuan Juza

Juza : (pasang wajah memelas, dan suara lemes gitu) Ooom, minta rotinya, ooom

Hahaha dengarnya kayak orang yang belum makan roti sehari sekali, #loh kok ? hahaha

Om Fadhli : Hahaha, oke oke, akan om bagikan, tapi adik-adik, coba hitung berapa jumlah kita disini? Soalnya Om hanya bawa 15 roti?

Semua pada menghitung, dan total anak-anak ada 19 orang.

Om Fadhli : Nah, 19 orang, jadi gimana ini? Ada yang punya ide, agar roti ini bisa dibagi merata?

Fauzan : Saya Om, saya ada ide, (kami pun mendengar ide Fauzan dengan baik dan tekun) gimana kalau Om beli lagi rotinya.

Saya dan Kak Fadhli, GUBRAK!!! Hahahaha , tapi bagus juga lah idenya tu :D

Malik : Saya ada ide juga Om

Om Fadhli : Ya, Malik ,apa ide Malik?

Malik ini bungsu dari Abi dan Ummi pemilik dan pengurus Rumah Tahfidz, sedangkan abangnya si Imam dan si Amir, sama-sama juga ikut kelas menulis.

Malik : Gimana kalau, yang kakak adik, rotinya dibagi satu aja

Semua dari kami ketawa dan setuju dengan ide itu, sedangkan Imam dan Amir, syok mendengarkan ide adiknya.

Om Fadhli : Wuuaa, ide bagus sekali itu Malik, berarti Om kasih satu roti yang panjang ini ya buat Malik, Imam dan Amir, bagi tigaa yaaah.

Imam dan Amir : yaaaaaa…. Masak gitu Om T_T hihihi

Begitulah tingkah dan celoteh unik dari adik-adik di Rumah Tahfidz ini, saya kira bersebab mereka belajar di Rumah Tahfidz dengan kegiatan di sekolah dan target hafalan yang menanti, mereka anak yang seriusan ,  ternyata doyan humor, tapi teteup tetap harus diarahkan agar humor yang tercipta tidak menyakiti dan membuat ketawa berlebihan yang bisa berakibat mematikan hati.

Sekian dulu cerita adik-adik di Rumah Tahfidz ini, tunggu cerita selanjutnya yaaa, dan mohon doanya juga ya para pembaca, agar buku kami bisa selesai dan terbit serta ada aja donatur yang baik hati yang membantu biaya penerbitan buku kami, karena misi dari buku ini nantinya, menginformasikan kepada orangtua teman kami, bahwa menghafal qur’an itu menyenangkan loooh, aamiin ^_^

Terimakasih sudah membaca postingan di nufazee.com semoga bermanfaat.

Powered by Blogger.