Menu
/
Pertama kali dapat informasi bahwa Dewi Lestari akan mengadakan roadshow ke Medan, senang bukan main. Infoku dapat dari rajin ngecek newsfeed Facebook, hihihi. Membaca cara dan persyaratannya, seperti mungkin tak mungkin, tapi mungkin, soalnya lagi disela sela mengerjakan yang ‘deadline’ juga. Akhirnya, karena memang lagi hamida (hamil muda) maka yang biasa melalak cantik ke toko buku agak ditunda dulu. Maka, kuputuskan untuk membeli novel Gelombang via bukabuku.com aja, dan sempat khawatir karena pengiriman lama sampai bersebab stok gak ada di gudang bukabuku.com mesti jemput ke supplier lagi. Untuk jaga jaga, aku pesan lagi novel Gelombang via Ririn. Alhasil, novel Gelombangku ada dua, hahaha, yang mau beli samaku boleh, masih berplastik, discount, jual murah aja, Rp.60.000, (harga di Toko Buku Rp. 89.000, promosi terselubung haha)

sumber : bentangpustaka.com


Awalnya hopeless ya baca novel Gelombang, karena aku gak ngikutin novel serialnya Dee, dari KPBJ sampai serial kelimanya ini, Gelombang, jadi merasa gak maksimal gitu ngikutin kisahnya, tapi demi demi, kubaca juga lah, ternyata gak hopeless hopeless amat kok hehehe, pas baca mencoba mempasrahkan diri, Oke, berlagak sudah baca aja lah dari seri pertamanya.

Sampailah pada detlen, hohoho aku pun melambaikan tangan ke kamera, gak sanggup jenderal, makin kesini makin banyak kisah science fiction yang gak sampe otakku bacanya, stop dulu. Dan menyerahkan semuanya pada Allah, mendukung teman teman yang sudah ikutan dan mendoakan mereka agar lulus ikutan DCC. Padahal pengen banget T_T.

Seminggu kemudian (masih kepo kepo cantik, berharap ada keajaiban haha) dapat kabar lomba review diundur, yeay sempat senang, tapi teteup aja lagi lagi melambaikan tangan ke kamera, dan pasrah yang kesekian *ngemut netbuk*

Dua hari kemudian ( *triinggg) bahagianya dapat, kabar dari grup Kumpulan Emak Blogger yang diposting Mak Indah Julianti Sibarani, bahwa KEB Medan dapat jatah 5 kursi (yaelah bahasanya politik politik gitcu) untuk hadir dalam DCC. Subhanallah, suennengnya bukan main, yeaay, terimakasih KEB *emmuaah*.



So, Here I am,

Menunggu hari Minggu tanggal 22 Maret 2015, itu kayak menunggu kamu iya kamu *terus ngegombal :-p *

Jam 09.05 menit aku tiba di Hotel Santika Medan, berhubung karena gak tahu lokasinya, Benteng Room, Alhamdulillah ada pegawai hotel yang baik banget, mulai dari mengantarkan sampai di lift pertama, hingga memberi petunjuk untuk melanjutkan perjalanan dengan menggunakan lift kedua menuju lantai tiga, *Makasi Bang hehe*

Udah beberapa kali ya dapat kesempatan menghadiri acara di Hotel Santika? Tiga kali kalau gak salah, teteup, tempatnya nyaman, keren, dan bikin betah #eh *ingat rumah, Rul hihihi*

Setiba di ruang Benteng, wow sudah ramai, kita registrasi dulu yaa. Oh ya, ternyata dilokasi udah ada Mak Windi dan Mak Lia Cerya, sebelum duduk, cipika cipiki dulu yeaaa..


Terus Mbak Dee dimana yak *celingak celinguk* oh ternyata lagi sarapan, baiklah, lanjut lagi say hello nya ke teman teman yang sebagian besar aku kenal hahaha, ada dari Komunitas Blog Em (Blogger Medan) , beberapa pemenang lomba review, dan dari Komunitas FLP SUMUT (Forum Lingkar Pena Sumatera Utara).

Seperti biasa, ritual Emak Blogger kalau lagi kopdar, foto foto yuhuuu, berhubung belum rame dan formasi masih lengkap serta banner belum digulung, maka berfotolah kami, tarraaaa…




Jam, 09.30 pun acara dimulai, gak lama setelah Mbak Dee masuk ke ruangan, wuaaa Mbak Dee seger bangeeeettt, aku kira rambutnya masih cepak, ternyata rambut panjang, anggun deh, aaarrggh aku tersepona eh terpesona, makin semangat lah korek ilmu dari Mbak Dee *pasang ikat kepala*

(Sok) Kenal Dee

Pertama (sok) kenal Mbak Dee kapan ya, oh pas dia masih di grup musik RSD Rida Sita Dewi, *dah lama banget ya, nampak kali kelahiran 90-an, (sok tua oiii :-D) * . Kemudian, saat Novel Perahu Kertas booming makin kenal lah dengan sosok Dee Lestari, berlanjut ke karya selanjutnya yakni Madre, Rectoverso dan Filosofi Kopi.

Nih cewek keren dalam hatiku, darimana asal mula ide ide gilanya, istilah istilah unik yang ada di Perahu Kertas, lalu membaca Madre, sampe ngiler roti aku, baca Filosofi Kopi, aroma kopinya sampe bisa kubayangkan. Gila nih orang.

Belum lagi, diksi diksi dia yang gak mendayu sih, namun puitis, seperti kenal dengan gaya diksi dia tapi punya siapa ya, dan aku akhirnya tahu pas ikut DCC hihihi. Selain prestasi di dunia kepenulisan, ternyata karyanya juga mempengaruhi industri musik Indonesia, beberapa lagu ciptaannya dinyanyikan oleh penyanyi kece semua, ada NOAH Band, Glenn Fredly, Maudy Ayunda, dan beberapa penyanyi terkenal lainnya. Lalu, hampir semua karya tulisnya, sudah difilmkan semua. Ajiiib dah.

Semua itu berawal dari M.E.N.U.L.I.S.

Dah gak sabar pengen tahu seperti apa keseruan DCC di Medan, lanjut terus baca blog daku yaaah…

Seru dari Awal Acara sampai Akhir

Keseruan DCC makin lengkap dengan keberadaan MC kondang kota Medan Putri Rizki Ardhina. Tau aja MC nya sebagian peserta belum sarapan hihi. Oh ya baru pembukaan acara aja, peserta udah dibagikan hadiah loh, bagi yang bisa jawab pertanyaan, huwaa, daku belum beruntung.



Dalam opening nya MC juga bilang bahwa peserta aktif bakal dapat kesempatan lunch bareng Dee dah gitu, buat peserta yang selama acara nge-live tweet dan paling banyak nge-tweet, bakal dapat hadiah kaos gelombang kece loooh.

Apa gak makin semangat tuh peserta, bangeeetttt!

Nah, berhubung waktu singkat banget, maka DCC pun dimulai, aarrggh Dee is in action, now T_T


Dee, dengan runut langsung menjelaskan latar belakang DCC ini diadakan, ternyata, Dee buka bukaan loh, maksudnya, DCC lahir karena keprihatinan Dee akan kurangnya sumber pustaka kita di Indonesia tentang proses kreatif seorang penulis. Untuk beberapa penulis, pasti akan merahasiakan proses kreatifnya, padahal bukannya ilmu itu berkah dan akan terus bertambah kalo dibagi yak, daku setuju keras dengan rahasia yang diungkapkan Dee. Tetapi, menurutku juga nih, sekarang Alhamdulillah beberapa penulis yang aku kenal, memang baik hati dan gak segan membagi ilmu proses kreatifnya, kadang secara cuma cuma lagi, tinggal kitanya aja nih, mampu gak meramu itu semua menjadi karya yang fenomenal dan inspiratif jangan hanya sekadar rajin datang ke pelatihan penulisan eh tetapi gak nulis nulis. JLEB!

Kemudian Dee lanjut menjelaskan, bahwa Medan terpilih sebagai kota yang diyakininya sebagai tempat yang akan melahirkan penulis penulis besar, lebih dari itu Dee yang juga mengalir darah Batak dalam dirinya merasa terpanggil untuk membesarkan kota Medan dari sisi para penulis lokal. Aku saja baru tahu sejak baca profil Dee di novel Gelombang, ya ampuun Dee, kamu berdarah batak asli Balige toh, hehehe. Bangga jadi anak Medan #uhuk.

Sebagai penutup, sebelum ke inti acara yakni tanya jawab, Dee meyakinkan peserta bahwa, inilah kesempatan berharga, tanyakan saja hal hal yang terkait kepenulisan, jangan malu bertanya, dan satu lagi, DCC bertujuan mencari penulis berbakat, maka peserta yang beruntung dan hadir di DCC adalah bagian dari eksperimen Dee bwuahahaha * ketawa cantik * berefek dahsyat kah DCC ini? Jawabannya dilihat dari berhasilnya peserta dalam berkarya, dan bila berkenan, Dee berharap sekali setiap progress yang sudah dijalankan, Dee ingin mengetahuinya, ‘Silahkan kabarkan kebahagiaan itu kepada saya, boleh via twitter atau instagram’, huwaaa…luarbiasa kereeen. Someday mau jadi penulis kayak gitu deh, never stop sharing and caring.

Sebagai, awalan untuk ke inti acara, dari tadi awalan mulu yah, hihi, *tenang, santai* Dee menanyakan aspirasi peserta dulu nih, kira kira apa kerisauan, kegelisahan, motivasi peserta hingga pengen banget ikut DCC. Ada sekitar 5 orang yang share aspirasinya, daan semua ditanggapi Dee sebagai key bahwa peserta DCC ini mau dibawa kemana, ya semacam apersepsi gitu deh kalau dalam dunia pendidikan, hihihi.

Selesai pemaparan aspirasi, mulailah Dee menuju ke papan kertas dengan spidolnya, untuk termin pertama dibuka 5 penanya pertama, daaan, hahaha, penanya emang 5 , taapiii, 1 penanya terdiri dari 3 pertanyaan, saking antusianya peserta. Dee pun mulai mencatat sendiri tanya demi tanya peserta, semua dijawab Dee dengan sabar dan fuuuulll, gak setengah setengah bagi ilmunya, berikut uraian pertanyaan dan simpulan jawaban dari Dee yang bisa dan sempat daku rekam di notes unyu ku ini.

Bagaimana mengolah ide agar tidak tergoda untuk mengelola ide yang tetiba datang?

Inti pertanyaannya sih, bagaimana agar setia/fokus dengan satu ide *eaaak*

Dipelatihan kepenulisan mana pun yang pernah daku hadiri, pertanyaan seperti ini laris banget meluncur dan sering jadi pertanyaan jagoan dari peserta pada umumnya, dan jawaban yang kudapat dari Dee memang beda, bedanya dimana, yuuk lanjut baca…

Untuk menjawab satu pertanyaan ini, peserta sampai diajak Dee ke masa kecilnya, hehe, jalan jalan ceritanya nih.

Saking panjangnya, kaki Dee kelelahan karena memakai sandal ber-hak, tanpa jaim jaim, Dee izin kepada peserta untuk melepaskan alas kakinya, dan kembali melanjutkan perjalanan ia mulai menulis. Peserta yang melihat Dee beraksi apa gak makin santai tuh, berasa dekat dan nyaman ngobrol sama Dee.

Ternyata Dee sudah mulai menulis sejak kelas 5 SD tahun 1985 *oke, daku entah berada dimana, eh Dee udah nulis aja* dan dari proses yang panjang itu, di tahun 2000, adalah tahun dimana Dee menyelesaikan manuskrip pertamanya.

Dee adalah tipe penulis yang gak bisa dikekang, pernah diminta menulis untuk suatu media, namun harus terpenjara dengan ketentuan ketentuan menulis di majalah, bagi Dee hal tersebut justru malah mematikan kreatifitasnya, maka tak heran, untuk ukuran cerpen, Madre dan Filosofi Kopi, adalah cerpen yang panjang.

Lalu, dulu Dee merupakan penulis yang bermusuhan dengan disiplin dan ritual, ya lagi lagi alasannya bisa mematikan kreatifitas. Akhirnya setelah menulis beberapa novel dari serial KPBJ, setiap serialnya punya cerita dan proses kreatif masing masing, sampailah Dee kepada pilihan untuk memakai formula menulis berikut ini.

Tentukan Niat Awal Menulis

Ngobrolin tentang niat, Dee jadi teringat dengan ungkapan awal sekali dalam Buku 7 Habits of Highly Effective People karya Steven Covey, bahwa ketika kita merencanakan sesuatu, kita harus tahu hasil akhirnya akan seperti apa.

Nah loh, kalau bunyinya udah seperti itu, masa iya masih menafikan kekuatan dahsyat dari penegakan disiplin bagi seorang penulis? Tentu manfaat banget yah, fokus udah pastilah.

Seorang Dee aja sebelum setenar sekarang karya karyanya, ternyata sangat mengimpikan bahwa suatu hari buku bukunya ada di toko buku, dan lihat! Kejadiankan! Hampir di seluruh tobuk di Indonesia, menjual buku karya Dee.

Gimana? Niat udah oke toh? Sudah tau kira kira bakal membutuhkan waktu berapa bulan untuk menyelesaikan novel yang tertunda? Oke, keep dulu, kalau udah, sekarang Dee mengajak peserta, gimana caranya agar disiplin menulis.

Hayooo ngaku siapa disini yang sering pasang tampang bego di depan netbuk atau komputer? Gak tau mau nulis apa? Hahahah

HADIIIRR! Akulah salahsatu orangnya, daku sering kali kejebak nostalgia *eh ini mah Raisa yak haha* maksudnya kejebak dalam godaan untuk mengecek medsos , yang kadang bisa makan waktu dua jam >.< hingga berujung aku mengurungkan niat untuk menulis. Kalau kamu, apa sih yang mampu mengalihkanmu dari kegiatan menulis?

Sebenarnya ide itu banyaaak sekali, kalau peserta malah sering bertanya bagaimana mencari ide, saya justru bagaimana memberhentikan aliran ide yang deras ini, nah loh, begitu kata Dee, hahaha, bagi bagi dong Mbak Dee ^^

Ini lagi bagi bagi ilmu keleeesss, jadi, penulis itu sebenarnya harus memiliki kamera penulis, gunakan kamera ini untuk melihat, mendengar, merasakan, sekitar kita paling gampangnya, teman teman kita, saudara, sahabat, tetangga, lokasi tempat tinggal, kampung halaman. Dengan merekam itu semua di kamera penulis kita, maka nanti kita jadi punya Bank Data yang sewaktu waktu bermanfaat sekali saat kita berproses menyelesaikan karya.

Nah setelah itu, kan gak semua ide yang kita peroleh tumplek plek di satu cerita? Maka saatnya menentukan Angle, hal apa sih yang mau kita ceritakan. Kemudian mulailah dengan pembukaan cerita yang tidak biasa, buatlah yang seenak mungkin dibaca oleh pembaca kita.

Dee sendiri dalam menulis, jarang sekali menggunakan prolog, yang kayaknya kok ngajarin pembaca melihat bareng bareng apa yang terjadi yah, dan ‘saya lebih nyaman langsung membuka cerita dengan satu kalimat yang tidak biasa’, jelas Dee, yang kemudian mencontohkan kalimat yang tidak biasa itu dari novel Gelombang,

Hutan dapat mengubah seseorang dalam sekali sentuhan

Kereeen!

Setelah menentukan edi eh ide yang hendak ditulis, lalu diapain doong? Ya gak juga dielus elus juga sih, tetapi…

Buat Takaran Waktu Penyelesaian

Dee menggunakan istilah kuantifikasi, dan dalam menakarnya gunakan intuisi *jari telunjuk memegang dahi sambil pejam mata* udah kayak Pak Tarno aja nih, hihi, maksud Dee adalah, hal yang perlu ditakar adalah dari segi kita hendak menulis novel yang akan kita tulis itu berapa kata, Dee menakar bahwa novel Gelombang-nya akan ia tulis dalam 80.000 kata, dan memang kita lihat saja, tebalnya ampun ampunan, ternyata dibalik pengerjaannya gak main main, yaiyalah sudah dikuantifikasi, mana bisa gak serius. Tul gaak?! , selain menakar dari jumlah kata, lalu tokoh dan jumlah halaman.

Sebagai contoh, Dee memisalkan dalam menakar jumlah kata saja. Misal, kita hendak menulis novel yang berjumlah 40.000 kata lalu, oke. Lalu, kita target selesai 6 bulan, kemudian hari kerja maunya 3 hari, yuk sekarang kita hitung *kalkulator mana kalkulator* dalam 1 bulan berarti kita punya hari kerja 12 hari, dikalikan 6 maka, dalam 6 bulan kita punya 72 hari kerja, yuk sekarang kita bagikan 40.000 dibagi 72 = sekitar 550 kata, hohoho, itu setara dengan dua halaman gak nyampe malah. Ternyata gak sesulit yang kita kira ya kalau kita mau.

Setelah Dee sadari, bila ritual disiplin itu tidak ada, maka akan berlindung dibalik yang namanya tidak mood , malas, dan alasan lainnya.

So, bersahabatlah dengan deadline, jadikan DEADLINE alat untuk kita menyelesaikan tulisan bukan sebagai ALASAN kita menulis. Cakeeep banget dah wejangan Mbak Dee yang ini.

Oh ya, satu hal, dengan rutinitas disiplin menulis tersebut, jangan takutnya bila novel kita nantinya akan garing, kan kita tadi punya Bank Data yang mumpuni, efek dari mengoptimalkan kamera penulis kita.

Dan, aku pikir, disiplin menulis Dee ini, berlaku untuk menulis apa saja yah, nge blog mungkin, nyicil menulis novel (udah pasti lah ya), atau konsisten nyetor tulisan bagi kontributor media online.

Bicara disiplin memang gak lepas dari jam biologis para penulis, nah ini sebenarnya pertanyaan daku yang dijawab Dee. Seorang Dee Lestari dulunya sangat akrab dengan hantu malam alias jam biologis menulisnya itu malam hari, sekarang sudah menjadi ibu rumah tangga, berisiko sekali menulis di jam jam segitu. Aku aja pernah begadang zaman kuliah dulu, nah sehari begadang, rasa ngantuknya bisa bertahan sampai seminggu, ditambah lagi dengan penyakit yang menanti, semacam flu dan masuk angin hahaha

Sekarang Dee Lestari lebih memilih jam biologis menulis itu pada subuh hari selama 2 jam. Baru deh setelah itu aman mengerjakan pekerjaan rumah tangga, bila ada waktu kosong di siang hari, kita bisa melanjutkan tulisan kita, jadi 2 jam di Subuh hari seperti jam tetap ngantor.

Terkait jam biologis menulis, Dee jadi keinget pertemuannya dengan seorang penulis asal Belanda, ‘Kamu harus terbiasa bersahabat dengan hantu hantu siang juga, dan cukuplah sudah bersahabat dengan hantu hantu malam’

Keren ya istilahnya, hantu malam dan hantu siang hihihi

Oke, sampailah kita pada pertanyaan awaaal sekali, ketika menulis, muncul ide lain,nah yang Dee lakukan adalah ngomong dengan IDE, ‘De’ tunggu dulu ya, saya gak cuekin kamu, tapi saya sedang mengerjakan yang lain’

Kebanyakan dari kita sering tergoda dengan ide baru yang datang, sekaliber Dee aja paling gak bisa mengerjakan dua naskah novel sekaligus. Konon lagi aku *nunjuk hidung, tapi gayanya udah kayak ngerjain banyak naskah, satupun belum ada selesai, curhat nih yeee :-P

Saran Dee, jangan jadikan ide baru itu sebagai kutukan, bersahabatlah dengan ide lain yang datang.

Find what you love and stick to with.

Gimana serukan? Pokoknya Dee bener bener membongkar semua rahasia proses kreatifnya. Apalagi pertanyaan yang satu ini.

Bagaimana Membuat Buku yang Page Turner?

Page Turner adalah istilah untuk buku yang bila dibaca kita pengen baca lagi dan lagi, penasaran dengan kisah dan adegan selanjutnya. Dan itu kita lihat dari karya Dee ya, yang sulit sekali lepas kalau sudah dicengkram sama tokoh dan kisah yang dikarang Dee.
Rahasianya adalah, cerita yang seru itu adalah yang mengandung rangkaian sebab-akibat. Jangan kebalik.

Kemudian, gabungkan antara fiksi dan realitas, dan pastikan tokoh kita punya habit, contoh di Perahu Kertas, buatku Kugy adalah tokoh cewek yang unik, suka curhat di perahu kertas dan membiarkan perahu kertasnya mengalir di sungai kecil, lalu hobi nulis dongeng. Nah, habit ini bisa kita lihat dari teman teman kita, mereka inspirasi kita loh, masukkan ke bank data, maksimalkan kamera penulis kita.

Bagaimana menyelipkan humor dalam novel kita?

Ukuran sebuah humor yang lucu itu adalah, apabila kita yang menuliskannya juga ketawa, yakinlah pembaca juga bakal ketawa. Begitu juga untuk membuat adegan sedih, kalau kita sedih bacanya, pembaca pasti sedih juga.

Sebaiknya sudut pandang keberapa yang dipakai untuk novel biografi? Hihi ini pertanyaan daku

Jenis sudut pandang ada tiga ya, orang pertama yaitu aku, orang kedua itu kamu, dan orang ketiga. Sudut pandang orang ketiga (dia) ini terbagi lagi, terbatas, maksudnya, menceritakan satu orang yang sudah kita tentukan, sedangkan tidak terbatas, maksudnya sudut pandang kayak Tuhan.

Dee menyarankan kepadaku, untuk menggunakan sudut pandang pertama saja, sudut pandang ini membuat pembaca lebih dekat dengan tokoh tokoh dalam cerita kita.

Pertanyaan berikut, setiap kita punya orang yang menginspirasi kita untuk terus maju berkarya, begitu juga Dee. Nah siapa saja tokoh dibalik suksesnya Dee?

Jujur Dee mengakui, ia tipe penulis yang gampang terpengaruh tulisan dari penulis lain, sehingga tampak sekali tulisan Dee memang dipengaruhi tokoh dari buku yang dia baca, ada Sapardi Djoko Damono, seorang sastrawan senior Indonesia yang puisinya tidak bermain diksi memang, tapi di tangan SDD kata biasa jadi luarbiasa, dan aku merasakan ada SDD dalam tiap karya Dee khususnya syair syair di novel novel Dee, lalu ada Saman karya Ayu Utami, kemudian Dan Brown, Dee belajar page turner dari karya karya Dan Brown.

Gak berasa, 3 jam bersama Dee akan berakhir, maka sebagai sharing penutup Dee membagi ilmu tingkat tinggi dalam menulis versi Dee, *dah berasa masuk perguruan shaolin mana gitu ya hehehe, level jurusnya makin tinggi*

Dee, dalam perjalanan melahirkan novel novelnya memakai berbagai metode dalam teknik menyusun cerita, diantaranya,

Ketika menulis Akar (2002) Dee menggunakan metode TIMELINE garis waktu, menyusun peristiwa berdasarkan waktu terjadinya

Mind Map , metode ini dipakai Dee saat menulis Partikel (2012) dan Mind Map bisa dibuat untuk mengembangkan karakter dari Tokoh kita.

Story Board, kalau aku bilang nama metode yang Dee pakai untuk menyelesaikan Intelegensi Embun Pagi (coming soon). Sediakan bahan seperti kertas karton 4 kajang , beda warna, kemudian stick note. Nah, kertas tersebut di temple, dan diberi label Bab I, Bab II A , Bab IIB, dan Bab III. Kenapa gak ada Bab III, karena eh karena, idealnya untuk menulis novel hanya diperlukan tiga pembagian Baba tau dikenal drama tiga babak, Bab pertama disana semua pengenalan tokoh dan menanamkan konflik serta memunculkan pertanyaan pertanyaan yang akan diungkap di Bab II A dan Bab II B , nah di Bab III , closing gak perlu panjang panjang.


Dari proses tersebut, Dee kemudian menyimpulkan bahwa sebenarnya kegiatan menulis itu adalah crafting (kerajinan) , penulis sama dengan pengrajin kata kata.

Thanks for sharing Mbak Dee, begitu berharga banget deh ilmunya.

Acara selanjutnya, adalah booksigning yeaaah…puas puasin dah foto bareng, booksigning, salam-salaman.





Thanks Kumpulan Emak Blogger

Thanks Bentang Pustaka, sering sering ya ngadain acara beginian hehe.

Saatnya action, SEMANGAT!

PS: teknik menulis lengkap ala Dee bisa dibaca disini, Kak Windi Teguh pakai recorder dia haha, jadi komplit dah, thanks kakak

http://windiland.blogspot.com/2015/03/dees-couching-clinic-medan-menulis-ala.html?m=1
4 comments

Kesempatan berharga dapat ilmu dr Dee. Senangnyaaa...

Reply

Iyaaa Mak Arin, Alhamdulillah ^o^ makasi udah singgah ya Mak

Reply

Aq tau grup RSD, tapi gak nyangka kalau D nya itu Mbak Dee :D
Review acara Dee dariku ada di sinihttp://bit.ly/1Hhx3DJ

Reply

Aku dah komen Rin ^o^ bacalah post terbaruku, malam minggu yang apalah apalah 😁

Reply

Terimakasih sudah membaca postingan di nufazee.com semoga bermanfaat.

Powered by Blogger.