Menu
/
Sungguh kesempatan luar biasa Medan bisa kedatangan Helvy Tiana Rosa lagi pada tanggal 22-24 Mei 2015. Salahsatu agenda Bunda Helvy adalah menjadi pembicara di Forum Silaturahim Ayah Bunda Medan pada Sabtu, 23 Mei 2015.



Dengan pembahasan Mengenalkan Sastra pada Anak, sekilas pembahasannya sederhana ya, tapi efeknya luar biasa, sastra menjadi asupan penting dalam perkembangan anak, itu sebab mengapa Umar bin Khattab, seorang Khalifah yang kita kenal galak, namun sanggup menyampaikan pernyataan, ‘Ajarkanlah kepada anakmu sastra, karena akan melembutkan hatinya’, sampai disini, simpulannya adalah ternyata sastra itu penting loh.

Belum lagi kesukaan saya pada drama Korea kolosal yang mengangkat kisah para raja dan ratu di istana pada zamannya, ada adegan anak Raja wajib belajar sastra. Jangankan drama korea, Imam Syafi’I saja sampai berguru pada Mus’ab bin Zubair, awalnya permintaan Imam Syafi’I untuk belajar mengarang puisi ditentang keras oleh sang Ibu, karena lebih baik belajar Al Qur’an daripada mengarang puisi, namun apa kata Imam Syafi’I kepada ibunya, hingga ibunya luluh dan mengizinkannya belajar mengarang puisi?

“Wahai Ibu, Zaid bin Tsabit adalah seorang penghafal Al Qur’an, tetapi ia juga pandai bersyair dan menjadi penyair kesayangan Rasulullah. Jika seseorang pandai menulis syair, kata katanya menjadi menarik dan orang akan mudah paham mendengar kata katanya” *

Subhanallah, wajar sekali bila banyak kata kata mutiara yang lahir dari lisan Imam Syafi’I dan sampai sekarang masih dibaca serta kita renungi maknanya. Saya faans berat Imam Syafi’I saya jatuh cinta pada kata kata bijak berhikmah yang ia ciptakan.

Andai hidayah bisa kubeli, akan kubeli berkeranjang keranjang untuk kubagikan kepada mereka yang aku cintai (Imam Syafi’i)

Itu salahsatu kata kata bijaknya. Kereen banget kan?

Penasaran dong ya, seperti apa seorang Bunda Helvy, sastrawati Indonesia dalam mendidik kedua buah hatinya. Bunda mengawali materinya dengan menceritakan sekilas kehidupan rumah tangganya.

Ternyata anak Bunda Helvy empat, namun keguguran, jadi anak Bunda yang ada yakni Abdurrahman Faiz (20 th) dan Nadya Paramita ( 8 th).

Istri dari Tomi Satryatomo ini, adalah sosok yang romantis, dalam penyampaiannya Bunda tidak pernah membangunkan suaminya dengan cara cara ekstrim, hehe, tapi ala ala penyair.

‘Bagaimana saya tidak jatuh cinta berkali kali sama kamu setiap hari, kalau caramu membangunkan saya seperti ini, begitu kata Mas Tomi saat saya membangunkannya dengan kata kata puitis di telinganya setiap hari’, ujar Bunda saat menceritakan kehidupan rumah tangganya.

Begitu punya anak, Faiz juga diperlakukan seperti itu oleh Sang Bunda. Saat menulis catatan ini, saya sempat stalker juga di google tentang Abdurrahman Faiz, putra pertama Bunda Helvy, dan muncullah sekelumit profil di situs Wikipedia. Subhanallah prestasi Faiz terutama dalam ber-syair sungguh luar biasa dan ada juga karya berupa buku yang ia tulis saat usia belia. Sekarang Faiz sedang menyelesaikan studinya di Turki.

Lalu, bagaimana cara Bunda Helvy mengenalkan sastra kepada anak anaknya?

Ramaikan anak kita dengan buku, meskipun dia belum mengerti dan bisa membacanya, tentu pilihlah bahan material buku yang tidak gampang koyak. Bahkan sampai mainan pun, Bunda menyiapkan mainan yang berbentuk Buku.
Bunda juga membeli buku buku puisi terutama karangan Sapardi Djoko Damono, dari puisi puisi SDD lah Bunda mulai menghujani suami dan anak anaknya dengan jutaan kalimat puitis.

Setiap pagi Bunda membangunkan Faiz dengan puisi, ‘Subhanallah Faiz, pagi ini Allah masih memberikan kita kehidupan, Bunda mencintai Faiz seperti Bunda mencintai pagi, selesai mengucapkan kalimat tersebut di telinga Faiz, kemudian Faiz saya cium dan saya peluk’, ujar Bunda membagikan pengalamannya dalam mengenalkan sastra kepada Faiz sejak dini.

Efeknya, Faiz di usia tiga tahun, Bunda dikejutkan dengan moment wow Faiz yang membisikkan ke telinga Bunda Helvy ‘Bunda, Faiz mencintai Bunda seperti Faiz mencintai syurga’

Arrgghh, saya saja membayangkannya sudah meleleh, apalagi Bunda Helvy sendiri selaku ibu kandung Faiz. Hihi

Bunda juga mengenalkan sastra pada Faiz dengan cara mendongeng. Ada satu pengalaman dimana Bunda waktu itu baru pulang kerja dan dalam keadaan lelah luar biasa, bayangkan sebaik turun dari angkot, berjalan lemas, tetiba dari rumah disambut Faiz dengan teriakan " Woi, itu Bundaku, Bundaku pulang, Bundaku jago dongeng" , disusul dengan rombongan teman teman Faiz yang penasaran pengen didongengin oleh Bunda Helvy, hahaha.

Ada satu tips dongeng dari Bunda, bahwa dongeng yang berhasil itu bukan saat kita dongeng kemudian anak sukses tertidur, tapi anak malah sukses melek dan semangat mengikuti alur cerita dongeng yang kita bawa. Itulah ukuran berhasil membacakan dongeng untuk anak.

Selain itu, apa yang dilakukan Bunda tidak hanya mengenalkan sastra saja pada akhirnya, tapi juga mengajarkan anak cinta buku, cinta ilmu, cinta kegiatan menulis.

Keluarga Bunda Helvy menerapkan setiap anggota punya buku harian, sampai kepada asisten rumah tangga Bunda, Saya pernah baca juga di buku Bunda Helvy lupa saya judulnya, Bunda Helvy dan suaminya kalau marahan ya ditulis di buku harian, anak anak juga begitu. Nah, nanti anggota keluarga membaca isi hati dari tiap anggota keluarga, jadi gak ada yang dipendam, semua disalurkan melalui tulisan dan kemudian dikomunikasikan untuk sama sama dicari solusinya. Marahan aja bisa jadi tulisan ya hehe.

Kebiasaan Bunda Helvy menulis buku harian tidak lepas dari kebiasaan Ibu Bunda Helvy yakni Ibu Maria yang juga selalu menulis setiap jam 2 pagi, ternyata kebiasaan ibunya itu ia rekam dan ia ikuti sampai sekarang.

Kemudian, tipsnya lagi, di setiap kamar anggota keluarga, ada perpustakaan kamar dan ada juga perpustakaan keluarga. Wuaa buku dimana mana, pasti menyenangkan sekali.

*Sumber :
Talib, Abu Latip, 2010, Imam Syafi’I : Pejuang Kebenaran, Penerbit Emir Cakrawala Islam

Terimakasih sudah membaca postingan di nufazee.com semoga bermanfaat.

Powered by Blogger.