Menu
/
Judul     : Bapangku Bapunkku
Penulis   : Pago Hardian
Penerbit : Indiva
ISBN      : 978-602-1614-47-1
Cetakan  : 1, April 2015
Halaman : 232 Halaman
Harga      : Rp. 49.000


Serunya Punya Ayah Berpikiran ala Punk



Apa yang pertama kali terlintas dalam pikiran kita saat membaca atau mendengar kata Punk? Kebanyakan dari kita masih memasang stigma negatif untuk kata itu.

Tapi, sebelum men-judge, mari kita kenal lebih dekat darimana asal muasal istilah kata punk, apakah seburuk yang kita kira?

Setelah melalui cek dan ricek yang panjang *gayaaa, benerin kacamata dulu, ternyata istilah punk muncul sekitar pertengahan tahun 1970 di Inggris. Jadi, anak muda di Inggris waktu itu gak sabar dan kesal dengan pemerintah yang lamban dalam menyelesaikan bencana ekonomi, nah dari situlah mereka melakukan pergerakan untuk menyadarkan pemerintah, pergerakannya melalui musik. Maka, bermunculan grup band yang mengusung aliran punk, yang lirik-liriknya menyindir pemerintah.

Dari sebab kemunculannya aja kita bisa simpulkan, anak muda mana yang mikirin negaranya kalau gak dari hasil anak muda yang doyan baca koran, haus informasi, kritis, idealis dan pengen yang terbaik untuk negaranya.

Wah, awalnya positif banget kan istilah punk. Belakangan terjadi pergeseran makna yang menjadikan istilah punk buruk banget. Di beberapa kamus Inggris online, punk diartikan sesuatu atau seseorang yang gak berharga dan gak penting, waduh!

Bahkan, masih di kamus online yang sama, punk is

a style or movement characterized by the adoption of aggressively unconventional and often bizarre or shocking clothing, hairstyles, makeup, etc., and the defiance of social norms of behavior, usually associated with punk rock musicians and fans.

Gaya atau gerakan yang diadopsi secara agresif ( gak pikir panjang, yang penting keren) dan seringnya gaya mereka mengejutkan kita bersebab pakaian yang mereka pakai, umumnya mereka pakai serba hitam, biar gak nampak dekilnya hehe, gaya rambut ala ijuk sapu, riasan wajah yang dibuat seseram mungkin, seperti menindik hidung dan lidah, mentato, kemudian mereka identik dengan penyimpangan perilaku, brutal, nge-drugs, bahkan nge-free sex. Naudzubillah.

Kebayang gak sih jauh banget pergeseran maknanya, dari yang bertujuan baik, eh malah diartikan salah. Anak muda sekarang memaknai punk dengan dekil dekilan di jalan, ngamen, ngumpul ngumpul gak jelas.  

Selain itu punk juga punya makna yang lain, kali ini bersumber dari kamus online yang beda. Punk adalah ideologi.

Punk is all about being yourself, liking what you like, doing what you do and not having to live upto someone elses expectations, only your own. there is no dress code, hair colour or rules to be punk, since punk is about being true to yourself.

Punk adalah semua hal tentang menjadi diri kita sendiri, menyukai apa yang kita suka, melakukan apa yang kita suka, gak peduli dengan omongan orang.

Ideologi punk inilah yang dianut Bapang.



Hah? Bapang? Kata apa itu? apakah tanah Bapang? bukan bukan, itu mah tanah lapang, haha. Perasaan baru baca atau dengar deh, samaaa, saya juga gitu, pertama kali baca judul novelnya. Bapangku Bapunkku. Unik ya judulnya, seunik kisah yang terangkum dalam buku ini.

Alap Nian, seorang anak berusia 14 tahun menceritakan keluarganya yang antik *dah kayak museum hihi. Dikisahkan bahwa Alap anak pertama dari Bunda dan Ayah yang tidak mau dipanggil Ayah tetapi Bapang.

Penjelasan tentang asal muasal panggilan Bapang dipaparkan panjang lebar di halaman 13. Bagi Bapang, anaknya tidak boleh asal meniru sebutan dari bangsa lain, ia tetap memegang teguh panggilan khas sukunya, Semende.

Lalu, Bapang menerangkan bahwa kami adalah keturunan orang Suku Semende yang berasal dari Sumatera Selatan. Suku Semende masih satu rumpun dengan Suku Melayu di Palembang, Bengkulu, Lampung, Kalimantan, hingga Malaysia. Bapang adalah panggilan untuk ayah dalam bahasa Suku Semmende. ( Hal.13)

Alap bangga punya ayah seperti Bapang. Baginya Bapang adalah ayah yang unik, nyentrik dan sedikit ekstrim serta anti mainstream garis keras. Gimana gak, ternyata diam diam, Bapang adalah penganut aliran punk. Bapangku Bapunkku, Ayahku, Ayah yang Nge-Punk abieeesss.

Dan Alap sangat sangat gak setuju dengan pernyataan Andrea Hirata, bahwa Ayah yang pendiam lebih besar kasih sayangnya daripada ayah yang cerewet.

…Kasih sayang Bapangku seluas langit, Andrea Hirata tidak punya kemampuan sama sekali untuk mengukur kasih saying seorang ayah selain kasih sayang ayahnya sendiri. Meskipun dia lulusan Paris atau Inggris atau Swiss! (Hal.17)

Duilee Alap, saya setujuuu sama kamu, memang ayah saya gak cerewet, tapi sepertinya saya punya suami yang sepertinya bakal jadi ayah yang cerewet bagi anak anaknya kelak. *semoga bagian ini gak dibaca si Aa’ , haha.

Nah, dari aliran yang dianut Bapang ini, syukurnya Bapang hanya menganut pahamnya saja, bukan gaya hidup ala Punk. Bapang ngakunya bahwa ia adalah Punk Muslim.  Kalau sampai Bapang ngikutin gaya hidup ala Punk, hmm…mungkin kisah ini gak akan pernah ada. Kisah seorang Ayah yang berusaha membuat segala hal yang terbaik untuk anak anaknya.

Cerita dibuka dengan adegan yang menyentuh sekali, untuk ke tujuh kalinya sejak Alap berulang tahun yang ke tujuh. Setiap itu pulalah Bapang menghadiahkan Alap sepucuk surat, judulnya JUARA. Dan kini Alap telah berusia 14 tahun,

Kemudian, jalinan cerita terangkai dalam 14 Bab, berisi keseruan demi keseruan yang terjadi dalam keluarga Bapang.  Di beberapa judul Alap mengisahkan Bapangnya dengan alur maju mundur, yang membuat pembaca mengerti pada akhirnya proses terbentuknya Bapang dan pemikirannya serta keteguhannya dalam menjaga prinsip prinsip hidupnya *tsaaah, kok jadi berat banget gini bahasannya haha.

Bersetting Kota Jogja yang damai dan tenang, mungkin dengan keberadaan Bapang suasana Jogja berubah seperti riuhnya Kota New York haha. Meriah dan Heboh. Bapang yang orang Sumatera dengan segala keidealisme-an yang ia punya, banyak hal yang tidak sesuai menurut pemikiran Bapang, ia protes habis habisan dengan caranya sendiri.

Jadi, Bunda dan anak anaknya , Alap, Harnum, Tuah dan Anjam sudah biasa ngadepin Bapang, dan terkadang apa yang dibilang Bapang emang benar. Berapa banyak orang yang berhadapan dengan Bapang kehabisan kata kata saat meladeni kekritisan Bapang terhadap hidup ini *tsaah lagi.

Contohnya saat Bapang menghadapi petugas KB, karena kekritisan Bapang yang memprotes program KB, sampai membuat petugas KB bengong. Saya aja kalau jadi petugasnya juga bakal terbengong bengong, Bapang sih protesnya gak nanggung nanggung sampai bawa data dan fakta, tapi saya setuju dengan Bapang. Jadi pengen hamil lagi #eh.

Kekritisan dan idealisme Bapang ternyata gak berakhir dengan memprotes petugas KB saja, Setahun lalu, Bapang dimusuhi oleh para pengurus masjid Karang Jati karena hanya Bapang yang tidak setuju terhadap rencana perluasan dan memperindah masjid.

Bapang memang beda. Hidupnya dihiasi dengan balada melawan arus orang orang yang tidak bermental revolusioner.

Selain beda, Bapang itu aneh, di zaman dia masih belum menikah, berani beraninya Bapang bergaul dengan maling jemuran  ( nah loh) bahkan dijadikan saudara, gimana bisa? Ya bisa dong, Bapang getoh loh.

Suatu hari, siapa sangka, Bapang yang hobi protes ini itu, akhirnya menjadi bumerang bagi keluarganya, terutama anak anak Bapang. Pasalnya adik adik Alap terancam tidak sekolah, soalnya Bapang memprotes Kepala SD Karang Jati 3, tempat  Harnum, Tuah dan Anjam bersekolah, apa sebab? Mending baca aja, masalahnya rumit, saya pun kalau jadi Bapang bakal emosi haha, soalnya ini terkait psikologi anak anak Bapang.

Usai melabrak Kepala SD Karang Jati 3, Bapang semakin percaya betapa bobroknya sistem pendidikan di Indonesia, dan Bapang tak mau anak anaknya ikutan bobrok, Bapang pun memutuskan untuk membakar seragam sekolah anak anak.

Apa? Dibakar?

Mengetahui rencana Bapang itu, Bunda yang tak pernah melawan Bapang, marah semarah marahnya. Gawat, kebahagiaan keluarga Bapang berada di ujung tanduk.

Bagaimana kelanjutan kisah keluarga Bapang? Mampukah Bapang menyelamatkan kebahagiaan keluarganya sendiri akibat gejolak idealismenya ? Apa saja yang dilakukan Bapang dalam mendidik anak anaknya?

Bapangku Bapunkku: Ketika Anak Mengisahkan Ayahnya

Akhir akhir ini tema tentang ayah sedang hangat untuk dibahas. Apalagi sejak kemunculan novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Kisah tentang sosok Ayah Ikal dalam novel tersebut dideskripsikan begitu bersahaja, sampai sampai Mei 2015 lalu, Andrea sengaja mengabadikan sosok sang ayah dalam novel terbarunya berjudul, Ayah.
Tak hanya itu, novel tentang ayah yang juga fenomenal adalah Sabtu Bersama Bapak karya Adhitya Mulya, bahkan sekarang novel tersebut diangkat ke layar lebar dan sedang dalam proses rilis, belum tahu kapan akan tayang di bioskop.

Semoga Bapangku Bapunkku juga bisa mengulang kesuksesan buku buku yang saya sebutkan di atas. Aamiin ya Rabb.

Barakallah kepada Pago Hardian atas terpilihnya novel Bapangku Bapunkku sebagai pemenang kedua dalam ajang Lomba Menulis Inspiratif Indiva 2014. Seperti yang kita tahun, PT Indiva Media Kreasi sejak tahun 2007 berkomitmen menjadi penerbit yang menerbitkan novel novel inspiratif. Nah, untuk menemukan penulis yang menulis novel inspiratif itu bukan perkara gampang, untuk itu Indiva Media Kreasi dengan segenap upaya menghadirkan lomba menulis novel inspiratif ini tahun lalu, dan terjaringlah novel karya Pago.

Novel ini menceritakan sosok ayah dari sudut pandang anaknya yang berusia 14 tahun. Kalau baca blurb-nya, novel bersampulkan warna kuning ini terkesan biasaaaa aja, tapi satu hal unik yang membuat saya tertarik untuk membeli dan membacanya adalah, karakter Bapang serta penasaran dengan pemikiran pemikiran ala Punk versi Bapang terhadap permasalahan hidup ini *halaaah.

Jangan dikira pembaca akan disuguhkan episode layaknya drama di sinetron Keluarga Cemara *yang tahu sinetron ini, pasti anak tahun 90-an, haha, apaaa coba* yang aman damai gemah ripah loh jinawi, tapi pembaca akan disuguhkan dengan drama Keluarga Ceramah, haha.

Sejak memiliki anak, Bapang memang super duper cerewet, malah mengalahkan Bunda. apa apa diprotes dan dilarang, gak ada yang berani melawan Bapang. Bapang memang agak keras dalam mendidik anak anaknya, hal ini dilatarbelakangi masa kecil Bapang yang juga dididik ala militer oleh Kakek, Ayahanda Bapang, tapi meskipun begitu, Bapang itu orangnya baik banget.

Kebaikan Bapang direkam dengan sangat lekat di sanubari Alap dan adik adiknya ketika mendengarkan kisah Uwak Bagus. Siapakah Uwak Bagus? Eng ing eng…baca ndiri yak hihi.

Membaca novel ini saya ketagihan sejak halaman pertama, penasaran terus dengan ulah dan pemikiran Bapang. Pago mengaku karakter Bapang terinspirasi dari Paguh Nian, nama Bapang.

Bisa jadi, Pago menuliskan novel ini untuk mewakili pemikirannya tentang segala hal yang gak sesuai menurutnya melalui karakter Bapang.

Dari tadi yang dibahas seriusan melulu, tenaaang, novel yang memiliki total 232 halaman ini, juga kocaaak bwuahaha. Apalagi saat surat cinta Wulandari untuk Alap dibaca Bapang. Bapang marah dan menyuruh Alap membaca keras surat cinta itu di depan Bapang, Bunda dan adik adik Alap, haha. Kelucuan demi kelucuan juga terlontar dari dialog adik adik Alap.Ada juga beberapa teka teki cerdas versi Bapang.

..."Ayo tebak, bentuknya bulat dan pipih letaknya selalu dipasang di tempat tempat yang mulia. Benda apakah itu?" (Hal.64)

Ayooo apa cobaaak? pusing kan? iya pusing, namanya juga Bapang, sampai persoalan ngasi teka teki pun mesti berbeda dari teka teki yang kekinian, dan banyak gak nyambungnya.

Dari kata sapi aja bisa beraneka ragam pertanyaan teka teki dan jawaban asal haha serta gak perlu pakai mikir keras.

Sapi yang bisa nempel ? sapidermen / Sapi yang warna biru ? sapidol / sapi yang larinya cepat ?  sapidamotor

Selain pembaca diajak ketawa ngakak, beberapa episode kehidupan Bapang ada yang membuat saya berderai, yaitu waktu tiba di Bab Prinsip Kelahiran. Wuuaaa, membaca bab ini saya jadi teringat proses melahirkan Baby Khalil. Terharu. Motivasi yang disampaikan Ayah Bapang alias Kakek Alap agar Bunda harus semangat untuk melahirkan secara normal sungguh menginspirasi.

Meskipun sederhana, mulai dari tema yang diangkat, kemudian gaya cerita yang biasa tapi ngaliirr banget, enak deh, mudah dimengerti, novel ini gak bisa diremehkan. Usai membaca bab demi bab, pembaca akan dibuat penulis, tertegun, terpana, tersentuh terbahak bahak, dan ter ter ter lainnya. Rasanya ingin saya stabilo semua kata demi kata dalam novel ini, haha, abisnya informatif, nge-jleb, nyesek dan nyelekit, serta buat kita sadar dan berpikir kembali.

Malah saya sampai berpikiran semestinya Bapangku Bapunkku yang juara 1 lomba novel inspiratif, bener inspiratif soalnya.

Namun, sesempurananya sesuatu pasti tak luput dari kekhilafan. Karakter Bapang yang ngakunya Punk Muslim, seharusnya bisa mendidik istrinya untuk tidak menyanyi di atas panggung setiap kali menghadiri undangan pernikahan, suara perempuan itu kan aurat yak, hehe. (Hal. 87)

Dan ada beberapa yang typo,

Disipilin seharusnya disiplin (Hal.66)
Ukuran font dan spasi berbeda (Hal.142)
Padahal rumahnya dekat sekali dengan rumah, seharusnya Padahal sekolahnya dekat sekali dengan rumah 169)
Uwak Bangus  seharusnya Uwak Bagus (Hal.180)
Akspresi seharusnya ekspresi (Hal.198)
Bahasa seharusnya bahas (Hal.201)

Tapi, poin penting yang saya dapat setelah membaca Bapangku Bapunkku adalah bagaimana Bapang bersungguh sungguh menjadi ayah.

Recommended banget dibaca oleh orangtua dan calon orangtua serta penikmat novel inspiratif tentunya.

Bersungguh sungguhlah Menjadi Ayah

Ciptakan kenangan bersama anak-anakmu. Sisihkan waktu untuk menunjukkan kau peduli. Mainan dan hiasan tak dapat meggantikan saat-saat istimewa yang kau alami bersamanya
-Elaine Hardt-

Beberapa tahun terakhir, ilmu parenting menjadi primadona di tengah tengah keluarga muda Indonesia. Kita sudah mulai melek betapa pentingnya ilmu menjadi orangtua, walau sebenarnya sebagian kita adalah produk dari orangtua yang mungkin boro boro mengetahui ilmu parenting, punya ilmu agar dapur tetap ngepul aja  mah udah syukur yak.

Sekarang, ilmu parenting dianggap begitu penting, efek dari perkembangan zaman dimana anak yang lahir di zaman tersebut menuntut pola asuh yang berbeda pula dari zaman orangtuanya dahulu.

Salahsatu tanda berkembangnya ilmu parenting adalah tumbuhnya kesadaran bahwa ayah ternyata punya peranan maha penting untuk terlibat dalam proses pengasuhan anak.

Kita, penduduk Indonesia, apalagi di beberapa suku dari daerah tertentu, masih menganggap bahwa para ayah, tabu sekali untuk terlibat dalam urusan domestic rumah tangga, apalagi pengasuhan anak, tugas ayah satu satunya ya mencari nafkah, selebihnya pengasuhan anak diserahkan sepenuhnya pada ibu.

Jika pemikiran seperti itu terus berlanjut, maka wajar saja jika di zamannya anak kita kelak tumbuh dewasa, ia akan menjadi pribadi yang fatherless, pribadi yang tak punya konsep, nilai dan misi hidup yang jelas, kemudian tidak punya teladan dan biasanya akan lambat menjadi dewasa secara sikap. Sehingga, bermunculanlah, orang dewasa  yang dewasa secara fisik tapi memiliki pribadi kekanak kanakan.

Adanya novel bertemakan ayah, saya pikir ini adalah salahsatu cara untuk mengembalikan figur ayah di tengah tengah keluarga Indonesia. Diharapkan para pembaca khususnya pembaca laki laki bisa belajar dari karakter ayah yang ada di dalam novel. Tidak menutup kemungkinan juga untuk pembaca perempuan, dengan membaca novel yang mengangkat sosok ayah, bisa jadi catatan nantinya saat memilih calon ayah dari anak anak kita *haseeekkk.

Sekali lagi wahai para ayah, bersungguh sungguhlah menjadi ayah, karena penanggungjawab pendidikan utama adalah ayah, sedangkan bunda adalah pelaksana pendidikan.

Pun beban menjadi seorang ayah bukan ringan, dosa dari kesalahan mendidik istri dan anak adalah tanggung jawab suami/ayah.

So, para istri bantu suami kita untuk taat dan ingat akan tanggungjawabnya, para anak ayok bantu ayah kita agar amal kebaikannya kelak bisa memberatkan timbangan pahalanya di akhirat, caranya tentu dengan jadi anak sholeh/ah.

Semoga bermanfaat. Selamat Membaca!




4 comments

Jadi pengen baca kak, harus nyisihkan lagi ini buat daftar belanja buku baru :D

Reply

"So, para istri bantu suami kita untuk taat dan ingat akan tanggung jawab nya" *baik kaka...

Reply

Wihhh.... Bagus bener paparannya, renyah ahh....walaupun ada sindirin buat saya di atas sono. Tp good job buat Penulis Zee :) *panggilan utk menghargai profesi orang lain :)

Reply

ayah mungkin menjadi sosok yang kadang di luapkan jasa besarnya ya kak, jadi bagus banyak buku2 tentang ayah. *jadi pengen peluk ayah*

Reply

Terimakasih sudah membaca postingan di nufazee.com semoga bermanfaat.

Powered by Blogger.