Menu
/

Sebenarnya so hard to write down! Ini tulisan yang paling baper yang pernah aku tulis di blog.

Akhirnya pengalaman melahirkan anak, aku alami juga. Banyak dari teman yang tahu aku luar dalam haha dan mungkin sampai sekarang masih gak nyangka aku sudah punya anak, bertanya, bagaimana rasanya melahirkan? Baiklah daripada capek jawab-in pertanyaan mereka satu persatu, mending aku tulis aja, yah.

Tujuh September Dua Ribu Lima Belas, Senin subuh jam 05.30, aku terbangun dengan kondisi kebelet pipis. Aku beranjak bangun dengan hati-hati, untuk ke kamar mandi, berwudhu kemudian sholat subuh.

Selesai sholat, aku merasakan perutku gak enak, ah mungkin kontraksi palsu, batinku. Memang dua minggu terakhir adalah range tanggal tanggal genting jelang launching Baby Khalil. Dokter kandungan memperkirakan aku akan melahirkan sekitar tanggal 27 Agustus atau 17 September paling lama.

Tentang kontraksi, aku sering disorientasi haha, kadang aku gak tahu apakah yang kurasakan adalah kontraksi atau bukan, terpaksa aku googling lagi, dan kubandingkan dengan keadaanku. Soalnya hamil Baby Khalil bawaanku agak nyantai, gonjang ganjing mual muntah hanya sampai di usia kehamilan 3 bulan setelahnya bawaanku tidur aja haha #Plak.
Kubawakan tidur lagi. 15 menit kemudian kontraksi lagi sambil aku bilang ke Aa’

“Sayang, kalau Zee melahirkan trus kamu udah di kantor, kalo mau nyusul ke rumah sakit, jangan ngebut ngebut ya bawa motornya”

Terus gak lama aku ngomong begitu, aku merasa kayak ada cairan yang keluar, aku kira darah, ternyata bukan, hanya air, mungkin keputihan, sangkaku juga. Aku kembali pejamkan mata.

Lima menit kemudian, cairan tadi keluar lagi dan kali ini dengan tergesa gesa, seperti pipis yang tak tertahankan, terpaksa aku harus bangkit, belum lagi aku sampai ke kamar mandi, eh udah kelepasan di pintu kamar. Mengalir banyak banyak, menyebabkan genangan segede big pizza.

Sesaat aku terdiam, dunno' what to do, terus cepat cepat sadar, dan aku  mendadak deg deg an.

Dengan wajah yang kucoba pasang senyum nyengir, aku bilang ke Aa',

“Aa, kayaknya aku udah mau melahirkan deh”

 Aa’ segera panggil mamak yang juga lagi tidur usai sholat, ia kelelahan karena semalam ada acara syukuran grup Randai *kesenian Minang* di rumah kami.

Antara Klinik Bidan dan Rumah Sakit

Bapak mertua yang sudah stand by dengan becak mesinnya memilih mengantarkan ku dulu ke…kemana? rumah sakit rujukan BPJS dari kantor Aa atau Klinik Bidan Lili yang terdekat dari rumah?

Aa’ pun memutuskan agar aku dibawa saja ke Klinik Bidan Lili yang jaraknya bisa ditempuh dalam waktu  5 menit saja dengan motor atau becak mesin. Karena gak nyangka bakal melahirkan hari itu juga, aku hanya bawa beberapa celana dalam dan dompet, udah itu aja.

Jam enam lewat lima, aku tiba di Klinik Bidan Lili, dan langsung naik ke tempat tidur. Bidan Lili segera cek vaginal touch. Cairan bening yang keluar tadi ternyata adalah air ketuban. Duh, artikel kehamilan dan melahirkan yang udah kubaca jauh jauh hari pada kemana sih nyangkutnya ? haha, kepanikan membuat semuanya hilang. Selama perjalanan ke klinik, air ketubanku terus merembes. Setelah dicek, Bidan Lili memutuskan bahwa aku harus stay dan bedrest di klinik, udah gak bisa jalan jalan lagi ke mall haha, khawatir air ketubanku menipis dan itu membahayakan bayi.

Infus pun dipasang, jarum suntik yang selama ini aku hindari dengan memasrahkan diri, aku tak berkutik, huwaa untuk pertama kalinya aku diinfus -_-“.

Karena belum ada pembukaan, jam tujuh aku dibawakan sarapan oleh salah satu  bidan yang bertugas di klinik, namanya Sarah.

"Sarapan dulu ya Bu, biar ada tenaganya"

Hampir tak terpikirkan ku lagi untuk sarapan, maunya cepat cepat aja melahirkan, hihi.

Mau tak mau, selera tak selera, aku pun sarapan. Aku disuapin oleh Aa’, Aa’ izin gak ngantor demi menemani istri lahiran. Aku tahu dia panik, bahkan sejak air ketuban itu mengalir, ia berusaha tersenyum untukku, dan matanya itu loh, gak tega melihat istrinya kesakitan. Selama ada kamu di sisi aku Aa, rasa sakit itu sirna *uhuy, padahal…ikutin terus yak ceritanya, masih panjang nih, hihi, yang mau isi ulang kopi atau cemilannya silahkan :-p

Sekitar jam 9, kejutan pun dimulai, taraaa…selamat datang rasa nano nano. Kontraksi dimana bayi mencari jalan lahir, terjadi tiap 15-20 detik sekali. Dan tiap kali rasa itu datang *tsaah, aku istighfar berkali kali, miring kiri miring kanan. Jari jemari Aa’ aku genggam kuat kuat, kadang bahunya ku remas.

Bidan Lili dengan sabar dan telaten memeriksa dan menunggu bukaan. Alhamdulillah, jam 11 sudah pembukaan satu, itu pun setelah disuntik, gak tau suntik apa, katamya pereda rasa sakit. Eh itu menunggu dari jam 9 ke jam 11 demi pembukaan, kok kayaknya luammaaa banget kurasa, haha, sambil merem melek menahankan rasa nano nano itu, kadang sampe tertidur, eh ketika nyenyak sekian detik, rasa itu datang tanpa izin, istighfar lagi. Pokoknya semangat melahirkan normal juga salahsatu yang memotivasiku untuk menikmati kontraksi yang datang silih berganti.

Menunggu pembukaan demi pembukaan yang agak lama, sementara ketuban terus merembes, Bidan Lili sempat menyarankan agar aku dibawa saja ke rumah sakit. Pun bila tiba di rumah sakit langsung diberi opsi untuk operasi, wuaa dengar kata operasi aja aku ngilu, hiks. Namun aku dan Aa yakin untuk menunggu pembukaan lengkap dan melahirkan di Klinik Bidan Lili saja.

Sementara menunggu Aa bolak balik pulang ke rumah, ambil keperluanku dan bayi yang sudah kupersiapkan sebulan sebelumnya. Mamak mertua juga setia mendampingiku, hilang rasa kantuk dan lelahnya seketika.

Jam 2, pembukaan tambah, menjadi tiga, dan aku pun dipindahkan ke ruang bersalin. Disaat yang sama orangtuaku, adik perempuanku dan nenek datang menjenguk.

Satu jam berikutnya, Bidan Lili cek lagi, Alhamdulillah udah pembukaan lengkap. Here we gooo, tetiba rasa mulas menyergapku...

Drama Ngeden

Tahu sudah pembukaan lengkap, aku ditemani Mamak mertua, Aa siap siap sholat Ashar.

Rasa mulas itu datang tiap hmm mungkin 10 – 15 detik sekali, dan aku pun siap siap mengeden. Posisi ngedenku dengan tidur miring ke kiri dan kaki kanan diangkat. Bayiku terus berjuang menuju jalan lahir, kami sama sama berjuang.

Gak banyak kemajuan dengan posisi ngeden miring, oleh bidan aku diminta ngeden telentang, dengan kaki ditekuk, angkat kepala, tangan memegang paha, lalu bernapas dari perut, dasar akunya ya yang panikan, aku menggunakan pernapasan leher T_T ilmu olah napas waktu magang jadi penyiar, lupaaa semuanya haha.

Proses melahirkan Baby Khalil, Bidan Lili gak sendiri, ia didampingi dua asistennya Bidan Sarah dan Bidan Amel, mereka masih muda tapi jangan tanya sudah berapa ibu hamil yang mereka bantu proses persalinannya, salutlah dengan profesi tenaga kesehatan kayak mereka. Gak kenal kata jijik dan pergantian hari. Klinik Bidan Lili beroperasi 24 jam. Kebayangkan jam tidur mereka kayak apa?

Selama satu jam, aku terus mengulang proses mulas, olah nafas, siap siap ngeden. Sesekali minum air tebu yang dibelikan mamaku, untuk tambah tenaga dan melancarkan proses bayi melewati jalan lahir.

“Bu, udah keluar kepalanya?” tanyaku

“Udah Bu, Ibu yang semangat yah, kalau udah mulas, tahan sampai benar benar gak bisa lagi ditahan, baru keluarkan (ngeden)” saran Bidan Lili

Terus berkali kali Bidan Amel ingatkan, “Bu, jangan keluarkan napas dari leher, tapi lakukan pernapasan perut Bu” terus “Bu, coba ngedennya buka mulut, gigi ketemu gigi”

Aku rasa aku pasien yang cerewet dan banyak lupa. Berkali kali aku tanya, bayinya udah 
sampai mana Bu?, dan aku juga sering lakukan pernapasan leher, kalau udah ngelakuin pernapasan leher tanpa sadar, aku teringat warning dari mama sebelum aku melahirkan, 

“nanti jangan pakai pernapasan leher, nanti kau gondokan *leher membengkak*”, aku jadi parno, membayangkan leherku bengkak. Hiks.

Sudah hampir satu jam aku seperti itu, ujung kepala bayi udah keluar, Nampak rambutnya kata Bidan Sarah, namun khawatir bayi kehabisan napas, akhirnya jalan terakhir ditempuh, dengan cara menggunting Miss V.

Mamak mertua sibuk melap keringatku dan menyodorkan minuman air tebu. Aarrggh kalau dingat ingat, peristiwa aku melahirkan membuatku makin tambah sayang dengan mamak mertua.

Melahirkan Itu Mudah

Aku sebenarnya hampir kehabisan tenaga di ngeden yang terakhir, dan syukurnya Bidan Lili bertindak cepat dengan menggunting Miss V sehingga jalan lahir bayi terbuka lebar.

Saat ngeden terakhir, napasku udah di leher, aku rasa leherku akan meledak, sementara Bidan Sarah terpaksa naik ketempat tidur dan membantu menstimulus agar bayi segera bergerak keluar dengan cara menekan nekan perutku, mendorong plasenta yang membungkus janin.

Inilah keadaan genting atas diriku dan anakku yang pertama kali aku rasakan selama hidup, benarlah bahwa peristiwa melahirkan anak, hidup dan mati itu tipiiiisss banget. Aku udah pasrah.

Kalau Bidan Lili dan kedua asisten bidan itu gak bergerak cepat, aku gak tahu nasib kami berdua gimana. Sebaik aku minum dan menghabiskan air tebu, Bidan Sarah yang terus mendorong bayi dari perut atas, dan Blasssttt…seolah ada balon berair yang pecah keluar dari Miss V ku dan itu leganyaaaaaa….tak terkatakan.

Hening!

Bayiku tak menangis!

“Nak, hidup ya Nak, hiduplah Nak” ucapku dengan sisa sisa tenaga suara yang aku punya.
Alhamdulillah, anakku menangis.

Aku sempat melihat bayiku dibawa Bidan Lili keluar ruang bersalin, belakangan aku tahu, bayiku dibersihkan mulutnya dari air ketuban yang sempat masuk ke mulutnya, membersihkannya dan membedongnya.Baby Khalil disambut bahagia oleh semua yang datang menjengukku. Aa langsung mengazankan anaknya. Dapat cerita dari mamakku, Baby Khalil sebaik lahir langsung melek matanya haha.

Eit drama belum berakhir, aku masih harus mengeluarkan plasenta yang masih betah di perut. Aku disuntik mulas. Perutku yang sudah kendor digoyang goyang oleh Bidan Sarah dan BLASSST lagi, plasenta keluar, kemudian Miss V ku dijahit, sebelumnya suntik bius lokal di bagian yang akan dijahit. Tak ada rasa sakit, meski Bidan Amel menyarankan agar aku mengigit kain saat proses penjahitan.

Usai dijahit, aku dipakaikan gurita, ganti baju, di bedong, dan kaki diikat, gak boleh gerak selama 4 jam. Ok, fix hehehe.

Begitulah cerita proses melahirkan Baby Khalil, putra pertama kami. Dengan berat 2,8 Kg dan panjang 48cm.

Panjang juga yak, ini masih 7 jam, bagaimana pula yang menahankan sampai pembukaan lengkap itu selama 26 jam, Oh…

Well, meskipun begitu, ceritaku ini tidak bisa dijadikan patokan para ibu hamil sekalian yang akan melahirkan, sebab tak ada kondisi hamil dan melahirkan dari tiap kita wahai wanita , yang sama, pasti beda,

Kenapa aku bilang melahirkan itu mudah, ya memang mudah, yang nano nano itu pas bayi cari jalan lahir hehe. Makanya berdasarkan blog Mbak Milda Ini yang membahas tahap persalinan normal, aku jadi ngeh, pas bangetlah dengan kondisiku.  

Oke deh, semoga bermanfaat yak sharing pengalamanku ini, ^^ up next aku akan cerita hikmah apa yang aku rasakan usai melahirkan, kemudian hal apa saja yang aku lewati dan aku lupa mempersiapkannya jauh hari sebelum aku melahirkan, dan hal apa saja yang harus dilakukan saat melewati rasa nano nano. Stay tune yak, daku mau spa jari dulu, lumayan juga ngetiknya, gak berasa di halaman word udah dapat 5 halaman aja haha.

5 comments

Hehe...jadi inget jaman dulu tahun 1969 (ya, iyalah si pemilik blog ini pastinya masih di langit ke-tujuh kalleee...hehe... ember, melahirkan itu mudah dan nikmat ketika kita merasakan seperti ada balon yang pecah...rasanya gimanaa..gitu. Yang gak ngenakin itu ya ketika kita sering-sering mules, hiks.. Alhamdulillah, berbahagialah kita kaum ibu yang pernah merasakan melahirkan normal. Aamiin.

Reply

Saya pernah sekali nunggui teman yg bersalin, tapi gak ngikuti banget karena ruanganya jauh dari tempat saya nunggui. Saat itu yg nunggui di dalam suami dan ibuknya. Pas keluar dr kamar bersalin, sdh terlhat seger meski masih ada jarum infus di pergelangan tangannya

Reply

Hixhix jadi pengen melahirkan....hahhaaa

Reply

Aku pernah nemenin kakakku bersalin. Berhubung dia nggak kontraksi2 sampai batas waktunya, akhirnya memilih jalur operasi. Sedih rasanya, ngelihat bagian belakangnya berdarah2 karena harus dibersihkan pencernaannya sebelum melahirkan. Belum lagi dia menggigil efek ruang operasi. Tapi, begitu lihat anaknya lahir dan dibawa ke ruang bayi, rasanya sedih tadi berganti jadi bahagia. Meskipun itu keponakan, senangnya luar biasa. Semoga nanti aku juga bisa melahirkan normal seperti Mbak Nurul ya. Amin :)

Reply

Welcome to the world baby Khalil, Alhamdulillah ya proses persalinannuya mudah

Reply

Terimakasih sudah membaca postingan di nufazee.com semoga bermanfaat.

Powered by Blogger.