Menu
/

Ada banyak ketakutan yang saya tanam dalam pikiran saya sebelum menikah, dan itu efek mendengarkan petatah petitih nenek dan mamak saya, salahsatu ketakutan saya adalah…

“Tengoklah nanti udah nikah dan punya anak, gak tepegangmu lagi tu buku dan leptop”

Dalam hati saya, let’s see, Nek n’ Mak.

Nah, setelah menikah dan punya anak, ternyata ucapan mereka itu BENAR haha. Saya gak 
pegang buku dan laptop sebulan pasca Baby Khalil lahir, setelah itu, saya mengatur waktu agar bisa tetap baca dan menulis. :-P *failed

What? Mengatur waktu? Wekekekek, sebenarnya saya adalah orang yang paling susah atur waktu, tapi saya berusaha, dan namanya juga udah cinta, cinta baca dan menulis, jadi susah move on. Saya pun memanfaatkan waktu yang ada untuk membaca, seperti saat menyusui Baby Khalil yang bisa memakan waktu sejam, saya gunakan untuk membaca buku, kalau untuk menulis, saya terpaksa harus ngalong, haha alias baru bisa nulis di jam 8 malam ke atas.

Jadwal tersebut terkadang tidak sepenuhnya terpenuhi, ada banyak drama yang  menyertainya, apalagi kalau penyakit ‘M’ udah datang, MALAS. Baca buku kalau dicicil bisa seminggu kelar, menulis bisa 4 jam selesai , masalahnya ngumpulin niat untuk membaca dan menulis itu yang kadang bisa sampai menunggu musim ceri berakhir *keracunan nonton Drama Turki. Kalau lagi rajin apalagi kalau lagi ada lomba menulis resensi buku, saya bisa melahap tiga buku dalam seminggu, dan langsung menuliskan resensinya.

Suatu hari Mamak pernah tanya,

“Jadi, udah mulai lagi kegiatan menulisnya?”

 Oopp, kode nih dalam hati saya, saya ingin membuktikan bahwa perkataan Nenek dan Mamak yang dulu dulu gak sepenuhnya benar, hihi. Dengan cepat saya jawab,

“Udah dong, Mak”

So, dari kisah saya di atas, sebenarnya saya mau nulis apa sih? *yaelah elu nanya ke siapa? Haha

Sebenarnya saya mau menuliskan bahwa meskipun udah jadi emak emak rempong masih tetap bisa luangkan waktu untuk membaca dan menulis kok.

Semoga tulisan saya ini bisa menjawab curhat mentemen dan melihat recoknya saya di sosmed karena sering posting new entry, diantara curhatan itu adalah, enak ya masih bisa nulis, pengen aktif nulis lagi kayak dulu atau duh dah lama lah gak baca buku, gak sempat lagi baca buku, gak punya waktu lagi baca buku. Bla bla bla…endebreh endebruh…dubidubidam…syalalala. Tapi ya itu tadi, mereka lihat luarnya saya aja, padahal saya jumpalitan ngatur waktu agar tetap bisa membaca dan menulis, hihi.


Bukan saya sok bijak ala ala Aristoteles gitu, tapi status ibu-wanita yang telah melahirkan seorang anak-definisi yang berdasarkan dari KBBI-mau gak mau menuntut kita untuk tetap melek informasi, salahsatunya dengan membaca.

Kenapa Sih Meski Sudah Jadi Ibu Tetap Harus Baca Buku?

Sebenarnya sejak zaman purbakala kita dah tahu ya kan Mak, bahwa manfaat baca buku itu segambreng. Tapi, berikut alasan saya kenapa tetap jadikan kegiatan membaca sebagai kebiasaan, walau sudah jadi Mahmud Abas alias Mamah Muda Anak Baru Satu wekekek.

Karena Kita Bukan Ibu Zaman Dulu

Zamannya aja udah beda, konon lagi manusia yang hidup di zaman tersebut, ya akan banyak muncul perbedaan. Mamak zaman dulu mungkin menganggap kegiatan membaca itu bukan sesuatu yang ‘harus’, pun didukung dengan belum derasnya arus informasi seperti sekarang ini dan belum gencarnya penerbit buku berdiri, penulis penulis belum banyak yang lahir, ilmu terapan juga belum berkembang pesat.

Hari ini, justru kebalikan dari semua, Ibu masa kini dapat jatah mengasuh generasi platinum yang hidup di zaman serba digital. Maka, diperlukan Ibu yang SBT (Siap, Bijak dan Tangguh), nah salahsatu modal menjadi ibu yang SBT yakni dengan membaca.

Madrasah Pertama Anak Anaknya

Al Umm Madrasatul Ula, Ibu adalah sekolah pertama bagi anak anaknya. Peribahasa Arab tersebut mungkin sudah sangat sering kita dengar atau baca, dan it’s true, dalam pengasuhan anak, Ibu berperan sebagai pelaksana pendidikan, sedangkan ayah sebagai kepala sekolah.

Peran yang luarbiasa inilah, yang menuntut tiap ibu harus cerdas, nah ibu cerdas dibentuk dari kebiasaannya suka membaca, agar bisa membimbing muridnya (anaknya).
 
How really special we are! Being a Mom!

Agar Anak Juga Hobi Baca

Kalau ini insyaAllah sudah pasti otomatis. Ibu yang doyan baca, kelak anaknya keranjingan baca juga.

Bukankah salahsatu fitrah anak, adalah meniru kebiasaan orangtuanya? So, perlihatkan kebiasaan baik kepada anak anak kita yok Mak, apalagi kebiasaan membaca buku.

Nonton Sinetron vs Baca Buku

Saya paling gak bisa sebentar nonton TV haha, sekali kejebak di depan TV, saya bisa seharian disana. Sejak Baby Khalil lahir praktis saya tidak nonton TV. Berasa banget wasting time nya kalau udah kena jebakan nonton TV, pakaian tidak terlipat, jemuran telat diangkat, anak gak mandi mandi, lupa makan siang, suami dicuekin, semua jadi kena imbasnya hehe.

Beda kalau baca buku, kita bisa atur mau baca berapa halaman. Kita bisa tandai tadi baca sampai halaman berapa, gak perlu takut padam listrik, bisa nyambi kerjaan lain, seperti memasak dan menyusui bayi.

Demensia? Jauh Jauh Deh

Membaca, menurut Dr.C.Edward Coffey, dapat mencegah seseorang dari penyakit demensia, sebuah penyakit rusaknya jaringan saraf otak.

Demensia ini mungkin masih sodaraan dengan amnesia ya Mak, tapi kita lagi gak ngebahas silsilah keluarga mereka. Ok, abaikan haha.

Kadang ya Mak ya, saking banyaknya to do list yang harus dilakuin tiap hari di rumah membuat kita tiba-tiba suka begini, ‘tadi mau ngapain ya?” atau “tadi mau ambil apa ya?”, “duh, kacamataku mana?” *pengalamaaan

Nah, ini menurut saya gejala pikun dini *ada ya?* , kalau hal tersebut terjadi sama saya itu alarm kalau saya sedang kurang membaca, termasuk membaca Al Qur’an dan membaca istghfar T_T sehingga Allah menguji saya berupa mendadak lupa.

Jadi, cegahlah pikun sejak hari ini dengan membaca. Yuk, Mak!

Membaca, Obat Anti Ageing Paling Murah

Percaya gak Mak? Wah saya percaya banget, membaca membuat stress ogah deketan dengan kita. Soalnya pikiran kita gak kosong, eh tapi stress itu bukannya karena banyak pikiran? Haha, eh tapi saat membaca, saraf saraf otak bekerja untuk menyambungkan semua makna yang sedang kita resapi dan jiwa kita pun seolah diisi energi hidup kembali.

Beda kalau kita sedang stress mah, pikiran banyak, jiwa kosng, kalau lagi tenang dan happy berarti pikiran banyak haha sama aja tapi jiwa berisi, gak perlu khawatir yang berlebihan, yakin ada solusi.

Ternyata obat anti ageing itu gak perlu mehong ya Mak, cukup dengan rutin minum air putih dan baca buku ^^

Kesulitan Nyari Solusi? Baca Buku Aja

Buku merupakan tempat mengabadikan ilmu, walau berseliweran info di internet, tetep bagi saya baca buku terkait yang ingin saya ketahui adalah sebuah keharusan.

Seperti saat saya tahu saya hamil, tentu pengalaman mamak saat hamil dan melahirkan saya tentu gak semua bisa diterapkan. Dan saya perlu buku terkait itu semua, hamil, melahirkan, merawat anak, dan lain lain.

Syukurnya saya sangat terbantu dengan keberadaan Stiletto Book yang konsisten sebagai Penerbit Buku Perempuan, semua buku yang saya perlukan terkait menjadi mamah muda ada disana.

Ini beberapa koleksi buku Stiletto Book saya,

Ibu yang Hobi Baca Buku Itu Sexy

The last but not least, alasan kenapa saya tetap harus baca buku meski sudah berumah tangga, ya karena saat saya baca buku, saya merasa sexy, keren, (tampak) cerdas,  paling tidak di mata suami dan anak-anak lah ya, haha.

Meskipun begitu, saat baca buku, niat yang utama ya untuk merekam informasi, memberi makan jiwa, seperti yang dikatakan Cendekiawan Iran, Ali Syari’ati,

Sediakan pula buku-buku di rumahmu sehingga apabila ruhanimu haus dan lapar, ruhanimu dapat mendapatkan minuman dan makanannya.

Bagaimana Caranya Agar Ibu Suka Baca?

Biasanya kita akan lebih bersemangat melakukan sesuatu kalau sudah tahu jutaan manfaatnya, begitu juga dengan membaca.

Ternyata niat ‘mau membaca ah” gak cukup ya Mak tanpa aksi apapun atau sebenarnya udah ada niat untuk baca, tapi malah pilih tidur *saya banget ini haha.

Berikut ada tips kece dari Buku Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza: Rangsangan Baru untuk Melejitkan "Word Smart" yang ditulis oleh Hernowo, untuk membuat niat baca jadi segede gunung Himalaya.

Anggap Buku Itu Makanan

Mak, selain doyan belanja #eh, kita doyan ngemil makanan yang kita suka ya kan Mak? *nyari kawan yang setuju. Terus yang namanya ngemil kan makannya dikit dikit biar gak cepat habis.

Begitu juga dengan membaca, bacalah buku yang kita suka, cicipi kelezatannya dengan membaca siapa pengarangnya, buka buka lembar pertama, intip intip endingnya, setelah dirasa lezat, saatnya mengonsumsi buku alias membacanya, bacanya dikit dikit tapi sering, sehari maksimal 5 lembar. Awalnya gak mudah, tapi insyaAllah bisa, bukannya membentuk kebiasaan hanya diperlukan waktu 3 bulan dengan melakukannya terus menerus?

Letakkan Buku Di Tempat Yang Sering Dikunjungi

Biasanya tempat di rumah kita yang sering dikunjungi adalah kamar mandi, nah kita bisa letakkan buku, pastinya di tempat yang ok, bebas dari hal hal yang mencelakakan buku kita, tanpa kita sadari sembari menunggu anggota keluarga yang sedang menyelesaikan panggilan alamnya, kita bisa baca buku.

Atau di dapur, sembari nunggu rendang atau lontong matang, kita bisa nyambi baca buku, daripada ke mall haha.

Bisa juga letakkan buku di ruang tamu, sembari duduk duduk syantieek nunggu suami pulang kerja, kita pun baca buku.

Selain itu, tips seorang novelis dan produser film Ketika Mas Gagah Pergi, siapa lagi kalau bukan Helvy Tiana Rosa berikut ini bisa dicoba, agar seluruh keluarga jadi predator buku, cobalah untuk membuat perpustakaan di ruang keluarga, dan juga di kamar masing masing.

Gabung Dengan Komunitas Pembaca Buku

Biar makin ketularan semangat untuk baca buku, kita bisa gabung dengan komunitas pembaca buku. Sekarang mah banyak banget bermunculan komunitas pembaca buku ya kan Mak. Gak mesti yang offline, komunitas pembaca buku yang online juga ada. Saya gabung di goodreads Mak, aplikasinya bisa diunduh di playstore, perlu rekomendasi buku, main main aja ke goodreads, seruuu Mak.

Bahkan sekarang saya perhatikan, penerbit buku dalam rangka mengikat pembacanya, mereka membuat komunitas, contohnya Stiletto Book Club. Tunggu apalagi Mak, sebelum semangat kita kabur, yuk ah segera kita pelihara semangat membaca buku, karena being a book addict is a new sexy.

*Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Sambut HUT Stiletto Book yang ke 5



Biodata:
Nama    : Nurul Fauziah
Twitter : @nufazee
 IG         : @nufaz3e
FB          : Nurul Fauziah
Email     : nufazee@gmail.com
16 comments

Setuju mba..
Kalau saya selain buat anak baca juga biar tetap bisa nemeni suami diskusi.. apalagi suami suka diskusi ini itu kekiniann.. hihi...
Mari membaca..

Reply

Yuk semangat membaca, mba. Sama2 semangat membagikan virus membaca ya mba :). Salam kenal

Reply

Syemangat membaca ibu seksiii :))

Reply

gk hanya sexy mak, tp jg kaya, kaya pengetahuan, kaya kosa kata, dan sebagainya dah..hahayy, sukses yak

Reply

saya mulai pelupa nih, bukan krn malas baca buku, tapi sudah susah bagi waktu utk membaca :(

Reply

membaca adalah anti aging yang paling murah?? baiklah, saya harus lebih rajin lagi membaca agar saya awet muda :D :D

Reply

Aku sukaaaa beli buku, tapi kadang buku sebijik gak kelar-kelar bacanya gegara fokusnya lari ke yang lain-lain hahaha. Kayaknya tiap hari harus memantra-mantrai diri sendiri supaya tetap baca buku :D.

Reply

Paling suka bagian: madrasah pertama anak anak. Soalnya ini betul banget, saya dulu kalau ga tau sesuatu pasti nanya nya ke ibu atau bapak

Reply

Paling suka bagian: madrasah pertama anak anak. Soalnya ini betul banget, saya dulu kalau ga tau sesuatu pasti nanya nya ke ibu atau bapak

Reply

Terimakasih sudah membaca postingan di nufazee.com semoga bermanfaat.

Powered by Blogger.