Menu
/

Baru saya sadari, hidup saya sehari hari dikelilingi dengan keberadaan mass market. What? Mass Market? Apa Itu?

Awal ngebaca istilah ini sempat mikir lama sih, wekekek, *emakcupu, ternyata mass market adalah istilah yang diperuntukkan kepada pelaku usaha mikro dan makro yang tiap hari lewat depan rumah kita.

Dulu waktu masih tinggal sama nenek yang rumah kami pas di depan jalan besar, kemudian dari halaman ke gerbang sekitar 7 m, mass market mah jarang lewat, eh bukan mereka ding yang jarang lewat, sayanya yang malas keluar haha. Biasanya tuh yang banyak lewat adalah mamang tukang es krim, tukang sate kalo  malam hari, tukang roti, dan tukang botot ( orang yang membeli barang bekas).

Sekarang, setelah menikah dan tinggal di rumah mertua yang rumah kami paling ujung di sepanjang Lorong Bersama ini, betapa betapa kehadiran mereka begitu saya nantikan, haha. Bayangkan saja, untuk jajan dan beli sesuatu itu gak kayak dulu, saya tinggal nyebrang jalan, *soalnya pas di depan rumah nenek sudah berdiri mini market*, tapi kini saya harus jalan sampai ujung lorong, mungkin ada 100 m, heuheu

Namun, dengan keberadaan mass market, hidup saya jauh lebih mudah dan hemat *teteup yah, gak mau rugi :-P

Sebagai ratu rumah tangga dan sehari hari saya hampir tidak pernah meninggalkan singgasana saya alias rumah apalagi sejak Baby Khalil lahir, saya hapal mass market yang tiap hari lewat depan rumah.

Tukang jual tahu, tukang jual getuk dan bubur kacang ijo, tukang jual air minum, tukang jual mayong, tukang jual pecel, tukang jual serba perabot rumah tangga, tukang jual sayur, tukang jual rujak, tukang jual bakso, tukang jual roti, tukang jual ikan, dan tukang jual jagung rebus.

Di Medan ini, ada banyak tukang memang, haha, tukang merupakan istilah khas masyarakat kota Medan untuk menyebut para pelaku yang punya usaha mikro makro.

Diantara tukang yang saya sebutkan di atas, masing masing punya cerita. Walaupun saya bukan tipe orang yang kepo banget tapi sedikit banyak tentang mereka terkepo-in juga oleh saya, meski tanpa interview langsung, hanya membaca penampilan. Soalnya pagi adalah waktu ter- riweuh, mana mau nyiapin keperluan suami, mandiin anak, dan lain lain jadi kadang gak sempat ngobrol lama dengan para mass market, padahal saya penasaran juga dengan kehidupan yang mereka jalani.

Tukang Jual Tahu

Saya pelanggan setia bapak ini. Dari penampilannya si bapak terlihat seperti berumur 50-an. Tiap pagi ia biasa menjajakan tahu hingga 10 papan. Teriakan ‘TAAAHUUU…” nya amat saya nantikan setiap tiga hari sekali.

Tahu yang ia jual sangat segar, sampai di tangan saya, tahu itu masih hangat, harum daan gemuk :-P, hanya dengan Rp.5000 udah dapat 5 potong tahu plus bonus 1 tahu, jadi 6 tahu. Saya orang yang gak mau ribet, tapi tetap bersikeras menyajikan makanan yang sehat untuk keluarga, nah stok tahu semacam kewajiban buat saya, kalau bahan cemilan habis, ada stok tahu, tinggal goreng, jadi deh tahu goreng, atau dijadikan campuran telur dadar juga ok, bisa juga dicampur dengan rebusan sayur.

Terima kasih bapak penjual tahu.

Tukang Jual Getuk

Kalau tukang yang ini sih baru baru aja masuk dalam kehidupan per-jajan-an saya haha. Sejak hamil pengeeeeeen kali getuk T_T, akhirnya setelah melahirkan baru nemu.

Penjualnya mungkin seumuran dengan saya, umur 20-an akhir *jiaah ketauan deh umur guek :-P. Kedatangannya dapat ditandai dari suara si abang penjual ‘GEETUK, TIWUL'!

Pertama kali beli dan makan getuk, hati saya melompat lompat, lidah saya berdendang, kepala saya goyang goyang, haha lebay banget, tapi beneran, saya senang sekali, makan getuknya sambil merem melek.

Tiap pagi kalau si abang lewat, selain saya beli getuk, saya juga beli bubur kacang hijau. Aa’ suka dibekali getuk untuk sarapan paginya, sedangkan saya, suka makan bubur dicampur getuk dua biji, hmm...kenyang.

Tukang jual getuk adalah penyelamat disaat saya gak masak sarapan, haha. Terima kasih abang penjual getuk.

Tukang Jual Air Minum

Kami sekeluarga pernah kekeringan, gegara 3 galon air minum kami kosong song song, belum lagi listrik padam, padamnya listrik berpengaruh pada usaha air minum Uwak Rahmat. huwaaa…tenggorokan saya seretnya bukan main, heuheu

Betapa girang hati saya ketika Uwak Rahmat datang jemput galon galon kosong yang sudah berjejer rapi di teras rumah, minta diisi, haha. Sejak saat itu, saya bener bener memperhatikan stok air minum, tersiksa bangeeet gak minum.

Terima kasih Uwak Rahmat ‘Water’

Tukang Jual Sayur

Semasa mengandung Baby Khalil, ada seorang gadis kecil, mungkin usianya 11-12 tahun, menjajakan sayur yang ia dan neneknya petik dari kebun sendiri, tiap sore ia menawarkan sayurnya dengan mengendarai sepeda. Sayurnya segar, harganya pun murah.Tapi, sudah beberapa bulan ini saya tidak melihat lagi kedatangannya,

Hmm, Terima kasih adik kecil penjual sayur.

Tukang Jual Mayong

Penjual mayong identik dengan orang keturunan india, begitu pula dengan bapak penjual mayong yang hampir tiap hari lewat depan rumah kami, kecuali kalau air sungai disamping rumah kami meluap haha, nah pasti dia gak datang.

Kedatangannya ditandai dengan deru suara motor si bapak yang berat dan teriakan mayongnya, sangat khas, “MAAAYOOONG…”, selain mayong, ia juga menjual, cendil, serabi, dan lupis.

Saya memang jarang beli, namun tukang jual mayong bisa diandalin ketika abang penjual getuk gak lewat haha, sarapan mayong campur serabi deh, hmm…nyummy.

Terima kasih bapak penjual mayong.

Tukang Jual Perabot Rumah Tangga

Di daerah saya, penjual perabot rumah tangga keliling ini seringnya disebut serbu, serba lima ribu, padahal gak semua sih harga barangnya lima ribu, masak iya ikat rambut seuprit lima ribu? Kan ngaco haha.

Nah, penjual menjajakan dagangannya di atas becak yang ia kayuh, jadi hampir permukaan becak penuh dengan barang jualan, ada baskom, ember, ikat rambut, jepit rambut, tirisan sayur, serokan sampah, semuaaa ada dalam satu becak itu, pun kelelep dah penjualnya ketutup barang dagangan.

Kalau gak sempat ke pasar besar sementara ember udah koyak moyak, kedatangan serbu pasti begitu dirindukan oleh saya dan Mamak mertua, haha.

Kedatangannya ditandai dengan teriakan nyaring, ‘SERBUUUUU….’ 

Terima kasih abang penjual serbu.

Tukang Jual Pecel

Biasa yang jual pecel adalah ibu ibu bersongkok, sambil teriakan ‘PECEEEELLLL’ , keberadaan ibu ini dan dagangannya cukup menjadi penyelamat perut yang lapar di kala duduk duduk sore di teras. Ceritanya malas buat cemilan sore hehe.

Gak hanya mie pecel, pembeli bisa variasikan selera, saya suka beli bakwan yang dipotong potong terus disiram kuah pecel, atau beli kwetiau dan disiram juga dengan kuah pecel, mak nyuuusss.

Terima kasih ibu penjual pecel.

Dan masih banyak lagi mass market yang lewat depan rumah saya, itulah tujuh mass market yang jasa atau dagangannya sering dan pernah saya beli.

Kenapa Adanya Mass Market Perlu Didukung dan Dibantu?

Melihat mereka berjualan, kadang terbit rasa iba dalam hati saya. Mereka gak peduli hujan panas, teteup aja jualan, apalagi bapak penjual tahu, ia pernah disalip pengendara motor yang gak bertanggung jawab sampai tahunya berhamburan di tengah jalan, kemudian, dia membawa sisa tahu yang masih bagus itu ke depan rumah kami yang pas dipinggir sungai kecil, jadi sembari ia membersihkan papan tahunya yang kotor di tepi sungai, ia pun membagi bagikan sisa tahu yang masih bagus kepada kami dan tetangga di belakang rumah kami, kasihan deh huwaaaa T_T

Begitu juga ibu penjual pecel, awalnya dia hanya jual pecel dengan sepeda, lambat laun dia bawa jualannya pakai motor, ternyata selama ini dia berjualan untuk menyelesaikan cicilan motornya, dan setelah cicilan lunas, barulah si ibu berani membawa motornya untuk berjualan. Subhanallah. Saya pikir, sungguh bukan tidak melelahkan berjualan dengan sepeda yang membawa barang dagangan di boncengan.

Apapun latarbelakang kehidupan mereka, keberadaan mereka patut didukung dan kalau perlu dibantu agar tetap bertahan ditengah arus Masyarakat Ekonomi ASEAN yang gila gilaan, bayangin someday mungkin keberadaan mereka bakal disingkirkan dengan penjual asing yang melakukan hal sama, berjualan keliling, namun dengan berbagai konsep marketing yang menggiurkan pembeli.

Dan saya tetap optimis, sampai kapan pun mass market akan tetap ada meski sistem online shop akan terus mengalami perkembangan. Kadang ada barang yang kita perlukan detik itu juga, semacam makanan, penyelamat perut di kala lapar, yang kemungkinan untuk pesan online itu kecil sekali walaupun ada jasa Go Food by Gojek, tapi kan lagi lagi sasaran pembelinya bukan masyarakat menengah ke bawah dong, beli makanan dengan jasa Go Food, malah mahal ongkos antarnya daripada harga makanannya hihi, tapi kan kalau ada mass market , murah meriah kenyang, *teteup yah wekekek.

Bagaimana Cara Membantu Mass Market Agar Tetap Bertahan dan Usahanya Berkembang?

Kayaknya gagasan yang dicetuskan oleh Yulia Hasanah bisa ditiru kita semua, dalam blognya ia menjelaskan latar belakang gagasan 3B Beli Bantu Berbagi. Stop mengkasihani pedagang kecil, tapi saatnya beraksi dengan membeli dagangannya meskipun kita lagi gak perlu, sejatinya mereka gak niat untuk hidup melarat dan juga sampai harus terpuruk menjadi pengemis, tidak, mereka genggam erat yang namanya harga diri. Dengan membeli dagangannya kita turut membantu mereka dan jangan lupa berbagi informasi keberadaan pedagang ini di akun sosmed kita terutama twitter dengan hestek #BeliBantuBerbagi dengan begitu akan banyak orang yang membeli dagangannya, syukur syukur ikut bantu dengan memberikan modal usaha agar gak perlu lagi berjalan jauh menjajakan dagangannya.

Dengan konsep yang sama pula namun beda cover, ide dengan judul Ketimbang Ngemis lebih nge-hits lagi di instagram, bahkan komunitas ini sudah mulai menyebar di tiga kota besar di Indonesia, diantaranya Jakarta, Bandung dan Medan.

Teman-teman bisa terlibat aksi Ketimbang Ngemis dengan memfoto para pelaku mass market yang sudah sepuh tapi semangat nyari duitnya begitu luarbiasa yang kita temui di sepanjang jalan, kemudian upload di akun Instagram kita, buat informasi singkat tentang foto yang kita ambil, bisa berupa lokasi jualan dan barang apa yang didagangkan, jangan lupa tag akun Ketimbang Ngemis, dan pasang hestek #KetimbangNgemis boleh juga ditambahi hestek #BeliBantuBerbagi.

Yuk, kita sounding kan para pelaku mass market ini agar laris terus dagangannya, dengan begitu kita turut menggerakkan roda perekonomian bangsa dan mengentaskan kemiskinan, serta membunuh jiwa-jiwa pengemis dalam fisik yang sempurna.

Ada kalanya kita geregetan lihat pelaku mass market yang hampir terlindas perkembangan teknik marketing, seperti gak punya modal lebih sementara permintaan akan produk terus mengalir, atau usaha terpaksa gulung tikar gara-gara kurang modal. Nah, kita kepengen bantu, tapi apalah daya, uang juga belum cukup, mau nabung pun masih mikir tabungan untuk diri sendiri, lalu gimana dong?

Adalah BTPN, Bank Tabungan Pensiunan Nasional, sejak 2011 sudah mulai berbenah meningkatkan pelayanan dengan mengusung misi memberdayakan jutaan mass market di Indonesia. Diantara inovasi yang dilakukan BTPN untuk mewujudkan misi tersebut adalah dengan konsep menabung untuk memberdayakan.

Nasabah atau kita yang berniat membantu menambah modal para pelaku mass market demi kelancaran usaha mereka, bisa menabung di BTPN Sinaya. Saya pikir program dari BTPN yang dinamai program Daya ini cukup cerdas, nasabah tidak perlu susah mengumpulkan uang di rumah yang diniatkan untuk bantu orang, malah bisa buat khilaf, khawatir uangnya terpakai untuk membeli keperluan lain, namun dengan menabung di BTPN kita jadi disiplin, sistematis, dan uangnya ‘nampak’, dan hidup berasa jadi lebih berarti dengan berbagi.

Untuk lebih mengetahui program Daya ini, nasabah bisa terlibat dalam simulasinya terlebih dahulu. Caranya mudah sekali, silahkan akses situs www.menabunguntukmemberdayakan.com , kemudian, ikutin deh langkah langkahnya, saya sudah mencoba, kalau kamu?








4 comments

Enak banget ya, yang jualan yg nyamperin hihihi

keluargahamsa(dot)com

Reply

Makasi Mas Irfan :-D

Reply

Iya Mak, Alhamdulillah ;-)

Reply

Terimakasih sudah membaca postingan di nufazee.com semoga bermanfaat.

Powered by Blogger.