Menu
/

Alergi, wah kata ini udah gak asing lagi di kehidupan saya. Saya terlahir dari keluarga yang risiko alergi cukup tinggi. Saya punya sepupu yang kalau makan seafood, matanya bisa bengkak segede bola kasti. Mamak saya, pantang kena debu, pasti sesak napasnya. Saya sendiri, kalau udah cuaca panas, pasti akan bermunculan biang keringat di sepanjang leher dan jidat. Sekarang sejak melahirkan malah area biang keringat bukan berkurang, makin nambah, di sepanjang kedua tangan saya. Heuheu.


Bayi saya apakah kena alergi juga? Sebulan kelahirannya gejala alergi belum tampak, jelang usia dua bulan, drama pun dimulai, yang saya sesali kenapa saya tidak cepat mengetahuinya, sampai saya trauma dan sedih lihat bayi saya menangis tiba tiba tiap pagi dan sore, dan kelihatan bayi saya susah kentut.

Setelah saya cari tahu, ternyata bayi saya kena kolik dan alergi protein susu sapi. Saya pun langsung flashback apa yang saya makan sebelumnya. Tiga minggu usianya saya rebus sekilo kacang tanah, niat saya agar ASI lancar, kemudian saya minum susu segelas gede tiap pagi, lalu saya minum yoghurt karena usai melahirkan, pencernaan saya terganggu, susah BAB. Jadilah perut bawah bayi saya sekeras batu, astaghfirullah. Apa yang saya lakukan terhadap bayi saya selama ini ? T_T *maafkan Bunda ya Khalil.

Saya langsung stop mengonsumsi produk susu, sampai sekarang, kalau pun gak tahan godaan, saya makan dikiiit aja. Kemudian saya rutin memijat Khalil, untuk perut kembungnya , seminggu pertama pengobatan saya terapi daun jarak di perut Khalil, Alhamdulillah kolik berkurang.

Sesekali Khalil pernah kumat koliknya, saya khilaf makan gulai nangka, atau pas batuk saya kumat, seminggu batuk kering saya gak sembuh sembuh, biasanya minum susu kambing segar 3 sampai 4 kali, InsyaAllah sembuh tapi takut Khalil koliknya kambuh, saya tahan, tapi ternyata saya gak tahan, saya minum juga susu kambing sehari segelas, waktu itu usia Khalil 4 bulan, pada hari ketiga, menuju tengah malam, Khalil nangis sekencang-kencangnya, kolik kambuh T_T, saya hampir minum susu kambing untuk kali ketiga. Akhirnya gak jadi minum, Alhamdulillah batuk pun turut sembuh.

Akhir usia 4 bulan, telinga Khalil bermasalah, telinganya berbau dan mengeluarkan cairan berwarna putih, kalau kering jadi seperti kerak lilin,mama saya dan mama mertua anggap itu hal biasa, sebulan saya biarkan, sampai akhirnya saya merasa  ada yang gak beres, telinga normal seharusnya gak berbau dan keluarkan cairan, saya bawa Khalil ke klinik Bidan Lili, diperiksa ternyata Khalil alergi udara dan rajinnya tangan saya membersihkan telinga Khalil, oh ya waktu tu kulit Khalil juga bintik bintik merah, bukan biang keringat, tapi bintiknya aneh, setelah saya tanya ke bidan, sebabnya bisa jadi emaknya makan mie instan *ups, bidan kok tahu?. Saya tergoda makan mi instan, pun itu dikit, ternyata ngaruh ke Khalil  T_T

Makan mie instan saya stop, Khalil saya bawa ke THT, oleh dokter THT saya kena marah, ‘ibu, jangan pernah bersihkan telinga bagian dalamnya, biarkan saja, kalau gak ya begini akibatnya’, T_T, lumayan juga biaya berobat ke dokter THT, heuheu

Selanjutnya kisah Khalil dengan masa MPASI nya, alergi apakah berakhir? Belum pemirsaaah, baru baru ini kulit dekat kemaluannya memerah, saya gak tau karena apa, biasanya kalau ruam popok, dua atau tiga hari sembuh, lah ini hampir berhari hari, dan Khalil sering meringis kalau udah pee atau pada saat saya menggantikan popoknya, selama ini saya pakaikan bedak di bagian kemaluannya, setelah saya browsing dapatlah solusi bahwa hal tersebut terjadi karena alergi cuaca panas, pasca gerhana Medan kering, book, suhu udara meningkat, biang keringat rame dijidat, lengan dan sepanjang paha dan betis Khalil T_T, Alhamdulillah sekarang Bundanya pakai terapi Baby Oil, dan setelah saya amati, jenis kulit anak saya ini adalah kulit kering. Pakai Baby Oil di kemaluannya, Alhamdulillah iritasinya sembuh. Baby Oil saya pyuuurr di air mandinya, sabun dan samponya saya ganti merek, lactacyd baby tetap saya pakai, Alhamdulillah biang keringat perlahan menghilang.

Tu kan, alergi yang menyerang anak kita itu bikin cemas cemas rempong ya Mak. Meskipun gejala awalnya ringan, tapi gak bisa diremehkan, bisa berefek jangka panjang. Jadi apa yang harus kita sebagai orangtua harus lakukan?

Senin, 14 Maret 2016 saya berkesempatan hadir di Nutritalk bertemakan Gizi di Awal Kehidupan : Dasar-dasar Pedoman Praktis Optimalisasi Tumbuh Kembang Anak dengan Alergi Protein Susu Sapi. Awal tahu acara ini saya girang bukan main, berkali kali ucap syukur. Kapan lagi ada acara bermanfaat dan pas sekali dengan masalah saya, kemudian dihadiri oleh pembicara yang memang ahli di bidangnya, wuidih kalau konsultasi langsung pasti mihil.

Diskusi nutrisi yang diadakan Sarihusada Nutrisi Untuk Bangsa dengan Medan sebagai kota pembuka roadshow program ini menghadirkan pembicara ahli DR. Dr. Zakiudin Munasir, SpA(K) – Konsultan Alergi Imunologi Anak dari RSCM Jakarta, dan Dr. Bernie Endyarnie Medise, SpA(K), MPH – Konsultan Tumbuh Kembang Anak RSCM Jakarta

Dengan judul Manajemen Terpadu dari Alergi Protein Susu Sapi Dr. Zaki tampil sebagai pembicara ahli yang pertama. Penjelasan Dr. Zaki yang serius tapi santai serta sederhana cukup membuat saya gak berhenti beroooo oooo ooo sepanjang acara haha.

Pertama sekali Dr. Zaki mengajak peserta berkenalan dengan kata Alergi. Kata Alergi berasal dari bahasa Yunani, Allos yang artinya berbeda/lain dan Argon berarti reaksi, jadi kata alergi adalah reaksi tubuh yang gak biasa, berbeda, dan menyimpang. Istilah lain dari alergi adalah hipersensitivitas. Simpulannya secara umum…

ALERGI adalah gangguan imunitas atau reaksi kekebalan tubuh yang menyimpang dari normal dan bisa memunculkan gejala yang dapat merugikan tubuh.

Apa Saja Pemicu Alergi?

Pemicu Alergi atau selanjutnya kita sebut alergen dapat disebabkan oleh : Makanan (seafood, susu, telur kacang, gandum, ikan ) , debu rumah dan bulu binatang.

Orang atau anak yang berbakat alergi diistilahkan atopik, *duh, gak skill aja ya yang pakai bakat, alergi pun demikian

Dampak yang Timbul Bila Alergi Datang

Nah, pada bagian ini ni orangtua harus waspada, dampak alergi gak main-main, karena dampak yang ditimbulkannya banyak.

Tumbuh Kembang Anak Terhambat

Pinjem slide Dr. Zaki 
Bagaimana tumbuh kembang anak akan optimal bila alergi menyerang anak? Terutama bila anak alergi pada beberapa makanan yang nutrisinya sangat diperlukan anak.

Kadang bila gejala alergi mulai menyerang anak, anak menjadi tidak nyaman, bawaannya rewel, sampai berdampak tidak mau makan, bahkan muntah dan diare.

Jadi, Mak dan Ayahnya anak anak, penting banget mengetahui allergy march atau perkembangan alami dari penyakit alergi yang diidap si kecil, supaya bisa segera dicari solusinya, karena ujung dari penyakit alergi yang lambat penanganan adalah penyakit asma, seperti yang saya tahu, penyakit asma adalah penyakit yang bisa sembuh tapi proses pengobatannya lamaaaa T_T obatnya banyak.

Keharmonisasian Rumah Tangga Terganggu

Misalkan salahsatu dari orangtua mengidap alergi yang berujung pada penyakit asma, tentu akan tidak nyaman sekali bila beristirahat di malam hari, suara nafas yang tersendat dapat menganggu istirahat anak dan pasangan atau anggota keluarga lainnya. Sehingga berdampak kurang tidur, sementara kita perlu istirahat cukup, agar esok hari tidak ngantuk di tempat kerja. Atau gara-gara anak alergi, suami istri bisa saja bertengkar.

Gak pernah berpikir sejauh ini mengenai dampak alergi, baru tau setelah hadir di acara Nutritalk. Semangat sembuh dari alergi yuk, Mak.

Emosi Lebih Gampang Tersulut

Hu’um terkadang sakit membuat seseorang lebih sensitif, dan gampang sedih.

Ekonomi Terguncang

Mencegah lebih baik daripada mengobati, kalimat bijak ini begitu benar adanya, berdasarkan info dari Dr. Zaki, cek alergi saja bisa kena biaya 1,5 juta rupiah. *untung saya ngedengerinnya gak sambil makan lemper, bisa keselek

Masalah Penyakit Alergi

Kok kayaknya penyakit alergi begitu  dapat perhatian dan berasa genting banget keadaannya. Emang iya Mak, kalau ceritanya adalah zaman dulu penyakit ini belum terlalu diekspos, karena kata Dr.Zaki, emak emak zaman dulu pada di rumah, nah emak zaman sekarang pan kebanyakan berkarir di luar rumah, jadi turut mengawali berkembangnya risiko alergi suatu keluarga. Karena ibu adalah pencetus utama alergi pada anaknya, lah alergi itu keturunan yak? Mau tahu lebih lanjut, ntar kita bahas…

Selain itu, berdasarkan penelitian tingkat risiko alergi di Jakarta, grafiknya meningkat terus setiap tahun, belum lagi kalau dilakukan penelitian di daerah lain di Indonesia yah. Ayo dong, dokter dokter di Medan, buat penelitian yang sama.

FYI, Inggris adalah negara dengan tingkat risiko alergi paling tinggi, dan seperti kita tahu Inggris merupakan negara maju, tingkat pendidikan warganya udah high level dan kebersihan nomor satu. Justru negara yang tingkat risiko alerginya paling rendah adalah Indonesia. Yeay, eit…jangan happy dulu, logikanya berarti kita Negara yang paling jorok dong. Soalnya, berdasarkan pemaparan Dr. Zaki, makin bersih seseorang, kemungkinan risiko untuk alergi itu cukup tinggi, pengennya kan dok, bersih tapi jauh dari alergi, tul gak Mak?

Alergi Itu Faktor Keturunan Loh

Info bahwa alergi ternyata bisa dari faktor genetik, cukup mencengangkan saya, jadi untuk yang jomblo, ntar nyari pasangan kalau bisa jangan yang punya bakat alergi yak, tapi carilah yang punya bakat mencintai kamu selamanya #eaak *gagalfokus bahaha

Yang menarik dari Nutritalk kali ini, peserta dibagi info bermanfaat bahwa risiko alergi pada anak bisa dinilai tinggi rendahnya dari format penilaian yang dicantumkan dalam sebuah kartu.

Makin tinggi total presentasenya, maka makin tinggi pula risiko alergi yang menyerang anak kita. Bisa jadi sebuah ukuran bagi para ortu untuk aware sejak dini agar tiada kata terlambat.



Setelah saya hitung, risiko alergi yang menyerang anak saya, ada pada nilai 3, heuheu, risiko sedang T_T

Faktor lain yang memicu alergi, adalah alergen, kalau yang ini udah saya jelasin di atas ya, terus infeksi, Mak, bila anak kita infeksi bisa jadi dia alergi apakah itu karena udara, kemudian faktor polusi seperti asap rokok, Khalil bener bener saya jauhkan dari asap rokok, kalau ada yang merokok dekat dia pasti saya omelin haha, kasiankan paru paru kecilnya, lalu faktor aktifitas fisik, jadi, anak yang bisa jadi awalnya tidak punya riwayat alergi tapi seiring pertambahan usia, faktor aktifitas fisiknya yang luar biasa di luar rumah, dapat menjadi pemicu munculnya alergi, jadi tetap waspada ya Mak.

Bagaimana Tahapan Alergi?

Pertama sekali yang perlu diketahui Mak, alergi tidak terjadi tiba-tiba, semua berawal dari insensitifitas. Dijelaskan juga bahwa sensitisasi tidak hanyda dari makanan saja, tapi dari kulit juga bisa, misalnya, asap dari menggoreng telur bisa buat alergi, atau sisa makanan anak yang belepotan di pipi dapat sebabkan alergi.

Jadi teringat Khalil, kalau makan bisa sampe ke matanya -_-“ dia nyemplungin mukanya begitu karena gak sabaran, terus Khalil yang baru 3 minggu ini MPASI, kalau disuapin, mulutnya belepotan, kalau dibersihkan berontak pake kesal, gemeeessshhh, akhirnya pake jurus Bunda bernyanyi sebanyak satu album, bahaha agar proses elap wajahnya jadi menyenangkan, walau kadang Khalil tetap kesal juga, bahaha. Oalaaa Naaakk.

Kemudian Mak, bila sudah tampak pada anak kita gejala alergi, jangan buru-buru memberikan obat antibiotik, pada tahap awal orangtua dapat menangani sendiri alergi si anak. Antibiotik diberikan apabila reaksi alergi sudah parah, dan tentunya setelah konsultasi ke dokter spesialis anak.

Mak, terakhir dari tahapan alergi terutama alergi di kulit yang tak tuntas penanganannya dapat menyerang ke saluran pernapasan. Wuaaaa…jangan sampe deh ya Mak.

Yuk Cegah Alergi Sejak Dini, Caranyaaa…

Primer, pencegahan yang paling utama, gempur anak dengan memberikan ASI. Perjuangkan ASI untuk bayi kita tercinta ya Mak, karena ASI adalah makanan terbaik untuk bayi.

Sekunder, namun kenyataannya ada ibu yang memang kurang beruntung alias tidak dapat menyusui bayinya, adapun pencegahan bila anaknya berisiko alergi protein susu sapi, maka carilah susu yang gizinya setara dengan ASI, yakni susu yang sudah terhidrolisir ekstensif, bisa juga formula asam amino, dan yang paling murah dan enak adalah susu kedelai.

Tapi Mak, berdasarkan penjelasan Dr. Zaki, susu yang sudah terhidrolisir ektensif itu atau susu yang proteinnya sudah dipecah pecah sehingga bayi aman dari alergi, harganya cukup mahal dan rasanya tidak enak, T_T, namun kalau dari awal sudah tahu ada bakat alergi pada bayi, pemberian sejak dini, akan membantu lidahnya beradaptasi, pun lagi lagi konsultasikan terlebih dahulu ke dokter spesialis anak ya Mak.

Tersier, berencana hamil lagi Mak?, atau buat para jomblo sampai sah, bila kelak kamu atau istri kamu hamil, perkara makan jangan terlalu banyak dipantang pantangin yah, tapi bukan berarti diembat semua jenis makanan, haha atau makan berlebihan, tetap harus dikontrol dan pastinya makan makanan yang sehat dan bergizi, biar janinnya juga sehat dan mengenal berbagai jenis makanan dari tubuh.

Kalau Terlanjur Ada Bakat Alergi?

Pertama, hindari mengonsumsi produk susu, susu sapi dan kambing segar, keju, yoghurt, dll

Kedua, kalau perlu konsumsi obat, sebagai usaha penyembuhan, dan sebelumnya teteup konsultasikan ke dokter spesialis anak ya Mak.

Ketiga, ASI, teteup ya, gempur anak dengan ASI, semangat Mak

Keempat, Minum susu harus ya Mak, maka carilah susu yang nilai gizinya setara namun tak membuat alergi, sudah saya jelaskan di atas, jenis susu yang bagaimana.

Kelima, Produk Olahan, pastikan makanan yang untuk dikonsumsi bayi sebaiknya merupakan produk olahan pabrik, jangan lupa perhatikan label dan masa berlakunya.

Oh ya Mak, kalau anak masih MPASI, perhatikan kebersihan saat kita mengolahnya, kemudian bahannya apakah masih layak dimasak atau tidak, cari tau juga nilai gizinya. Bila anak terpapar alergi usai mengonsumsi satu makanan, carilah alternative bahan makanan lain yang nilai gizinya setara, kalau anak alergi makan daging ayam, belum tentu iya alergi telur ayam, begitu juga dengan ikan, bila anak alergi makan ikan air laut, ganti dengan ikan air tawar. Jadi, jangan kehabisan akal ya Mak.

Kalau Sudah Terlanjur Alergi, Gimana Dong?

Jangan putus asa Mak, insyaAllah setiap penyakit ada obatnya. Sebenarnya untuk memastikan kita alergi atau tidak dengan faktor yang membuat alergi, orangtua dapat ke dokter spesialis anak.

Meskipun begitu, untuk pertolongan pertama, bila alergi masih tergolong ringan, maka lakukan tata laksana pengobatan alergi sebagai berikut:

Pertama, Hindari mengonsumsi segala produk susu, baik itu susu segar, keju, yoghurt

Kedua, Konsumsi obat jika diperlukan, tentu dengan resep dokter ya Mak

Ketiga, Semangat menyusui anak dengan ASI

Keempat, Bila tak bisa menyusui karena keadaan dan suatu hal, konsumsi susu formula yang telah terhidrolisir, seperti yang sudah saya jelaskan di atas

Kelima, Konsumsi Produk Olahan, untuk anak MPASI hindari membeli bahan makanan yang kita tidak yakin hygienitasnya, seperti susu kedelai, belilah susu kedelai hasil olahan pabrik, pastikan juga label dan masa kadaluarsanya ya Mak.

Wuiih…sepanjang ini ya hanya membahas alergi doang, jujur dulu saya orang yang sepele dengan alergi, karena saya anggap dia penyakit yang sebentar aja sembuh, sejak punya anak, naluri saya berkata, alergi adalah masalah yang harus dituntaskan segera, demi kenyamanan bayi saya.

Gimana Mak? Bisa saya lanjut? Udah diseduh teh-nya ? cemilannya udah diisi ulang? Kalau sudah jangan lupa emailkan ke saya, bahaha, hyuuuk kita lanjut pembahasan yang lebih berfokus ke si kecil yang sedang dalam masa golden age.

Adalah Dr.Bernie Endyarnie Medise, SpA(K), MPH-Konsultan Tumbuh Kembang Anak dari RSCM Jakarta didapuk sebagai pembicara kedua dengan judul materi Optimalisasi Pertumbuhan dan Perkembangan Anak yang Alergi.

Hari jelang siang, peserta tampak mulai lowbat, dan Dr.Bernie dalam paparannya memakai strategi bertanya dengan peserta, haha.

Pertanyaan pertama, Apa definisi anak? Semua pada bengong termasuk saya, haha. Pas slide muncul, baru deh nyontek. Berdasarkan UU No.23 tentang perlindungan anak, definisi anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.

Poin penting dari opening Dr. Bernie tentang anak, bahwa semirip apapun anak dengan orangtua, ia tetap pribadi yang utuh, bukan miniatur orangtuanya, jadi perlakukan ia layaknya seorang anak, bukan the mini us. Kebanyakan orang dewasa lupa, bahwa anak adalah anak, bukan orang dewasa, yang lebih ngeri saat ini, banyak orang, yang fisiknya orang dewasa, tapi jiwanya anak-anak, dududu

Pertanyaan berikutnya,  Apa aja sih ciri khas anak? Jawabannya cuma 2 tapi jawaban peserta ramee haha, apalagi saya dan teman teman, banyakan nyeletuk, tapi nyeletuknya benar *kadang asal bunyi juga sih hihi. Ciri khas anak adalah tumbuh dan berkembang.

Kemudian Dr.Bernie masuk ke pembahasan tentang otak. Ternyata pertumbuhan otak terjadi maksimal dari anak masih berupa janin sampai usia 2 tahun.

Lalu, Dr.Bernie bertanya lagi, kira-kira dari gambar ini, mana sih otak anak usia 2 tahun? Penampakan otak anak usia 2 tahun, sel-selnya rapat dan padat. MasyaAllah, luarbiasa penciptaan Allah, sedangkan otak orang dewasa, sel-selnya udah banyak berlonggaran, hehe.
Logikanya, bagaimana jika anak alergi pada usia ini? Tentu akan mempengaruhi area pertumbuhan dan perkembangannya.

Emang Apa Saja Sih Area Perkembangan Anak?

Pertama, personal social, perkembangan personal social anak dapat dilihat dari reaksi anak terhadap orang disekitarnya

Kedua, Fine motor atau motorik halus, merupakan perkembangan yang ditunjukkan melalui kemampuan anak mengoordinasikan antara mata, tangan dan jari-jari tangannya. Misalnya: pada bayi usia 3 bulan, normalnya gerakan motorik halus yang dia sudah bisa lakukan adalah memegang benda.

Ketiga, Language, kalau yang ini tau ya Mak, perkembangan bahasa

Keempat, Cross motor atau motorik kasar, perkembangan ini tampak jelas, yang termasuk motorik kasar anak berkembang, terlihat dari perkembangan postur, kemampuan anak telungkup, merangkak, duduk, berdiri, berjalan, dll.

Agar keempat area perkembangan anak maksimal dan sesuai dengan usianya, maka orangtua mestilah rajin menstimulus anak dan memastikan nutrisi dari makanan yang dia makan, agar ada energi si kecil untuk bergerak aktif, kalau si kecil malnutrisi, gimana dia mau tumbuh berkembang? Darimana tenaganya?

Apa Saja Faktor Risiko Alergi Makanan yang Menyebabkan Gangguan Pertumbuhan?

Sedih ya Mak, kalau anak kita ada bakat alergi, sehingga mau cari bahan makanan yang bergizi pun susah, meskipun begitu Mak, tetap semangat, untuk itu semoga artikel saya ini membantu, berikut penjelasan dari Dr.Bernie faktor risiko alergi makanan yang menyebabkan gangguan pertumbuhan.

Pertama, pantangan makanan yang punya nilai gizi tinggi seperti susu, telur,

Kedua, Tak ada usaha mencari bahan makanan yang punya nilai gizi setara

Ketiga, Pantangan makanan yang ekstrim

Keempat, Adanya hubungan dengan gangguan atopi atau penyakit asma.

Kelima, Terlambat didiagnosis

Kalau kelima faktor di atas ada dalam prinsip kita dalam memberi makan anak kita yang bakat alergi, segera deh Mak, konsultasi dengan dokter spesialis anak atau ayo semangat mak cari info tentang bahan makanan yang punya nilai gizi setara.

Dampak Alergi yang dialami Anak

Mau lebih serem lagi Mak? Biar kita jangan lagi meremehkan si alergi ini adalah dampak yang bakal dialami anak kita, apapun itu jangan sampai ya Mak, tapi sehoror apapun tetap kita harus tahu, biar kita gak sepele lagi.

Saluran Napas, akan muncul penyakit asma, rhinitis alergika, batuk bersi, sulit menetek, sulit makan, efeknya: pertumbuhan terganggu.

Gangguan Tidur, sulit tidur, terbangun tengah malam, efeknya: gangguan pertumbuhan dan perilaku.

Alergi lain, urtikaria, dermatitis atopi, konjungtivitas alergika, efeknya: gangguan beraktifitas dan gangguan tidur.

Demikianlah catatan yang dapat saya bagi dari acara Nutritalk kemarin, semoga bermanfaat ya Mak. Oh ya Mak, untuk lebih jelas lagi tentang alergi anak, bisa kepoin websitenya di www.alergianak.com.

8 comments

Makasih ya seringnya lengkap bgt

Reply

Mengasuh bayi yg punya alergi parah emg perlu perjuangan.
Kayak baby nada yg gak bisa salah makan dikit lsg brutuan kulitnya,daerah kemaluan yg seperti melepuh.
Yg penting ibunya harus tetap belajar...belajar... dan belajar sebisa menghindar anak dr alergen.
Kalo perlu perdalam ilmu gizi biar anaknya gak malnutrisi hihihi... #masihtetapberjuang utk baby nada

Reply

Hu'um Bun harus semangat n jangan hilang akal

Reply

Kmarin jg abis ngajak jav cek ke dokter alergi... Duh biayanya aduhai :D

Reply

Ternyata alergi bisa sampe tingkat yang mengkhawatirkan ya.. Makasi sharingnya ya Mak..

Reply

Cepat sembuh ya Jav, alerginya, semangat Bunda Nathalia :-D

Reply

Hu'um Mak, banget

Reply

Terimakasih sudah membaca postingan di nufazee.com semoga bermanfaat.

Powered by Blogger.