Menu
/
PROLOG MATERI #6
KELAS MATRIKULASI BATCH 4
INSTITUT IBU PROFESIONAL

BELAJAR MENJADI MANAJER KELUARGA HANDAL

Senin, 3 Juli 2017

Disusun oleh Tim Matrikulasi - Institut Ibu Profesional


IBU MANAJER HANDAL KELUARGA  


Motivasi Bekerja Ibu

Ibu rumah tangga adalah sebutan yang biasa kita dengar untuk ibu yang bekerja di ranah domestik. Sedangkan Ibu bekerja adalah sebutan untuk ibu yang bekerja di ranah publik. Maka melihat definisi di atas, sejatinya semua ibu adalah ibu bekerja yang  wajib professional menjalankan aktivitas di kedua ranah tersebut, baik domestik maupun publik.

Apapun ranah bekerja yang ibu pilih, memerlukan satu syarat yang sama, yaitu:

kita harus  SELESAI  dengan manajemen rumah tangga kita.

Kita harus merasakan rumah kita itu lebih nyaman dibandingkan aktivitas dimana pun. Sehingga anda yang memilih sebagai ibu yang bekerja di ranah domestik, akan lebih professional mengerjakan pekerjaan di rumah bersama anak-anak. Anda yang Ibu bekerja di ranah publik, tidak akan menjadikan bekerja di publik itu sebagai pelarian ketidakmampuan kita di ranah domestik.

Mari kita tanyakan pada diri sendiri, apakah motivasi kita bekerja?

Apakah masih ASAL KERJA, menggugurkan kewajiban saja?
Apakah didasari sebuah KOMPETISI sehingga selalu ingin bersaing dengan orang/ keluarga lain?
Apakah karena PANGGILAN HATI sehingga anda merasa ini bagian dari peran anda sebagai Khalifah?

Dasar motivasi tersebut akan sangat menentukan action kita dalam menangani urusan rumah tangga dan pekerjaan kita.

Kalau anda masih “ASAL KERJA”, maka yang terjadi akan mengalami tingkat kejenuhan yang tinggi, anda menganggap pekerjaan ini sebagai beban, dan ingin segera lari dari kenyataan.

Kalau anda didasari “KOMPETISI”, maka yang terjadi anda stress, tidak suka melihat keluarga lain sukses.

Kalau anda bekerja karena “PANGGILAN HATI”, maka yang terjadi anda sangat bergairah menjalankan tahap demi tahap pekerjaan yang ada. Setiap kali selesai satu tugas, akan mencari tugas berikutnya, tanpa MENGELUH.

Ibu Manajer Keluarga

Peran ibu sejatinya adalah seorang manager keluarga, maka masukkan dulu di pikiran kita:

Saya Manajer Keluarga

kemudian bersikaplah, berpikirlah selayaknya seorang manajer.

Hargai diri anda sebagai manajer keluarga, pakailah pakaian yang layak (rapi dan chic) saat menjalankan aktivitas anda sebagai manajer keluarga.

Rencanakan segala aktivitas yang akan anda kerjakan, baik di rumah maupun di ranah publik, patuhi.
Buatlah skala prioritas.

Bangun komitmen dan konsistensi anda dalam menjalankannya.

Menangani Kompleksitas Tantangan

Semua ibu, pasti akan mengalami kompleksitas tantangan, baik di rumah maupun di tempat kerja/organisasi, maka ada beberapa hal yang perlu kita praktikkan, yaitu :

a. PUT FIRST THINGS FIRST

Letakkan sesuatu yang utama menjadi yang pertama. Kalau buat kita yang utama dan pertama tentulah anak dan suami.

Buatlah perencanaan sesuai skala prioritas anda hari ini.

Aktifkan fitur gadget anda sebagai organizer dan reminder kegiatan kita.

b. ONE BITE AT A TIME

Apakah itu  one bite at a time?
- Lakukan setahap demi setahap.
- Lakukan sekarang.
- Pantang menunda dan menumpuk pekerjaan.

c. DELEGATING

Delegasikan tugas, yang bisa didelegasikan, entah itu ke anak-anak yang lebih besar atau ke asisten rumah tangga kita.

Ingat anda adalah manager, bukan menyerahkan begitu saja tugas anda ke orang lain, tapi anda buat panduannya, anda latih, dan biarkan orang lain patuh pada aturan anda.

Latih-percayakan-kerjakan-ditingkatkan-latih lagi-percayakan lagi-ditingkatkan lagi- begitu seterusnya.
Karena pendidikan anak adalah dasar utama aktivitas seorang ibu, maka kalau anda memiliki pilihan untuk urusan delegasi pekerjaan ibu ini, usahakan pilihan untuk mendelegasikan pendidikan anak ke orang lain adalah pilihan paling akhir.

Perkembangan Peran

Kadang ada pertanyaan, sudah berapa lama jadi ibu? Kalau sudah melewati 10.000 jam terbang seharusnya kita sudah menjadi seorang ahli di bidang manajemen kerumahtanggaan. Tetapi mengapa tidak? Karena selama ini kita masih.

SEKEDAR MENJADI IBU

Ada beberapa hal yang bisa bunda lakukan ketika ingin meningkatkan kualitas bunda agar tidak sekedar menjadi ibu lagi, antara lain:

Mungkin saat ini kita adalah kasir keluarga, setiap suami gajian, terima uang, mencatat pengeluaran, dan pusing kalau uang sudah habis, tapi gajian bulan berikutnya masih panjang.

Maka tingkatkan ilmu di bidang perencanaan keuangan, sehingga sekarang bisa menjadi “manajer keuangan keluarga.

Mungkin kita adalah seorang koki keluarga, tugasnya memasak keperluan makan keluarga. Dan masih sekedar menggugurkan kewajiban saja. Bahwa ibu itu ya sudah seharusnya masak. Sudah itu saja, hal ini membuat kita jenuh di dapur.

Mari kita cari ilmu tentang manajer gizi keluarga, dan terjadilah perubahan peran.

Saat anak-anak memasuki dunia sekolah, mungkin kita adalah tukang antar jemput anak sekolah. Hal ini membuat kita tidak bertambah pintar di urusan pendidikan anak, karena ternyata aktivitas rutinnya justru banyak ngobrol tidak jelas sesama ibu–ibu yang seprofesi antar jemput anak sekolah.

Mari kita cari ilmu tentang pendidikan anak, sehingga meningkatkan peran saya menjadi “manajer pendidikan anak”.

Anak-anak pun semakin bahagia karena mereka bisa memilih berbagai jalur pendidikan tidak harus selalu di jalur formal.

Cari peran apalagi, tingkatkan lagi…..dst.

Jangan sampai kita terbelenggu dengan rutinitas, baik di ranah publik maupun di ranah domestik, sehingga kita sampai lupa untuk meningkatkan kompetensi kita dari tahun ke tahun.

Akhirnya yang muncul adalah kita melakukan pengulangan aktivitas dari hari ke hari tanpa ada peningkatan kompetensi. Meskipun anda sudah menjalankan peran selama 10.000 jam lebih, tidak akan ada perubahan karena kita selalu mengulang hal-hal yang sama dari hari ke hari dan tahun ke tahun.

Hanya ada satu kata:

BERUBAH atau KALAH

Salam Ibu Profesional,
/Tim Matrikulasi IIP/

SUMBER BACAAN:
Institut Ibu Profesional, Bunda Cekatan, sebuah antologi perkuliahan IIP,  2015
Hasil diskusi Nice Homework Matrikulasi IIP Batch #4, 2017
Irawati Istadi, Bunda Manajer Keluarga, halaman featuring, Success Mom's Story: Zainab Yusuf As'ari, Amelia Naim, Septi Peni, Astri Ivo, Ratih Sanggarwati, Okky Asokawati,Fifi Aleyda Yahya, Oke Hatta Rajasa, Yoyoh Yusroh, Jackie Ambadar, Saraswati Chasanah, Oma Ary Ginanjar, Pustaka Inti, 2009

https://youtu.be/Cr9JSJS7CIM

-----------------------------
 NICE HOMEWORK #6

*BELAJAR MENJADI  MANAJER KELUARGA HANDAL* 


Bunda, sekarang saatnya kita masuk dalam tahap “belajar menjadi manajer keluarga yang handal".
Mengapa? Karena hal ini akan mempermudah bunda untuk menemukan peran hidup kita dan semoga mempermudah bunda mendampingi anak-anak menemukan peran hidupnya.

Ada hal-hal yang kadang mengganggu proses kita menemukan peran hidup yaitu RUTINITAS.
Menjalankan pekerjaan rutin yang tidak selesai, membuat kita "Merasa Sibuk"sehingga kadang tidak ada waktu lagi untuk proses menemukan diri.

Maka ikutilah tahapan-tahapan sebagai berikut :
✔Tuliskan 3 aktivitas yang paling penting, dan 3 aktivitas yang paling tidak penting!
✔Waktu anda selama ini habis untuk kegiatan yang mana?
✔Jadikan 3 aktivitas penting menjadi aktivitas dinamis sehari-hari untuk memperbanyak jam terbang peran hidup anda, tengok NHW sebelumnya ya, agar selaras.
✔Kemudian kumpulkan aktivitas rutin menjadi satu waktu, berikan “kandang waktu”, dan patuhi cut off time (misal anda sudah menuliskan bahwa bersih-bersih rumah itu dari jam 05.00-06.00, maka patuhi waktu tersebut).
✔Jangan ijinkan agenda yang tidak terencana memenuhi jadwal waktu harian anda.
✔Setelah tahap di atas selesai anda tentukan. Buatlah jadwal harian yang paling mudah anda kerjakan.
(Contoh kalau saya membuat jadwal rutin saya masukkan di shubuh jam 07.00 – jadwal dinamis memperbanyak jam terbang dari jam 7 pagi- 7 malam, setelah jam 7 malam kembali ke aktivitas rutin yang belum selesai, sehingga muncul program 7 to 7).
✔Amati selama satu minggu pertama, apakah terlaksana dengan baik?

Kalau tidak, segera revisi, kalau baik, lanjutkan sampai dengan 3 bulan.

*_SELAMAT MENGERJAKAN!_*
Salam Ibu Profesional,
/Tim Matrikulasi IIP/

--------------------------
Nurul Fauziah
PESERTA MIIP BATCH #4
Nice Homework #
Belajar Menjadi Manajer Keluarga Handal


Pokoknya mengikuti materi demi materi dalam kuliah di Institut Ibu Profesional ini makin menampar-nampar saja. Tapi akankan tamparan ini hanya sekadar saja? Tidakkah rasa sakit dari tamparan tersebut menjadi pengingat untuk segera berubah? Ayok zee, semangat menjadi mamak-mamak professional.

Disadari atau tidak rutinitas menjadi ibu rumah tangga yang sepenuhnya waktu dihabiskan di rumah bersama anak merupakan the silent killer jiwa ibu itu sendiri. Maka dari itu pada satu bagian materi part 6 diingatkan bahwa,

Apa sih sebenarnya motivasi kita bekerja di rumah, dalam hal ini saya ambil contoh diri saya sendiri yang memang sehari-hari mengasuh anak dan bekerja dari rumah.
•    Apakah masih ASAL KERJA, menggugurkan kewajiban saja?
•    Apakah didasari sebuah KOMPETISI sehingga selalu ingin bersaing dengan orang/ keluarga lain?
•    Apakah karena PANGGILAN HATI sehingga anda merasa ini bagian dari peran anda sebagai Khalifah?

Pada poin terakhir saya berhenti lama dan mengulang membacanya. Seharusnya panggilan hati inilah yang jadi motivasi saya bekerja di rumah dengan begitu tidak ada kata jenuh, malas-malasan, dan perasaan negatif lainnya, walau yang namanya sesekali mengeluh itu manusiawi banget, huhu, kadang tak jarang suami jadi sasaran dicurhatin, haha.

Dan lalu biar makin semangat mengerjakan urusan rumah tangga setiap harinya, tanamkan sugesti dalam alam bawah sadar bahwa Saya Manajer Keluarga. Kebayang dong ya gimana layaknya seorang manajer, pun manajer keluarga begitu.

Hargai diri sendiri, pakailah pakaian yang rapi saat bertugas menjadi manajer keluarga. Buat rencana aktivitasi apa saja yang hendak dilakukan dan diselesaikan seharian itu. Buat skala prioritas dan yang terpenting komitmen dan konsisten. Pada paragraf ini merupakan PR gueddeeeek buat saya.

Setelah selesai dengan urusan menghargai diri sendiri ini, pada materi Belajar Menjadi Manajer Keluarga dikasi tahu juga jurus mengatasi kompleksitas tantangan saat bekerja, yang perlu kita lakukan adalah,

Put First Thing First

Letakkan sesuatu yang utama menjadi pertama. Berhubung saya udah emak-emak nih, yang pertama dan utama siapalagi kalau bukan suami dan anak. Jadi untuk mereka, buat perencanaan yang sesuai skala prioritas hari ini, aktifkan fitur organize di gadget kita agar semakin memudahkan kita dalam menjalankan segala rencana.

Dalam review NHW #6 ini ada tips juga nih yang bisa dicoba, yakni silahkan tanyakan pada suami, dari tiga hal ini, jika diurutkan mana yang paling membuat ia bahagia,
1.Rumah bersih dan rapi
2.Makanan tersedia fresh dan hangat
3.Anak yang ke urus

Saya udah coba menanyakan ini ke suami, dan urutannya adalah 3,2,1, haha, oke fiks.

One Bite A Time

Lakukan setahap demi setahap, lakukan sekarang, pantang menunda dan menumpuk pekerjaan. Hal ini terjadi pada pekerjaan melipat pakaian dan menyetrika, serta menulis haha. Sepertinya mantra Lakukan setahap demi setahap, lakukan sekarang, pantang menunda dan menumpuk pekerjaan, harus saya pasang deh di tiap sudut rumah, agar teringat terus.

Delegating

Mendelegasikan pekerjaan ini sangat penting, mantranya adalah latih—percayakan—kerjakan—tingkatkan. Jadi delegasi bukan sekadar memberi tugas, namun ada proses pelatihan disana. Pun Khalil sudah mulai saya ajarkan untuk mandiri.

Memasuki bagian akhir dari pemaparan NHW#6 adalah tentang perkembangan peran sebagai ibu. Kalau ditanya sudah berapa lama jadi ibu?  Ya jawabannya baru 21 bulan haha. Dan kita bakal jadi ibu seumur hidup loh, pertanyaannya, apakah sepanjang hidup kita yang sudah masuk musim jadi mamak-mamak ini hanya ingin SEKADAR MENJADI IBU saja? Mari mengembangkan peran kita sebagai ibu.

Misalnya, selama ini mencatat keuangan keluarga ya begitu-begitu saja, coba ditingkatkan gimana sih agar uang belanja bisa nyisa banyak tiap bulannya trus ditabung buat beli emas atau properti *eaak, trus saking pengen nyisa banyak tuh uang belanja, suami dan anak jatah makannya terancam, buahahaha, becanda aja, ya namanya usaha, soalnya ini masalah terbesar saya, paling gak detil urusan catat mencatat keuangan pasti aja ada keselip, jajan serebu aja kadang lupa dicatat huhu. Semoga ke depan bisa lebih baik dan peran sebagai kabag keuangan keluarga bisa berkembang.

Pokoknya kita jangan kejebak rutinitas dah, kalau kata Einstein nih, orang yang mengharapkan perubahan namun yang ia lakukan hanya hal yang sama tiap hari, maka, situ gilak? Gak mau yakan jadi orang gila. Untuk itu mari optimalkan jam terbang sebagai seorang ibu, agar tercapai 10000 jam terbang supaya menjadi ahli, menjadi ibu professional.

Saatnya mengerjakan PR, di Nice Homework #6 kita diajak untuk kembali menemukan peran hidup. Ya kadang saking tenggelamnya dalam rutinitas, untuk sisiran aja kita gak sempat konon lagi menemukan peran hidup, yaa salaam, maka dari itu PR kali ini penting pake banget,

Tuliskan tiga aktivitas yang paling penting dan tiga aktivitas yang paling gak penting.

Tiap harinya itu, tiga aktivitas yang paling penting adalah mengurus Khalil, masak dan menulis. Tiga hal paling gak penting, terjebak cek sosmed, terjebak cek sosmed, dan terjebak cek sosmed. Hahaha

Waktu Anda selama ini habis untuk hal yang mana? Terjebak cek sosmed >.<

Jadikan 3 aktivitas penting menjadi aktivitas dinamis sehari-hari untuk memperbanyak jam terbang peran hidup anda, tengok NHW sebelumnya ya, agar selaras. 

Oke Bun ^_^

Kemudian kumpulkan aktivitas rutin menjadi satu waktu, berikan “kandang waktu”, dan patuhi cut off time ( misal anda sudah menuliskan bahwa bersih-bersih rumah itu dari jam 05.00-06.00, maka patuhi waktu tersebut)

Membuat kandang waktu ini yang warbiyasak usahanya karena masih ikut jadwalnya Khalil nih, jadi tiap hari bener-bener beda, bahkan bisa berantakan jadwalnya muahaha. Tapi bukan berarti gak bisa diusahakan. Saya coba buat kandang waktu. Mungkin akan berjalan kalau Khalil bobok siang, selama dua jam Khalil bobok, disitulah saya masak dan bersih-bersih rumah, malemnya baru bisa nulis hihi.

Atau sekarang udah menurunkan standar, jadi sejak buat menu masakan untuk 30 hari, saya mulai terbiasa masak di pagi hari, sehingga siang sampai jelang Khalil bobok siang kerjaan saya ya bermain dengan Khalil disambi bersih-bersih rumah, nah setelah Khalil bobok baru deh ngetik dan malamnya bisa dipakai tidur lebih cepat atau kalau gak bisa tidur ya buat ngetik.

Jangan ijinkan agenda yang tidak terencana memenuhi jadwal waktu harian anda. 

Ssssiaaaap grak!

Setelah tahap di atas selesai anda tentukan. Buatlah jadwal harian yang paling mudah anda kerjakan. (Contoh kalau saya membuat jadwal rutin saya masukkan di subuh-jam 07.00 – jadwal dinamis ( memperbanyak jam terbang dari jam 7 pagi- 7 malam, setelah jam 7 malam kembali ke aktivitas rutin yang belum selesai, sehingga muncul program 7 to 7)


Hmm, oke noted

Amati selama satu minggu pertama, apakah terlaksana dengan baik? kalau tidak segera revisi, kalau baik, lanjutkan sampai dengan 3 bulan.

Laksanakan!

Hanya ada 4 kata, BERUBAH SEKARANG ATAU KALAH NANTI!

Semoga Bermanfaat ^^




2 comments

seru ya mak. daku belum dapat ijin, maklum beranak 3 n ada babynya. dtambah pula daku orangnya kagak multitasking, lengkaplah sudaah ngehehe..

tp setelah dipikir2, pengen selow selow ajalah.. ga mau jd beban. d buku ibu profesional ada jugak, jd belajar sendiri sajalah, moga bisa sesukses emak2 yg ikut kelas martikul, aamiin

Reply

gak apa mak, ntar kalo si bayi udah agak gedean dikit bisa ikutan, sepertinya akan di buka utk batch2 berikutnya ^_^

Reply

Terimakasih sudah membaca postingan di nufazee.com semoga bermanfaat.

Powered by Blogger.