Menu
/

Sekitar jam 11, seperti biasa cek chat di whatsapp dan ada pesan dari Imel. Isi pesannya ajak aku untuk ikutan naik Mowiee. Tadinya berpikir bakal gak diizinin si Ayah Khalil untuk pergi sebab gak ada Uci Khalil yang nemenin, eh gak sampai 1 menit, izin melalak langsung turun. Alhamdulillah.

Aku pun gerak cepat untuk bersiap, mulai dari briefing ke Khalil hari ini akan kemana, syukurnya aku sempat masak makanan Khalil walau cuma tumis pasta haha, menyiapkan bekal dan amunisi, antisipasi agar Khalil tetap nyaman selama perjalanan.

Perjalanan ini bikin aku deg-deg an soalnya berangkat dijam tidur siangnya Khalil, tapi bismillah ajalah hehe, sambil dikomunikasikan ke Khalil kalau ngantuk, tidur siang aja sebentar di mobil, pokoknya Khalil kooperatif banget dah selama perjalanan, senangnya.

Mowiee dijadwalkan berangkat jam 2, sementara kami baru gerak jam 1 dari negeri Maryland, belum lagi awal jalan udah dihadang muacet di persimpangan empat simpang mandiri, 10 menit juga gak gerak, ckckc.

Entah drivernya gak tau jalan atau memikirkan alternatif jalan yang gak gitu macet, jadi kami seolah berasa jauuuuh perjalanan, 1 jam bok, syukurnya tepat jam 2 nyampe di pelataran Masjid Raya, tempat titik kumpul mini bus Mowiee. Untung gak ditinggal, haha.

Sebaik masuk Mowiee, kami pilih duduk paling belakang, karena itu yang kosong wkwk.



Tentang Mowiee-Sebuah Mimpi Inovasi Wisata Kota Medan yang Jadi Nyata

Mowiee adalah singkatan dari Mobil Wisata Edukasi Entrepreneurship pertama di Indonesia. Untuk sementara armada yang digunakan adalah mini bus, kita doakan semoga berkembang ya, biar kayak di Jakarta dan Bandung, menggunakan bus besar.



Sebelum bahas lebih lanjut tentang pengalaman kami hari ini, sesaat menaiki Mowiee, aku seperti diajak masuk ke masa lalu, tepatnya di tahun 2012 kalau gak salah ingat. Saat itu aku dapat kesempatan menghadiri event di roof top nya gedung London Sumatera.

Dalam event itu Pak Ichwan Azhari—sejarawan Sumatera Utara sekaligus pemilik Museum Situs Kota Cina Medan Marelan, hadir sebagai narasumber membahas tentang Kota Medan dan salahsatu mimpinya adalah program wisata kota Medan ini. Dimana daerah seputaran Lapangan Merdeka Walk itu adalah daerah bersejarah semua, dulunya pusat perdagangan Tanah Deli, yang dengan mengelilinginya saja sudah pusing eh sudah banyak informasi sejarah yang diperoleh.

Namun sayang beberapa gedung bersejarah belum maksimal dapat perhatian pemerintah, padahal kan aset heritage provinsi juga hiks, semoga Medan lebih baik lagi yak. Beruntung ada komunitas Medan Heritage nih yang jadi pengawal bin pengawas terhadap segala heritage di Kota Medan.

Udahan dulu nostalgianya, balik lagi ke masa sekarang. Mimpi Pak Ichwan ternyata diwujudkan oleh Kak Alween Ong, seorang pengusaha muda kota Medan. Aku sendiri geregetan dengan kakak ini. Inspiratif banget orangnya. Kapan-kapan aku nulis profilnya ah.

Sesuai tema mobilnya,  Mowiee gak sekadar jalan-jalan, tapi ada edukasi sejarah dan budayanya mengenai kota Medan—The City of Trader serta mengetahui segala nuansa kewirausahaannya.

Sesaat setelah mobil jalan, taraaa hadir sebagai pemandunya adalah langsung founder Mowiee loh, Kak Alween, yeay

Oleh Kak Alween dijelaskan, Mowiee hadir berkat dukungan CSR Bank Sumut yang bekerja sama dengan perusahaannya Kak Alween nih Narsis Education.

Kemana Aja Mowiee Berkeliling ?

Bertempat sebagai titik kumpul yakni di pelataran parkir Masjid Raya sebagai satu dari masjid terbesar di Kota Medan, satunya lagi Masjid Agung yang lagi proses renovasi. Kemudian perjalanan lanjut ke Istana Maimun sebelumnya kami lewati juga kantor berita Waspada.

Melewati istana, masuk ke daerah China Town apalagi kalau bukan Kesawan Square. Daerah Kesawan sebelah kanan ada rumah bersejarah, Tjong Afie House. Aku pernah masuk rumah ini, berasa lagi main drama kolosal Putri Hwang Zou haha, naik ke lantai gak boleh rame-rame sebab khawatir rubuh juga kan. Sepertinya perlu tulisan khusus bahas rumah ini ya hehe.

Masih di Kesawan ada restoran klasik, Tip Top, next bakal agendain kesini ah, penasaran juga seperti apa eskrim legendaris dan rasa kue susnya huhu.

Lalu di perempatan disambut dengan tanah lapang yang jadi saksi sejarah Kota Medan, yes Tanah Lapang Merdeka yang kini lebih dikenal dengan Merdeka Walk.

Di sekeliling Merdeka Walk, penumpang Mowiee disuguhkan banyak bangunan klasik di kiri kanan, sebelumnya ada London Sumatera atau Lonsum yang sampai sekarang masih berfungsi sebagai kantor perkebunan, dalam gedung ini ada lift antik ala lift di London tahun 1900-an, aselik lift besi.

Ada Gedung Balai Kota, Gedung Bank Indonesia, lalu ada tugu titik nol Kota Medan dan di sampingnya ada Kantor Pos besar Kota Medan. Dulu semasa rajin jadi kuter alias kuis hunter, sebelum giveaway ala Instagram booming. Aku sering bolak balik kantor pos, beli perangko, kirim seamplop besar persyaratan kuis, serulah hehe.

Setelah melewati jantung Kota Medan, Mowiee berbelok ke Tanah Lapang Benteng, tanah lapang terbesar kedua nih di Medan. Di sisi kiri lapangan ada gedung pusat pemerintahan ada kantor DPRD, dan di sepanjang jalan ini juga banyak mol serta rumah sakit.

Lurus aja, tak berapa lama Mowiee belok kiri lagi dan kami akan memasuki daerah Little India alias daerah kampung madras, selain ada Mol terbesar yakni Sun Plaza, kampung madras punya kuil, Kuil Shri Mariamman.

Di dalam Mowiee, Khalil sempat bosan, ‘kapan kita sampenya Boooon’, wkwkw, tapi Kak Alween sang tour guide gak henti-hentinya berinteraksi dan interaktif dengan anak-anak di Mowiee.

‘Siapa yang suka makan durian?”
SAYAAA...teriak Khalil
‘Siapa...?’
“Siapa...?’

Apapun pertanyaan Kak Alween, jawaban Khalil adalah SAYA
Haha

Ah ya sampai lupa, tadi sebelum sampai ke Tanah Lapang Benteng, kami melewati Tugu Guru Patimpus. Aku sering lewat tugu ini tapi gak tau apa maknanya, haha. Ternyata tugu ini berdiri sosok pendiri Kota Medan, Guru Patimpus, pada 1 Juli 1590.

Dulunya Medan ini adalah hutan belukar, nah Guru Patimpus ini yang membuka lahan hutan sebagai areal Kampung Medan. Pun tentang Kota Medan zaman dulu aku suka membacanya di novel Emak.

Baca juga : Mengenang Emak Ala Daoed Joesoef

Setelah puas ngobrolin sejarah saatnya menelusuri wisata kuliner Kota Medan. Mowiee membawa kami melewati Pusat Jajanan Mojopahit, lalu masuk daerah yang nama jalannya ada sei...sei.

Salahsatu jalan berawal Sei menjadi tempat pemberhentian kami, Home Industri UKM, Noerlen—Rumah Oleh Oleh Khas Sumatera Utara, tepatnya di Jalan Sei Tuan. Tentang Noerlen aku bahas sendiri di tulisan lain ya.



Singkat cerita, di Noerlen kami sempat melakukan kunjungan singkat. Sebaik sampai di Noerlen, kami disambut dengan mini cup sirop markisa segar dan dingin, masyaAllah hilang dahaga ini, trus nyesel maunya dari rumah bawa botol kosong haha *galon aja sekalian Sis*  lalu kami juga diajak melihat proses pembuatan sirop markisa yang masih manual dan setelah itu pastinya kami belanja wkwkw, terhempas duit mamak hampir 100K wkwkw. Aku beli sirop Markisa dan VCO😍

Waktunya menyelesaikan perjalanan, banyak informasi yang aku dapatkan seharian ini, baru tahu kalau Ashanti buka Dapur Asix, terus beberapa usaha kuliner artis di Medan yang mulai mandeg.
Rujak kolam yang digusur, namun bukan digusur tapi sedang disiapkan lokasi yang lebih bagus untuk jualan. Terus Rumah Dinas Gubsu yang lagi renovasi dan yang tak kalah penting adalah informasi mi ayam paling enak yakni Mi Ayam Restu, Jl, Sei Belutu. Enak, Banyak dan Murah haha. Aku harus kesini buat nyobain, ya harus. Terimakasih Kak Alween, ini informasi berharga banget buat akoh.

Gak berasa perjalanan usai, kami kembali ke Masjid Raya sebagai tempat pemberhentian. Sempat kecewa sih, pengennya singgah di kantor Kak Alween, Narsis Digital Printing, tapi gak apa-apa, so far Mowiee is sooo fun.

Kapan Mowiee Beropeasi Untuk Umum ?

Mowiee beroperasi tanggal 1 Oktober 2018, meskipun begitu tetap bisa booking seat di aplikasinya Mowiee atau mengunjungi website www.mowiee.com.

Perharinya Mowiee ada 2 trip, pagi jam 9 dan siang jam 2. Tiket untuk dewasa seharga 75K dan anak seharga 50K.

Pengalaman jalan dengan Mowiee hari ini seru sekali, bermanfaat buat Khalil sebab jadi pengetahuan tentang kota tempat dia tinggal. Selama ini kalau ditanya,

‘Khalil tinggal di mana?’
‘Bumi’
Sebenarnya jawaban Khalil gak salah sih, Bunda aja yang kasi pertanyaan salah haha, seharusnya, Khalil tinggal di kota apa?
Kota Medan!

Thanks Mowiee dan Kapten Mowiee!
Semoga bermanfaat!
Selamat jalan-jalan!



2 comments

Menarik. Terima kasih infonya mba

Reply

Sama sama bg Imam 👍

Reply

Terimakasih sudah membaca postingan di nufazee.com semoga bermanfaat.

Powered by Blogger.