Menu
/

Siapa sangka kebiasaan minum kopi jadi semacam trend di abad ini, sehingga coffee shop sungguh menjamur di Kota Medan beberapa tahun terakhir.

Untuk menjajakan kopi di zaman sekarang tidak sederhana, tidak bisa hanya menawarkan seduhan kopi dari biji kopi berkualitas dan penuh citarasa tapi juga suasana tempat tongkrongan buat ngopi harus dipikirkan secara beriringan jika ingin tetap eksis dan bertahan.

Ada spot selfie, sajian menu beragam, lokasi luas yang dapat menampung pengunjung beserta keluarga atau relasi yang dibawa semacam jadi standar coffee shop masa kini.

Padahal dulu, kopi termasuk minuman elekhan, hal ini dibuktikan saat minuman kopi baru ditemukan pada abad 10 Masehi oleh seorang sufi bernama Ali bin Omar asal Yaman. Waktu itu rebusan kopi digunakan sebagai obat penyakit kulit dan obat-obatan lain.

Di kalangan masyarakat Timur Tengah, kopi jadi suatu benda yang terhormat karena memberi kemakmuran bagi pemilik kebun kopi, pengusaha kedai kopi, pedagang kopi, eksportir kopi dan pemerintah di berbagai belahan dunia.

Sedangkan perjalanan kopi di Ethiopia sudah dimulai lebih dari seribu tahun lalu dan diabadikan dalam sebuah legenda yang mengisahkan seorang penggembala, ia mencoba memakan buah kopi setelah melihat kambing-kambing-nya tidak tidur setelah makan buah kopi liar di sebuah padang rumput.

Dalam sebuah literatur sejarah kopi, Sheik Omar dikisahkan telah membawa kopi ke kota Al Mukha di Yaman tahun 1258. Barulah di abad 15, kedai kopi pertama di dunia dibuka di Mekkah. Kedai ini jadi tempat bersantai dan membahas politik sambil menikmati seduhan kopi.

Ketika itu kopi dimasak dengan merebus bijinya. Sekitar 100 tahun kemudian, pengolahan kopi dengan digongseng dimulai di Turki. Maka, Kota Istanbul sangat terkenal dengan adanya ratusan rumah kopi.

Arabika dan Robusta, Biji Kopi Terkenal

Secara umum ada dua spesies biji kopi terkenal dan dikonsumsi orang sedunia, opi arabika dan kopi robusta.

Tahun 1696-1699 di Indonesia, tanaman kopi dulunya bersifat coba-coba dan ternyata hasilnya memuaskan dan menguntungkan menurut VOC, sehingga VOC menyebarkannya ke berbagai daerah di Indonesia untuk ditanam.

Pertengahan abad 17, VOC kembangkan tanaman kopi arabika di Sumatera, Bali, Sulawesi dan Kep. Timor.

Nah, Kecamatan Pakantan di Mandailing Natal menjadi daerah perkebunan kopi arabika pertama milik VOC di Sumatera saat itu. Lalu kopi arabika dibawa ke Tapanuli Utara (Lintong Nihuta dan sekitar Danau Toba) dan dataran tinggi Gayo (Aceh Tengah).

Seiring perkembangan zaman, kedai kopi mengalami status naik turun, dari terhormat, merakyat dan sekarang naik pangkat lagi coffee shop. Yup, minum kopi dan mampir di coffee shop jadi gaya hidup orang kota.

Tentang D’Raja Coffee

Memaknai sejarah dan perjalan kopi serta kedai kopi, Rudy dan William, dua bersaudara ini mewujudkan kecintaan dan keseriusan terhadap kopi dengan mendirikan coffee shop bernama D’Raja Coffee pada tahun 2013.

Awalnya mereka membuka gerai kopi kecil ( kopi tiam ) dengan hanya ada empat meja saja. Mereka tak hanya puas sampai sekadar gerai kopi kecil, kedua bersaudara terus berproses hingga kopi tiam sederhana ini jadi gerai satu pintu, tak lama jadi dua pintu ruko.

Pertama kali biji kopi yang digunakan adalah biji kopi Toraja yang disajikan dengan metode manual brew. Inilah asal mula nama D’Raja Coffee dari kata Drip Toraja Coffee yang kemudian disingkat D’Raja Coffee. Oooo jadi gitu ceritanya, aku pikir D’Raja Coffee itu artinya kopi minuman para raja hihi ternyata. Dan seiring waktu, biji kopi Toraja di D’Raja Coffee tergantikan biji kopi Arabika karena tak kalah nikmatnya.


Mengingat tahun 2013 belum terlalu banyak coffee shop, konsistensi dua bersaudara menuai hasil. D’Raja Coffee mulai ekspansi dan melebarkan saya dengan membuka gerai di Jalan Bandara pas depan Hotel Wings. Strategis banget emang tempatnya, tempat persinggahan tamu yang akan ke Bandara atau menuju Medan.

Kemudian D’Raja Coffee membuka lagi gerai ketiga di Ismud Park yang dikelola Denny Wu. Gerai ini dibuka 24 jam sehingga menghasilkan banyak pelanggan setia yang gak hanya sekadar jadi pelanggan tapi juga mereka yang ingin menekuni dunia kopi dengan serius. Kelas Kopi pun dibuka meski gak secara formal digaungkan. Walaupun begitu Kelas Kopi ini telah berangkatkan belasan pegiat industri kopi ke Australia. Bahkan para eksekutif muda juga banyak loh yang belajar membuat kopi di D’Raja Coffee mulai dari buat Espresso sampai Latte Art. Kerreeen!

Oiya D’Raja Coffee juga menyangrai dan menjual biji kopi bagi pelanggan yang candu kopi. Adapun beberapa biji kopi yang bisa kita minta packing antara lain Gayo, Mandheiling, Lintong, Toraja, Sidikalang, Robusta, dan Red Coffee dengan minimal pengemasan per 250gr.

Supaya rasa penasaran kita tuntas terhadap aroma kopi yang disajikan, di D’Raja Coffee pelanggan bisa sesap aroma kopi yang disangrai dengan menyaksikan proses sangrai green bean, silahkan berkunjung ke D’Raja Coffee Kuala Namu maupun D’Raja Coffee Cemara Asri.

Karena persistensi dan konsistensi D’Raja Coffee, akhirnya jadi brand yang cukup diperhitungkan di industri waralaba. Sehingga sepanjang tahun 2018 sudah miliki 3 gerai, yakni D’Raja Coffee Palembang di Kota Palembang, D’Raja Coffee Centrium di Jl. Brigjend Katamso, dan D’Raja Coffee Gatsu yang terbaru di Jl. Gatot Subroto. Total kini sudah ada enam gerai D’Raja Coffee di Pulau Sumatera.


D’Raja Coffee Gatsu dan Sajian Seafood yang Menggoyang Lidah



Agar pengunjung semakin betah dan bagian dari peningkatan pelayanan setiap gerai D’Raja punya beragam menu loh. D’Raja Coffee Gatsu yang baru dibuka awal Desember lalu hadir dengan sentuhan berbeda, sebab ada sajian seafood sebagai menu andalan. Wah kesukaan aku banget, seafood, huhu.



Menu seafood yang dihadirkan dan tak ada di gerai D’Raja Coffee manapun seperti,  ikan Gurami, Kerapu, Bawal, Udang, Kakap, Cumi, Iga, bahkan ragam tumisan sayur dalam berbagai racikan. Sajian penganan seafood ini sengaja dihadirkan sebab minat tinggi warga Kota Medan dengan dunia kuliner.

Waduh seafood pasti mahal dong ya? Eit jangan salah, harga cukup bersahabat loh, mulai dari 15K / porsi.

Konsep gerai D’Raja Coffee yang di Gatsu gak hanya indoor tapi juga outdoor loh. Dan disini juga bisa belajar buat kopi dengan membekali ikut kelas kopi-nya. Dan yang pernah mengunjungi D’Raja Coffee dijamin bakal balik lagi, sebab cita rasa nya tebawa-bawa mimpi. Uwoww.

Jadi, pengen mengunjungi gerai D’Raja Coffee yang mana dulu nih?

Semoga bermanfaat!

Terimakasih sudah membaca postingan di nufazee.com semoga bermanfaat. Mohon jangan masukkan link hidup saat mengisi kolom komentar. ^^ Biar gak capek kali ngapus broken link, ini kenapa jadi curhat haha

Powered by Blogger.