-->
Menu
/

- Gerak Anak dan Keajaibannya -

 



Assalamualaykum Mak,


Sadar gak sih selama pandemi ruang gerak kita amat terbatas, apalagi saat membersamai si kecil. Dulu, sebelum pandemi menyerang, hampir tiap sebulan sekali aku dan Khalil bermain di playground atau ikut playdate


Namun, sudah hampir setahun terakhir kami gak pernah lagi ke playground dan menghadiri playdate, praktis seharian itu dihabiskan di rumah, padahal Khalil ( 5 tahun ) membutuhkan ruang gerak, aktifitas gerak yang cukup sesuai usianya, kalau gak anaknya bakal what to do nih.

 
Aku yakin banget, mau anak laki-laki atau perempuan, pasti memerlukan bergerak, namun gerakan yang bagaimana sih? Mengapa harus gerak? Rumahku kecil, bagaimana memfasilitasi anak bergerak?
Semua pertanyaan tersebut dijawab dan dibahas di Zoom Class dengan tema Gerak dan Keajaibannya yang disponsori oleh Pobee. 


Event ini digelar sebanyak 2 sesi, bersama dr. Pinan dan Damar Wijayanti pada 22 – 23 Desember 2020 jam 2 siang. Awalnya aku maju mundur ikut Zoom Class ini, ternyata gak menyesal huhu, super bermanfaat, insyaAllah.


Sebelum aku lanjut seperti apa insight yang aku dapat selama 2 hari ikutin kelasnya, aku mau cerita singkat tentang Pobee. Pobee adalah ruang cipta dari sebuah keluarga kecil ( ada bapak, ibu, Binar) yang hobi bebikinan, bercerita dan bermain. Info lengkap tentang Pobee, bisa langsung kepoin IG nya di @pobee.id.


Yuk, masuk ke sesi dr. Pinan. Oiya sedikit nih tentang profil bu dokter. Jujur aku baru kenal dr. Pinan beberapa bulan terakhir, trus isi feed IG nya inspiratif, langsung dong aku follow. Bu Pinan ini selain seorang dokter dan konselor menyusui, ia juga founder dari akun IG @belajar.bareng.bupinan, dimana ada banyak informasi kelas online baik via WAG maupun Zoom dengan tema menarik seputar parenting yang bisa diikuti para ortu. Seru banget kan!


Pada sesi Bu Pinan, gerak dan keajaibannya dibahas dari segi fisik juga perkembangan anak, istilahnya dibahas versi ilmiah sesuai keahlian Bu Pinan dibidang medis. 


Diam Sebentar Untuk Memahami Gerak


Wuih judulnya, saking riweuh nya dengan sekitar, kadang kita suka remeh ya dengan geraknya anak, sampe Bu Pinan, ‘diam bentar yuk, pahami gerak’.


Ada 5 materi yang dibahas di sesi 1, yaitu Darimana semuanya bermula, Urgensi bergerak untuk perkembangan otak, Jenis-jenis gerak, Gerak vs Stimulasi, Rekomendasi AAP terkait gerak. 


Darimana Semuanya Bermula?


Di materi ini Bu Pinan ajak orangtua untuk paham ‘strong why’ kenapa anak harus gerak. Meskipun pemahamannya gak sedalam kayak berasa kuliah kedokteran, paling tidak orangtua paham dasarnya, dan ini memang penting banget, agar saat kita mageer, lelah, dan distraksi lainnya yang melanda, kita bisa balik lagi baca atau recall si ‘strong why’ ini.


Perkembangan sel otak yang penting diketahui orangtua. Ternyata parenting journey sebuah keluarga dimulai dari munculnya garis biru usai testpack *eaaa. 

Sel otak anak berkembang pesat selama masa kehamilan apalagi di usia 4-5 minggu hingga usia 2 tahunan, menempati 70% otak orang dewasa sehingga naik terus di usia 3 tahun, sampai 85% dan di usia 5-6 tahun, itu sama kayak otak orang dewasa. Dan perjalanan ini hanya terjadi 1 kali, gak bisa diulang kayak nonton drama korea ye Mak.


Perkembangan sel otak yang pesat ini terutama di 2 tahun pertama kehidupan anak sering disebut oleh pemerintah 1000 HPK atau 1000 Hari Pertama Kehidupan atau Golden Age Periode. Sekali lagi Bu Pinan menekankan bahwa masa ini tuh pondasi yang menentukan kesehatan anak di masa depan.


Gimana nih supaya sel otak bagus? Disinilah peran nutrisi di masa-masa kehamilan, sangat disarankan konsumsi gizi seimbang, lalu pemberian ASI dan MPASI. 


Permasalahan gak hanya di sel aja, kayak makanan otak yaitu DHA, Lemak, Kolesterol, tapi apakah tiap selnya saling berhubungan? Nah loh?


( Baca juga : Siapkah Kita Menjadi Ayah Bunda Platinum ? )


Kuncinya, makin bersambungan sinaps, makin bagus. 


Lalu dok, bagaimana memperkaya sinaps, agar perkembangan sel otak dan hubungannya bagus?


Sayangnya, lanjut dr.Pinan, mau makan ikan kaya kandungan DHA dari laut terdalam sebanyak 1 kontainer pun ( ini sih aku yang lebay lebaykan haha) tidak akan ngaruh jika tidak ada yang namanya STIMULASI. Stimulasi inilah nutrisi atau makanan otak. 


Dua PR besar kita, Stimulasi dan Nutrisi


Urgensi Gerak dalam Perkembangan Anak


Yuhuuu, sampailah kita pada materi stimulasi. Jadi, aspek yang mempengaruhi perkembangan anak ada sensorik motorik. 


Sensorik Motorik ini berjalan gandengan untuk satu tujuan tapi penilaian antara keduanya berbeda. Jika salahsatunya terganggu, pasti mempengaruhi perjalanan yang satunya lagi. 


Sensorik itu berhubungan dengan indera. Indera ada 8, namun yang dibahas Bu Pinan hanya 7, yaitu penglihatan, penciuman, pengecapan, pendengaran, peraba, vestibular dan proprioseptif.


Vestibular ini berhubungan dengan gravitasi, gimana tubuh mempertahankan gravitasi, selain itu juga berhubungan dengan keseimbangan, postur, dll. 


Kalau proprioseptif berkaitan dengan otot bagian dalam atau reseptornya. Biasanya vestibular dan proprioseptif cara kerjanya barengan. 


Stimulasi yang mau kita beri ke anak haruslah ada objeknya, nah di kelas Bu Pinan memberikan contoh objek pipet dengan indera peraba yaitu tangan. Sensori yang ada pada peraba ngasi informasi ke otak, ‘otak, gue nyentuh sesuatu nih’ terus otak akan merespon ‘oke, peraba, coba deh kamu genggam objeknya’, perintah otak pada indera itulah namanya motorik. 


Jadi sering ya kita lihat tema Sensory Play, padahal saat bermain sensori, juga ada aspek rangsangan motoriknya juga loh. Hayuk mari kita 'ooooo' berjama'ah Buibu, pada baru tau kan? iye saya uga haha.


Motorik terbagi dua, motorik kasar dan halus,  hal inilah yang menghasilkan ‘gerakan’.


Jadi, gerakan itu gak semuanya harus, anaknya manjat, anaknya lari, anaknya lompat, jalan jongkok dll, gerakan itu adalah ya gerak, gerak coy haha, meskipun yang gerak adalah otot kecilnya, otot besar gausahlah ya ditanya kayak mana, jumpalitan mah pokoknya.


Kenapa semua gerakan penting?


Bu Pinan mengeluarkan slide, Piramida Belajar. Pada piramida tersebut, sensori berada paling bawah piramida yang dapat porsi besar, dasar dari semuanya. 

 


 


Sensori ini harus terintegrasi dengan semua indera, bekerjasama membentuk satu gerakan. Contoh, siswa yang duduk di kelas, indera penglihatan akan melihat apa yang ada di papan tulis, lalu mata dan tangan berkoordinasi untuk mencatat, penciumannya juga bekerja melalui aroma badan temennya haha, atau mencium aroma tinta dari pena nya, kemudian vestibular, akan mempertahankan posisinya untuk duduk, agar gak ngedabruk ( ini bahasa apa ya haha ) ke depan


Terus proprioseptifnya akan membantu posisi untuk menulis dan melakukan estimasi berapa tekanan yang harus dikeluarkan saat menulis agar gak terlalu ditekan khawatir jebol bukunya tapi gak juga terlalu lembut sampai gak kebaca. Ini semua jadi modal dasar anak masuk SD.  


Ya Allah kebayang banget jika semua proses gerak ini dalam format slow motion, Maha Besar Allah.  
Balik lagi bahas piramida, jika dasar udah kelar, maka makin ke atas apa yang diperlukan tubuh dalam proses belajar, akan mengikuti yang mana 3 hal terakhir menuju puncak piramida, gerakan anak akan membentuk daily activity, behavior, dan academic learning.

 

Jenis-Jenis Gerak


Jenis gerak tadi udah disampaikan diawal, yaitu ada motorik halus dan motorik kasar. By the way, dulu zaman kuliah, aku paling sulit bedakan dua jenis gerakan ini, asyik kebalik aja, padahal inilah yang dipelajari di mata kuliah psikologi pendidikan, hoho, bersyukur sekarang bisa memahami keduanya seasyik Bu Pinan jelasin huhu. 


Nah kedua gerakan ini harus seimbang stimulasinya, gak bisa ada yang jomplang. 


Selain itu jenis gerak yang lain ada locomotor, non locomotor, manipulatif.


Locomotor ini gerakan anak yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain, contohnya, saat anak main bola 


Non Locomotor,  kebalikan dari locomotor, gerakan anak yang gak berpindah seperti, menggeleng, membungkuk. 


Manipulatif, ada objeknya, seperti melempar


Ketiga gerakan terakhir ini tydaq usah dipikirin ya Mak kayak mikirin uang belanja kapan nambahnya ye wkwkw, tapi jadikan bahan untuk menganalisa. ‘Oh anakku lari, ini dia gerakan locomotor’ trus jangan juga dicatat sampai sedetil mungkin, gerakan locomotor die ape aje hari ini, ya Allah kepengen, namun ya gitu rutin mencatat aja masih sekadar wacana, semoga tahun depan lebih baik lagi dalam bikin portofolio anak, buku harian anak. 


Intinya, jelas Bu Pinan, kita belajar gerak ini supaya waras, supaya tahu porsi, kapan harus aware kapan harus santai. Jika pada akhirnya kita makin belajar makin insecure, hati-hati, ada yang keliru dengan cara kita belajar. Wah Bu Pinan, makdeg bin makjleb uga nih.


Berikutnya Bu Pinan jembrengkan list indikator motorik kasar dan halus yang harus dicapai anak pada tiap tahapan usianya dari 0-6 tahun. 


Cara praktekannya, kita ambil contoh indikator motorik halus untuk bayi  9-12 bulan, memegang benda kecil dan tipis kayak kancing dan mata uang logam, ini jangan kaku, ternyata anaknya cuma menjimpit bendanya haha, trus kita langsung ambil kesimpulan ‘duh motorik halus anak gue belum berkembang’ padahal intinya adalah lihat kemampuan anak even cuma menjimpit doang, jadi fokus pada gerakan  anak bukan pada objek/benda. Objeknya gak harus uang logam atau kancing tipis, jika yang ada di rumah berupa sisa buble wrap paketan yang dipitesin anak, nah itu juga gerakan motorik halus ya gaes. 

Betapa jadi orangtua kudu super perhatian, mindfull.


Arah Perkembangan Anak


Slide ini bertujuan membuat orangtua semakin memahami pentingnya gerakan pada anak:



Dari pemaparan slide di atas khususnya arah perkembangan proximodistal dengan tipikal gerakan anak, dapatlah simpulan sejak awal anak mengaktifkan secara dominan motorik kasarnya. 


Dan memang benar sih dengan apa yang sekarang aku alami saat membersamai perkembangan anak keduaku yang berusia 5 bulan, bahkan sejak proses IMD pun dia udah pinter menggerakkan mulutnya untuk hisap puting, lalu berlanjut pada signal-signal gerakan saat haus, tidak nyaman, ingin tidur, dll. 


Kemudian makin paham dengan pemaparan Bu Pinan tentang istilah yang dipopulerkan Maria Montessori yaitu Follow The Child, bukan Follow Your Dream ntar nyasar ke drakor Start Up haha. 


Makna Follow The Child itu, anak punya insting untuk menjalankan tugas perkembangan untuk dirinya sendiri, sehingga nih jika kita letak aja tuh bayik, dia pasti udah tau mau ngapain. 


Kabar baiknya, insting anak ini dipelajari oleh peneliti sebelumnya, sehingga terciptalah aspek perkembangan yang terdiri dari keterampilan motorik kasar dan motorik halus. Jadi, di rumah wajib banget tempel milestone anak yeee, agar tahu udah sampe mana nih stimulasi yang diberikan untuk mencapai tujuan milestone.


Mengapa? Karena insting anak akan sejalan dengan milestone-nya. Anak usia 6 bulan pasti akan belajar duduk, gak mungkin melompat.

 
Balik lagi nih ke hubungan perkembangan proximodistal dengan tipikal gerakan anak, ternyata anak akan otomatis menguatkan dan mempersiapkan dulu otot-otot besarnya. Jika semuanya sudah siap, baru deh otot-otot kecilnya akan mengikuti. 


Jadi, wajar gak anak usia 1-2 tahun itu kerjanya muuuuteeeer aja kayak gasing, gak bisa diem kecuali tidur haha?


Karena anak sedang mempersiapkan posturnya dulu, ketika nanti siap atau posisi sikap belajar yang memerlukan konsentrasi dan fokus, ternyata bagi anak, ini memerlukan usaha penuh loh, oksigen lebih banyak, ketika duduk diam, dibandingkan saat mereka bergerak. Wow, iya juga ya, mungkin ini yang dimaknai masa normalize di istilah Montessori. 


Betapa pentingnya ya melatih otot besar anak, yang saat aku mendengarkan pemaparan dr. Tiwi, latihan awal sekali terutama di usia 1-2 bulan, rutinkan tummy time dengan durasi bertahap tiap harinya serta dengan cara menyenangkan. Pada tummy time ada banyak otot yang dilatih, mulai dari angkat kepala sampai akhirnya bisa merangkak. masyaAllah. 


Masalahnya jika orangtua gak paham makna gerak pada anak, yang konon terjadi saat anak aktif bergerak malah diajak duduk diam, parahnya diajak nonton layar lagi, maka yang terjadi adalah saat otot gak dikasi makan dengan gerak, otomatis konsentrasi anak akan fokus pada bagaimana mempertahankan postur duduknya dia, dan ini pasti berat bagi anak huhu, disinilah bermula terpecahnya konsentrasi anak. seperti lebih mudah capek. 


Bahayanya lagi ketika besar anak akan semakin menunjukkan rasa laparnya untuk bergerak, ya makin sulit diajak konsentrasi sebagai modal belajar. Duh, membayangkannya aja aku udah kasian ke anak huhu, tetiba aku inget kondisi temennya anakku, persis banget. 


Perkembangan Kognitif Menurut Jean Piaget


Selanjutnya kita bahas perkembangan kognitif menurut Jean Piaget ( dibaca Piase ), pada bagian ini aku simak betul, soalnya mau aku terapkan pada anak, ah anak itu laboratorium kehidupan banget ya.

Dokter Pinan menekankan banget agar ortu paham betul aspek sensorimotor, sebab pada fase ini sifat gerak anak adalah naluriah, lalu aktifitas pengalaman didasarkan pada pengalaman panca indera. Pada masa ini juga anak baru mampu melihat dan menyerap pengalaman. Istilah dr. Pinan, di masa ini anak kayak nabung pengalaman sensori, tugas ortu tentu memfasilitasi, menstimulasi, lalu indikator perkembangan anak ceeeek *ala anak tiktok haha


Inti dari itu semua, anak belajar dari hal sederhana kemudian berlanjut ke kompleks. Dari real object atau konkret ke abstrak.


 


Hal inilah yang membuat anak usia 0-2 tahun sebaiknya tidak terpapar layar, karena ia masih memerlukan objek asli. 


Berikutnya index level, ketika anak memanipulasi objek, untuk kemudian berlanjut ke symbolic level, ‘oo ternyata pisang versi asli ini, bisa dibuat ke versi buku’, ternyata ada gambarnya, saat masuk ke sign level,’oo ternyata, pisang itu ada simbolnya , P.I.S.A.N.G’.


Dan pengalaman indra anak yang satu berbeda dengan anak yang lain, apalagi saat mengenali objek berupa ibunya, bahkan bagi anak, rumah adalah tempatnya belajar objek real tadi. Itulah mengapa praktisi menyarankan untuk dekatkan anak dengan lingkungan dan alam.

 

Gerak VS Stimulasi 


Yes, otot-otot harus distimulasi, jadi kalau dokter Tiwi bilang, anak tengkurap jangan cuma ditontonin aja Mak, tapi lakukan stimulasi-stimulasi sederhana lainnya, seperti ajak main, ngobrol, dll


Oiya yang distimulasi semua otot ya, mulai dari otot paling besar seperti paha dan otot paling kecil seperti mata. 


Rekomendasi AAP Terkait Gerak


Daritadi udah ngebahas gerak itu penting, lalu harus mulai darimana? Nah tadi aku ada singgung dikit mengenai tummy time pada bayi, dan stimulasi ini direkomendasikan oleh America Association of Pedriatics.


1 -3 tahun, 3 jam
3-6 tahun, 3 jam, termasuk 1 jam untuk gerakan motorik kasar ( atau mengeluarkan energy lebih, seperti main bola, lari-lari )
Usia SD : 1 jam ditambah olahraga fisik seminggu 3x


Memahami rekomendasi ini juga jangan kaku ya, balik lagi poinnya adalah membangun awareness orangtua. Dan biar makin mantep ilmu fleksibel mengenai gerak ini, akan diperdalam pada sesi dua dengan Ibu Damar.


Rekomendasi AAP Tentang Screentime


Entah kenapa makin modern zaman, kita sebagai orangtua kok semakin memudahkan semuanya termasuk urusan pemberian layar pada anak usia dini, padahal jelas sekali anak usia 0-2 tahun gak butuh layar, mereka butuh orangtuanya, real object.


Berikut rekomendasi AAP mengenai screentime semoga semakin buat ortu sadar ya, kenapa gak boleh kasih layar pada anak:


Anak dibawah 2 tahun belajar dan  tumbuh dengan mengeksplorasi dunia di sekitar mereka. Otaknya belajar secara maksimal, jika mereka berinteraksi dan bermain dengan orangtua, saudara, pengasuh serta anak dan orang dewasa lain.


Rekomendasi AAP tersebut kayaknya kudu aku buat versi gede lalu ditempel di dinding biar ingat, huhu.

Rekomendasi Paparan Screen Pada Anak




Ada apa dengan otot mata anak jika diberikan screentime, kan sekarang udah ada kacamata anti radiasi?


Bukan itu aja, karena mata perlu gerakan sehingga membantu koordinasi dengan tangan, seperti makan, menulis, sikat gigi. 


Bayangin jika anak ini terpapar screen dalam waktu lama, dimana ia hanya melihat pada 1 titik saja yaitu layar, otot matanya kan bergerak, analoginya jika kita angkat beban berat dalam waktu lama, pegel gak? Woiya jelas, nah gitu juga yang terjadi dengan otot mata, ototnya akan lelah, dan khawatir kurang stimulasi sehingga ganggu koordinasi dengan tangan. 



Bagaimana Agar Gerak Anak Berkualitas ?


Anak-anak hidup di masa sekarang, dan orang dewasa hidup di masa depan, maksudnya apa? Kita contohkan kegiatan sikat kamar mandi, ujar Bu Pinan. Orang dewasa menyikat kamar mandi bertujuan supaya bersih, lah anak? bertujuan main haha, dalam main ini lah segala gerak diaktifkan, seperti penjelasan diawal 

 

sehingga...


Kenapa anak biasanya lama sekali melakukan sesuatu?  anak memang lama mengerjakan sesuatu


Bagaimana memfasilitasi gerak anak di dalam rumah saja? Ajakin anak ke kegiatan sehari-hari, misal cuci beras, potekin kacang panjang, menjemur kain


Tips dan trik supaya anak ‘duduk tenang’? Geraknya harus dipenuhi dulu 


Gimana supaya anak saya bisa konsentrasi? Dengan bergerak


Jika postur tubuh anak udah tegak, semakin siap dia akan berkonsentrasi, itulah mengapa anak-anak konsentrasinya masih pendek. 


Manfaat Aktivitas Fisik Untuk Anak




Gimana? Gimana? Semoga makin semangat ya membersamai gerak anak! 


Resume webinar sesi kedua menyusul ya Cyn


1 comment:

  1. Oohh.. ternyata kalo anak geraknya terbatas bikin anak kurang fokus juga ya mak

    ReplyDelete

Terimakasih sudah membaca postingan di nufazee.com semoga bermanfaat. Mohon jangan masukkan link hidup saat mengisi kolom komentar. ^^ Biar gak capek kali ngapus broken link, ini kenapa jadi curhat haha

Powered by Blogger.