-->
Menu
/

 - I Love Indonesia Blogger Gathering : Ngobrolin Kaum Muda dan Kepeduliannya Terhadap Dampak Krisis Iklim -

 


 

Bila pohon terakhir telah ditebang, bila tetes air terakhir telah tercemar, dan bila ikan terakhir telah ditangkap, barulah manusia sadar, bahwa uang tidak bisa dimakan
-    Pepatah Indian -

 

Bismillah,
Assalamualaykum, Pembaca Nufazee!


Siapa bilang pemuda kita tuh cuek mengenai dampak krisis lingkungan? 


Kalau aku sih menyikapinya dengan rasa optimisme yang besar, bahwa masih banyak kok pemuda yang peduli lingkungan, kitanya aja kali yang mainnya kurang jauh *eaaa atau tergantung circle yang kita pilih sih. Jika memilih circle yang care sama lingkungan, pasti kebawa, percaya deh, begitu juga sebaliknya.


Alhamdulillah aku memilih circle untuk lebih aware terhadap lingkungan, sejak beberapa tahun terakhir, eh sejak aku tinggal sama nenek lebih tepatnya haha. 


Kemudian, aku  semakin tambah semangat setelah terpilih dari hampir 200 orang peserta lomba untuk mengikuti event I Love Indonesia Blogger Gathering pada Sabtu, 8 Januari 2021 lalu yang digelar oleh Golongan Hutan dan Blogger Perempuan.


Sekilas Tentang Golongan Hutan dan Blogger Perempuan


Golongan hutan adalah gerakan hasil inisiasi dan dibesarkan sejak Januari 2019 oleh organisasi masyarakat sipil dan komunitas. 


Diantara organisasi masyarakat sipil dan komunitas yang bergabung adalah Kemitraan/Partnership, Yayasan Madani Berkelanjutan, Yayasan Econusa, Yayasan Auriga, Greenpeace Indonesia, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, CHANGE.ORG, Yayasan Koaksi, Jaringan Pantau Gambut, Kaoem Telapak, Mongabay, Hutan itu Indonesia, Katadata, Samdhana, AMAN, HuMA, LTKL dan lain-lain. 


Hadirnya Golongan Hutan bertujuan mengajak pemuda Indonesia agar ikut bangga terhadap hutan dan seluruh potensinya. Adapun fokus dari Golongan Hutan yaitu untuk membesarkan isu lingkungan hidup, termasuklah di dalamnya hutan di Indonesia. 


Selain itu, keberadaan Golongan Hutan untuk sebarkan semangat dalam menjaga sumber daya alam agar kelak bisa dinikmati anak cucu bangsa. 


Sementara itu Blogger Perempuan, sebuah platform digital yang mewadahi blogger perempuan di Indonesia untuk bisa saling belajar, bercerita dan saling menginspirasi melalui konten. 


Komunitas ini sungguh berkembang pesat sejak tahun 2015, wah tahun yang sama saat aku serius nge-blog, dan sampai sekarang Blogger Perempuan menjadi komunitas blogger terbesar di Indonesia. 


Dalam event  tersebut menghadirkan 3 pembicara keren, ada Edo Rakhman selaku Koordinator Koalisi Golongan Hutan, lalu ada Syaharani seorang Mahasiswi Penggiat Aksi Jeda Untuk Iklim, dan berikutnya ada Anindya Kusuma Putri, aktris sekaligus sport & tourism influencer.

 


Acara yang dibawakan MC Fransiska Soraya atau akrab disapa Kak Oca menjadi seru sebab diawali dengan games tebak gambar dan aku kalah cepat haha sebab nge-zoom disambi nemenin nak bayi. 


Baru deh setelah itu obrolan tentang Peran Pemuda Indonesia dimulai. 

 

Anak Muda dan Rasa Pedulinya Terhadap Isu Perubahan Iklim


Hadir sebagai pembicara pertama ada Edo Rakhman yang akrab disapa Bang Edo. Bang Edo memulai pemaparan dengan menjawab pertanyaan terkait dengan tema besar lomba yang Golongan Hutan dan Blogger Perempuan adakan.


Jika berkesempatan menjadi pemimpin, apa yang akan saya lakukan?


Pemimpin itu ujar Bang Edo harus adil, adil dalam konteks adil untuk generasi ke depan. 


Lebih lanjut Bang Edo menampilkan hasil studi yang dilakukan 3 atau 4 bulan terakhir di tahun 2020 dan nanti ada kaitannya mengapa anak muda hari ini penting banget diberi ruang cukup besar untuk ke depan, baik dalam hal pengambilan kebijakan, pengelolaan sumber daya alam (SDA), bagaimana menjaga lingkungan dan seterusnya


Ada 3 hasil survei yaitu,



Di dalam tiga survei ini, dimana pada jajak pendapat anak muda terhadap harapan dan persepsi pilkada, 82% respondennya itu usia 17-30 tahun. Ini adalah usia potensial yang akan menentukan bagaimana nasib negara ini ke depan.


Dari hasil survei yang didominasi anak muda ini, ternyata mereka punya kepedulian juga loh terhadap isu ekonomi dan  kesejahteraan, infrastruktur, penegakan hukum, lingkungan, termasuk  pendidikan, sosial serta kesehatan.


Kedua adalah survei dari Yayasan Indonesia Cerah Indonesia  yang khusus bahas isu krisis iklim. Sekitar 89%  anak muda sangat khawatir terhadap dampak krisis iklim yang terjadi hari ini.


Kita pasti sudah tahu dong, gimana dampak krisis iklim di Indonesia, seperti curah hujan yang tak menentu, musim kemarau yang gak jelas waktunya kapan saja, bencana banjir juga longsor, ini semua dampak dari perubahan iklim sehingga hari ini kita berada dalam krisis iklim.


Anak-anak muda lanjut Bang Edo, sangat peduli terhadap kondisi hari ini, dan merupakan tanda yang harus diperhatikan oleh para pengambil kebijakan agar jangan mengabaikan anak muda.


Hasil survei lebih detil bisa dilihat disitus change.org mengenai press release krisis iklim di mata anak muda.


Lalu yang ketiga adalah hasil survei Walhi, yang mayoritas respondennya juga anak muda, dan sesuatu yang gak disangka ternyata mereka paham terhadap kejahatan korporasi yang memberikan dampak buruk terhadap lingkungan dan kenal dengan istilah ekosida.


Aku aja baru tahu istilah ekosida ini huhu. Duh udah separah itu ya kondisi hutan kita di tangan para oknum korporasi.


Berdasarkan tiga survei tersebut, anak muda saat ini jangan lagi dianggap apatis, dengarkanlah mereka.


Menurut Bang Edo, jika seseorang jadi pemimpin yang adil, penting banget mengakomodir suara anak muda,  jangan lagi anak muda dijadikan objek kampanye atau objek yang hanya sebatas perubahan gaya hidup dan seterusnya.


Ish setuju kali aku sama Bang Edo ini.


Poin penting yang aku catat dari Bang Edo sebelum ia mengakhiri sesinya adalah jika 1/3 penduduk Indonesia yang terdiri dari pemuda ini ke depannya tidak diedukasi mulai dari sekarang,  pengetahuan-pengetahuan soal lingkungan hidup, bagaimana mengetahui perubahan iklim, bagaimana bertahan dalam krisis iklim, tidak dilakukan dari hari ini, maka kekosongan pengetahuan akan dirasakan generasi akan datang.


Inilah mengapa kemudian kampanye Golongan Hutan  selalu bersentuhan dengan hutan, lingkungan dan yang paling penting adalah bagaimana mengkampanyekan agar semua anak muda hari ini mengetahui bahwa  mereka juga berhak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat.


Tentu kita gak mau, kelak anak kita gak tau mana yang namanya ubur-ubur, ikan hiu, seperti yang sudah digambarkan dalam video ini, sekumpulan anak TK tampak mengunjungi akuarium raksasa yang ternyata isinya…



Kemudian Kak Oca masuk dalam sesi diskusi dengan pertanyaan, kenapa harus peduli terhadap lingkungan hidup?


Pertama jawab Bang Edo bahwa kita tidak bisa menghindari kenyataan kalau lingkungan memberikan daya dukung terhadap hidup kita sehari-hari. Katakanlah kita hidup tidak secara langsung dekat dengan hutan atau laut, kita berbicara dari kota. Warga kota pun ternyata butuh lingkungan hidup yang sehat, perlu udara bersih, suasana yang nyaman, dan ruang terbuka hijau. 


Jika itu semua gak ada, hak kita terhadap lingkungan hidup yang baik dan sehat kan gak terpenuhi
Nah, gimana menurut peserta jika hak kita itu tidak terpenuhi, apakah kita hanya diam saja? Atau kita mau bersuara tapi tidak tahu caranya, atau sudah bersuara tapi tak tampak hasilnya.


Waduh, auto tertampar virtual nih mendengar jawaban Bang Edo. Jadi, jatuh hukumnya itu wajib banget peduli terhadap lingkungan, jika ada yang gak peduli, mending cari planet lain ajyah.


Kontribusi kita sendiri terhadap hutan berarti besar banget ya? sambung Kak Oca  


Ya, betul jawab Bang Edo penuh semangat, bahwa begitu maraknya pembangunan di kota besar, banyak juga di kota kecil yang pembangunan didorong untuk jadi kota besar tapi ada satu hal yang sering dilupakan yaitu menciptakan kota dengan lingkungan yang bisa memberikan daya dukung yang maksimal terhadap warga kota, tidak semata mata membangun tapi peduli dengan daya dukung, yaitu lingkungan.


Kalau hubungannya dengan isu kesehatan, katanya juga hutan berpengaruh buat isu kesehatan ? tanya Kak Oca lagi.


Berbicara soal daya dukung jelas Bang Edo, kita balik lagi nih belajar biologi pas zaman sekolah. Ekosistem hutan terhadap manusia, manusia bernapas O2, lalu mengeluarkan CO2 yang diperlukan tanaman inilah namanya simbiosis mutualisme, artinya ekosistem hutan berperan untuk kesehatan manusia, di sisi lain hutan juga memberikan sebagai penyedia sumber alam hayati dan menunjang kehidupan manusia dalam bentuk obat-obatan, pangan, bahan baku dan seterusnya, jika tidak adil mengelolanya, bisa jadi bencana.


Kenapa kemudian dibutuhkan pemimpin yang punya perspektif adil di dalam mengelola sumber daya alam? Bang Edo balik nanya lagi. 


Sangat gak adil jika anak SMA hari ini dalam 20 tahun ke depan tidak bisa lagi melihat ekosistem hutan. Seolah sudah diprediksi, diperjelas dengan link video yang aku sematkan di awal tulisan ini.


Satu lagi, sahut Bang Edo seperti seakan lupa mau menyampaikannya tapi akhirnya ingat, ada kaitannya kerusakan lingkungan hidup dengan pandemi yang terjadi. Banyak hasil studi yang disampaikan para peneliti bahwa virus ini yang awalnya dari satwa yang hidup di hutan, tapi karena diperdagangkan secara illegal kemudian dikonsumsi manusia dan sampai pada virus itu menyebar pada manusia. 


Logika singkatnya seperti itu, asal virus yang bersumber dari satwa kawasan hutan, lalu diburu, diperdagangkan, sampai dikonsumsi manusia, artinya secara hubungan ada kaitan dengan pandemi, bukan hanya pandemi hari ini, tapi juga virus-virus yang pernah terjadi, saya kira ada hubungannya dengan ekosistem lingkungan hidup kita, tegas Bang Edo. 


Kaitan hutan dengan kesejahteraan pangan apa ya Bang Edo? Tanya Kak Oca


Tentu pasti sangat erat. Tidak sedikit sektor hari ini, terang Bang Edo, khususnya pengembangan bahan baku pangan itu mengambil kawasan hutan sebagai areal utk dikembangkan. Kalau mau bicara sawit, tebu, itukan semua komoditi yang membutuhkan ruang luas, ruang yang luas saat ini kan kawasan hutan? Gak mungkin kebun sawit ada di kota pasti yang disasar adalah kawasan hutan. Nah, disitu kaitannya, sehingga kenapa pemerintah mengalokasikan kawasan hutan karena hal itu mendukung, tapi ini kadang tidak dipikirkan pemerintah yang kemudian berujung kepada kerusakan, kebakaran hutan, daya dukung ekosistem menurun sehingga akibatkan banjir, longsor. 


Artinya kearifan di dalam memberikan hak kelola pada pihak lain untuk memenuhi kebutuhan kan harus dipikirkan matang, bahkan harus melalui kajian, penelitian. Terkadang hal ini yang tidak dilakukan, diabaikan padahal jika mau memaksimalkan SDA dan potensi petani saya pikir akan cukup baik untuk menunjang kebutuhan pangan. 


Menarik sekali ya, ini masih via zoom loh, konon ngobrol langsung sama Bang Edo bisa 8 SKS lebih nih ngobrolin lingkungan.


Kemudian Bang, bagaimana dengan istilah masyarakat adat, para penjaga hutan Indonesia? Tanya Kak Oca


Pertanyaan Kak Oca dari tadi sungguh mewakili pertanyaanku. 


Masyarakat adat adalah komponen bangsa ujar Bang Edo, mereka ada, mereka punya budaya, punya kultur yang dipertahankan turun temurun. Masyarakat adat biasa berada di kawasan hutan, karena mereka sangat bergantung kepada hutan sebagai sumber penghidupan mereka. Persoalan hari ini adalah belum secara merata keberadaan masyarakat adat diakui di Indonesia, diakui dalam artian ya mereka harus dilindungi, bukan hanya kehidupan mereka, tapi juga  dengan wilayah kelola mereka, hutan adat mereka, karena itu sumber hidup mereka. 


Ini juga kami atau Golongan Hutan kampanyekan bahwa masyarakat adat sebagai garda terdepan komunitas yang melindungi dan menjaga kawasan hutan, tapi kehidupan mereka saat ini terancam, karena mereka tanpa informasi tiba-tiba ada korporasi yang masuk, yang melakukan penggusuran. 


Artinya, di satu sisi pemerintah keluarkan izin atau pengelolaan itu tidak melalui proses komunikasi yang baik dengan komunitas adat itu sehingga sampai hari ini konflik dengan masyarakat adat, masyarakat agraria, masih terus bermunculan. 


Aih kalau dikulik-kulik, persoalan lingkungan di Indonesia ini berlapis-lapis ya gaes kayak kulit ari bawang merah huhu, makin dikupas, makin bikin mata perih.


Setelah peserta disajikan masalah, saatnya diajak jalan-jalan oleh Anin yang sedang berada di laut sekitar Nusa Penida, Bali dan sekilas tampilannya kayak gak mantan Top 15 Miss Universe 2015 loh, very humble. 


Anin diajak Kak Oca menceritakan pengalamannya dalam menyebarkan keindahan dan potensi alam di Indonesia.


Aku kenang Anin, mengenal hutan waktu zaman SMA, oleh komunitas pecinta alam sering diajakin naik gunung, karena masih pemula jadi hanya sehari aja udah balik ke rumah, belum pernah naik gunung berhari hari.


Sejak itulah aku belajar banyak tentang alam, karena selama ekspor alam, alam memberikan banyak pelajaran seperti, ilmu bertahan hidup, dimana minum dan makan dibawa seadanya, mau gak mau harus cari sumber air bersih untuk cadangan air minum lalu  ketika ketemu danau, aku  belajar mancing.  Saat di hutan, ada tanaman yang bisa dimanfaatkan buat sup, maka aku benar-benar masak juga di tengah hutan bersama teman-teman.


Aku juga pernah kemping. Oiya, malah pada saat setelah Putri Indonesia, aku jadi suka eksplor gunung, akui Anin. 


Kemudian, aku langsung mikir, apakah aku harus jadi Putri Indonesia dulu baru bisa eksplor alam? seketika pikiran aku ambyar haha karena ada anak yang minta dibuatkan susu. 


Mari kita lanjutkan cerita Anin haha.


Anin menyadari satu hal saat usai pertama kali eksplor Gunung Rinjani bahwa ternyata gak segampang itu hidup di alam, betapa Anin bersyukur karena hidupnya selama ini sungguh mudah berkat teknologi yang segalanya serba ada beda cerita sama teman-teman pedalaman atau di tengah hutan, benar-benar bikin kita menghargai apa yang kita punya.


Selain itu Anin juga menyaksikan langsung ramainya Gunung Rinjani saat peak season, dimana orang-orang masih saja ada yang buang sampah sembarangan, walaupun ketika orang berfoto semua seolah tampak bagus disana, tapi ada beberapa spot atau pos tempat orang berhenti setelah kemping sampahnya gak dibawa lagi, tapi ditinggal aja di gunung, trus siapa yang mau bersihin?


Ya, gak adalah Mbak! Duh aku juga jadi ikutan kesal nih, pengen getok pakai centongan nih tangan para oknum yang ngakunya anak gunung pecinta alam tapi masih cuek sama sampahnya sendiri usai kemping, hellooo!


Dalam live zoom tempo hari Anin juga menyadari bahwa selama travelling, baik itu travelling yang proper tinggal di hotel, maupun travelling yang adventure, masyarakat kita tuh masih perlu diedukasi untuk kebersihan lingkungan. Gak hanya di hutan aja, di tempat yang udah bersih sekalipun kadang orang tidak sadar diri untuk perhatikan kebersihan lingkungan.


Semacam kayak ada mental, ‘ah kan ada cleaning service, kan ada petugas kebersihan’, masalahnya sampah itu tanggung jawab masing-masing ya gak sih?


Di sesi pemaparan Anin, peserta zoom disuguhkan foto-foto travelling Anin loh, duh bikin kangen jalan-jalan bangeeett. 


Saat ke Rinjani dan singgah di dekat danau yang ada air terjun, Anin merasa alam itu gedeee banget, kita tuh manusia hanya sebagian kecil aja di dunia ini, untuk itu kita harus jaga alam kita yang sudah memberikan segalanya, seperti udara segar, pemandangan indah, sumber air bersih, makanan, tumbuhan, oksigen yang kita hirup.


Tips Jadi Traveler yang Baik Ala Anin


Kemudian gak terasa sampailah disesi terakhir Anin yang ditutup dengan pemaparan tips jadi traveler baik ala Anin.


Belajar dari kebiasaan aku ya jelas Anin, waktu itu aku berada di Rinjani, di suatu air terjunnya, saat aku mau mandi aku ketemu 3 bule Belanda yang lagi mandi, kemudian mereka melihat di sebelahnya ada orang-orang lokal yang mandi pakai sabun, kemudian bule ini berusaha menegur, 


‘tolong dong, jangan mandi pakai sabun, sayang ini airnya, air ini akan mengalir dan memberikan aliran air bersih untuk masyarakat, bisa gak jangan mandi pakai sabun’ 


Disini tuh aku belajar banget ujar Anin, sabun itu kan bahan kimia, sebenarnya hal kecil seperti ini gak pernah kita sadari, akhirnya aku sharing kepada 2 bule, dia banyak cerita, 


‘oo alam kalian ini indah banget, makanya kami sangat mencintai Indonesia, sering eksplor Indonesia karena kita cinta banget sama alam kalian, tolong dijaga’ 


bahkan orang luar nitip ke kita loh,o sebenarnya agak malu juga haha, kita yang punya alam, kenapa kita malah cuek, tapi orang lain malah peduli.


Aku juga ikutan malu loh Mbak Anin. 


Jadi, inilah tips travelling sederhana ala Anin, ketika kalian menemukan hal seperti ini, beranilah untuk menegur demi kebaikan bersama, kebaikan untuk lingkungan, juga buat kita yang hidup menikmati alam kita, karena dampak lingkungan kan kita sendiri yang rasain.


Kemudian bawalah plastik sampah sendiri, saat naik gunung, sampahnya dibawa lagi turun, jangan ditimbun atau jangan berserakan begitu aja, abis beresin kemah, beresin sampah juga.


Teman yang hobi main di laut juga, jangan buat sampah botol plastik sembarangan, laut bukan tempat sampah, bawa dong kantong sampah, kalau ketemu sampah bantu kutipin.


Sekecil apapun kontribusi kita untuk lingkungan, semua itu gak ada yang sia-sia, ‘ah kita kan cuma satu orang, kan kita cuma sedikit, sampah yang kita ambil gak berarti apa apa dengan sampah di seluruh dunia ini’, nah kalau yang berpikiran sama seperti ini sebanyak jumlah manusia di planet ini atau sekitar 8 milyar, gimana? Haha


So, berpikirnya jangan kayak gitu tegas Anin, kita harus berpikir, aksi sekecil ini dapat membantu meringankan beban, mungkin NGO yang fokus pada kebersihan lingkungan, sekecil apapun kontribusi kita terhitung amal baik untuk kebersihan lingkungan.


Lanjut pembicara berikutnya ada Syaharani, mahasiswi tingkat akhir di UI yang juga Steering Comitee Jeda Untuk Iklim.


Beruntung nge-zoom nya santai, jadi bisa dijeda minum bahkan menyusui si bayi bahahaha. 


Climate Change ?


Well, Perubahan iklim itu apa sih?


Ya, kita sering dengar ya, istilah perubahan iklim atau bahasa Inggrisnya climate change. Nah Syaharani hadir di sore itu untuk menjelaskan dengan sederhana pakai visual ppt nya yang lucu anet sehingga para peserta zoom makin paham dan aware


Perubahan iklim yang terjadi dalam skala waktu gak sebentar ini jelas Syaharani sebabkan perubahan komposisi atmosfer, perubahan iklim itu sendiri disebabkan oleh kegiatan manusia baik langsung maupun tidak langsung.


Sebelum membahas apa saja kegiatan manusia yang membuat iklim berubah, Syaharani coba memaparkan tentang gas rumah kaca.


Dulu zaman sekolah, aku pikir beneran rumah kaca yang ada gasnya, ternyata bukan haha. 


Setiap hari sinar matahari menyinari ujar Syaharani,  nah sistem bumi secara alami akan memantulkan kembali sebagian sinar matahari yang masuk ke bumi, lalu di atmosfer itu ada gas yang secara alamiah ada, namanya gas rumah kaca.


Itu sebab penting banget pakai sunscream meskipun di dalam rumah, by the way ini kenapa jadi ngobrolin beauty haha. Oke, fokus!


Gas rumah kaca fungsinya memerangkap sinar matahari supaya menjaga suhu bumi tetap hangat, sebenarnya bumi kita ini dingin banget, terang Syaharani, tapi karena ada gas rumah kaca, bumi jadi hangat dan bisa ditinggalin oleh manusia.


Sayangnya, setelah manusia temukan berbagai teknologi dan mengeksploitasi alam serta melakukan kegiatan lain yang cenderung rusak lingkungan maka terjadi peningkatan gas rumah kaca yang massif banget, sehingga jumlahnya gak normal justru akhirnya malah memerangkap banyak panas. 


Ketika sinar matahari yang terperangkap semakin banyak, maka menyebabkan bumi semakin panas, sehingga suhu rata-rata meningkat. Saat suhu rata-rata bumi naik terjadilah perubahan atau anomali, yang sebabkan banyak perubahan sistem bumi kita, salahsatunya musim.


Iklim itu adalah fenomena alam yang terjadi bertahun-tahun beda sama cuaca yang terjadinya harian, contoh paling sederhana, sekarang udah gak menentu musim di negara kita. 


Gas yang buat bumi kita makin panas dan sebabkan perubahan iklim ( pemanasan global ), 90% disebabkan oleh kegiatan  manusia. 


Ya Allah, 90% ya huhu, manusia yang kecil ini seperti yang dianggap Mbak Anin diawal ternyata pelan-pelan mampu merusak bumi yang besar ini.


Beberapa kegiatan yang dilakukan manusia sangat pengaruhi iklim adalah penggunaan bahan bakar fosil, seperti pakai kendaraan yg menggunakan bbm, ketika dipakai hasilkan gas rumah kaca, dan memerangkap panas, semakin sering gunakan kendaraan, semakin banyak gas rumah kaca yang kita sumbangkan ke atmosfer kita.


Penggunaan listrik yang berbasis energi dengan bahan bakar fosil yaitu batu bara, jadi kalau kita boros listrik sama dengan sumbang gas rumah kaca.


Kerusakan hutan, setiap tahun di Indonesia terjadi kebakaran hutan, kebakaran hutan juga hasilkan gas rumah kaca yang cukup besar dan terakhir ada kegiatan industri, seperti pabrik, hasilkan gas rumah kaca, semakin sering kita pakai plastik, berarti kita ikut sumbang gas rumah kaca .


Hal-hal kecil kayak gitu yang ternyata dapat mengubah iklim. 


Ada juga istilah penipisan lapisan ozon yang arti sebenarnya salahsatu lapisan di atmosfer itu menipis karena zat kimia tapi bukan karena gas rumah kaca, zat kimia kayak karbon dari AC, ketika dia sampai atmosfer maka dapat menipiskan lapisan ozon, lapisan ozon yang bolong-bolong.

 

Secara singkat kenapa perubahan iklim harus kita respon?

 


Pertama, mencairnya es dan naiknya permukaan air laut, es di kutub mulai mencair.  Sebenarnya es merupakan cadangan air dan siklus alam natural, namun karena pemanasan global, es itu mencair lebih cepat sehingga membuat naiknya permukaan laut dan sebabkan tenggelamnya daerah pesisir,  salahsatunya Desa Timbulsloko  yang ada di pesisir utama Demak. 


Ya Allah, asli, dari situs yang aku baca dan tayangan video, tampak bangunan musholla yang kini tersisa atap saja, dan hanya Keluarga Rukani yang tersisa di desa itu, berharap mangrove yang mereka tanam dapat mempertahankan rumah apung mereka. 


Syaharani juga menyampaikan prediksi 2050 sebagian Jakarta akan tenggelam.
Lalu pada poin dampak krisis iklim yaitu, cuaca yang gak bisa diprediksi dan berubah secara ekstrim. Cuaca ekstrim bisa menuju kekeringan, karena kalau kering, kita gak bisa mengembangkan sumber makanan, akhirnya bisa jadi kelangkaan pangan.


Wabah penyakit, akibatnya nyamuk yang makin banyak berkembang, vector borne disease, berkembang biak dan menularkan wabah. 


Jadi disadari atau tidak dampaknya itu balik ke kita. Penting banget buat kita mulai bergerak dan lakukan sesuatu untuk perubahan iklim ini. 


Kita ini memang makhluk kecil tapi kita bisa merubah sistem alam yang besar ini, ayo bergerak supaya kondisi ini gak jadi lebih buruk lagi tegas Syaharani.


Kapan sih pendidikan tentang lingkungan itu dikenalkan pada anak ? tanya Kak Oca.


Kalau menurutku ujar Syaharani, sedini mungkin, karena penting banget, sebab ini membahas gimana supaya masyarakat sadar dan peduli terhadap isu krisis iklim, kita gak ngomongin 1 atau 2 orang, tapi kita bicara tentang masyarakat keseluruhan dalam skala besar, sebab perubahan iklim masalah besar. 


Ada satu video yang baguus banget untuk edukasi ke anak-anak mengenai lingkungan. Selamat mengedukasi anak-anak ya Ayah Bunda!









Q & A Session


Perusahaan terus produksi kemasan, produksi plastik, gimana cara selesaikan masalah sampah ini jika perusahaan terus produksi dan kita terus pakai? Ada solusi konkrit?


Hutan banyak sawit, gimana cara hentikan para korporat yang rakus? Ada cara konkritkah?


Jawaban:


Kalau bicara soal plastik, hampir produsen gunakan kemasan plastik. Pertama, jika kita mau ngurangin plastik, plastik ini kan ada bahan bakunya, kalau pemerintah mau kita bisa desak pemerintah kurangin impor bahan baku plastik ke Indonesia. 

Kedua, dengan mudah sebenarnya pemerintah dapat keluarkan kebijakan bahwa semua produksi makanan dan minuman tidak menggunakan plastik, tapi pemerintah punya pemikiran lain  bahwa jika terlalu keras perlakukan kepada produsen bisa berpengaruh pertumbuhan ekonomi di Indonesia, tinggal pemerintah yang memilih, apakah mau jaga kestabilan ekonomi tapi kemudian sampah plastik terus bertambah atau gimana win win solution atau batasi produksi atau batasi kemasan plastik, jika pemerintah punya keinginan untuk mengurangi.


Terpenting adalah bagaimana informasi, edukasi kepada masyarakat yang setiap hari memakai plastik, jangan beli makanan kemasan plastik, kalau mau berbelanja ke pasar bawa wadah sendiri, saya kira dua sisi ini yang harus berjalan. 


 



Tidak akan selesai urusan plastik, jika secara regulasi gak diakomodir, pemerintah tidak tegas. Tentang korporasi, balik lagi ke pemerintah. Jika korporasi itu membabi buta mengeksploitasi, ya tarik aja izinnya, atau dievaluasi.


Kalau aku boleh menambahkan jawaban Bang Edo, aku ada video bagus dari Channel YouTube The Story of Stuff Project, mengenai win win solution. Intinya ada di people power loh gaes!

 




 


Banyak kebijakan pemerintah yang terkesan tidak cukup support upaya pelestarian lingkungan terutama hutan Indonesia, apa solusi efektif?


Pertama, jika saya sebagai pemerintah, pasti saya akan dudukkan perspektif keadilan antar generasi itu dalam setiap kebijakan bahwa kebijakan yang saya keluarkan itu benar-benar adil utk generasi yang akan datang. Jika kemudian kebijakan hanya didudukkan pada konteks kebijakan ekonomi semata, itu kita gak adil, kita gak pikirkan generasi yang akan datang. Jadi, betul apa yang dibilang Mb Rika, bahwa kebijakan gak support, kebijakan yang didudukkan berdasarkan pertumbuhan ekonomi. Jika kebijakannya memikirkan generasi yang akan datang, pasti keputusan yang diambil berbeda. Solusinya ya evaluasi kebijakan itu diganti biar lebih support pelestarian lingkungan terutama hutan Indonesia, pertanyaannya adalah apakah pemerintah mau melakukannya atau tidak?


Mengapa ada kecenderungan menyalahkan masyarakat dalam urusan sampah bukannya meletakkan kesalahan tunggal pada pabrik yang memproduksi limbah paling berbahaya? 


Bagaimana pendapat para pembicara terhadap perubahan iklim dan green capitalism, bukankah wacana green capitalism kontraproduktif, ?


Indonesia dan hampir di semua negara di Asia Tenggara dan Asia Pasific saat ini jadi sasaran pembangunan, karena pergeseran biografi modal, mengapa wacana ini tidak muncul dalam substansi kebijakan pemerintah, bisa dilihat dari omnibus law yang mendepak amdal?


Pertanyaannya ujian skripsi haha


Saya juga gak sepakat menuduh masyarakat, betul masyarakat konsumen terbesar saat ini, dan logikanya adalah, konsumsi masyarakat hari ini kan karena ada produksi, jika upaya hulunya tidak antisipasi tentu akan berdampak ke hilir, makanya diawal saya bilang ada gak keberanian pemerintah untuk tegas pada produsen untuk gak gunakan plastik, jika pemerintah berkomitmen sebagai negara yang kampanyekan zero waste, atau zero plastic.


Ini kembali lagi ke pertumbuhan ekonomi, apalagi saat ini kita menuju sebagai negara maju, yang syaratnya itu ada di pertumbuhan ekonomi yang baik. Tapi sayangnya berdampak ke lingkungan, timbunan sampah plastic makin banyak dan seterusnya, jika kebijakan ini bisa diletakkan pada komitmen pemerintah untuk mengurangi, pasti edukasi pada masyarakat bisa berjalan baik. 


Dan masyarakat Indonesia punya hak atas lingkungan yang baik dan sehat. Saya pikir ini bisa jadi solusi


Logikanya saat ini negara maju menjadikan negara berkembang sebagai basis produksi, negara berkembang saat ini sumber daya alam, sumber bahan baku bahkan sumber tenaga kerja, nah karena kemudian kita sangat terbuka dengan investasi luar negeri, maka pemerintah melihat ini sebagai peluang besar, ujung-ujungnya korbankan sumber daya alam, sumber daya manusia dan juga korbankan kebijakan, pasti buat kebijakan yg permudah investasi masuk, ini jadi sumber konflik berkepanjangan. 


Menurutku jangan kita wariskan konflik pada generasi yang akan datang.  
Aku juga kurang setuju dengan narasi bahwa masyarakat penyumbang sampah terbesar, padahal efek gas rumah kaca secara global, 70% itu disebabkan oleh korporasi ujar Syaharani.  


Sayangnya, pelaku industry besar itu berusaha mem-framing bahwa manusia yang sebabkan kerusakan lingkungan, maka masyarakat harus pintar. 


Padahal idealnya proses sustainability/keberlanjutan dapat dijalankan dengan tiga pilar, Planet, People, Profit. 


People Care – Peduli manusianya
Earth Care – Peduli buminya
Fair Share – Keadilan ekonomi


Bumi adalah rumah kita, namun rumah itu punya sumber daya yang terbatas, dan masa depan generasi bergantung pada keberhasilan pengelolaan dan penggunaan sumber daya itu.


Kita perlu bertindak, bergerak, jika masih ingin dunia dan penghuninya ini berkembang dan masih bisa tetap hidup layak di masa depan. Kehidupan anak muda nanti bergantung pada pilihan-pilihan yang kita buat hari ini. 


 


Yuk, selamatkan bumi! 


Thanks, Golongan Hutan dan Blogger Perempuan ^^





21 comments:

  1. Sekarang ini saya lihat juga banyak bermunculan startup lingkungan yang bisa bersinergi untuk meringankan beban perubahan iklim di negara kita mba. Saya bangga sama anak-anak muda sekarang yang super care sama lingkungan. Mereka bisa menjadi inspirator buat generasi lebih muda di bawahnya.

    ReplyDelete
  2. saat ini emang bumi lagi krisis banget yaaa, beberapa hari lalu aku ikutan event menanam pohon dalam upaya membuat bumi lebih sehat, semoga bumi kita semakin membaik

    ReplyDelete
  3. setuju banget kak zee. sebenernya banyak kok pemuda dan pemudi yang masih aware serta perduli sama lingkungan. kalau di circle kita nggak ada bisa jadi mainnya kurang jauh hihii. terharu banget waktu baca cerita yang sampai ditegur dengan bule. aku harap kedepannya lebih banyak produk dan kemasan yang ramah lingkungan

    ReplyDelete
  4. Akhir-akhir ini saya suka green beauty, itu termasuk tindakan untuk menjaga hutan dan mencoba meminimalisasi dampak iklim yang buruk kah? Webinarnya keren sekali. Semoga kita bisa menjaga bumi tercinta agar keberadaannya semakin baik.

    ReplyDelete
  5. Anak muda dijaman milenial harus kritis terhadap lingkungan sehingga terjaganya lingkungan hutan.

    ReplyDelete
  6. Sepkat dengan bang Edo, harapan besar di pundak anak muda. karena mereka banyak yang masih punya idealisme untuk menjaga lingkungan

    ReplyDelete
  7. kadang gemes juga sama Pemerintah yang tak kunjung tegas menindak perusak lingkungan. hehe...

    ReplyDelete
  8. Terima kasih kak, kadang harus membaca ulang tulisan yang begini agar kita perduli dengan lingkungan sekitar kita ya, yuk cintai bumi dengan mengurangi kerusakannya

    ReplyDelete
  9. Aku salah satu fans nya Ka Anin, loh. Aku ikutin IG nya yang keren banget.
    Menurut aku, kita sudah ga bisa ngandalin pemerintah sih, kalau mau issue ekologi harus terus-terusan diboost ke milenial. Aku yakin kalau lebih banyak milenial yang bergerak pasti lebih didengar pemerintah.

    ReplyDelete
  10. duh itu pepatah indiannya makjleb banget, betul banget loh ini sedih sih liat industri-industri banyak yang lalai sama analisis dampak lingkungannya, plus belum lagi oknum-oknum duh gregetan, pohon ditebang ilegal dan dijual untuk keuntungan sendiri

    ReplyDelete
  11. Keberadaan hutan yang lestari menjadi syarat mutlak keberlangsungan peradaban manusia ya kak karena itulah penting memahami tentang cara menjaga hutan yang benar

    ReplyDelete
  12. Semoga makin banyak yang sadar ya mengenai krisis lingkungan ini karena inj tanggung jawab bersama ya. Semoga juga pemerintah lebih adil terhadap alam.

    ReplyDelete
  13. Peran pemuda memang sangat besar, karena memiliki ide kreatif yang perlu didukung juga apalagi untuk kelestarian lingkungan

    ReplyDelete
  14. Congrats ya mbak sudah terpilih dari 200 lebih blogger yang ikutan. Alhamdulillah Mbak bisa dapat langsung ilmu dari gathering ini dan kami jadi kecipratan ilmunya. Sedih pas baca tentang Desa Timbulsloko, seharusnya profil desa yang sejenis seperti itu lebih banyak diangkat oleh wartawan kita ketimbang berita infotainment.

    Semoga warga Indonesia semakin banyak teredukasi tentang fungsi alam dan lingkungan sekitarnya, kalau dia dan alam adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Semoga juga peraturan tentang perlindungan hutannya semakin ketat dan bisa dilaksanakan dengan disiplin.

    ReplyDelete
  15. Tulisannya ok banget mba, terutama tentang pelestarian lingkungan oleh kaum millenial. Sangan inspiratif.

    ReplyDelete
  16. Jadi Golongan Hutan itu komunitas ya Mbak. Saya tuh juga kesal kalau nemu individu sampai korporasi yang merusak hutan. Kalau dilawan di jalur politik itu susah banget, jalan terbaiknya memang lewat gerakan dari masyarakat

    ReplyDelete
  17. Terharu juga kalo ada anak muda yang fokus pada kepedulian terhadap hutan. Sebab kondisi hutan saat ini memang memilukan.

    ReplyDelete
  18. Sebenernya udah mulai banyak juga kok pemuda kita yang concern pada lingkungan terutama kelestarian hutan. Bagaimanapun memang hutan harus kita jaga untuk menopang kesimbangan lingkungan. Semoga dengan adanya gerakan ini membuat pemuda kita lebih tergerak lagi dalam membantu menjaga hutan kita.

    ReplyDelete
  19. Andaikan uang bisa dimakan y kak. sayangnya uang bisanya dibelikan makanan. tapi kalau semua sudah musnah, apa yg bisa dibeli pakai uang. sedih liat kondisi bumi saat ini.makin kritis. apa dong yang bisa kita lakukan sekarang.

    ReplyDelete
  20. Seneng banget bisa terlibat dalam gerakan Golongan Hutan ini. Aku jadi makin sadar soal lingkungan. Hutan adalah segalanya, yes indeed. Semua kerusakan manusia terhadap lingkungan justru akan memperburuk iklim. Hukum tebar tuai, semoga makin banyak orang menghargai lingkungan yah ka

    ReplyDelete
  21. Aku ketinggalan nih kak, pengen bisa ikutan berkontribusi dengan gerakan hutan seprti ini. Dampaknya terasa banget ya kak, sekarang ini cuaca ekstrim dan berbagai virus muncul. Back to nature kuncinya.

    ReplyDelete

Terimakasih sudah membaca postingan di nufazee.com semoga bermanfaat. Mohon jangan masukkan link hidup saat mengisi kolom komentar. ^^ Biar gak capek kali ngapus broken link, ini kenapa jadi curhat haha

Powered by Blogger.