-->
Menu
/

- Zero Waste Cities dan Memanusiakan Petugas Kebersihan -

 

Menuju nol sampah, bukan menjadikan kita sebagai malaikat tapi menjadikan kita manusia yang lebih peduli dan bertanggungjawab

- DK. Wardhani -

 

Assalamualaykum, Pembaca Nufazee!

 


 

Seorang anak perempuan, SMP kelas 1 tampak mengangguk-angguk di depan televisi menandakan setuju dengan apa yang disampaikan  narasumber acara televisi tersebut.


‘Kita membersihkan rumah setiap hari, menyapu atau membuang sampah ke luar, memang rumah kita bersih, namun lingkungan lain justru malah jadi kotor’, ujar narasumber


Maksud dari pernyataan narasumber itu baru aku maknai lebih dalam beberapa tahun terakhir. Ya anak perempuan dulu itu adalah aku haha. Aku menunjukkan ketertarikan pada pengelolaan sampah sejak usia itu dan didukung dengan pola hidup yang diajarkan nenek padaku.


Betapa orang dulu bijak mengelola lingkungan, namun entah kenapa saat ini masih ada aja orang yang memandang zero waste merupakan sesuatu yang ribet. 


Sampah Kita Hanya Pindah Tempat Saja


Aku gak pernah menyangka pada akhirnya bakal tinggal tepat di samping tali air atau sungai kecil dan betapa kesalnya saat ada orang yang lewat depan rumah sambil bawa buntelan berisi sampah lalu melemparkannya ke tali air.


Selama 5 tahun ini sudah berapa kali aku melewati banjir di lokasi tempat aku tinggal dan mendengar derasnya arus air membawa sampah bertabrakan dengan batang kayu yang tumbuh di pinggir tali air. Aku seakan gak berdaya melihat kondisi tersebut.


Karena kondisi itu, aku punya impian untuk mengedukasi masyarakat tempat aku tinggal mengenai pengelolaan sampah. Dan impian ini sepertinya akan segera terwujud, sebab aku sudah mengumpulkan buku terkait zero waste, dan baru-baru ini aku mengikuti Talkshow Zero Waste Cities : Cegah Tragedi Leuwigajah Terulang pada Sabtu, 6 Februari 2021 lalu. 


Pada talkshow tersebut menghadirkan Anilawati Nurwakhidin selaku Founder Komunitas Blogger 1minggu1cerita sekaligus  Koordinator Humas ZWC YPBB dan Ryan Hendryan, selaku manajer ZWC Kota.


Sungguh semakin menambah insight dan menebalkan semangat menjalankan konsep zero waste dari rumah meski masih tertatih-tatih.


Terkait judul talkshow, ada apa sih dengan tragedi Leuwigajah?


Pada 21 Februari 2005, terjadi bencana longsor di TPA Leuwigajah bahkan statusnya adalah bencana nasional sebab menelan ratusan korban, menimbun kampung juga lahan pertanian. 


Bencana longsor yang sama juga terulang pada September 2006 di TPA Bantar Gebang. Di bulan Ramadhan, TPA ini mendapat pasokan sampah 7999 ton/hari. Subhanallah.


Kemudian pada 11 Juli 2018 di TPA Supit Urang, Malang, longsor sampah kembali terjadi dan sebabkan seorang pemulung tertimbun sampah. 


Tahukah kita bahwa TPA atau Tempat Pembuangan Akhir di Indonesia sebagian besar memakai sistem open dumping, yaitu membuang sampah pada cekungan tanpa menggunakan tanah sebagai penutup sampah ? Sistem ini sebenarnya tidak lagi direkomendasikan pemerintah karena sangat rentan mencemari lingkungan.  


Di Medan sendiri memakai sistem Sanitary Landfill, sistem yang meratakan dan memadatkan sampah pakai alat berat selanjutnya dilapisi tanah tiap seminggu sekali.


Tapi ya tetap aja masih jadi masalah, buktinya TPA Terjun yang mana TPA ini cukup dekat dengan lokasiku, tidak cukup untuk menampung sampah warga Kota Medan, hingga membuka TPA Namo Bintang. Lalu mau sampai kapan begini? Sementara populasi terus bertambah, pabrik terus produksi kemasan plastik, sementara sampah plastik belum tentu terurai, kalau pun terurai malah jadi mikroplastik.


Ini masih kondisi sampah yang diatasi dengan kumpul-angkut-buang, nah gimana ceritanya dengan sampah yang dibuang pada tempatnya alias dibuang sembarangan?


Fakta Sampah yang Dibuang Sembarangan 


Masih ngobrolin kemana sampah kita berakhir, jadi ada fakta objek yang dapat dilihat dari luar angkasa selain Tembok Besar Cina yaitu Fresh Kill Landfill, tempat penampungan sampah di kota New York selama lebih dari 50 tahun, tinggi tumpukannya mencapai 25 meter … dari tinggi Patung Liberty.


Fakta lain, karena sampah yang terbawa dan terjebak arus laut, terbentuklah pulau besar di Samudra Pasific, The Great Pasific Garbage. Asal sampah sebagian besar dari darat atau kapal-kapal yang buang sampahnya di lautan lepas. 


Sungguh kompleks sekali masalah sampah ini, andai kita lebih sadar bahwa sampah yang telah kita hasilkan ternyata banyak menyakiti makhluk hidup lain yang seharusnya bisa hidup layak berdampingan dengan manusia. T_T

 


 


Tentang Gaya Hidup Zero Waste

 

Mengutip dari majalahsari.com, Zero waste adalah gaya hidup positif dengan meminimalkan penggunaan bahan yang mencemari lingkungan dan menolak pemakaian sesuatu bahan sekali pakai di dalam keseharian.


Namun dalam pelaksanaannya, Zero Waste tidak melulu tentang daur ulang atau recycle, tapi zero waste dimulai dari prinsip refuse ( menolak – pemakaian bahan sekali pakai) , lalu reduce ( mengurangi ) kemudian reuse ( gunakan kembali ), baru dua terakhir adalah rot ( membusukkan ), dan recycle ( daur ulang )


Sebenarnya konsep zero waste ini bukan sesuatu yang baru, ini merupakan kebiasaan lama yang ditinggalkan, seperti kebiasaan memasak makanan sendiri, bawa tas atau keranjang sendiri ke pasar, bungkus makanan memakai daun pisang, bawa bekal sendiri, makan buah dan sayur. 


Kalau kata @zerowasteadventure, zero waste is not a trend, it’s return to culture.


Yes, very true


Lalu Mulai Zero Waste Dari Mana?


Berikut aku tampilkan data lagi, bagaimana cara orang Indonesia memperlakukan sampah rumah tangganya?

 


 

Tahun 2014, liputan6.com merilis berita, bahwa sampah di Indonesia itu paling banyak berasal dari rumah tangga.

 


Ibu rumah tangga, mana ini suaranya?


Kata orangtua zaman dulu, ‘perempuan tugasnya di dapur’, nah inilah mungkin makna dari kalimat bijak tersebut, ternyata perlu ilmu juga untuk urusan perdapuran ini termasuk urusan pengelolaan sampah di rumah sendiri. 


Kompak Pilah Sampah Dari Rumah 


Rumah tangga, menurut seorang pegiat zero waste, Ibu DK. Wardhani, adalah hulu penghasil sisa konsumsi dan ibu adalah kunci pembuat keputusan. 


Kalimat Ibu Dini, mengingatkan aku pada keadaanku saat ini, awal Januari kami berlangganan layanan petugas kebersihan. Nah, ibu mertuaku masih belum paham mengenai pemilhan sampah, jadi oleh blio, sampah di rumah disatukan dalam satu ember.


Ketika ibuku memasukkan sampah yang ia gabung, maka tugasku memisahkan sampahnya haha. 

 

Soalnya aku sudah memutuskan bahwa sampah yang diangkut nanti bukan sisa konsumsi tapi berupa sampah anorganik. 


Untuk sampah organik, aku letakkan di komposter atau dilempar ke tanah kosong sebelah rumah yang disana sudah mulai tumbuh tanaman mangga, kurma, jambu, ya semacam lazy zero waste lah.


Dulu saat masih hamil muda anak kedua, aku sempat aktif tanam-menanam, salahsatunya menanam kembali biji alpukat asal Pasaman yang aku makan. Tanah yang aku gunakan untuk menanam adalah tanah dari hasil komposterku.


Sekarang tinggi pohonnya udah melebihi tinggi tubuhku, rasanya ingin aku berkata ‘Ini malika eh ini alpukat yang aku rawat seperti anak sendiri’ haha




Sampah sisa konsumsiku cukup banyak, apalagi kalau udah jadwal food preparation, dan memang gak cukup cuma satu komposter, perlu dua komposter agar bisa terus diputar-putar tanahnya, proses pembusukan merata dan hasilkan kompos yang cantik dan hangat kayak hati kita wkwk.


Jujur, belajar zero waste, menjadikan aku lebih sadar dengan apa yang aku konsumsi, kalau mau jajan tuh, cek kemasannya dulu, pakai wadah sterofoam gak? Kalau pakai, sebisa mungkin aku tahan selera huhu, cari yang lain. 


Zero Waste Cities Itu Apa?


Aku berniat jika kebiasaan zero waste sudah mulai konsisten kami sekeluarga lakukan, aku akan membagi ilmu ini pada warga sekitar tempat tinggalku.


Senang sekali ada satu konsep yang telah berhasil diterapkan di daerah Jawa Barat dalam masalah pengelolaan sampah yaitu Zero Waste Cities.


Dalam talkshownya, Teh Anil, sangat jelas menyampaikan mengenai hal-hal yang telah ia dan tim lakukan dalam program Zero Waste Cities ini, apalagi tujuan besarnya adalah menggandeng pemerintah untuk bersama-sama mengelola sampah dengan bijak demi menuju daerah nol sampah. 


Zero Waste Cities adalah program yang diinisiasi oleh YPBB Bandung dan merupakan model pengelolaan sampah yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan di kawasan pemukiman. Secara singkat program ZWC mengajak masyarakat kompak pilah sampah dari rumah. 


Saat ini ZWC telah berhasil memberikan penyuluhan di beberapa kecamatan di Kota Bandung, Cimahi dan Soreang.

 

proses pemilahan sampah di RW 7 Kelurahan Lebakgede, Bandung
 


Duh, semoga segera bisa diterapkan juga di Medan! Aamiin.


Memanusiakan Petugas Kebersihan dengan Kompak Pilah Sampah Dari Rumah


'Udah satuin aja semua sampahnya, lagian kita juga udah bayar' 


Kalimat inilah yang keluar dari ibu mertuaku. Seberapalah uang 25 ribu yang aku keluarkan tiap minggu dibanding dengan tenaga petugas kebersihan saat memilah-milah sampah sisa konsumsiku yang menjijikkan itu?

 

Sungguh itu gak manusiawi, ya Allah betapa zholimnya kami T_T

 

Betapa aku super setuju dengan program ZWC ini, bahwa pengelolaan sampah ini perlu melibatkan semua lapisan masyarakat, gak bisa berharap pada petugas kebersihan doang.  


Oleh sebab itu dalam program ZWC, selain mengedukasi warga tapi juga edukasi pada petugas kebersihan.


Ternyata setelah mendengar penjelasan Kang Ryan yang secara langsung mengedukasi petugas kebersihan di lapangan, adalah hal gak mudah sebab harus melalui pendekatan khusus seperti ngajak ngopi bareng. 


Nah saat ngopi bareng, belum tentu para petugasnya mudah menangkap penjelasan Kang Ryan, apalagi para petugasnya banyak yang sudah sepuh, jadi menyampaikan materi pun harus berulang. 

 

Manfaat proses pemilahan bagi petugas kebersihan :

 

1. Jam kerja jadi bertambah, karena harus mengompos sampah organik.

2. Beban roda bak sampah jadi lebih ringan. Gak kebayang ya selama ini seberat apa gerobak sampah yang dibawa petugas efek sampah basah yang kita hasilkan.

3. Petugas jadi lebih bersih, gak begitu bau.

4. Petugas jadi lebih sehat, tidak menghirup gas metan yang dihasilkan dari pencampuran sampah di TPA. Kang Ryan bercerita, ada petugas kebersihan yang sudah bekerja selama 20 tahun, di dalam otaknya ada cairan efek hirup zat metan dari sampah

5. Gerobak sampah jadi lebih awet, sebab tidak ada lagi cairan lindi yang mempercepat proses karat pada gerobak

 

MasyaAllah, ternyata banyak manfaat ZWC khususnya bagi petugas kebersihan, kerjanya jadi lebih mudah dan ringan. 

 

Dengan begini, beban TPA bisa berkurang, sampah cukup dikelola di kawasan masing-masing. 


Hayuk ZWC mampir ke Medan juga yah!
 


*Sumber  bacaan : 

Buku '#belajarzerowaste Menuju Rumah Minim Sampah' karya DK Wardhani

YouTube : YPBBBandung

Terimakasih sudah membaca postingan di nufazee.com semoga bermanfaat. Mohon jangan masukkan link hidup saat mengisi kolom komentar. ^^ Biar gak capek kali ngapus broken link, ini kenapa jadi curhat haha

Powered by Blogger.