pada orang lain tetapi lebih gila lagi orang yang pinjam itu
mengembalikan buku kepada orang yang punya
–ini kata orang bijak ya bukan orang gila–
![]() |
| nah lo, kucing aja suka baca, masak mau kalah sama kucing seh #nyakar2 buku =D |
know what dalam beberapa bulan terakhir aku bahkan mendengarkannya dua
kali. Mendengarkan quote ini apalagi dari orang-orang yang kusegani dan
nasihatnya patut didengar, serasa seperti mendapat gelegar petir di
siang hari bolong, tapi lima menit kemudian daku lupa dengan nasihat ini
dan mulai bergerilya untuk mencari buku asyik yang layak dipinjam.
Karena apalah daya isi dompet tak sam[ai membeli buku yang kusukai dan
rata-rata mereka mahal pula.
tahun lalu (2010) , (kamera mulai menampilkan gambar flashback –halaaah :D),
saat itu lagi sibuk gila mempersiapkan acara Pekan Jurnalistik Kampus
bersama anak-anak LPM Dinamika IAIN SU, eh datanglah sesosok, sebayangan,
sekelebatan (jangan mubazir dooonngg!), ya lah lebih tepatnya sesosok
pria, tinggi, rambut cepak, kulit sawo matang dan menenteng helm serta
tubuh berbalut jaket. Dia datang padaku dengan wajah innocent-nya.
“Dek, adek ya yang punya buku bang Alay (nama pengarang disamarkan)?”
“Iya, kenapa bang?”
“Gini,
abang mau pinjam bukumu,soalnya ada teman abang yang abang janjikan
buku ini, boleh abang pinjam?” Abang udah mesan sama bang Alay, tapi
waktu tu dia masih di Mekkah, dah gitu dia gak tau apakah buku itu masih
ada sisa atau gak”.
“Oh ya udah”
“Beneran nih dek”
“Iya tapi jangan lupa ya bukuku dibalikin”
“Iya”
“tapi bukuku sama rahmah, minta ja ma dia”
“Oh, rahma, ada nomor telpon Rahma”
Bla…bla…singkat cerita dia mendapatkan buku itu.
hari…tiga hari…seminggu…dua minggu, lah buku ku kok gak balik-balik?,
hadeuuhhh, malah lupa pula minta no hp abang tu. Tapi ntar lah ku minta
no hp sama junioran-nya di fakultas.
“Bang, ehm…bukuku dah selesai?” (pertama nada smsku masih lemah lembut gemulai)
“Udah, kemaren udah abang kasih ke Fauzi”
Lalu aku sms Fauzi
“Zi, ada Bang Toyib (nama samaran ) ngasih buku ke Fauzi?”
“Gak ada kk, kemren ntu mungkin anak buahnya yang ngasi buku tu, coba tanya orang sekret”
“Rahma, ada anak buah Bang Thoyib ngasih buku ke Rahma?
“ada
kak, ini dia bukunya”, sambil menyodorkan buku berwarna hitam dominan
ada juga warna merah sedikit, ukuran bukunya seukuran kantong, buku
pocket.
Lah, sejak kapan buku yang kupinjamkan berubah bentuk,
perasaan ini bukan buku yang pertama kali ku kasih pinjam lah. Emang
penulisnya bang Alay juga tapi sekali lagi ini bukan bukuku.
“Tapi ini buku yang dikasih temannya Bang Toyib ke Rahma, mb. Rahmah pun bingung kenapa buku ini yang dikasih”.
rasanya darah ini mengalir deras seolah-olah mereka dikomandokan untuk
segera mengalir ke otak, menggelegak, wajahku merah padam, reflek
urat-urat wajahku bersepakat untuk mengkerut dan membentuk wajah manyun.
Rusak sudah hariku. Ku ambil hp dengan kasar ku cari nomor hp bang
Thoyib. (adegannya lagi marah nih :D)
adalah bahwa aku minta balik bukuku segera. Tapi bang Thoyib berkilah
katanya dia belum ketemu dengan bang Alay. Ku tanyakan padanya apa
hubungannya dengan Bang Alay?, dia terdiam beberapa saat. Lalu dia
mengalihkan pembicaraan dengan mengatakan bahwa dia sedang di luar kota
dan sedang dalam perjalanan menuju Medan, ia berjanji sesampainya di
Medan dia akan mengembalikan bukuku.
“Iya bang
pokoknya aku gak mau tau, aku mau bukuku yang lama wajib balik”, dengan
nada tinggi. Langsung ku tutup teleponku. Kesal.
“Baru kali ini, aku liat mb zee marah” curhat si Omi
aku sudah ada firasat buruk tentang keadaan buku ku itu. (Saking
cintanya ma buku, sampe ada ikatan batin antara aku dan buku). Pikiran
terburukku adalah bukuku itu bakal gak balik buat selamanya.
membuatku mendesak bang Thoyib untuk meminta kejelasan. Aku pun sms-an
dengan bang Thoyib.
bukuku gak balik adalah bunyi sms balasan dari bang Thoyib…”Tadi waktu
solat jum’at abang jumpa sama bang Alay katanya dia mo ngasih bukunya,
jadi boleh minta waktu 3 hari?”
Betulkan firasatku. Lalu sms berlanjut, aku tetap berkeras mau bukuku
itu balik, gimana pun caranya. Eh si bang Thoyib malah nanggepinnya
begini “Aduh…tp yang itu dah abang
kasih ke tmn abang itu dek, gmn tu? =( Jangan marah ya, plizz…tp wktu tu
kata nurul boleh tp wajib d ganti”.
aku stress luarbiasa, nangis sejadi-jadinya…whoaaaa…aku ditipu…pembaca
baca sendirikan di awal si Thoyib gunakan kata kerja PINJAM bukan MINTA.
sadar n gak ada lagi korban yang berjatuhan, langsung ja kubilang bahwa
bang thoyib udah menipu, semoga tidak ada korban lagi selain aku, asal
abang Thoyib tau ya buku itu sangat berharga banget buat aku, buku itu
kubeli susah payah, mana ada tanda tangan bang Alay pula lagi dah gitu
buku itu yang ngajarin aku gimana nerbitkan tulisan di Koran dan
tulisanku terbit di Koran untuk pertama kali gara-gara belajar dari buku
dan pemahaman yang diberikan Allah hingga aku bisa memahamkan dan
mempraktekkan isi buku itu. Banyak deh kenangan buku itu. Aku gak mau
tau gimana pun caranya buku itu balik. Lalu Bang Thoyib bilang bahwa
buku itu gak mungkin balik karena udah sama kawannya yang ada di
Lampung. Innalillaaahhh…Aku nangis lagi, ish,,,kesal banget gak sih
ketika orang yang kau percaya menipumu mentah-mentah. Kenapa tidak
mungkin tanyaku?, gini ja, aku katakan padanya, abang suruh kawan abang
tu kirimkan bukuku via pos dan abang nanti kirimkan buku yang baru abang
beli dari bang Alay kepada teman abang yang di Lampung itu. Namun,
saudara-saudara apa tanggapannya…eh dia balas smsku dengan “heheheheheh…macam betol aja”.
Andai pembaca tau, aku dah geram sangat, kalaulah si Bang Thoyib itu
samsak yang ada di ring tinju, udah ku pukul-pukul dia sampai puas.
Sakit hati.
pinjam buku tapi tidak mengembalikan buku yang dia pinjam ke pemiliknya.
Ku katakan padanya si Thoyib abal-abal itu, kau balikin buku ku tapi
untuk sesaat dan untuk waktu yang tidak ditentukan mohon jangan
memperlihatkan wajahmu padaku. Forgiven but not forgotten…kumaafkan tapi mungkin tidak akan kulupakan.
wahai anak muda, berikut pelajaran yang bisa kau ambil dari kisahku
(alamaakkk, berasa orang tua yang ada di bungkus wafer kesukaan aku itu
loh :D).
- Kata orang bijak yang di atas tadi ada
benarnya. Aku jadi berusaha untuk tidak meminjam buku dan gak mau jadi
orang gila :D, tapi kalau gak tahan, aku akan meminjam juga dengan
syarat aku gak mau jadi the next bang Thoyib versi yang aku ceritakan di
atas. - Kalaupun mau ngasih pinjam buku ke orang lain karena gak
tega liat wajah innocent-nya. Caranya: pastikan orang yang kamu
pinjamkan buku itu adalah orang yang kamu kenal luar dalam, lalu buat
ijab Kabul begini bunyinya…”Saya pinjamkan buku ini kepada kamu, selama 5
hari dan harap kembalikan tepat waktu”, lalu yang pinjam menjawab “Saya
terima pinjaman kamu selama 5 hari dan akan saya kembalikan tepat
waktu”, nah loh, dengan begitu si peminjam serasa diikat sama sumpah
heheheh (segitunya). Nah, jangan lupa catat siapa yang pinjam buku kamu,
dan tanggal pengembaliannya. - Aku belajar ikhlas dari kejadian
ini. Ikhlas itu tidak nampak, halus banget tapi jika dipraktekkan bisa
sangat mempengaruhi diriku. Aku juga belajar memaafkan tapi untuk
melupakan hal itu…time will heal everything. - Pesanku terakhir,
jangan mau deh jadi Bang Thoyib seperti yang aku ceritakan, kalau ada
yang terlanjur jadi Bang Thoyib segera tobat deh, dah gitu bedakan ya
antara kata PINJAM dan MINTA. Pinjam pulpennya dong? (lah, emang kapan
sampeyan mau balikin tintanya :D, yang benar adalah pinjam pulpennya
minta tintanya :D) - Untuk menuliskan pengalaman ini sebenarnya
membuka luka lagi, tapi setidaknya aku sudah menuliskannya dengan begitu
aku bisa sedikit lebih baik dan mempercepat kesembuhan lukaku :D. - The last, sebagai peminjam buku yang baik budi, *aseeekkk* ada baiknya setelah minjam buku, bukunya disampul, jadi deh hati yang punya buku girang, nah besok-besok dia bakal pinjamkan buku terus ke kita, intinya sih dianya malah nyampul hahahah, tapi gak apa-apa namanya juga usaha ya kan =). Asyiknya lagi, tuh buku abis kita baca n resapi, trus kita resensi deh, kirim ke media, eh terbit di koran, *plus-plus bonusnya =D
- Kumpulkan uang dong, masak mau sampe tua minjem melulu, hehehei, kalo aku sih nunggu sampe toko buku ngadain diskon gede2an dan dimana ada diskon buku disanalah aku berada. Hihihihihi




