Sejak hari Minggu, 23 November 2025 hujan melanda Langsa dengan intensitas rendah tapi berlangsung lama, sesekali saja berhenti sebentar lalu hujan lagi. Ketika memeriksa status cuaca lewat hp, cukup kaget sebab hujan berlangsung selama 5 hari ke depan. Mari, kita lihat hari Senin, apakah prakiraan cuaca memang benar adanya?
Hari Senin tiba, 24 November 2025, hujan masih awet. Suami dan anak sulungku memutuskan untuk pergi kerja dan sekolah. Alhamdulillah mereka pergi kena hujan begitupun pulang. Aku pun memutuskan untuk mencuci pakaian, karena sudah 3 hari kain menumpuk, menunggu hujan khawatir semakin menumpuk.
Teringat besok hari adalah hari guru. Anakku berencana memberikan bingkisan untuk wali kelas. Karena cuaca tidak mendukung untuk keluar rumah mencari benda yang diinginkan, maka anakku setuju jika bingkisannya berupa bolen pisang langgananku. Alhamdulillah masih terima orderan mendadak, secara ownernya orang dalam haha.
Malam hari, hujan masih saja turun, asli 24 jam, tidak ada berhenti. Setelah cari tahu mengenai kondisi hujan yang tanpa henti, yaitu karena ada dipicu siklon tropis senyar di Selat Malaka, Siklon tropis Koto di Laut Sulu dan IOD negatif yang menarik massa udara bersih.
Kondisi tersebut membuat hujan turun terus menerus di Aceh-Sumut-Sumbar secara merata dan serentak. Aku juga terus melihat perkembangan dari akun instagram Langsa. Ada info kondisi bendungan yang sudah mulai meninggi dan minta perhatian pemda setempat, lalu beberapa titik air mulai menggenang, seperti daerah Paya Bujok Seuleumak. Perhari tersebut aku masih santai nih, belum begitu gusar.
Lalu, masuk hari Selasa, 25 November 2025. Pada hari ini, aku mulai kalut. Akun instagram @tanyoelangsa mulai rame dengan info banjir dimana-mana. Oiya, anakku tidak sekolah karena cuaca semakin tidak aman, Aku mencoba tenangkan hati. Malam itu aku gak bisa tidur.
Sejak menikah, aku sangat waspada banjir. Soalnya rumah mertua, langganan banjir tiap tahun selama belum renovasi rumah. Setelah renovasi, alhamdulillah gak pernah lagi kebanjiran, namun ya was was juga tiap kali hujan tidak berhenti lebih dua hari. Entah kenapa, malam Rabu itu aku santai saja, meski ya agak panik juga sih, sesekali aku keluar rumah untuk memeriksa debit air selokan, ‘oh masih aman’.
Hal yang aku sesali adalah, malam itu aku masih sempat menyetrika, tak terpikir untuk mencicil menaikkan barang-barang. Ya, karena menganggap gak mungkin perumahan ini kena banjir.
Seharusnya malam itu aku mempersiapkan mitigasi bencana dengan lebih baik, jangan sibuk ovt. Oiya sore harinya aku sibuk banget mengolah pisang Ambon, termasuk sempat buat godok godok tapi versi kukus. Lalu, ada masak nasi juga cukup banyak.
Rabu pagi 26 Nopember 2025, aku berhasil tidur di jam 3, lalu bangun jam 6 pagi. Hujan masih betah, komplek pun aman. Aku masak telur gulung pakai ikan teri basah untuk sarapan.
Setelah beberes di dapur, suapin anak-anak sarapan, sekitar jam 9 anakku heboh dan menginfokan bahwa air mulai menggenang di perumahan area depan.
Pikiranku kacau tapi sudah mulai bertindak cepat. Aku ajak anak bantu mengganjal rak main terbuka dengan Brown stair dan pink tower, untuk saat ini abaikan dulu filosofi montessori deh, yg penting rak ini selamat.
Kemudian agak santai sejenak lalu dapat laporan lagi bahwa air sudah masuk ke teras, jarak dari info pertama itu cuma 30 menitan, aku dan suami gotong royong menaikkan tilam kecil di kamar depan dan meninggikan springbed besar kami pakai kontainer box aku yang berisi buku, disini udah pasrah, berharap air tidak melewati box itu. Oke tilam aman. Anak anak sementara di atas tilam dulu,tapi mereka bukan anak boneka, anak pertama dan kedua tergoda untuk berenang di air banjir.
Kami sempat inisiatif memompa kolam karet, hanya saja tidak dilakukan 🥲karena lama memompanya huhu. Keburu air banjir naik lebih tinggi. Fokus berikutnya menyelamatkan buku buku, mainan anak, baju anak yang masih berada di lemari bawah, lalu gaun gaunku, aku naikkan ke atas tiang hangernya, laci lemari aku angkat dan tinggikan.
Alhamdulillah aman, sempat bergetar kakiku karena panik apalagi belum sarapan dengan khusyuk hingga lupa lapar. Suami terus memantau lokasi di luar rumah. Anak2ku sibuk main air banjir baik di dalam rumah dan di teras,sudah 3 kali mereka ganti baju. Sementara aku hampir ga ada tenaga lagi mengomel. Doaku kepada Allah minta anak3 sehat selamat.
Plan berikutnya adalah packing, bersiap untuk kemungkinan terburuk yaitu mengungsi. Kondisi rumah sudah gelap sebab jam 3 pagi, listrik padam, batre hp menipis, koneksi internet hilang timbul. Alhasil aku kesulitan mengabarkan kondisiku tapi aku upayakan chat Teh Ani bahwa aku batal hadir event hari Sabtu karena kebanjiran. Force Majeure, beruntungnya chat aku sampai, namun untuk satu pekerjaan yang lain, ga bisa lagi aku upayakan untuk menginformasikan. Sedihnya, setelah itu listrik dan internet ga ada sampai 5 hari kemudian.
Packing Dalam Keadaan Gelap
Ketika packing aku bawa tas ransel besar berisi baju baju anak yang penting, lalu bajuku dan jilbab. Kemudian salep salep, suplemen interlac, telon. Aku juga sempat bawa makanan kayak sisa bolen yang di kulkas, bolen untuk dikasih ke wali kelas anakku juga aku bawa, godok godok aku bawa, sisa nasi di rumah dan telur gulung, aku juga bawa susu uht.
Aku bawa ember juga, tempat logistik tadi, kemudian tas bahu yang bisa diransel juga isinya ada tisu basah, dompet, segala hp dan charger, popok bayi, air minum.
Awalnya aku bisa mengendalikan anakku yang usia 2 tahun, namun lama lama lemas juga sebab dia mau main di air banjir. Aku pun langsung bilang ke suami untuk Segera mengungsi ke rumah tetangga. Ketika itu rumah tetangga belum masuk air.
Sekitar jam 2, aku memutuskan untuk mengungsi ke rumah tetangga, karena anakku sudah tidak kondusif dan aku sudah tidak sanggup, selain itu ketinggian air di rumah udah 10 sentimeter. Ketika musibah itu terjadi, aku sama sekali ga ingat untuk meninggikan mesin cuci dan kulkas, tapi suamiku ingat huhu, aku rasa isi pikiran dia lebih rumit. Sebelumnya suamiku sudah menyelamatkan sepeda motor ke tempat yang lebih tinggi di komplek kami.
Di rumah tetangga juga tidak bertahan lama, sekitar 1 jam, air sudah masuk ke rumah. Bersyukur para suami sudah dapat informasi bahwa bisa mengungsi di masjid Pesantren Internasional Tahfidz quran Huda Wan Nur Kota Langsa. Jam 3 kami mulai mengungsi di masjid pesantren. Aku tahu keberadaan masjid ini karena anakku sering jalan-jalan sore ke area pesantren bahkan pernah jumpa Ustadz dan anakku dikasih uang jajan haha.
Perjalanan ke pesantren dengan jalan kaki sebenarnya tidak lama sekitar 10 menit, namun karena derasnya arus banjir dan kami melawan arus itu, perjalanan jadi sangat berat dan mengerikan. Suamiku membawa ransel dan menggendong si bungsu, si sulung mandiri jalan sendiri tapi tetap dalam pengawasan sedangkan aku membawa ember berisi logistik dan menggandeng erat si nomor dua.
Mengingat kondisi jalan yang berlumpur dan licin, aku memilih gak pakai alas kaki. Kami berjalan perlahan. Ketinggian air di komplek sudah 30 sentimeter, ketika memasuki komplek pesantren, lebih parah lagi ya Allah. Lokasi pesantren sudah kayak lautan, ketinggian sudah sepinggang orang dewasa. Sebaik masuk area pesantren disambut oleh para santri yang baik hati dan sholeh.
‘Bu, mari saya bantu bawa embernya’
‘Bu, sini saya gendong adiknya’
Ya Allah mau nangis dapat bantuan dari para santri. Kami pun tiba di masjid pesantren. Disana sudah ada sekitar 15-20 KK, di lantai 2 masjid pun sepertinya ada pengungsi juga tapi aku ga tahu berapa banyak.
Sebaik tiba di masjid, aku langsung ganti baju. Sedangkan suamiku dan temannya yang juga tetangga kami kembali ke rumah untuk ambil barang yang diperlukan di pengungsian, seperti matras, galon air minum, baju anak.
Sore jelang magrib, anak anakku mulai lapar. Alhamdulillah tetangga baik memberikan kami 5 bakpao. Selain makan bakpao, anak anak bertahan makan dengan nasi dan telur gulung, godok pisang, bolen dan seliter susu UHT
Malam tiba, ruangan gelap sekali. Ada pun cahaya dari satu senter milik pengungsi lain, hp aku udah padam, hp suami masih ada cukup daya. Jelang tidur, beberapa anak mulai bertanya ‘kenapa kita tidur disini,Bun?’ atau bahkan anakku bertanya ‘Bun, ini azab Allah ya?’, lalu ada juga anak-anak yang rewel kepanasan, semakin malam banyak nyamuk di pesantren, alhamdulillah Ustadz diam-diam membakar beberapa obat nyamuk agar pengungsi nyaman tanpa nyamuk malam itu.
Hujan masih turun, bayangan air akan naik terus menghantui. Jelang subuh, sayup aku dengar percakapan, bahwa air sudah surut. Alhamdulillah.
Ada satu fakta yang bikin sedih, dari sekian banyak orang dewasa mengungsi dan dipastikan sebagian besar muslim, hanya beberapa saja yang disiplin sholat wajib, padahal lokasi mengungsi di dalam masjid, air bersih ada meskipun menampung air hujan.
Hari Kedua Menjadi Pengungsi, 27 November 2025
Pagi masih basah karena hujan betah sekali, bekal nasi yang aku bawa mulai beraroma tak enak, godok godok pun sepertinya basi, sayangnya anakku yang bungsu sempat makan itu sedikit.
Sekitar jam 9, suamiku dan temannya pergi melihat situasi di kota sekalian membeli bahan makanan. Beruntung kami memiliki uang cash padahal kami menghindari uang cash menumpuk (((menumpuk haha, berasa milyader, Aamiin ya Allah) di rumah, entah kenapa seminggu lalu aku dititipi uang cash oleh mertua namun belum disetor suami, ternyata inilah hikmahnya. Uang cash kami yang berlebih itu cukup juga bisa membantu teman-teman suami yang memerlukan cash. Nah, disini aku mau menginfokan, apapun yang terjadi tetap sedia uang cash ya!
Dua jam berlalu, suami tiba lagi di pesantren membawa popok, beberapa bungkus mie instan dan beras serta kabar mengejutkan tentang parahnya kondisi kota usai diterjang banjir. Baru aku tahu tanggal 27 November 2025, banjir belum sepenuhnya surut di kota Langsa.
Rasa lapar mulai menyerang perutku, begitu juga perut anak anak. Sedari tadi mereka makan biskuit yang dibagi tetangga sebagai pengganjal perut.
Oiya, suamiku dan temannya pergi lagi usai membeli beras untuk membersihkan rumah. Suamiku membantu temannya karena kondisi rumah si teman tidak begitu parah, air bercampur lumpur hanya masuk semata kaki orang dewasa. Rencananya jika sudah bersih,aku dan anak-anak akan menumpang sementara di rumahnya selagi rumahku dibersihkan.
Siang menjelang, rasa lapar semakin menjadi. Pihak pesantren menawarkan makanan namun piring terbatas. Aku pinjam piring tetangga, Khalil anak sulungku aku suruh jemput nasi ke rumah Ustadz yang masih dalam komplek pesantren. Alhamdulillah dapat nasi dengan lauk mie instan kuah pakai sayur labu jipang. Anak anakku makan lahap sekali.
Sayangnya, aku kesulitan menahan lapar. Berharap makanan dari pesantren kok malu ya Allah huhu. Setelah aku menidurkan si bungsu, aku menitipkannya pada istri dari teman suamiku itu yang juga tetanggaku.
Aku harus pergi ke rumah untuk memasak. Satu hal yang sangat aku syukuri dari kejadian bencana tak terduga adalah hari Senin tanggal 24 November, kami berbelanja lauk pauk untuk seminggu, jadi memang aku menerapkan food preparation, strategi ini bermanfaat saat keadaan darurat, ada perasaan lega luar biasa ketika punya stok makanan dan bahan makanan, setidaknya aman untuk seminggu ke depan. Ada rasa khawatir akan kelaparan, karena akses masuk ke kota Langsa tertutup efek bencana, otomatis akan mempengaruhi pasokan bahan makanan di Langsa.
Tak hanya itu, aku juga memiliki skill masak nasi tanpa listrik alias aron nasi. Anak milenial mana suaranya? Tak lama anakku tidur, aku langsung pulang ke rumah dengan perjuangan melewati lumpur dan hari masih hujan.
Sesampainya di rumah, aku lihat suamiku sedang membersihkan rumah. Alhamdulillah dapur mereka sudah bersih dan aku bisa masak di dapur tetangga.
Aku juga minta tolong untuk menurunkan kulkas dari atas meja kompor, karena bahan makanan ada disana semua. Dengan kondisi cahaya terbatas sementara dapurku udah gelap gulita belum lagi sisa lumpur yang licin sekali di dalam rumahku, bergotong royong para bapak menurunkan kulkas.
Sebelumnya aku sedang proses masak nasi. Perkara kulkas selesai, aku secepat kilat mengukus cabe merah, bawang dan tomat bersamaan dengan mengaron nasi. Lalu, aku mendadar telur. Untuk anak anak aku merebus pasta dan memasak saus bolognese.
Tak berapa lama, Khalil datang menyusulku sebelumnya para suami kembali ke lokasi pengungsian, jadi kami bergantian sebab harus menjaga anak anak juga disana. Khalil pulang membawa pesan bahwa Umar anak bungsuku muntah muntah. Ya Allah, aku berusaha tenang dan ga panik serta fokus menyelesaikan masakanku.
Alhamdulillah satu jam lebih tiga puluh menit, sambal uwok selesai, telur dadar ala kadarnya siap, bayam rebus jagung, pasta dan saus bolognese juga selesai dimasak. Kedatangan khalil sangat membantu bundanya. Kami pun kembali ke pengungsian.
Kan benar saja, suamiku dan tetanggaku kelaparan huhu. Bagaimana tidak kelaparan dari hari pertama saja pola makan sudah berantakan? Jika aku ga masak, khawatir pada tumbang karena lelah dan lapar. Anak anak makan dengan lahap. Alhamdulillah ya Allah.
Umar ternyata masih tidur ketika aku tiba lagi ke pengungsian. Muntah yang dialami anakku adalah respon tubuhnya karena makan ga teratur mulai dari pagi, yang dimakan pun biskuit bahkan sedikit mie instan selain itu muntah disebabkan proses buang dahaknya yang masih sisa di dada, seminggu sebelum bencana, anakku lagi masa penyembuhan batuk pilek huhu. Allah lah yang menguatkan, ga kebayang harus merawat anak demam di pengungsian T_T
Hari semakin menuju sore, satu per satu pengungsi mulai kembali ke rumahnya ada juga yang memilih menumpang sementara di rumah saudaranya, sedangkan kami dua KK ini mau kemana ? Oh tidak kami saja ternyata, ada satu keluarga kecil, 3 anaknya, anak terkecil baru berusia 2 bulan, prematur pula, anak kedua usia 15 bulan, anak pertama 10 tahun, laki-laki, ayah mereka bekerja di Turki, ibunya sendirian dan panik karena tidak tahu harus mengungsi kemana jika semua pengungsi pergi. Ia berharap kedatangan ibu mertua.
Beruntung sejam sebelum azan magrib, ibu mertua datang, mereka bertangis tangisan di pelataran masjid. Ternyata sang ibu lama datang karena juga sedang kesulitan, ia hampir terbawa arus banjir.
Suara tangisan terdengar sampai ke telinga istri Ustadz yang disapa Ummi. Ummi pun mendekati kami dan menawarkan rumahnya untuk kami inap semalam. Alhamdulillah, malam ini anak-anak bisa tidur di tempat yang nyaman.
Keesokan paginya, suamiku dan temannya bergegas ke rumah untuk lanjut bersih-bersih, sekitar jam 9 pagi, kami kembali ke rumah tetangga. Ya, kami masih harus mengungsi, karena rumah kami masih berlumpur dan porak poranda. Listrik yang padam, membuat proses pembersihan sangat terhambat.
Kami bertahan selama 5 hari tanpa listrik, sebaik listrik menyala hari Sabtu tanggal 31 November, suamiku langsung bersih-bersih rumah, sedangkan aku menjaga anak-anak dan memastikan asupan makanan mereka.
Bantuan sembako mulai berdatangan, seperti telur dan mie instan. Namun, stok mie instan aku jadikan bahan makanan darurat, selagi masih ada telur, maka sebisa mungkin aku mengolahnya dengan menu bervariasi.
Donasi dari teman-teman tersayang juga sangat membantuku. Ada seorang teman yang gercep transfer untuk aku bisa beli telur, ketika itu harga telur 30 butir menembus angka 100ribu, karena butuh ya mau ga mau dibeli.
Kemudian, momen ketika buka donasi untuk para mahasiswa Unsam perantauan yang terdampak. Ternyata jadi perantara donasi itu membuat hati penuh dan hangat ya huhu.
Hal-Hal yang Aku Syukuri dan Ikhlaskan Pasca Banjir
Ada satu titik dimana aku cuma bisa menghela nafas saat melihat kondisi koleksi buku kesayangan anak-anak terendam banjir dan bergelimang lumpur, lalu momen yang menyesakkan dada saat menyaksikan koleksi buku harianku bernasib sama. Ibarat air banjir bandang benar-benar menyapu kenangan yang aku tulis dalam buku harian sejak masih SD hingga kuliah.
Lemari anak-anak yang lapuk, bantal guling yang terendam dan rasanya aku ga sanggup lagi membersihkannya, jadi memilih meletakkan di depan pagar agar dikutip petugas kebersihan. Boneka anak-anak yang jatuh terendam lumpur, aku buang semua. Mainan anak-anak yang berbaterai, juga aku buang karena pasti ada zat kimia yang bereaksi jika mainan baterai kena air.
Sungguh lelah fisik dan batin efek dari pasca banjir, itu masih sebagian kecil yang aku derita, bagaimana derita korban lain yang berkali-kali lipat parahnya dari aku. Ya Allah!
Hal yang sangat aku syukuri selama mengungsi adalah, kami semua dalam keadaan sehat! Alhamdulillah. Aku khawatir sekali anak-anak akan sakit selama mengungsi, begitu juga suami yang dua hari terpapar air hujan.
Momen listrik padam juga menguatkan bonding kami sekeluarga, anak-anak juga berjuang melawan rasa bosan dengan menggambar, mewarnai, bermain, baca buku, cerita cerita, bergelut. Anakku yang paling besar punya kenangan naik sepeda malam hari bersama ayahnya ke apotek dan warung.
Ada banyak kemudahan lain yang Allah iringi ketika masa sulit itu, pas stok air bersih kami tinggal sedikiiitt lagi, Allah nyalakan listrik, begitu juga pas semua baterai hp kami habis bahkan baterai laptop juga udah diberdayakan, hingga usaha terakhir buat penerangan darurat dari botol kaca dan sumbu ala ala. Allah nyalakan listrik. Pas stok telur sudah mau habis, Allah bukakan akses masuk ke kota Langsa sehingga suamiku sempatkan belanja bahan makanan.
Ketika BBM motor kami habis dan gak sanggup mengantri BBM, Alhamdulillah ada sepeda. Kemudian ketika gas sudah mau habis dan tanggal 10 Desember, listrik padam lagi, Allah mudahkan orang tua kami jemput kami ke Langsa untuk mengungsi ke Medan.
Hikmah Terbesar Bencana Banjir Bandang 26 November 2025
Aku berusaha mengutip sebanyak-banyaknya hikmah dari takdir Allah ini. Pertama kali merantau langsung diuji Allah dengan bencana. Tentu semuanya hadir karena Allah izinkan terjadi.
Hikmah bencana ini aku makin kenal dengan tetangga sekitar dan juga tetangga kami yang menumpangkan rumahnya untuk kami mengungsi selama 5 hari. Aku jadi tahu dan semakin paham pentingnya mitigasi bencana. Gongnya lagi, mata dan pikiranku semakin terbuka melihat keadaan pemimpin negeri ini. Intinya, ‘Selamatkan dirimu dan keluargamu dari api neraka!’ udah itu aja. Sekuat tenaga pupuk terus prasangka baik pada Allah.
Memiliki kemampuan bertahan hidup menjadi penting sekali saat terjadi bencana, seperti memasak tanpa listrik dan tanpa gas, keahlian mengawetkan makanan baik dengan metode pengeringan, pengasapan sampai pengalengan, kemampuan bertanam, mengelola sampah.
Terkait sampah, ini PR besar kita semua. Pasca bencana, sampah menumpuk dimana-mana. Warga hampir ga punya tenaga lagi mengelola sampah apalagi dengan kondisi berlumpur selain akan boros air, tenaga, dan belum tentu bersih sisa lumpur pasti masih ada, solusi terakhir adalah bakar dan buang!!!
Proses buang, kadang hanya proses memindahkan barangnya, tempat kita bersih tempat lain yang kotor. Membakar sampah pun banyak dampak buruknya. Jadi, sebisa mungkin hiduplah minimalis, pakai barang yang memang fungsional banget, cegah sampah masuk ke rumah, upayakan mengurangi pemakaian plastik, pilah sampah sebelum dibuang sehingga memudahkan petugas kebersihan, olah barang yang masih bisa dipakai atau didaur ulang. Mengompos
Aku paham banget, upaya kita ini kecil sekali, baik itu usaha mitigasi bencana dan kesadaran lingkungan karena ‘kerannya’ ga ditutup, pabrik plastik masih terus beroperasi, penebangan hutan ilegal terjadi, penambangan apalagi. Jika bencana dari tahun ke tahun semakin parah dan kita ga berubah apalagi mengharapkan aksi pemerentah, dah lah, selesai kita! Fix anak cucu kita dapat warisan bencana!
