
Kesulitan memperoleh keturunan menjadi masalah kesehatan reproduksi yang dialami oleh banyak pasangan di berbagai negara. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 1 dari 6 orang usia reproduksi di seluruh dunia mengalami masalah infertilitas, yaitu kondisi ketika kehamilan belum juga berhasil terjadi setelah 12 bulan atau lebih melakukan hubungan seksual secara teratur tanpa pengaman.
Penyebab infertilitas pada pihak perempuan bisa berasal dari gangguan pada saluran tuba falopi, kelainan organ rahim, masalah ovarium, hingga ketidakseimbangan sistem hormon. Memahami berbagai kemungkinan faktor penyebab ini serta informasi paket ivf di jaringan RS Bunda membantu Anda merencanakan langkah konsultasi medis bersama dokter ahli secara lebih matang.
Lantas, apa saja penyebab sulit hamil dan solusi program bayi tabung? Silakan simak pembahasan ini sampai selesai.
1. Gangguan Tuba Falopi Akibat Saluran yang Tersumbat
Gangguan pada saluran tuba falopi menjadi salah satu kelompok utama penyebab infertilitas perempuan menurut penjelasan WHO karena saluran yang tersumbat menghambat proses reproduksi. Penyumbatan saluran ini umumnya dipicu oleh infeksi menular seksual yang tidak diobati, komplikasi tindakan aborsi tidak aman, sepsis pascapersalinan, maupun riwayat operasi pembedahan di area perut dan panggul.
Untuk memastikan apakah saluran tuba falopi terbuka dengan baik, dokter biasa merekomendasikan pemeriksaan histerosalpingografi (HSG) atau sonohisterografi (SHG) sesuai acuan American Society for Reproductive Medicine (ASRM). Apabila hasil pemeriksaan menunjukkan saluran tuba mengalami kerusakan atau penyumbatan total, prosedur IVF bisa menjadi pilihan penanganan tepat karena pembuahan berlangsung di laboratorium sebelum embrio ditransfer langsung ke rahim Anda.
2. Kelainan Rahim seperti Endometriosis dan Fibroid
Kelainan pada rahim juga bisa menghambat terjadinya kehamilan, mulai dari gangguan peradangan seperti endometriosis, kelainan bawaan seperti rahim bersekat, hingga pertumbuhan benjolan jinak seperti fibroid atau miom. Endometriosis terjadi ketika jaringan yang mirip lapisan rahim tumbuh di luar organ rahim sehingga memicu reaksi peradangan kronis dan jaringan parut pada sekitar 10 persen atau 190 juta perempuan usia reproduksi di seluruh dunia.
Catatan WHO menunjukkan bahwa sekitar 25 sampai 50 persen perempuan dengan masalah infertilitas terbukti mengalami kondisi endometriosis. Untuk menangani indikasi kelainan rahim maupun fibroid tersebut, dokter menyusun pilihan terapi kesuburan yang paling sesuai dengan kondisi pasien, mulai dari prosedur induksi ovulasi, inseminasi intrauterin (IUI), hingga program bayi tabung (IVF).
3. Gangguan Ovarium seperti Sindrom Ovarium Polikistik (PCOS)
Gangguan pada ovarium terjadi saat sel telur tidak mampu dilepaskan secara normal, dengan sindrom ovarium polikistik (PCOS) sebagai penyebab tersering kondisi anovulasi pada perempuan di seluruh dunia. Kadar hormon androgen yang berada di atas rentang normal pada penderita PCOS memicu siklus menstruasi tidak teratur dan ovulasi abnormal, yang kerap disertai gejala fisik berupa pertumbuhan rambut berlebih hingga munculnya jerawat.
Meskipun kondisi PCOS diperkirakan memengaruhi sekitar 10 sampai 13 persen perempuan usia reproduksi, sebanyak 70 persen penderita di antaranya tidak mengetahui kondisi tersebut sampai mereka mulai merencanakan kehamilan. Penanganan infertilitas akibat PCOS diawali melalui penyesuaian gaya hidup serta pemberian obat atau operasi perangsang ovulasi, sebelum berlanjut ke program IVF apabila bantuan teknologi reproduksi lanjutan dibutuhkan.
4. Gangguan Sistem Endokrin yang Mengacaukan Hormon Reproduksi
Gangguan pada sistem endokrin yang mencakup organ hipotalamus dan kelenjar pituitari mengacaukan keseimbangan hormon reproduksi yang sangat vital dalam proses kehamilan. WHO mencatat bahwa penyakit seperti kanker pituitari maupun kondisi hipopituitarisme memengaruhi kadar hormon tubuh, sehingga penelusuran melalui pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui hubungannya dengan kesulitan hamil yang Anda alami.
Demi menilai apakah proses pelepasan sel telur atau ovulasi benar-benar terjadi, ASRM merekomendasikan pemeriksaan progesteron serum pada fase luteal dengan kadar di atas 3 ng/mL sebagai bukti yang andal. Di sisi lain, pemeriksaan kadar hormon prolaktin tidak dianjurkan sebagai tes rutin tanpa adanya indikasi klinis spesifik agar tindakan medis yang Anda jalani tetap efektif dan efisien.
Konsultasi dengan Dokter di RS Bunda
Pasangan yang mempertimbangkan program bayi tabung dapat memulai konsultasi di jaringan RS Bunda di bawah naungan Bundamedik Healthcare System (BMHS). Di RS Bunda, unit Women’s Health Center menyediakan Program Fertilitas komprehensif baik IVF maupun non-IVF, sementara RSU Bunda Margonda dan Men’s Health Clinic melayani prosedur PESA serta TESA untuk menangani faktor kesuburan pria.
Tahapan program bayi tabung diawali proses stimulasi ovarium menggunakan suntikan hormon selama 1 hingga 2 minggu, dilanjutkan pengambilan sel telur sekitar 34 sampai 36 jam usai suntikan hormon terakhir. Pembuahan di laboratorium dilakukan secara konvensional atau teknik ICSI, lalu embrio ditransfer ke rahim 2 hingga 6 hari kemudian dan diakhiri tes darah kehamilan pada hari ke-12, sehingga seluruh siklus memakan waktu 2 sampai 3 minggu.
Konsultasi dengan Dokter untuk Merencanakan Program Bayi Tabung
Konsultasi medis sejak awal bersama dokter spesialis sangat penting agar kondisi kesehatan reproduksi senantiasa terpantau secara optimal di RS Bunda. Anda dapat memeriksa jadwal dokter spesialis serta melakukan booking janji temu secara langsung melalui situs web bunda.co.id maupun aplikasi OneBunda. Jika Anda membutuhkan panduan pendaftaran atau informasi layanan medis lebih lanjut, silakan hubungi Call Center RS Bunda di nomor 1-500-799.
