
Hai Sahabat Nufazee, apa kabarnya hari ini? Semoga selalu dalam dekapan semangat untuk terus belajar dan bertumbuh, ya!
Sebagai seorang Ibu dan pegiat yang peduli banget sama tumbuh kembang anak serta masa depan generasi kita, isu literasi selalu punya tempat spesial di hati aku. Nah, kali ini aku mau membagikan sebuah kabar yang tidak hanya membuat aku optimistis dengan dunia literasi nasional, tapi juga bikin jantung aku berdegup asyik karena rasa syukur yang luar biasa dan pengumuman yang aku tunggu-tunggu sejak awal Mei.
Hari ini, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) resmi meluncurkan program Relawan Literasi Masyarakat, acara ini ga sekadar seremonial belaka, melainkan sebuah kick-off dari gerakan sosial besar-besaran yang siap menyentuh akar rumput di berbagai pelosok Indonesia.
Dan tahu tidak yang bikin aku makin terharu? Aku terpilih menjadi bagian dari Relawan Literasi Masyarakat (RELIMA) 2026 untuk Kota Langsa! Rasa rasanya campur aduk antara bangga, bersyukur, dan siap memikul tanggung jawab besar ini demi perkembangan literasi di Langsa.
Dalam acara ini aku hadir secara daring, dari pagi aku sudah bersiap untuk menyimak meskipun ditemani toddler yang luar biasa aktif haha.
Penasaran apa saja yang baru dan menarik dari program nasional ini? Yuk, duduk manis dan kita bahas satu per satu!
4 Agenda Besar untuk Ekosistem Literasi Indonesia
Acara dibuka dengan laporan kegiatan yang komprehensif oleh Kepala Pusat Analisis Perpustakaan dan Pengembangan Budaya Baca (PAPBB), Bapak Nurhadi Saputra. Beliau menyampaikan bahwa ada 4 agenda utama yang diusung dalam perhelatan besar tahun ini:
- Peluncuran program RELIMA 2026.
- Pengukuhan Duta Baca Indonesia 2026.
- Peluncuran aplikasi SIR5.
- Peluncuran INLISLite versi 3.3.
Melihat daftarnya saja, aku langsung mikir: “Wah, Perpusnas benar-benar sedang tancap gas lewat kolaborasi manusia dan teknologi!”
RELIMA 2026: Bukan Sekadar Seremonial, Ini Gerakan Sosial!

Mari kita bedah tentang RELIMA. Program ini merupakan upaya strategis Perpusnas dalam memperkuat ekosistem literasi nasional lewat keterlibatan aktif masyarakat. Jadi, para relawan ini diposisikan sebagai agen literasi yang bertindak sebagai penggerak, pendamping, dan katalisator di daerah mereka masing-masing.
Tahun ini, ada 360 orang relawan hebat yang dinyatakan lulus oleh tim teknis setelah melalui seleksi. Angka ini terdiri dari 154 relawan lama (yang melanjutkan dedikasinya) dan 206 relawan baru, termasuk aku salah satunya! Kami semua akan tersebar dan bergerak di 322 wilayah di Indonesia. Keren banget, kan?
Nantinya, para relawan ini tidak berjalan sendirian. Kami akan bersinergi dengan pemangku kepentingan di daerah dengan mengemban 3 tugas utama:
1. Inventarisasi Ruang Literasi: Mendata ruang literasi yang ada, baik berupa perpustakaan formal, Taman Bacaan Masyarakat (TBM), maupun bentuk kreatif lainnya.
2. Aktivasi Kegiatan Literasi: Menggelar kegiatan yang melibatkan masyarakat langsung dan mendorong pemanfaatan bahan bacaan, khususnya buku-buku bantuan stimulan dari Perpusnas. Jadi, bukunya nggak cuma dipajang, tapi benar-benar dibaca!
3. Advokasi Literasi: Membangun kesadaran publik, mencari dukungan, hingga memobilisasi berbagai pihak demi meningkatkan angka literasi di wilayah penugasan mereka.
Tamparan Logika dan Pesan Menyentuh dari Gola Gong (DBI 2026)
Momen pengukuhan Duta Baca Indonesia (DBI) 2026 menjadi salah satu bagian yang menginspirasi. Perpusnas menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Bapak Gola Gong atas dedikasinya yang luar biasa selama mengemban amanah pada periode 2021-2025. Namun yang luar biasa, beliau kembali hadir memberikan kata sambutan yang langsung menampar sekaligus membakar semangat kami para relawan.
Dalam sambutannya, Kang Gola Gong dengan sangat rendah hati menyampaikan:
“Sebenarnya saya malu ya di usia 63 tahun tapi masih membersamai Perpusnas. Namun, saya lebih malu lagi jika di tengah efisiensi anggaran justru saya tidak terlibat untuk membantu Perpusnas.”
Gasp! Kalimat ini langsung bikin aku ‘wow’ sih ditambah keterlibatan Gola Gong murni kegiatan pro bono. Beliau menegaskan bahwa kehadirannya kembali adalah untuk memberi contoh nyata kepada seluruh anggota RELIMA bahwa gerakan literasi ini harus muncul dan digerakkan dari hati. Persoalan insentif, menurut beliau, itu hanyalah sebuah bonus.
Beliau juga menyampaikan telah meminta kepada Prof. Aminudin Aziz agar tugasnya dicukupkan sampai Desember 2026 saja. Mengapa? Karena figur DBI itu sangat ikonik. Beliau menyebut nama-nama hebat seperti Tantowi Yahya, Andi F. Noya, hingga Najwa Shihab sebagai contoh nyata bahwa orang-orang sukses itu lahir karena membaca.
Kang Gola Gong pun menitipkan harapan besar,
“Mudah-mudahan Presiden Prabowo mendengar agar program DBI diadakan lagi dengan figur yang lebih muda dan menginspirasi, serta Perpusnas tetap menjadi terdepan untuk program meningkatkan literasi masyarakat Indonesia.”
Mendengar ini, rasanya energi aku sebagai relawan baru langsung terisi penuh!
Saat Teknologi Menopang Literasi: Hadirnya SIR5 dan INLISLite 3.3
Nah, ini dia yang bikin aku sebagai blogger ikut antusias. Perpusnas sadar betul kalau pergerakan manusia harus ditopang oleh sistem data yang valid.
Aplikasi SIR5: Aplikasi berbasis web ini dikembangkan oleh tim Pusdatin khusus untuk program RELIMA 2026. Ini adalah ruang pembuktian! Lewat SIR5, kinerja kami para relawan dalam melakukan inventarisasi, kegiatan literasi, dan advokasi akan dilaporkan dan dievaluasi secara transparan.
INLISLite 3.3: Teman-teman pengelola perpustakaan pasti sudah nggak asing dengan aplikasi otomasi perpustakaan satu pintu ini, Intergrated Library System yang dibangun sejak tahun 2010. Nah, sekarang sudah ada versi terbarunya, lho! Dikembangkan mandiri oleh Pusdatin, versi 3.3 ini membawa pembaruan keren: bahasa pemrograman yang di-upgrade, desain antarmuka (UI/UX) yang makin ramah pengguna, keamanan akses yang diperketat, database yang lebih ringan, dan yang paling canggih… sudah terintegrasi dengan teknologi AI (Artificial Intelligence)!
Tantangan Berat Perpusnas dan Strategi “Mencerdaskan Bangsa”
Puncak acara ditandai dengan pidato arahan sekaligus peluncuran resmi ketiga program di atas oleh Kepala Perpustakaan Nasional, Prof. Aminudin Aziz.
Jujur, bagian pidato beliau ini sempat membuat aku terenyuh sekaligus kagum dengan realisme beliau. Prof. Aminudin mengungkapkan bahwa tugas Perpusnas (bersama Lembaga Bahasa, Kebudayaan, dan Sastra) sangatlah berat, yaitu memfasilitasi pencapaian tujuan bangsa untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
Makna “cerdas” di era sekarang sudah meluas, bukan sekadar tahu huruf, tapi masyarakat harus literat dan cerdas dalam berpikir. Fakta di lapangan menunjukkan tantangan kita masih besar sekali:
- Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) kita masih jauh dari harapan.
- Tingkat literasi masyarakat masih di bawah 50% setelah 81 tahun Indonesia merdeka.
Di sisi lain, ada hantaman realita berupa pemotongan anggaran Perpusnas yang mencapai 48% untuk tahun 2026. Angka yang luar biasa besar potongannya! Rencana ideal lima tahunan jelas tidak mungkin dieksekusi bersamaan dengan dana yang terbatas.
Maka dari itu, Perpusnas harus memilih program yang memiliki impact (dampak) paling besar. Dan pilihan itu jatuh kepada RELIMA.
“Relima menjadi program andalan Perpusnas yang diharapkan dapat mengintervensi dan jadi katalisator sekaligus penggerak/altovator ketika buku belum berbunyi di tengah masyarakat,” tegas Prof. Aminudin Aziz.
Beliau juga berpesan dengan sangat tegas kepada kami para relawan: Relawan tidak bertugas di ruang hampa. Kerjasama dengan dinas perpustakaan setempat adalah hal mutlak, begitu pula kolaborasi dengan mitra terkait. Dan yang paling penting, jaga nama baik RELIMA. Pesan ini benar-benar tertanam di hati aku untuk langsung diaplikasikan di Kota Langsa nanti.
Gelar Wicara: Kolaborasi untuk Gerakan Nyata
Acara yang padat gizi ini kemudian ditutup dengan sesi Gelar Wicara bertajuk “RELIMA 2026: Kolaborasi untuk Gerakan Literasi Berdampak”.
Diskusi ini menghadirkan para pakar dan praktisi yang luar biasa, mulai dari Dr. Adin Bondar (Deputi Bidang Pengembangan Perpustakaan), Gola Gong (Duta Baca Indonesia), hingga cerita inspiratif dari Mas Andri selaku perwakilan RELIMA 2026 dari Kabupaten Tangerang. Jalannya diskusi yang seru dan mengalir ini dipandu dengan apik oleh Pustakawan kita, Wira Sakinatun Najahah. Mendengar cerita mereka benar-benar membakar semangat aku dan seluruh relawan yang hadir mengenai bagaimana literasi bisa berdampak positif baik untuk diri sendiri dan juga sekitar kita.
Catatan Akhir Aku untuk Kita Semua
Membaca, mendengar, dan kini menjadi bagian langsung dari pergerakan RELIMA 2026 membuat aku sadar, urusan literasi bukan cuma tugas pemerintah atau Perpusnas sendirian. Di tengah keterbatasan anggaran negara, pergerakan swadaya dari masyarakat, dari kita, para orang tua, para pemuda, para relawan adalah kunci utama. Seperti kata Kang Gola Gong, gerakan ini harus digerakkan oleh hati.
Mohon doanya ya, Sahabat Nufazee, agar aku bisa menjalankan amanah sebagai relawan RELIMA 2026 untuk Kota Langsa ini dengan baik, amanah, dan membawa dampak nyata bagi lingkungan sekitar kita. Yuk, kita bersama-sama menghidupkan buku-buku di sekitar kita agar “berbunyi” dan membawa manfaat bagi anak-cucu kita.
Bagaimana kondisi literasi atau perpustakaan di lingkungan tempat tinggalmu saat ini? Bagikan ceritamu di kolom komentar bawah, ya! Sampai jumpa di artikel berikutnya!
