Sebagai perempuan yang terlahir dengan multiperan membuat kita secara tidak langsung harus siap sedia apapun kondisi yang terjadi, padahal jika saja kita tahu hirarki peran dan batas toleransinya pasti kita tidak perlu galau terlalu lama bahkan menanggung semuanya sendirian.
Beberapa kali baca mengenai kasus pengidap kanker dan autoimun yang dialami perempuan, semua itu berasal dari kebiasaan buruk memendam emosi, regulasi emosi yang belum selesai.
Lalu, saat ikut webinar mengenai kesehatan mental ibu, kolom komentar dipenuhi oleh curhatan ibu terkait pasangannya.
Nah, karena dua faktor utama tersebut, hatiku membulat untuk menyusun e-book dan menyelesaikannya. Pesan kuat yang mau aku sampaikan dalam e-book itu adalah jadilah istri yang berdaya tanpa harus menunggu pasangan berubah.
Kalau kata guruku ‘emangnya kita siapa nyuruh-nyuruh suami berubah?, perkara dia ga sholat, malas kerja, kasar sama anak, ga peduli dengan istri, itu semua urusan dia dengan Allah. Tugas istri apa? fokus pada apa yang bisa dikendalikan oleh istri, mulai dari piawai mengelola diri.
Sayangnya, tak banyak kelas yang memberikan langkah-langkah nyata tentang apa yang harus dilakukan. Kalau pun ada mungkin kelas berbayar mahal. Dan emang sih mahal huhu, tapi waktu itu memang aku upayakan untuk ikut kelasnya sehingga ilmu mahal itu aku pelajari dan praktekkan. Alhamdulillah banyak sekali perubahan yang aku dapatkan terutama perubahan mindset.
In this economy dan melihat kondisi akhir-akhir ini di Indonesia sepertinya para istri tidak bisa menunggu lama untuk membereskan mentalnya dalam satu waktu dan berlomba dengan kenyataan pahit tiap hari.
Maka, aku membuat e-book ini, agar para istri mendapatkan cara pandang baru agar tetap tegak anggun menghadapi segala ujian dunia.
