
Gelombang protes dan keresahan terhadap pemotongan anggaran Perpusnas RI yang cukup sadis tahun 2026 sampai juga pada mahasiswa di kota Langsa yang peduli pada pendidikan juga literasi negara ini
Sebagai Relima Langsa aku sungguh tidak menyangka dan sangat mengapresiasi undangan untuk berdiskusi terbuka sehingga sore itu aku datang memenuhi undangan tersebut.
Adalah Suara Buku Indonesia atau SBI nama komunitasnya, sebuah komunitas yang lahir dari keresahan dan rendahnya minat baca, anggotanya paling banyak dari mahasiswa IAIN Langsa, mereka punya agenda rutin MBG alias Membaca Buku Gratis di Lapangan Merdeka Langsa setiap Minggu sore.
Awalnya mereka mengundangku sebagai perwakilan dari komunitas Langsa Silent Book Club. Komunitas Langsa Silent Book Club adalah klub baca yang aku bentuk sebagai giat literasi untuk level inisiator tugas Relima. Alhamdulillah diterima masyarakat.
Oke lanjut, saat tiba di lapangan dan jumpa dengan pengurus inti, kenalan sebentar dan pamit buat sholat Ashar dulu, syukurnya ada Saidah, anggota SBI yang muslimah jadinya aku ada teman.
Usai sholat, tampak teman teman mulai gelar spanduk buat alas duduk, lalu menyusun buku buku untuk dibaca-baca, tapi ga sempat baca saking asyiknya diskusi.
Relima Langsa Mendengarkan Keresahan Mahasiswa yang Juga Pegiat Literasi
Ketika diskusi dimulai, aku serasa ditarik lagi ke masa lalu dimana aku pernah melewati momen momen seperti ini, berdiskusi, duduk melingkar, saling lempar pendapat, tertawa, sedih, galau, frustasinya, dapat semua.
Rais selaku ketua SBI memperkenalkan diri dan membuka diskusi, kemudian melemparkan tawaran kepada peserta diskusi untuk menyampaikan pendapatnya. Lalu teman di sebelah Rais yaitu Afinas menyarankan agar mempersilahkan aku untuk berbicara sebagai ‘orang dalamnya’ Perpusnas RI
Seakan gayung bersambut, sejak awal aku dikukuhkan jadi Relawan Literasi Masyarakat atau Relima, isu anggaran yang dipangkas hingga 48% itu sudah diinfokan tapi saat Dialog Kerja Relima Tahun 2026 Bersama Kepala Perpusnas RI dan Tim Satgas Relima, 17 Juli lalu semakin ditegaskan agar memviralkan berita tersebut.
Sehari sebelumnya tanggal 16 Juli 2026, Kepala Perpusnas RI, Prof Aminuddin Aziz menghadiri rapat Komisi X DPR di Gedung DPR, dalam rapat tersebut menyampaikan bahwa anggaran Perpusnas tahun 2026 hanya 337M dari anggaran sebelumnya 721 M, kondisi ini membuat terhentinya layanan bantuan buku dan tidak lagi bisa masif menjalankan misi literasi.
Sedangkan di program lain pemerintah punya uang untuk menjalankannya seperti MBG dan Kopdes, dan kebutuhan literasi negara tidak lagi menjadi prioritas. Miris!
Sejak viralnya pernyataan Prof. Amin mulai ramai di threads menyinggung hal tersebut,salah satunya ini dan masih banyak beberapa. Jadi, yuk kita mulai juga untuk bersuara soalnya Perpusnas tidak punya anggaran buzzer jadi kitalah para pegiat literasi yang jadi buzzer Perpusnas.

Setelah aku menyampaikan selapis pokok permasalahan literasi di negara ini, ya ini baru selapis kulit bawang aja belum lagi lapisan lainnya, barulah teman teman mulai menyampaikan pendapatnya.
Ada Mora yang cukup aktif memancing diskusi, ‘aku marah saat pendidikan dimainkan’, ungkapnya dengan raut wajah menahan kesal yang sangat dalam. Penyelenggara negara hari ini tak sungguh-sungguh mencerdaskan rakyatnya.
Dari komunitas Ruang Baca menyampaikan pengalamannya bahwa kini banyak remaja yang mulai turun kepercayaan kepada pemerintah. Hal ini ia temukan saat menjadi Relawan di Desa Jura, Tamiang. Ketika relawan mengajak membaca, bukan respon menyenangkan yang didapat justru sebaliknya ‘buat apa pintar kak, kami ga percaya lagi sama pemerintah’.
Kemudian dalam diskusi ada Fadly seorang guru honorer yang mengungkapkan kegelisahannya, disaat guru mendidik anak anak untuk punya adab yang baik tapi disaat yang sama justru kepala negara mempertontonkan cara berbicara yang buruk, ‘Ndasmu!’, bahkan belakangan makin parah pernyataan pernyataan yang keluar. Fadly juga mengeluhkan kondisi guru honorer, ada guru yang puluhan tahun mengabdi tapi jenjang karir tidak prioritas untuk jadi pegawai negara karena banyaknya prosedur yang harus dilewati.
Tak hanya itu, Fadly menyampaikan isi hati kecilnya tiap kali bertemu dengan petugas SPPG yang membagikan MBG ke sekolahnya ‘gaji mereka yang cuma supir MBG lebih besar dari aku yang guru honorer dengan proses menuju profesi ini juga ga mudah, sedangkan supir itu cuma tamatan sekolah menengah atas’
Mora menambahkan kalau kita ini sedang diakalin sama mereka yang sekolah aja tu ada yang ga lulus.
Aku melihat dinamika diskusi kayak ‘ayo dek lanjut keluarkan semua keresahan kalian’,kadang perkumpulan kayak gini tu perlu sesekali sehingga pikiran yang sebelumnya rumit jadi makin rumit eh maksudnya jadi lebih ringan, meskipun masih ada tapi setidak ga dipikirin sendiri, ternyata ada loh yang punya keresahan yang sama, kita itu ga sendiri.
Saat diskusi lagi panas panasnya, rintik hujan mulai turun, seolah kayak mau ngasi tau ‘sini Aku ademin’, kata Allah.
Kami pun pindah lapak ke gedung beratap di pinggir lapangan tersebut dan berteduh disana. Sebelum gerimis semakin deras, teman teman menyampaikan akhir diskusi bahwa ada kelanjutan dari giat literasi ini demi menumbuhkan minat baca pada anak dan remaja di Langsa seperti mengadakan lomba mewarnai dan kegiatan lainnya.
Aku pun menutup diskusi dan mengatakan bahwa jangan frustasi dengan keadaan. Fokus pada apa yang bisa kita kendalikan, apa yang bisa kita perbuat, kebijakan pemerintah di luar kendali kita tapi apa yang bisa kita upayakan adalah bersuaralah dengan tulisan, dengan kemampuan berbicara di depan umum tampil di sosmed, isi sosial media dengan konten konten positif dan berbasis literasi, jika perlu jeda dari sosmed karena terus terusan menyaksikan aja gebrakan pemerintah yang buat kesal, silahkan jeda, setelah tenang baru mulai lagi.
Buat yang baca tulisan ini dan punya keresahan yang sama, yuk bergerak. Nyalakan semangat dan giat literasi dari yang paling dekat dengan kita. Rutin bacakan buku pada anak sendiri, adik sendiri, keluarga sendiri atau paling gak bacalah buku untuk dirimu sendiri! Tidak perlu langsung berlembar lembar, mulai dari 15 menit sehari, selembar saja, satu halaman saja, lalu mulai lagi besok, besok, dan besoknya lagi. Karena ga ada jalan keluar dari kebodohan selain dengan membaca!
Aku pun pulang dengan hati penuh dan semangat baru, meskipun diguyur hujan deras.
Semangat ya!
Salam Literasi!
