
Saat sesi bimbingan teknis menjadi Relawan Literasi Masyarakat atau selanjutnya aku sebut RELIMA dalam tulisan ini ada narasumber yang menutup sesinya dengan perkataan
‘jalanilah peran ini dengan bahagia, maka akan kau temukan banyak hal yang membuat hatimu hangat’.
Benar saja, aku sudah melewati dua bulan bertugas sebagai RELIMA untuk Kota Langsa. Kegiatan literasi pada bulan Juli lalu cukup berkesan. Aku menjadi salah satu kolaborator dalam event bergengsi di Langsa Multikultur Fest, dalam acara itu aku mengelola satu kegiatan khusus yaitu read aloud atau membaca nyaring untuk anak TK dan SD awal, kemudian aku berkesempatan bertemu dengan Walikota Langsa.

Dalam setiap pertemuan membaca nyaring aku jumpa dengan guru SD yang tulus menemani murid-muridnya visit ke tempat pembelajaran, lalu anak-anak yang belum bisa baca tapi semangat mau baca saat lihat buku-buku yang aku bawa, usai baca buku satu eh minta tambah mau dibacain buku yang lain sementara aku sudah kehabisan suara haha

Pengalaman berikutnya yang juga seru adalah berpetualang pertama kali ke Aceh Tamiang menggunakan bus Jumbo yang fenomenal di Aceh untuk menghadiri bimbingan teknis pembinaan komunitas literasi dari Balai Bahasa Provinsi Aceh. Kondisi Aceh Tamiang belum sepenuhnya pulih, tata kelola ruas jalan utama saja masih menyisakan banyak debu beterbangan, gersang, jika cuaca panas melanda.

Selain menjalani peran sebagai RELIMA, setelah aksi lapangan selesai dan lalu pulang ke rumah. Aku tak otomatis bisa bersantai layaknya dulu ketika masih belum berkeluarga, makanya menambah peran RELIMA itu kenekatan yang aku rencanakan haha.
Sesampainya di rumah, aku masih harus mencicil laporan di situs sir5.perpusnas.go.id. Perihal yang aku laporkan bukan saja kegiatan literasi dengan minimal 6 kegiatan dan total minimal 120 peserta, tapi juga kegiatan menginventarisasi data IPLM (Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat) yang aku peroleh dari Dinas Perpustakaan Kota Langsa ada 168 perpustakaan sekolah, desa, kampus dan TBM yang ada di Langsa, tiap bulan minimal 5 data, sepertinya mudah ya, tapi data IPLM serumit itu gaes, meskipun sudah dipermudah cara pengisiannya tetap saja harus teliti dalam penginputan data.

Semua proses pelaporan tersebut membuatku harus duduk berjam-jam di depan layar laptop dan HP, belum lagi kegiatan sebagai ketua komunitas setiap akhir pekan di TBM Rumah Ceria Nufazee dan Langsa Silent Book Club, jadi kreator konten dan tim media sosialnya sebuah klinik gigi yang aku handle, menyala sekali mataku.
Rompi RELIMA aku gantungkan, kemudian masuk waktu wajib bersama ketiga anak laki-laki saat sore sampai malam yaitu berperan sebagai guru ngaji, bacain mereka buku, kadang menyuapi makan malam mereka, semua kegiatan yang bertujuan merawat ikatan karena hak mereka bersamaku cukup banyak berkurang di siang hari. Berharap tetap terus diberi kesehatan oleh Allah SWT agar dimampukan menjalani peran dan amanah yang ada, caranya aku harus lebih sadar dengan tanda-tanda yang tubuhku coba kabarkan, khususnya kesehatan mata.
Saat Mata SEpet, PErih, dan LElah Menyapa Tanpa Permisi
Beban kerja mataku mulai bertambah sejak menjadi RELIMA. Ada dua momen yang polanya sama, sama sama membuat mataku sangat perih.
Momen pertama ketika membacakan buku di TBM Rumah Ceria Nufazee atau taman bacaan milikku, cuaca masih gerah meskipun sudah sore, sehingga aku berkeringat terutama di area wajah. Nah, aku pakai sunscreen yang jika kena keringat dan menetes ke mata, perih luar biasa. Beruntung aku bisa menguasai diri.

Momen kedua saat membacakan buku di Langsa Multikultural Festival, padahal masih pagi tapi suasana mudah buat berkeringat. Kejadian yang serupa menimpaku kembali. Posisi anak-anak yang antusias mendengarkan cerita sehingga mereka terus mendekat padaku, keringatku mengucur, meneteslah ke mata kiriku. Perih tak tertahankan. Syukurnya sudah berada pada penutup cerita, sesi selanjutnya ada temanku membawakan ice breaking.
Lewat dua momen itu aku jadi sadar bahwa mata perih membakar tidak boleh diremehkan karena sangat mengganggu dan mengurangi fokus saat membacakan buku cerita. Dalam situasi tak nyaman itu aku berhenti satu sampai dua menit, bahkan mencoba menahannya dengan cara berkali-kali mengedipkan mata berharap cairan mataku menormalkan penglihatan mungil ini.
Kemudian, mataku juga cepat lelah karena interaksi dengan layar semakin lama. Setiap hari menatap layar hp memerlukan durasi 4-5 jam belum lagi menatap layar laptop 2-3 jam.

Kegiatan menggunakan hp aku lakukan untuk memeriksa laporan inventarisasi IPLM dari Pustakawan sekolah yang sudah menyetorkan data, membuat laporan kegiatan literasi di Canva kemudian di posting di sosial media @langsamembaca dikolaborasikan kepada akun @relimaprovinsiaceh lengkap dengan caption dan mention @gemarmembaca.id dan @perpusnas.go.id.
Ada juga level peran inisiator RELIMA yang harus aku laksanakan sehingga perlu bantuan asisten virtual dalam merencanakan acara dan kegiatan literasi.
Lalu membuat flayer kegiatan TBM Rumah Ceria Nufazee dan Langsa Membaca setiap minggunya, serta mengelola akun @langsamembaca sebagai wadah yang menampung informasi seputar literasi di Langsa
Tak hanya itu saja, aku masih aktif menulis blog di Nufazee.com. Sesekali ambil job baik di tiktok, Instagram dan threads. Jadi, memang se-ambisius itu memanfaatkan peluang yang ada serta berusaha untuk menjadi pribadi bermanfaat.
Pada malam harinya, mataku masih harus bekerja karena menyimak bacaan Quran dan Iqro anak-anak, membacakan mereka buku cerita tiap malam. Seminggu ini aku mulai aktif membacakan mereka buku setelah membaca Hand Book Read Aloud karya Jim Trelease bahwa meskipun anak anak sudah mulai bisa baca buku sendiri tetap bacakan mereka buku setiap malam, karena manfaatnya segudang.
Sebagai awalan, aku membacakan Novel Totto-Chan. Benar saja, anak-anakku sangat bersemangat dan selalu menantikan jadwal baca buku setiap malam. Masalahnya anak-anak akan menjadi kesal dan protes jika aku sudah lelah baik itu fisik secara keseluruhan dan khususnya mataku. Mata sering terasa cepat lelah, bawaannya mau dipejam saja padahal malam masih muda.

Hati-Hati Mata Kering Karena Sering Kena Sunscreen dan Kebiasaan Menatap Layar Terlalu Lama
Mata adalah salah satu aset berharga dari pemberian Allah sebagai makhluk bernama Manusia. Upaya yang bisa dilakukan dalam menjaga alat super penting ini adalah dengan merawat sebaik baiknya agar nanti kelak dipanggil ‘pulang’, kita dapat mengembalikannya dengan keadaan baik pula.
Ada banyak risiko mengintai mataku apalagi aku sudah mengidap miopi sejak 25 tahun lalu. Maka, aku seharusnya sudah tidak bisa ugal-ugalan lagi menggunakannya, harus tahu batasan dan lebih mendengarkan alarm tubuh.
Risiko sakit mata yang bisa saja datang salah satunya mata kering. Mata kering adalah sindrom, jadi penyakit ini berawal dari kumpulan gejala yang kita abaikan maka disebut dry eye syndrome.
Dry eye syndrome merupakan keadaan saat air mata tidak mampu melumasi lapisan mata dengan baik. Air mata adalah cairan pada mata yang mengandung air, garam, protein, lemak untuk melumasi mata supaya menjaga permukaan mata agar tetap halus dan air mata terus berproduksi selama kita hidup. Jadi, jika kita abai pada mata maka bisa saja produksi pabrik air mata terganggu.
Gejala Mata kering yang dapat terjadi pada kedua mata menurut situs Mayo Clinic adalah:
- Sensasi perih, terbakar atau gatal di mata
- Lendir berserat di dalam atau sekitar mata
- Sensitivitas terhadap cahaya
mata merah - Sensasi seolah ada sesuatu di mata
- Sulit pakai lensa kontak dan mengemudi di malam hari
- Mata berair sebagai respon tubuh terhadap iritasi mata kering
penglihatan kabur atau kelelahan mata
Pada mataku yang terjadi ada 3 penyebab:

1. Faktor pemakaian sunscreen yang tidak tepat sehingga ketika kandungan krim sunscreen bercampur dengan keringatku dan lalu menetes masuk ke mata, memicu mata perih membakar.
2. Faktor lingkungan atau kegiatan di luar ruangan. Penyebab debu saat turun ke lapangan untuk kegiatan literasi, ketika berkendara dengan kecepatan tinggi sehingga angin kencang tak terhindarkan menerpa wajah termasuk mata.
3, Faktor menatap layar terlalu lama. Penyebab berikutnya adalah kebiasaan menatap layar dan membaca buku berjam-jam tanpa jarang berkedip atau jeda berkala.
Setelah aku menyadari faktor-faktor gejala itu, apalagi selama 2 bulan ini, aku harus berubah sebelum terlambat. Karena, aku masih mau pakai mataku untuk waktu yang lama. Mata SEpet, PErih, LElah tidak boleh diSePeLein.
Cara Mengatasi Mata Perih Ketika Kena Sunscreen dan Strategi Agar Mata Tidak Cepat Lelah
Penyebab sunscreen mengiritasi mata menurut situs Blue Lizard Australian Sunscreen karena penggunaan chemical sunscreen, sebaiknya gunakan mineral (or physical) sunscreen karena ada kandungan yang aman buat mata sensitif seperti zinc oxide. Solusi lain adalah menggunakan stick sunscreen karena lebih mudah mengatur area sekitar mata saat pengaplikasiannya. Gunakan juga water-resistant sunscreen.
Alternatif solusi lain aplikasikan pelembab wajah yang lembut ke kulit sebelum memakai sunscreen sehingga dapat melindungi kulit dan membuat lebih nyaman. Selain itu, saat memakai sunscreen gunakan agak menjauh dari area mata beri jarak di area alis dan sekitarnya.
Apa yang harus dilakukan jika tabir surya masuk ke dalam mata? masih di situs yang sama, menjelaskan caranya:
- Bersihkan lembut area mata dengan air mengalir jika sedang di luar rumah atau dengan handuk kecil yang sudah dibasahi
- Jangan menggosok mata karena akan membuatnya semakin parah dan meningkatkan iritasi
kedipkan mata beberapa kali untuk mendorong air mata keluar secara natural. - Bila perlu gunakan cairan mata Insto Dry Eyes.
Waktu yang diperlukan mata untuk kembali nyaman setelah kena sunscreen bisa 15 sampai 30 menit dan memang benar kondisi mataku baru benar-benar normal setelah beberapa menit tapi membayangkan perihnya, kalau kata Gen Z sekarang, perihnya perih banget huhu Jika lebih dari 30 menit iritasi belum reda, sebaiknya pergi ke dokter begitu yang dijelaskan secara baik pada situs eyebuydirect.com.
Kemudian perawatan untuk mata lelah karena kegiatan menatap layar, membaca buku atau kegiatan lain yang mengurangi kedipan mata adalah dengan mengistirahatkan mata secara rutin memakai aturan 20-20-20. Teknisnya, setiap 20 menit sekali arahkan pandangan dari layar dan fokus pada objek yang jaraknya 20 kaki atau 6 meter selama minimal 20 detik ya.
Perawatan lainnya tentu membuat batasan, sekira mata sudah lelah sebaiknya istirahat atau dibawa tidur. Lalu pentingnya makan makanan yang mengandung omega 3 dan cukupi kebutuhan cairan harian. Bila perlu gunakan tetes mata yang tepat seperti Insto Dry Eyes.
Insto Dry Eyes: Produk Tetes Mata Imut Hempaskan Mata Perih dan Lelah
Siapa sih yang tidak kenal dengan produk tetes mata yang heittss ini? Insto. Produk inovasi Insto hadir khusus mengatasi mata kering yaitu Insto Dry Eyes. Nah, indikasi mata kering salah satunya secara tiba-tiba mata berair atau reflex tearing, air mata darurat ini biasanya memiliki kualitas buruk sehingga tidak cukup melumasi mata dengan baik.

Beruntung Insto Dry Eyes dirancang memiliki kandungan aktif Hydroxypropyl Methylcellulose (HPMC). Zat ini bekerja dengan membentuk lapisan pelindung di atas permukaan kornea sehingga berguna sebagai pelumas buatan.
Ketika aku mengaplikasikan produk ini pada mataku, tidak ada sensasi perih yang ada menenangkan, adem, mata auto segar. Kerennya lagi HPMC punya viskositas yang mirip kayak air mata alami milik manusia dan dapat bertahan lama untuk jaga kelembaban mata. Masya Allah penolong banget ya Insto Dry Eyes.

Insto Dry Eyes memang harus ada di tas atau di dekat aku berkegiatan, karena mata kering gak kenal tempat, kambuhnya bisa kapan saja atau paling tidak ada rasa aman yang tiba-tiba datang sementara pekerjaan lagi gak bisa ditinggal. Tetesin Insto Dry Eyes sebentar, mata secara instan jadi kembali nyaman.

Bentuknya yang kecil hanya berisi 7,5 ml cairan, mudah dibawa kemana-mana, selain itu si biru yang kecil-kecil cabe rawit ini gampang ditemukan. Aku beli Insto Dry Eyes di Indomaret terdekat.
Insto Dry Eyes memang semanjur itu tapi tetap perhatikan dosis dan aturan pakainya ya. Teteskan pada kedua mata yang terasa kering 1-2 tetes. Gunakan 3 sampai 4 kali sehari ketika mata terasa tidak nyaman atau saat diperlukan. Hal terpenting lagi nih segera tutup rapat botol setelah digunakan agar tidak terkontaminasi.

Mata Terawat, Langkah Kebaikan Dapat Terus Bergerak
Tak ada yang lebih disyukuri dari merasakan nikmat kesehatan yang bertambah-tambah, terutama kesehatan mata. Saat tetesan #InstoDryEyes #BebasMataKering #MataSePeLeJanganSepelein mengalir ke mataku, ya Allah nikmatnya mata yang seketika segar kembali. Alhamdulillah.
Betapa tidak nyamannya ketika mata kering, sepet, perih dan lelah. Adanya Insto Dry Eyes sangat membantu. Aku jadi tidak khawatir lagi menghadapi mata yang tiba-tiba perih saat kena sunscreen, sebelum kena memang harus piawai dalam mengaplikasikan sunscreen agar tidak kena mata.
Kegiatan literasi ke luar kota Langsa pun siap aku hadapi dengan tantangan yang berbeda-beda di lapangan, apakah itu saat naik kendaraan Jumbo yang super kencang sehingga debu bercampur angin tidak bisa aku kendalikan untuk masuk ke mata meskipun sudah dilindungi dengan kacamata, atau saat turun ke lapangan yang berdebu atau ruang ber AC.
Mata yang lelah sekarang sudah ada solusinya, tidak ada lagi alasan untuk menolak ajakan rutin anak-anakku untuk membaca buku sebelum tidur ataupun menyimak bacaan Quran dan Iqra mereka.
Lalu, hak untuk hati dan pikiranku yaitu membaca pun sudah bisa aku penuhi dengan maksimal. Tak sabar untuk menyelesaikan deretan dan tumpukan buku favorit yang rasanya ingin aku baca semuanya dalam satu waktu haha.

Kemudian ide-ide kegiatan untuk komunitasku baik itu Langsa Membaca, TBM Rumah Ceria Nufazee dan Langsa Silent Book Club. Salam Literasi!
“Sebab dari mata yang sehat dan segar, ada sinaran inspirasi dan hangatnya kasih sayang yang terus terpancar untuk orang-orang di sekitar kita.”
Sumber rujukan:
https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/dry-eyes/symptoms-causes/syc-20371863. Diakses pada 5 Agustus 2026
https://www.halodoc.com/artikel/insto-dry-eyes-untuk-apa-atasi-mata-kering-dan-iritasi?srsltid=AfmBOopc25pGfXLV5ZekiasrS9JY1_gPh6x4q-RZiUe-mU2uwb8IsBd3. Diakses pada 7 Agustus 2026
https://bluelizardsunscreen.com/blogs/news/why-sunscreen-burns-eyes. Diakses pada 5 Agustus 2026
https://www.theguardian.com/wellness/2026/jul/10/sunscreen-stings-what-to-do.
Diakses pada 5 Agustus 2026
https://www.eyebuydirect.com/blog/sunscreen-in-eyes/. Diakses pada 5 Agustus 2026
