Jadi Ibu Dilarang Sakit, Terus Gimana Dong?

3

http://www.barefeetonthedashboard.com/2015/02/chloraseptic-mommies-dont-get-sick-days/
Jadi Ibu itu memang benar benar beda, bedaaa banget *iya iya, terus kenapa?* beda waktu zaman kuliah dulu, sesibuk apapun, sebegadang apapun, tetap aja kuat walau sekali tepar gak bangkit bangkit dari tempat tidur, bwuahaha.
Namun, semenjak jadi ibu, semua berubah, bisa jadi factor U *masak iya sih guek setua itu? Hitung keriput di mata*. Saya sering masuk angin, badan pegal pegal, dan gampang alergian, apalagi di kulit. Huhuhu, ada apah dengan diriku?

Bagi saya menjaga kesehatan itu nomor satu, pun sejak kuliah, saya membatasi makan makanan yang berpenyedap berlebihan, mencoba jalani gaya hidup sehat walau sesekali gagal memasak juga jarang pakai penyedap buatan pabrik, bila itu dilakukan, nenek akan marah besar, hehe, sebab itu kalau saya udah makan mi instan, langsung deh kumat migrainnya.

Dan juga, saya belajar dari nenek saya,  kalau untuk urusan kesehatan, ia juaranya, mau vitamin dan suplemen apa? Semua ada di kamarnya haha, ia rutin mengonsumsi semua vitamin dan suplemen itu, belum lagi kerajinannya dalam mengikuti terapi kesehatan yang gratis gratis itu, makanya sampai sekarang si nenek masih fit, meski usia sudah 80-an, semoga Allah memberikan umur yang berkah untuk nenek, Aamiin, walau sepanjang apapun usia nenek.

Kebiasaan positif tersebut saya praktekkan dalam kehidupan saya, apalagi sejak nikah, saya dan suami benar benar mengubah gaya hidup serta melakukan misi perbaikan gizi haha.

Logikanya begini, kalau anak diajarkan hidup sehat, maka kelak kita akan melahirkan generasi yang sehat pula. Bisa dilihat kondisi sekarang, kita digempur dengan iklan iklan cemilan instan dan fast food, belum lagi jajanan yang konon kita gak tahu seperti apa para penjual membuatnya, apakah dalam kondisi semua muanya bersih atau tidak. Wajar saja, banyak anak muda yang rentan diserang penyakit, atau memiliki gaya hidup tidak sehat.

Balik lagi ke status saya yang sudah jadi Mamah Muda ini, setelah dirunut runut, penyakit ringan seperti batpil, merupakan tanda bahwa daya tahan tubuh kita sedang melemah, sejak itulah saya simpulkan, mari kita berusaha senantiasa menstabilkan daya tahan tubuh, caranya gimana? Yuk kita kenalan dengan penyebab-penyebab yang buat daya tahan tubuh melemah.

Begadang

Hiks berasaaa banget awal jadi ibu, sampe tepar tepar saya, akhirnya saya stop nulis sebulan, dan menstabilkan daya tahan tubuh dengan cara TIDUR, bayi tidur, ngantuk gak ngantuk kita harus tidur.

Jadi, dalam tidur yang cukup sekitat 7-8 jam, ada sel sel yang diproduksi melawan kuman, sebaliknya jika total jumlah jam tidur kita kurang, maka sel sel itu pun berkurang dan akhirnya melemahlah daya tahan tubuh kita.

Stress

Penyebab menurunnya daya tahan tubuh Ibu juga disebabkan karena stress, stress menghadapi anak-anak, stress karena deadline lomba menulis sebentar lagi akan tiba sementara tulisannya belum kelar, tapi ngiler lihat hadiahnya, *ini mah saya banget haha. Stress stress dan stress.

Ayo Bu, semangat jangan stress, kita harus tetap waras. Kalau dirasa udah ada gejala stress, segera minta peluk atau pijat sama suami, atau mandangin senyum anak, bisa juga ambil wudhu, sholat dua raka’at, dan baca qur’an, dijamin stress bakal minggat deh, hehe.

Sering Konsumsi Antibiotik

Da…kalau ini saya baru tahu, ternyata banyak konsumsi antibiotik bisa jadi pemicu melemahnya daya tahan tubuh, hmm. Kalau begitu, konsumsi antibiotic mestilah dengan resep dokter.

Banyak Menghirup Asap Rokok

Ternyata banyak menghirup asap rokok, bisa buat daya tahan tubuh menurun, padahal kita gak menghisap rokoknya ya Bu, tapi malah asapnya itu yang menjadi racun buat orang orang sekitar yang menghirupnya. Bertobatlah wahai perokok aktif T_T!

Kekurangan Vitamin C

Seperti yang sudah kita ketahui, daya tahan tubuh kita akan lebih sehat dengan banyak konsumsi vitamin C, dengan begitu penyakit ogah deket deket. Nah, kalau daya tahan tubuh low bisa jadi kekurangan vitamin C.

Kurang Olahraga

Kalau ini sih gak usah ditanya lagi, saya memang jarang olahraga hiks, walau digrup parenting yang saya ikuti banyak menyarankan, olahraga ringan aja bu, kayak yoga, begitu. Tapi, bukannya dengan bolak balik dapur, kamar, sumur, adalah bagian dari olahraga? *teteup ya ngelesnya haha

Cara Meningkatkan Daya Tahan Tubuh

Sebenarnya kalau ditelusuri lagi, masih banyak penyebab daya tahan tubuh kita melemah, tapi saya hanya mencantumkan penyebab yang paling banyak kita derita ya Bu.

Lalu, bagaimana solusinya? Kalau udah tahu penyebabnya, jadi mudah cari solusi. Solusinya apalagi kalau bukan, hindarilah penyebabnya *failed, haha. Jangan begadang, jangan stress, jangan sering konsumsi antibiotik, jauhi perokok aktif kalau lagi merokok dan bau rokok, mulai olahraga yang sebenar benarnya olahraga.

Nah, menjaga daya tahan tubuh gak cukup dari mengenali dan menghindari penyebab dari factor luarnya, Bu. Yuk kita jaga daya tahan tubuh kita dengan meningkatkan system imun dari dalam tubuh kita.

Di rumah, saya selalu stok Madu, Sari Kurma, Minyak Zaitun, dan Habbatusauda, namun ke empat senjata itu ternyata kadang tidak mempan, kumannya dah pada kebal. Saya sampai bingung, suplemen apa sih yang benar benar mantap surantap dan membuat Ibu jadi strong serta bisa juga menjadi cara menjaga tubuh tetap sehat?

Beyond C – Mother of All Vitamins

Sumber foto: www.beyond-c.blogspot.co.id
Namanya mirip nama penyanyi wanita asal Amerika yang terkenal itu ya Beyonce, tapi bukan itu yang mau kita bahas hehe.

Saya percaya, salahsatu yang buat daya tahan tubuh naik lagi adalah dengan konsumsi vitamin C, nah sesuai namanya Beyond C , Beyond dalam Bahasa Inggris berarti melebihi. Jadi, Beyond C ini adalah suplemen multifungsi alias plus plus.

Kenapa saya bilang plus plus? Dalam satu bungkus bubuk Beyond C, manfaatnya itu segambreng.

Emang Beyond C, apaan? Singkatnya, Beyond C adalah sebuah suplemen kecantikan, berupa bubuk yang fresh, gak berbau, gak pake bahan pengawet, bisa dikonsumsi semua anggota keluarga, bahkan aman banget untuk bumil, busui dan balita. Jadi, Beyond C ini produk yang multinutrisi, semua nutrisi pada reuni disini, seperti Kolagen *seperti yang kita tahu, produk produk yang mengandung kolagen lagi happening, rame banget dah olshopnya* Rose Hip – minyak biji bunga mawar, Vitamin C – so pasti, namanya aja udah Beyond C, dan Asam Amino.

Dengan kandungan multinutrisi itulah Beyond C hadir dengan banyak manfaat bila mengonsumsinya, gak hanya daya tahan tubuh yang oke, kulit juga jadi lebih kinclong. Sehat dan cantik luar dalam deh. Mau lebih tahu keunggulan Beyond C, klik aja disini.

Bagaimana Cara Mengonsumsi Beyond C ?

Bersebab produknya berupa bubuk, ini merupakan kabar gembira bagi kita yang enggan minum obat dan gak mau ribet. Cara mengonsumsi Beyond C ini gampang banget, sesukanya kita, bisa dicampurkan ke dalam minuman, jadi deh minuman sehat, campur ke dalam makanan bayi. Suplemen terbaik ini  juga bisa untuk meningkatkan daya tahan tubuh anak,  mencegah anak panas dalam dan jadi cara mencegah anak sakit. Aman banget deh dijadikan suplemen sehari hari.

Pun bisa dikreasikan sebagai pemakaian luar, seperti dijadikan krim untuk menghilangkan bekas luka atau untuk perawatan wajah, kandungan anti oksidan dan anti ageing nya bisa buat Ibu cantik dan awet muda,  suami makin cintaah deh.

Yuk Bu, Semangat Sehat ^_^ salahsatunya dengan rutin konsumsi Beyond C . Info lengkap seputar Beyond C dan minat memiliki produknya, silahkan hubungi distributor di bawah ini.

Distributor:

Jabodetabek dan seluruh Jawa Barat : Vonny 0818221920
Surabaya dan Jawa Timur : Elny 081370477655
Semarang dan Jawa Tengah : Nunu 085646671600
Medan dan Aceh           : Harry  081370958333
PekanBaru dan Jambi   : Susanto 08197251333
Kalimantan : Tiffany 081259339977

Sesungguhnya Menjadi Ibu yang Gila Baca Buku Itu Sexy

9


Ada banyak ketakutan yang saya tanam dalam pikiran saya sebelum menikah, dan itu efek mendengarkan petatah petitih nenek dan mamak saya, salahsatu ketakutan saya adalah…

“Tengoklah nanti udah nikah dan punya anak, gak tepegangmu lagi tu buku dan leptop”

Dalam hati saya, let’s see, Nek n’ Mak.

Nah, setelah menikah dan punya anak, ternyata ucapan mereka itu BENAR haha. Saya gak 
pegang buku dan laptop sebulan pasca Baby Khalil lahir, setelah itu, saya mengatur waktu agar bisa tetap baca dan menulis. :-P *failed

What? Mengatur waktu? Wekekekek, sebenarnya saya adalah orang yang paling susah atur waktu, tapi saya berusaha, dan namanya juga udah cinta, cinta baca dan menulis, jadi susah move on. Saya pun memanfaatkan waktu yang ada untuk membaca, seperti saat menyusui Baby Khalil yang bisa memakan waktu sejam, saya gunakan untuk membaca buku, kalau untuk menulis, saya terpaksa harus ngalong, haha alias baru bisa nulis di jam 8 malam ke atas.

Jadwal tersebut terkadang tidak sepenuhnya terpenuhi, ada banyak drama yang  menyertainya, apalagi kalau penyakit ‘M’ udah datang, MALAS. Baca buku kalau dicicil bisa seminggu kelar, menulis bisa 4 jam selesai , masalahnya ngumpulin niat untuk membaca dan menulis itu yang kadang bisa sampai menunggu musim ceri berakhir *keracunan nonton Drama Turki. Kalau lagi rajin apalagi kalau lagi ada lomba menulis resensi buku, saya bisa melahap tiga buku dalam seminggu, dan langsung menuliskan resensinya.

Suatu hari Mamak pernah tanya,

“Jadi, udah mulai lagi kegiatan menulisnya?”

 Oopp, kode nih dalam hati saya, saya ingin membuktikan bahwa perkataan Nenek dan Mamak yang dulu dulu gak sepenuhnya benar, hihi. Dengan cepat saya jawab,

“Udah dong, Mak”

So, dari kisah saya di atas, sebenarnya saya mau nulis apa sih? *yaelah elu nanya ke siapa? Haha

Sebenarnya saya mau menuliskan bahwa meskipun udah jadi emak emak rempong masih tetap bisa luangkan waktu untuk membaca dan menulis kok.

Semoga tulisan saya ini bisa menjawab curhat mentemen dan melihat recoknya saya di sosmed karena sering posting new entry, diantara curhatan itu adalah, enak ya masih bisa nulis, pengen aktif nulis lagi kayak dulu atau duh dah lama lah gak baca buku, gak sempat lagi baca buku, gak punya waktu lagi baca buku. Bla bla bla…endebreh endebruh…dubidubidam…syalalala. Tapi ya itu tadi, mereka lihat luarnya saya aja, padahal saya jumpalitan ngatur waktu agar tetap bisa membaca dan menulis, hihi.


Bukan saya sok bijak ala ala Aristoteles gitu, tapi status ibu-wanita yang telah melahirkan seorang anak-definisi yang berdasarkan dari KBBI-mau gak mau menuntut kita untuk tetap melek informasi, salahsatunya dengan membaca.

Kenapa Sih Meski Sudah Jadi Ibu Tetap Harus Baca Buku?

Sebenarnya sejak zaman purbakala kita dah tahu ya kan Mak, bahwa manfaat baca buku itu segambreng. Tapi, berikut alasan saya kenapa tetap jadikan kegiatan membaca sebagai kebiasaan, walau sudah jadi Mahmud Abas alias Mamah Muda Anak Baru Satu wekekek.

Karena Kita Bukan Ibu Zaman Dulu

Zamannya aja udah beda, konon lagi manusia yang hidup di zaman tersebut, ya akan banyak muncul perbedaan. Mamak zaman dulu mungkin menganggap kegiatan membaca itu bukan sesuatu yang ‘harus’, pun didukung dengan belum derasnya arus informasi seperti sekarang ini dan belum gencarnya penerbit buku berdiri, penulis penulis belum banyak yang lahir, ilmu terapan juga belum berkembang pesat.

Hari ini, justru kebalikan dari semua, Ibu masa kini dapat jatah mengasuh generasi platinum yang hidup di zaman serba digital. Maka, diperlukan Ibu yang SBT (Siap, Bijak dan Tangguh), nah salahsatu modal menjadi ibu yang SBT yakni dengan membaca.

Madrasah Pertama Anak Anaknya

Al Umm Madrasatul Ula, Ibu adalah sekolah pertama bagi anak anaknya. Peribahasa Arab tersebut mungkin sudah sangat sering kita dengar atau baca, dan it’s true, dalam pengasuhan anak, Ibu berperan sebagai pelaksana pendidikan, sedangkan ayah sebagai kepala sekolah.

Peran yang luarbiasa inilah, yang menuntut tiap ibu harus cerdas, nah ibu cerdas dibentuk dari kebiasaannya suka membaca, agar bisa membimbing muridnya (anaknya).
 
How really special we are! Being a Mom!

Agar Anak Juga Hobi Baca

Kalau ini insyaAllah sudah pasti otomatis. Ibu yang doyan baca, kelak anaknya keranjingan baca juga.

Bukankah salahsatu fitrah anak, adalah meniru kebiasaan orangtuanya? So, perlihatkan kebiasaan baik kepada anak anak kita yok Mak, apalagi kebiasaan membaca buku.

Nonton Sinetron vs Baca Buku

Saya paling gak bisa sebentar nonton TV haha, sekali kejebak di depan TV, saya bisa seharian disana. Sejak Baby Khalil lahir praktis saya tidak nonton TV. Berasa banget wasting time nya kalau udah kena jebakan nonton TV, pakaian tidak terlipat, jemuran telat diangkat, anak gak mandi mandi, lupa makan siang, suami dicuekin, semua jadi kena imbasnya hehe.

Beda kalau baca buku, kita bisa atur mau baca berapa halaman. Kita bisa tandai tadi baca sampai halaman berapa, gak perlu takut padam listrik, bisa nyambi kerjaan lain, seperti memasak dan menyusui bayi.

Demensia? Jauh Jauh Deh

Membaca, menurut Dr.C.Edward Coffey, dapat mencegah seseorang dari penyakit demensia, sebuah penyakit rusaknya jaringan saraf otak.

Demensia ini mungkin masih sodaraan dengan amnesia ya Mak, tapi kita lagi gak ngebahas silsilah keluarga mereka. Ok, abaikan haha.

Kadang ya Mak ya, saking banyaknya to do list yang harus dilakuin tiap hari di rumah membuat kita tiba-tiba suka begini, ‘tadi mau ngapain ya?” atau “tadi mau ambil apa ya?”, “duh, kacamataku mana?” *pengalamaaan

Nah, ini menurut saya gejala pikun dini *ada ya?* , kalau hal tersebut terjadi sama saya itu alarm kalau saya sedang kurang membaca, termasuk membaca Al Qur’an dan membaca istghfar T_T sehingga Allah menguji saya berupa mendadak lupa.

Jadi, cegahlah pikun sejak hari ini dengan membaca. Yuk, Mak!

Membaca, Obat Anti Ageing Paling Murah

Percaya gak Mak? Wah saya percaya banget, membaca membuat stress ogah deketan dengan kita. Soalnya pikiran kita gak kosong, eh tapi stress itu bukannya karena banyak pikiran? Haha, eh tapi saat membaca, saraf saraf otak bekerja untuk menyambungkan semua makna yang sedang kita resapi dan jiwa kita pun seolah diisi energi hidup kembali.

Beda kalau kita sedang stress mah, pikiran banyak, jiwa kosng, kalau lagi tenang dan happy berarti pikiran banyak haha sama aja tapi jiwa berisi, gak perlu khawatir yang berlebihan, yakin ada solusi.

Ternyata obat anti ageing itu gak perlu mehong ya Mak, cukup dengan rutin minum air putih dan baca buku ^^

Kesulitan Nyari Solusi? Baca Buku Aja

Buku merupakan tempat mengabadikan ilmu, walau berseliweran info di internet, tetep bagi saya baca buku terkait yang ingin saya ketahui adalah sebuah keharusan.

Seperti saat saya tahu saya hamil, tentu pengalaman mamak saat hamil dan melahirkan saya tentu gak semua bisa diterapkan. Dan saya perlu buku terkait itu semua, hamil, melahirkan, merawat anak, dan lain lain.

Syukurnya saya sangat terbantu dengan keberadaan Stiletto Book yang konsisten sebagai Penerbit Buku Perempuan, semua buku yang saya perlukan terkait menjadi mamah muda ada disana.

Ini beberapa koleksi buku Stiletto Book saya,

Ibu yang Hobi Baca Buku Itu Sexy

The last but not least, alasan kenapa saya tetap harus baca buku meski sudah berumah tangga, ya karena saat saya baca buku, saya merasa sexy, keren, (tampak) cerdas,  paling tidak di mata suami dan anak-anak lah ya, haha.

Meskipun begitu, saat baca buku, niat yang utama ya untuk merekam informasi, memberi makan jiwa, seperti yang dikatakan Cendekiawan Iran, Ali Syari’ati,

Sediakan pula buku-buku di rumahmu sehingga apabila ruhanimu haus dan lapar, ruhanimu dapat mendapatkan minuman dan makanannya.

Bagaimana Caranya Agar Ibu Suka Baca?

Biasanya kita akan lebih bersemangat melakukan sesuatu kalau sudah tahu jutaan manfaatnya, begitu juga dengan membaca.

Ternyata niat ‘mau membaca ah” gak cukup ya Mak tanpa aksi apapun atau sebenarnya udah ada niat untuk baca, tapi malah pilih tidur *saya banget ini haha.

Berikut ada tips kece dari Buku Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza: Rangsangan Baru untuk Melejitkan "Word Smart" yang ditulis oleh Hernowo, untuk membuat niat baca jadi segede gunung Himalaya.

Anggap Buku Itu Makanan

Mak, selain doyan belanja #eh, kita doyan ngemil makanan yang kita suka ya kan Mak? *nyari kawan yang setuju. Terus yang namanya ngemil kan makannya dikit dikit biar gak cepat habis.

Begitu juga dengan membaca, bacalah buku yang kita suka, cicipi kelezatannya dengan membaca siapa pengarangnya, buka buka lembar pertama, intip intip endingnya, setelah dirasa lezat, saatnya mengonsumsi buku alias membacanya, bacanya dikit dikit tapi sering, sehari maksimal 5 lembar. Awalnya gak mudah, tapi insyaAllah bisa, bukannya membentuk kebiasaan hanya diperlukan waktu 3 bulan dengan melakukannya terus menerus?

Letakkan Buku Di Tempat Yang Sering Dikunjungi

Biasanya tempat di rumah kita yang sering dikunjungi adalah kamar mandi, nah kita bisa letakkan buku, pastinya di tempat yang ok, bebas dari hal hal yang mencelakakan buku kita, tanpa kita sadari sembari menunggu anggota keluarga yang sedang menyelesaikan panggilan alamnya, kita bisa baca buku.

Atau di dapur, sembari nunggu rendang atau lontong matang, kita bisa nyambi baca buku, daripada ke mall haha.

Bisa juga letakkan buku di ruang tamu, sembari duduk duduk syantieek nunggu suami pulang kerja, kita pun baca buku.

Selain itu, tips seorang novelis dan produser film Ketika Mas Gagah Pergi, siapa lagi kalau bukan Helvy Tiana Rosa berikut ini bisa dicoba, agar seluruh keluarga jadi predator buku, cobalah untuk membuat perpustakaan di ruang keluarga, dan juga di kamar masing masing.

Gabung Dengan Komunitas Pembaca Buku

Biar makin ketularan semangat untuk baca buku, kita bisa gabung dengan komunitas pembaca buku. Sekarang mah banyak banget bermunculan komunitas pembaca buku ya kan Mak. Gak mesti yang offline, komunitas pembaca buku yang online juga ada. Saya gabung di goodreads Mak, aplikasinya bisa diunduh di playstore, perlu rekomendasi buku, main main aja ke goodreads, seruuu Mak.

Bahkan sekarang saya perhatikan, penerbit buku dalam rangka mengikat pembacanya, mereka membuat komunitas, contohnya Stiletto Book Club. Tunggu apalagi Mak, sebelum semangat kita kabur, yuk ah segera kita pelihara semangat membaca buku, karena being a book addict is a new sexy.

*Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Sambut HUT Stiletto Book yang ke 5



Biodata:
Nama    : Nurul Fauziah
Twitter : @nufazee
 IG         : @nufaz3e
FB          : Nurul Fauziah
Email     : nufazee@gmail.com

Permainan Masa Kecil Si Anak Pertama

8



Aaaarrggh jadi ceritanya melalui postingan ini saya seolah masuk ke mesin waktu dan mengenang masa kecil sebagai anak pertama perempuan yang gak ada teman (adik kedua dan ketiga saya adalah laki laki), sedangkan orangtua sibuk bekerja di toko kelontong,  alhasil dia pun ciptakan permainan sendiri.

Masih lekat dalam ingatan, sekitar kelas 3 SD saya membangun kemah di sudut halaman kecil di rumah nenek saya. Sudut berukuran 1mx1m saya buat senyaman mungkin, saya bentangkan tikar, saya pasang atap dengan payung besar yang sudah tidak terpakai lagi, saya buat tungku mini dari batu bata, untuk tempat api agar menyala, botol bekas minuman energy yang dilubangi tutupnya kemudian dipasang sumbu kompor ditengahnya setelah sebelumnya dituangkan minyak lampu ke dalam botol, dan taraaa jadilah kompor ^_^,  terus saya letakkan kuali besi kecil di atasnya. Selebihnya di sekitaran saya ada banyak bahan yang akan saya racik, diantaranya buah ceri, bunga asoka, yang saya petik di kebun bunga nenek, dan  sedikit minyak makan yang saya ambil dari dapur nenek hehe.

Tapi, menu utamanya apa nih, ah ya, Ikan Gobi, ikan kecil yang seukuran teri nasi, berwarna hitam, hidupnya di selokan, selalu jadi bahan menu utama masakan saya, haha, duh maafkan saya ya Ikan Gobi. Menangkap Ikan Gobi gak perlu perjuangan berarti, hanya mengobok obok selokan depan rumah, bwuahaha. Nah, ketika mulai proses memasak, entah kenapa ada rasa bahagia tersendiri melihat ikan itu matang hidup hidup *agak horor gue ya pas masa kecil haha.

Beranjak besar, sekitar kelas  6 SD permainan saya mulai berganti, waktu itu musim permainan BP atau bongkar pasang. Jadi, saya sulap meja belajar saya yang tingkat dua, pada tingkat dua nya, papan penyangga lebarnya lebih kecil dari papan utama tempat saya menulis. Melihat suasana begitu, saya kepikiran untuk membuat rumah yang punya tingkat. Mulailah bermain kreatifitas saya. Saya gunting gunting karton bekas tempat benang ( Tante saya seorang penjahit, jadi kotak benang itu kadang saya kutipin sebelum berakhir di tong sampah) menjadi bangku, meja, dan tangga, sedangkan untuk tempat tidur, saya buat dari kotak korek api kosong. Perlengkapan rumah tangga khayalan saya yang lainnya, saya pakai barang-barang yang mendekati bentuknya, seperti penghapus saya jadikan meja.

Setelah semua perlengkapan fix, saya mulai ber-storytelling sendiri mengandalkan imajinasi jiwa anak anak saya waktu itu,

Begitulah kegiatan yang saya lakukan usai pulang sekolah. Bahagia sekali rasanya, bahkan mengenangnya saja, sampai membuncah hati ini, senyum senyum sendiri, rindu masa kecil, hehe.

Sebenarnya jadi anak perempuan pertama yang gak ada temannya juga bisa happy dengan menciptakan permainan sendiri, dan saya sangat bersyukur memiliki keluarga yang mendukung segala imajinasi saya saat kecil, yang berwujud mainan.  

*Tulisan ini diikutkan dalam Giveaway Permainan Masa Kecil yang diselenggarakan oleh Mama Calvin dan Bunda Salfa





Suka Duka Jadi Pejuang ASI untuk Baby Khalil

2


Saat tahu bahwa calon bayi saya adalah laki laki, mulai bertebaran komentar tentang pengalaman para mamak saat mengasuh bayi lelaki mereka. Diantara komentar itu adalah bahwa bayi lelaki itu bakal kuat loh nyusunya.

Waduh, sempat terbesit rasa panik dalam benak tapi cepat cepat dienyahkan dan segera meyakinkan diri bahwa kelak insyaAllah saya bisa menyusui Baby Khalil secara ekslusif.

Sebab, kita pasti sudah tahu betapa banyaknya manfaat menyusui. Siti Aminah, ibu Rasulullah saja bela belain nyari ibu susu untuk Rasulullah SAW karena kesedihan ditinggal suami, ASI Ibunda Siti Aminah sulit keluar.

Itulah salahsatu motivasi saya kenapa kekeuh untuk semangat menyusui Baby Khalil, walau ada banyak drama yang menyertai kegiatan menyusui ini, apalagi di bulan pertama kelahirannya.

Saya jadi menyesal kenapa zaman hamil dulu saya malah fokus pada persiapan melahirkan, sedangkan perhatian untuk payudara di bulan bulan terakhir jelang melahirkan kurang saya stimulus, sehingga saya tidak bisa Inisiasi Menyusui Dini usai melahirkan Baby Khalil, dah gitu saya kecewa banget dengan bidannyaT_T yang saya baca tentang IMD.

IMD gak apa dilakukan sejam setelah kelahiran bayi walau ASI belum keluar, dan proses IMD sendiri bisa memakan waktu 1 jam, saya sudah membayangkan betapa indahnya saat bayi kita merayap di dada mencari puting untuk pertama kalinya. Subhanallah.

Ini gak, justru saya malah diperlakukan dengan tidak lembut,

“Hah, ini Bu, ASI ibu belum keluar, kayak mana mau IMD”

Asisten bidan itu ngomong begitu sambil menyodorkan mulut bayi saya ke puting, sambil puting dan payudara saya dikuwel kuwel. Oh ya Allah, rasanyaaaaa…mau nangiiiiss, sedih kali. Terakhir karena memang masih lemas, saya gak banyak komentar lagi.

“Oh ya udahlah” dan membatin, bidan lebih tahu dan pengalaman dari saya. Bayi saya pun langsung dikasih susu formula, karena kalau menunggu ASI keluar, khawatir bayi menjadi kuning. Sayanya pasrah sajalah yang penting bayi saya sehat dan tak kurang suatu apapun.

Demi menenangkan saya, suami mengatakan kalau kita memang mau IMD, sejak jauh hari kita harus maksimal stimulus payudaranya, kan idealnya ASI keluar di bulan kesembilan usia kandungan.

Iya juga pikir saya, banyak yang harus dievaluasi, semoga ini bisa jadi saran untuk ibu yang lagi hamil yaaak, rajin rajin stimulus payudara ya Bu, dibantu juga dengan makan sayur daun katuk dan pijat payudara, biar ASI lancar jaya usai melahirkan.

Drama awal menyusui gak hanya sampai disitu aja, masih panjang sodara, bakalan dua tahun euy, dua tahun. InsyaAllah, semoga.

Alhamdulillah Baby Khalil hanya seminggu pertama kelahirannya saja yang dibantu sufor. Setelah itu saya berjuang  untuk menstimulus payudara agar ASI mau keluar. Diantaranya makan suplemen daun katuk, berupa pil warna hijau kuning.

Sekarang, Alhamdulillah ASI saya sudah lancar jaya, soalnya hampir tiap hari makan daun katuk. Bosan? Jangan ditanya, tentulah, tapi ini semua demi Baby Khalil *ketjup Baby Khalil.

Jelang usia 4 bulan, ada banyak drama yang saya lewati ketika menyusui Baby Khalil, antara lain,

Puting Lecet

Bulan pertama jadi mamah muda memerlukan banyak penyesuaian, terutama kegiatan menyusui. Saya sempat mengalami puting lecet, sampai luka. Hiks, tapi dengan terus diolesi ASI, lecet perlahan berkurang.

Kembung

Baby Khalil rentan sekali kembung, salahsatu penyebabnya pelekatan yang kurang sempurna saat menyusui. Awalnya saya mengira Baby Khalil bingung puting, soalnya dia bisa nangis tiba tiba di pagi dan sore hari. Saya bingung. Ini anak kenapa, ternyata setelah saya telusuri, ia kesulitan buang angin. Gas numpuk di dalam perut kecilnya. Huhuhu, betapa cupunya saya. Kenapa gak mengetahui hal tersebut dari dulu, nunggu dia kesakitan parah saat susah kentut baru saya kasih tahu, huwaaaa, *maafkan Bunda, Nak

Pernah waktu usianya dua bulan, kembung Baby Khalil parah, sampai seharian dia nangis, dan saya baru ingat kalau sebelumnya saya makan kacang tanah yang direbus. Akhirnya, Baby Khalil diterapi daun jarak, perutnya saya tempelkan daun jarak, kemudian saya pijat ILU.

Menyusui Hampir 45 Menit Sekali

Menjadi pejuang ASI butuh ilmu, dan dari sekian banyak ilmu tentang menyusui, disimpulkan bahwa bayi yang minum ASI tidak punya jam biologis tertentu untuk minum. Ya kapan dia pengen ASI, kita harus siap sedia menyusui si bayi.

Baby Khalil mulai intens nyusunya, kalau di siang hari, ia bisa minta susu hanya berselang 45 menit sekali, tapi kalau malam hari Baby Khalil bisa gak nyusu sampai 5 jam, tapi sebelumnya Baby Khalil nyusu sampai 1,5 jam, dirapel gitu nyusunya haha. Kecil kecil udah jago mikir untuk nyetok cadangan makanan *apaan coba?

Godaan Mertua dan Susu Formula

Bersebab Baby Khalil adalah cucu pertama di keluarga suami saya, maka keterlibatan Mak Mertua cukup banyak dalam membantu proses merawat Baby Khalil. Makasi Mak *sayaang emak . Nah, melihat Baby Khalil nyusunya kuenceng banget, Mamak mertua selalu menyarankan untuk dibantu susu formula.

Saya meresponnya dengan senyuman aja, walau tidak menafikan bahwa keberadaan sufor sangat bermanfaat, namun selagi ASI ada kenapa harus sufor. Mungkin kesalahan ada di saya, kurang mengedukasi emak akan manfaat ASI, selain itu Mak masih berkiblat dengan pengalamannya dulu membesarkan Aa’ suami. Zaman kita dulu yak, umur 3 bulan, anak bayi udah dikasih makanan pendamping, seperti air tajin, tapi kan kondisi dan zaman waktu itu udah beda kan yak.

Meskipun begitu, Mak saya ini selalu mendukung saya, dia paling panik kalau stok daun katuk saya habis. Terkadang daun katuk langka dijual di pasar, terpaksa metik di kebun sendiri, itu pun hanya cukup untuk sekali nyayur hehe.

Galau Pilih Baju

Cieee cieee yang udah jadi maksui, emak menyusui, cieee yang sekarang kalau nyari baju harus berkancing atau berrestleting depan, haha. Cieee yang galau milih baju di lemari kalau hendak bepergian.
Kalau sudah begini, ketika main main di instagram bawaannya pengen borong semua baju ibu menyusui, hihi.

Diantara sekian banyak drama saat menyusui, sukanya lebih banyak looooohhh. Ah, suatu hari saya pasti akan merindukan momen menyusui Baby Khalil, kerasa gak sih, sekarang itu waktu kayak berlari meninggalkan kita, hari ini hari Minggu eeeehhh gak berasa udah hari Minggu lagi, begitu juga saya kini, kok berasa ya Baby Khalil udah mau empat bulan aja, saya merindukan masa masa menyusui ketika dia newborn huhu.

Momen menyusui yang paling indah itu waktu tatap tatapan dengan Baby Khalil dan tangannya membelai wajah saya, aduuuhh saya meleleh deh, terharuuuu.

Begitulah suka duka jadi pejuang ASI, modalnya semangat, pikiran positif, makan dan ngemil yang enak enak sehat sehat, pijatan suami di bahu *eh dan do’a, berdo’a kepada Allah agar ASI kita dicukupkan untuk memenuhi kebutuhan makhluk mungil titipan Allah ini. Aamiin ya Rabb.
Semangat!

Serunya Punya Ayah Berpikiran Ala Punk

4

Judul     : Bapangku Bapunkku
Penulis   : Pago Hardian
Penerbit : Indiva
ISBN      : 978-602-1614-47-1
Cetakan  : 1, April 2015
Halaman : 232 Halaman
Harga      : Rp. 49.000


Serunya Punya Ayah Berpikiran ala Punk



Apa yang pertama kali terlintas dalam pikiran kita saat membaca atau mendengar kata Punk? Kebanyakan dari kita masih memasang stigma negatif untuk kata itu.

Tapi, sebelum men-judge, mari kita kenal lebih dekat darimana asal muasal istilah kata punk, apakah seburuk yang kita kira?

Setelah melalui cek dan ricek yang panjang *gayaaa, benerin kacamata dulu, ternyata istilah punk muncul sekitar pertengahan tahun 1970 di Inggris. Jadi, anak muda di Inggris waktu itu gak sabar dan kesal dengan pemerintah yang lamban dalam menyelesaikan bencana ekonomi, nah dari situlah mereka melakukan pergerakan untuk menyadarkan pemerintah, pergerakannya melalui musik. Maka, bermunculan grup band yang mengusung aliran punk, yang lirik-liriknya menyindir pemerintah.

Dari sebab kemunculannya aja kita bisa simpulkan, anak muda mana yang mikirin negaranya kalau gak dari hasil anak muda yang doyan baca koran, haus informasi, kritis, idealis dan pengen yang terbaik untuk negaranya.

Wah, awalnya positif banget kan istilah punk. Belakangan terjadi pergeseran makna yang menjadikan istilah punk buruk banget. Di beberapa kamus Inggris online, punk diartikan sesuatu atau seseorang yang gak berharga dan gak penting, waduh!

Bahkan, masih di kamus online yang sama, punk is

a style or movement characterized by the adoption of aggressively unconventional and often bizarre or shocking clothing, hairstyles, makeup, etc., and the defiance of social norms of behavior, usually associated with punk rock musicians and fans.

Gaya atau gerakan yang diadopsi secara agresif ( gak pikir panjang, yang penting keren) dan seringnya gaya mereka mengejutkan kita bersebab pakaian yang mereka pakai, umumnya mereka pakai serba hitam, biar gak nampak dekilnya hehe, gaya rambut ala ijuk sapu, riasan wajah yang dibuat seseram mungkin, seperti menindik hidung dan lidah, mentato, kemudian mereka identik dengan penyimpangan perilaku, brutal, nge-drugs, bahkan nge-free sex. Naudzubillah.

Kebayang gak sih jauh banget pergeseran maknanya, dari yang bertujuan baik, eh malah diartikan salah. Anak muda sekarang memaknai punk dengan dekil dekilan di jalan, ngamen, ngumpul ngumpul gak jelas.  

Selain itu punk juga punya makna yang lain, kali ini bersumber dari kamus online yang beda. Punk adalah ideologi.

Punk is all about being yourself, liking what you like, doing what you do and not having to live upto someone elses expectations, only your own. there is no dress code, hair colour or rules to be punk, since punk is about being true to yourself.

Punk adalah semua hal tentang menjadi diri kita sendiri, menyukai apa yang kita suka, melakukan apa yang kita suka, gak peduli dengan omongan orang.

Ideologi punk inilah yang dianut Bapang.



Hah? Bapang? Kata apa itu? apakah tanah Bapang? bukan bukan, itu mah tanah lapang, haha. Perasaan baru baca atau dengar deh, samaaa, saya juga gitu, pertama kali baca judul novelnya. Bapangku Bapunkku. Unik ya judulnya, seunik kisah yang terangkum dalam buku ini.

Alap Nian, seorang anak berusia 14 tahun menceritakan keluarganya yang antik *dah kayak museum hihi. Dikisahkan bahwa Alap anak pertama dari Bunda dan Ayah yang tidak mau dipanggil Ayah tetapi Bapang.

Penjelasan tentang asal muasal panggilan Bapang dipaparkan panjang lebar di halaman 13. Bagi Bapang, anaknya tidak boleh asal meniru sebutan dari bangsa lain, ia tetap memegang teguh panggilan khas sukunya, Semende.

Lalu, Bapang menerangkan bahwa kami adalah keturunan orang Suku Semende yang berasal dari Sumatera Selatan. Suku Semende masih satu rumpun dengan Suku Melayu di Palembang, Bengkulu, Lampung, Kalimantan, hingga Malaysia. Bapang adalah panggilan untuk ayah dalam bahasa Suku Semmende. ( Hal.13)

Alap bangga punya ayah seperti Bapang. Baginya Bapang adalah ayah yang unik, nyentrik dan sedikit ekstrim serta anti mainstream garis keras. Gimana gak, ternyata diam diam, Bapang adalah penganut aliran punk. Bapangku Bapunkku, Ayahku, Ayah yang Nge-Punk abieeesss.

Dan Alap sangat sangat gak setuju dengan pernyataan Andrea Hirata, bahwa Ayah yang pendiam lebih besar kasih sayangnya daripada ayah yang cerewet.

…Kasih sayang Bapangku seluas langit, Andrea Hirata tidak punya kemampuan sama sekali untuk mengukur kasih saying seorang ayah selain kasih sayang ayahnya sendiri. Meskipun dia lulusan Paris atau Inggris atau Swiss! (Hal.17)

Duilee Alap, saya setujuuu sama kamu, memang ayah saya gak cerewet, tapi sepertinya saya punya suami yang sepertinya bakal jadi ayah yang cerewet bagi anak anaknya kelak. *semoga bagian ini gak dibaca si Aa’ , haha.

Nah, dari aliran yang dianut Bapang ini, syukurnya Bapang hanya menganut pahamnya saja, bukan gaya hidup ala Punk. Bapang ngakunya bahwa ia adalah Punk Muslim.  Kalau sampai Bapang ngikutin gaya hidup ala Punk, hmm…mungkin kisah ini gak akan pernah ada. Kisah seorang Ayah yang berusaha membuat segala hal yang terbaik untuk anak anaknya.

Cerita dibuka dengan adegan yang menyentuh sekali, untuk ke tujuh kalinya sejak Alap berulang tahun yang ke tujuh. Setiap itu pulalah Bapang menghadiahkan Alap sepucuk surat, judulnya JUARA. Dan kini Alap telah berusia 14 tahun,

Kemudian, jalinan cerita terangkai dalam 14 Bab, berisi keseruan demi keseruan yang terjadi dalam keluarga Bapang.  Di beberapa judul Alap mengisahkan Bapangnya dengan alur maju mundur, yang membuat pembaca mengerti pada akhirnya proses terbentuknya Bapang dan pemikirannya serta keteguhannya dalam menjaga prinsip prinsip hidupnya *tsaaah, kok jadi berat banget gini bahasannya haha.

Bersetting Kota Jogja yang damai dan tenang, mungkin dengan keberadaan Bapang suasana Jogja berubah seperti riuhnya Kota New York haha. Meriah dan Heboh. Bapang yang orang Sumatera dengan segala keidealisme-an yang ia punya, banyak hal yang tidak sesuai menurut pemikiran Bapang, ia protes habis habisan dengan caranya sendiri.

Jadi, Bunda dan anak anaknya , Alap, Harnum, Tuah dan Anjam sudah biasa ngadepin Bapang, dan terkadang apa yang dibilang Bapang emang benar. Berapa banyak orang yang berhadapan dengan Bapang kehabisan kata kata saat meladeni kekritisan Bapang terhadap hidup ini *tsaah lagi.

Contohnya saat Bapang menghadapi petugas KB, karena kekritisan Bapang yang memprotes program KB, sampai membuat petugas KB bengong. Saya aja kalau jadi petugasnya juga bakal terbengong bengong, Bapang sih protesnya gak nanggung nanggung sampai bawa data dan fakta, tapi saya setuju dengan Bapang. Jadi pengen hamil lagi #eh.

Kekritisan dan idealisme Bapang ternyata gak berakhir dengan memprotes petugas KB saja, Setahun lalu, Bapang dimusuhi oleh para pengurus masjid Karang Jati karena hanya Bapang yang tidak setuju terhadap rencana perluasan dan memperindah masjid.

Bapang memang beda. Hidupnya dihiasi dengan balada melawan arus orang orang yang tidak bermental revolusioner.

Selain beda, Bapang itu aneh, di zaman dia masih belum menikah, berani beraninya Bapang bergaul dengan maling jemuran  ( nah loh) bahkan dijadikan saudara, gimana bisa? Ya bisa dong, Bapang getoh loh.

Suatu hari, siapa sangka, Bapang yang hobi protes ini itu, akhirnya menjadi bumerang bagi keluarganya, terutama anak anak Bapang. Pasalnya adik adik Alap terancam tidak sekolah, soalnya Bapang memprotes Kepala SD Karang Jati 3, tempat  Harnum, Tuah dan Anjam bersekolah, apa sebab? Mending baca aja, masalahnya rumit, saya pun kalau jadi Bapang bakal emosi haha, soalnya ini terkait psikologi anak anak Bapang.

Usai melabrak Kepala SD Karang Jati 3, Bapang semakin percaya betapa bobroknya sistem pendidikan di Indonesia, dan Bapang tak mau anak anaknya ikutan bobrok, Bapang pun memutuskan untuk membakar seragam sekolah anak anak.

Apa? Dibakar?

Mengetahui rencana Bapang itu, Bunda yang tak pernah melawan Bapang, marah semarah marahnya. Gawat, kebahagiaan keluarga Bapang berada di ujung tanduk.

Bagaimana kelanjutan kisah keluarga Bapang? Mampukah Bapang menyelamatkan kebahagiaan keluarganya sendiri akibat gejolak idealismenya ? Apa saja yang dilakukan Bapang dalam mendidik anak anaknya?

Bapangku Bapunkku: Ketika Anak Mengisahkan Ayahnya

Akhir akhir ini tema tentang ayah sedang hangat untuk dibahas. Apalagi sejak kemunculan novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Kisah tentang sosok Ayah Ikal dalam novel tersebut dideskripsikan begitu bersahaja, sampai sampai Mei 2015 lalu, Andrea sengaja mengabadikan sosok sang ayah dalam novel terbarunya berjudul, Ayah.
Tak hanya itu, novel tentang ayah yang juga fenomenal adalah Sabtu Bersama Bapak karya Adhitya Mulya, bahkan sekarang novel tersebut diangkat ke layar lebar dan sedang dalam proses rilis, belum tahu kapan akan tayang di bioskop.

Semoga Bapangku Bapunkku juga bisa mengulang kesuksesan buku buku yang saya sebutkan di atas. Aamiin ya Rabb.

Barakallah kepada Pago Hardian atas terpilihnya novel Bapangku Bapunkku sebagai pemenang kedua dalam ajang Lomba Menulis Inspiratif Indiva 2014. Seperti yang kita tahun, PT Indiva Media Kreasi sejak tahun 2007 berkomitmen menjadi penerbit yang menerbitkan novel novel inspiratif. Nah, untuk menemukan penulis yang menulis novel inspiratif itu bukan perkara gampang, untuk itu Indiva Media Kreasi dengan segenap upaya menghadirkan lomba menulis novel inspiratif ini tahun lalu, dan terjaringlah novel karya Pago.

Novel ini menceritakan sosok ayah dari sudut pandang anaknya yang berusia 14 tahun. Kalau baca blurb-nya, novel bersampulkan warna kuning ini terkesan biasaaaa aja, tapi satu hal unik yang membuat saya tertarik untuk membeli dan membacanya adalah, karakter Bapang serta penasaran dengan pemikiran pemikiran ala Punk versi Bapang terhadap permasalahan hidup ini *halaaah.

Jangan dikira pembaca akan disuguhkan episode layaknya drama di sinetron Keluarga Cemara *yang tahu sinetron ini, pasti anak tahun 90-an, haha, apaaa coba* yang aman damai gemah ripah loh jinawi, tapi pembaca akan disuguhkan dengan drama Keluarga Ceramah, haha.

Sejak memiliki anak, Bapang memang super duper cerewet, malah mengalahkan Bunda. apa apa diprotes dan dilarang, gak ada yang berani melawan Bapang. Bapang memang agak keras dalam mendidik anak anaknya, hal ini dilatarbelakangi masa kecil Bapang yang juga dididik ala militer oleh Kakek, Ayahanda Bapang, tapi meskipun begitu, Bapang itu orangnya baik banget.

Kebaikan Bapang direkam dengan sangat lekat di sanubari Alap dan adik adiknya ketika mendengarkan kisah Uwak Bagus. Siapakah Uwak Bagus? Eng ing eng…baca ndiri yak hihi.

Membaca novel ini saya ketagihan sejak halaman pertama, penasaran terus dengan ulah dan pemikiran Bapang. Pago mengaku karakter Bapang terinspirasi dari Paguh Nian, nama Bapang.

Bisa jadi, Pago menuliskan novel ini untuk mewakili pemikirannya tentang segala hal yang gak sesuai menurutnya melalui karakter Bapang.

Dari tadi yang dibahas seriusan melulu, tenaaang, novel yang memiliki total 232 halaman ini, juga kocaaak bwuahaha. Apalagi saat surat cinta Wulandari untuk Alap dibaca Bapang. Bapang marah dan menyuruh Alap membaca keras surat cinta itu di depan Bapang, Bunda dan adik adik Alap, haha. Kelucuan demi kelucuan juga terlontar dari dialog adik adik Alap.Ada juga beberapa teka teki cerdas versi Bapang.

..."Ayo tebak, bentuknya bulat dan pipih letaknya selalu dipasang di tempat tempat yang mulia. Benda apakah itu?" (Hal.64)

Ayooo apa cobaaak? pusing kan? iya pusing, namanya juga Bapang, sampai persoalan ngasi teka teki pun mesti berbeda dari teka teki yang kekinian, dan banyak gak nyambungnya.

Dari kata sapi aja bisa beraneka ragam pertanyaan teka teki dan jawaban asal haha serta gak perlu pakai mikir keras.

Sapi yang bisa nempel ? sapidermen / Sapi yang warna biru ? sapidol / sapi yang larinya cepat ?  sapidamotor

Selain pembaca diajak ketawa ngakak, beberapa episode kehidupan Bapang ada yang membuat saya berderai, yaitu waktu tiba di Bab Prinsip Kelahiran. Wuuaaa, membaca bab ini saya jadi teringat proses melahirkan Baby Khalil. Terharu. Motivasi yang disampaikan Ayah Bapang alias Kakek Alap agar Bunda harus semangat untuk melahirkan secara normal sungguh menginspirasi.

Meskipun sederhana, mulai dari tema yang diangkat, kemudian gaya cerita yang biasa tapi ngaliirr banget, enak deh, mudah dimengerti, novel ini gak bisa diremehkan. Usai membaca bab demi bab, pembaca akan dibuat penulis, tertegun, terpana, tersentuh terbahak bahak, dan ter ter ter lainnya. Rasanya ingin saya stabilo semua kata demi kata dalam novel ini, haha, abisnya informatif, nge-jleb, nyesek dan nyelekit, serta buat kita sadar dan berpikir kembali.

Malah saya sampai berpikiran semestinya Bapangku Bapunkku yang juara 1 lomba novel inspiratif, bener inspiratif soalnya.

Namun, sesempurananya sesuatu pasti tak luput dari kekhilafan. Karakter Bapang yang ngakunya Punk Muslim, seharusnya bisa mendidik istrinya untuk tidak menyanyi di atas panggung setiap kali menghadiri undangan pernikahan, suara perempuan itu kan aurat yak, hehe. (Hal. 87)

Dan ada beberapa yang typo,

Disipilin seharusnya disiplin (Hal.66)
Ukuran font dan spasi berbeda (Hal.142)
Padahal rumahnya dekat sekali dengan rumah, seharusnya Padahal sekolahnya dekat sekali dengan rumah 169)
Uwak Bangus  seharusnya Uwak Bagus (Hal.180)
Akspresi seharusnya ekspresi (Hal.198)
Bahasa seharusnya bahas (Hal.201)

Tapi, poin penting yang saya dapat setelah membaca Bapangku Bapunkku adalah bagaimana Bapang bersungguh sungguh menjadi ayah.

Recommended banget dibaca oleh orangtua dan calon orangtua serta penikmat novel inspiratif tentunya.

Bersungguh sungguhlah Menjadi Ayah

Ciptakan kenangan bersama anak-anakmu. Sisihkan waktu untuk menunjukkan kau peduli. Mainan dan hiasan tak dapat meggantikan saat-saat istimewa yang kau alami bersamanya
-Elaine Hardt-

Beberapa tahun terakhir, ilmu parenting menjadi primadona di tengah tengah keluarga muda Indonesia. Kita sudah mulai melek betapa pentingnya ilmu menjadi orangtua, walau sebenarnya sebagian kita adalah produk dari orangtua yang mungkin boro boro mengetahui ilmu parenting, punya ilmu agar dapur tetap ngepul aja  mah udah syukur yak.

Sekarang, ilmu parenting dianggap begitu penting, efek dari perkembangan zaman dimana anak yang lahir di zaman tersebut menuntut pola asuh yang berbeda pula dari zaman orangtuanya dahulu.

Salahsatu tanda berkembangnya ilmu parenting adalah tumbuhnya kesadaran bahwa ayah ternyata punya peranan maha penting untuk terlibat dalam proses pengasuhan anak.

Kita, penduduk Indonesia, apalagi di beberapa suku dari daerah tertentu, masih menganggap bahwa para ayah, tabu sekali untuk terlibat dalam urusan domestic rumah tangga, apalagi pengasuhan anak, tugas ayah satu satunya ya mencari nafkah, selebihnya pengasuhan anak diserahkan sepenuhnya pada ibu.

Jika pemikiran seperti itu terus berlanjut, maka wajar saja jika di zamannya anak kita kelak tumbuh dewasa, ia akan menjadi pribadi yang fatherless, pribadi yang tak punya konsep, nilai dan misi hidup yang jelas, kemudian tidak punya teladan dan biasanya akan lambat menjadi dewasa secara sikap. Sehingga, bermunculanlah, orang dewasa  yang dewasa secara fisik tapi memiliki pribadi kekanak kanakan.

Adanya novel bertemakan ayah, saya pikir ini adalah salahsatu cara untuk mengembalikan figur ayah di tengah tengah keluarga Indonesia. Diharapkan para pembaca khususnya pembaca laki laki bisa belajar dari karakter ayah yang ada di dalam novel. Tidak menutup kemungkinan juga untuk pembaca perempuan, dengan membaca novel yang mengangkat sosok ayah, bisa jadi catatan nantinya saat memilih calon ayah dari anak anak kita *haseeekkk.

Sekali lagi wahai para ayah, bersungguh sungguhlah menjadi ayah, karena penanggungjawab pendidikan utama adalah ayah, sedangkan bunda adalah pelaksana pendidikan.

Pun beban menjadi seorang ayah bukan ringan, dosa dari kesalahan mendidik istri dan anak adalah tanggung jawab suami/ayah.

So, para istri bantu suami kita untuk taat dan ingat akan tanggungjawabnya, para anak ayok bantu ayah kita agar amal kebaikannya kelak bisa memberatkan timbangan pahalanya di akhirat, caranya tentu dengan jadi anak sholeh/ah.

Semoga bermanfaat. Selamat Membaca!



luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com